Kesaksian
30 Juli 2003
Ketika Tuhan Bermain Piano
Mira W

"Lagu sedih atau pun gembira yang dilantunkan-Nya selalu tampil indah Karena Dia Mengalunkan-Nya dengan cinta."

Air mata membasahi sekujur wajahku. Mengalir deras dari mataku. Seakan tak pernah kering.

Dari balik tirai airmata yang mengaburkan pandangan, kutatap peti jenazah yang perlahan-lahan sedang diturunkan ke liang lahat. Lagu rohani yang sendu mengiringi perpisahan paling menyakitkan yang pernah kualami dalam hidup ini. Perpisahan dengan Mas Rianto. Suamiku. Kekasihku. Belahan jiwaku.

Rasanya seperti mimpi. Meskipun minggu lalu aku bahkan tidak pernah bermimpi akan ada saat-saat seperti ini dalam hidupku. Ketika aku kehilangan Mas Rian. Kehilangan orang yang paling kucintai.

Minggu lalu semuanya masih berjalan seperti biasa. Kami baru saja merayakan ulang tahun pernikahan kami yang kedua puluh. Berdua saja. Karena memang setelah dua puluha tahun menikah, kami belum dikaruniai seorang anak pun.

Tetapi ketidakhadiran seorang anak, tidak membuat perkawinan kami tidak bahagia. Malah sebaliknya. Selama dua puluh tahun, kami hidup seperti Adam dan Hawa ketika masih di Taman Firdaus. Saling mencintai. Saling membutuhkan. Saling memberi. Meskipun bukan berarti tak pernah bertengkar. Berdebat. Berselisih. Tetapi ibarat bumbu, pertengkaran justru tambah melezatkan hidup perkawinan kami. Tambah mendekatkan kami. Tambah memperdalam cinta kami.

Mas Rian sangat mencintaiku. Itu tak dapat diragukan lagi. Dan cintanya tidak memudar sekalipun dua puluh tahun telah berlalu.

Dia seorang suami yang setia. Dan sangat mencintai istrinya. Meskipun karena sangat mencintaiku, dia kadang-kadang terlihat sangat posesif. Sangat pencemburu.

Tak pernah dibiarkannya aku pergi seorang diri. Biarpun cuma untuk ke salon kecantikan. Aku harus menunggu sampai Mas Rian pulang kerja. Lalu dia akan mengantarkanku. Ke mana pun aku pergi. Rasanya kalau WC kami tidak berada di dalam rumah, dia pasti akan berkeras pula mengantarkanku membuang hajat. Lucu? Memang. Tapi jangan tertawa. Karena memang begitulah suamiku. Begitulah model cintanya. Dan sampai dua puluh tahun berlalu, kebiasaan itu masih tetap kami jalani.

Mula-mula aku memang sering protes. Aku merasa kebebasanku dibatasi. Dikekang. Tapi lama-kelamaan aku dapat menerima kondisi seperti itu tanpa perlawanan lagi.

Pertama karena aku mencintainya. Tidak ingin menyakiti hatinya. Dan aku tahu sekali mengapa Mas Rian melakukannya. Dia ingin melindungiku. Sekaligus ingin memonopoli. Ingin memiliki untuk dirinya sendiri. Egois? Barangkali. Tapi kalau seperti itu wujud cintanya, mengapa tidak? Daripada dibiarkan, tak diperhatikan, tak dipedulikan? Mau ada di rumah atau tidak, masa bodoh amat! Lebih menyakitkan punya suami seperti itu, kan?

Alasan kedua karena aku sudah bosan melawan. Percuma. Mas Rian tidak bisa diatur. Tidak bisa dibantah. Kemauannya sangat keras. Dan dia tidak mau tunduk kepada siapa pun. Apalagi kepada istrinya.

Jangankan kepadaku. Kepada majikannya pun dia sering melawan. Makanya jangan heran kalau dia sering pindah pekerjaan.

Yang paling membuatku sedih, Mas Rian juga tidak mau tunduk kepada Tuhan. Baginya, tidak ada yang di atas kecuali langit. Tidak ada yang lebih tinggi dari dirinya sendiri.

    “Tuhan itu cuma hiburan untuk orang yang lemah,” katanya dari dulu sampai sekarang. “Tempat meminta sesuatu yang tidak dapat kita peroleh sendiri.”

Mas Rian tidak menolak ketika aku minta pernikahan kami dilangsungkan secara Kristiani. Dia menurut saja ketika aku menginginkan pemberkatan di gereja. Dia patuh saat aku minta dia dibaptis sebelum menikah. Tetapi sesudah itu, dia kembali lagi ke kehidupannya yang lama. Seolah-olah dia mengabulkan permintaanku hanya semata-mata untuk menyenangkan hatiku. Dan supaya pernikahan kami berlangsung mulus.

    “Aku tidak peduli menikah di mana,” tukasnya acuh tak acuh. “Pokoknya bisa menikahimu. Di bawah pohon pun jadi. Disuruh jadi apa pun aku mau.”
    “Jadi apa artinya pengakuan yang kamu ucapkan di depan Tuhan, Mas?” desahku sedih. “Hanya untuk menyenangkan hatiku? Atau supaya kita bisa menikah?”
    “Tuhan ada dalam dirimu sendiri,” katanya mantap. “Karena kamu pikir dia ada, maka dia pun ada.”

Bukan baru sekali dua aku mengajaknya ke gereja. Mas Rian memang ikut. Tapi cuma sekadar mengantar. Karena memang dia tidak membiarkan aku pergi seorang diri. Di gereja dia lebih banyak tertidur daripada mendengarkan khotbah. Apalagi kalau isi khotbahnya tidak ada kena mengenanya dengan masa kini. Cuma membahas peristiwa dua ribu tahun yang lalu.

Dia malah sering mengejek kalau kebetulan ada ayat Kitab Suci yang tidak sesuai dengan pendapatnya.

    “Kenapa sih kamu bodoh sekali, Ir? Kamu kan perempuan. Masa kamu mau saja dibodohi, dibilang berasal dari tulang rusuk pria? Cerita itu pelecehan buat wanita! Itu lagi dongeng Tuhan menciptakan manusia dari tanah liat! Apa kamu belum pernah mendengar teori evolusi?”

Sudah lelah aku membantah. Sudah bosan aku memaparkan sanggahan. Beberapa malah kuambil dari jawaban yang diberikan pendeta di gerejaku.
Tetapi Mas Rian tidak puas juga. Dia menganggap Tuhan cuma dongeng. Supaya manusia takut berbuat jahat.

    “Dan supaya manusia terhibur kalau orang yang dicintainya mati. Karena ada harapan untuk bertemu di Surga. Padahal di mana Surga itu? Tidak ada yang tahu, kan? Tidak pernah ada yang melihatnya. Biar pakai peralatan yang paling canggih sekalipun!”

Suami seperti itulah yang kumiliki selama dua puluh tahun. Suami yang sangat kucintai. Tetapi yang tak pernah dapat kubangkitkan imannya.

Sampai suatu hari keangkuhannya tersandung. Sama seperti ketika kakinya tersandung batu tajam di kebun. Kakinya luka. Berdarah. Tapi tidak terlalu parah. Bukan cuma Mas Rian yang tidak mengacuhkannya. Aku juga tidak terlalu memperhatikannya. Luka sekecil itu, apa artinya?

Mas Rian juga tidak peduli ketika selama berbulan-bulan luka itu tidak sembuh juga. Malah semakin parah. Membesar. Dan mengandung nanah.

Dia cuma membeli salep antibiotik yang sekarang dengan mudah diperoleh biarpun tanpa resep dokter. Sesaat lukanya seperti menyembuh. Tetapi begitu dia memakai sepatu terlalu lama, luka itu mulai meradang lagi. Demikian seterusnya sampai suatu malam, aku tiba-tiba terjaga oleh bau busuk yang menyengat hidungku.

Mula-mula kukira ada tikus mati di kamar mandi. Barangkali tikus itu terjebak di dalam pipa air. Mungkin juga cuma bangkai cecak malang yang terjepit di pintu. Atau paling-paling ada kucing tertabrak mobil di jalan. Lalau bangkainya dibuang begitu saja ke tempah sampah di depan rumah yang berada tidak jauh dari jendela kamarku.

Aku baru sadar suamikulah yang menyebarkan bau busuk, ketika keesokan paginya di meja makan pun aku mencium bau seperti itu, padahal tidak ada makanan yang basi.

Santai saja Mas Rian menunjukkan kakinya ketika kutanyakan hal itu padanya.

    “Biasa, jari kakiku,” katanya acuh tak acuh, seolah-olah cuma bajunya yang kotor. “Nanti pulang kantor aku beli salep lagi.”
    “Kenapa tidak ke dokter, Mas?” tegurku dengan perasaan cemas. “Luka itu kan sudah hampir setahun tidak sembuh-sembuh!”
    “Siapa bilang?” bantah Mas Rian, seperti biasa, tidak mau kalah. “Sudah sembuh kok. Cuma lecet lagi kena sepatu. Nanti pakai salep juga langsung kering.”
    Tetapi kali ini, lukanya tidak pernah sembuh lagi. Luka itu berubah menjadi borok yang menebarkan bau busuk. Akhirnya Mas Rian mau juga ke dokter setelah kupaksa sambil melontarkan ancaman.
    “Kalau Mas Rian tidak mau ke dokter, aku juga tidak mau pap smear. Buat apa sehat kalau Mas Rian sakit?”
    “Siapa bilang aku sakit?” Dia masih membantah dengan gigih. Dasar keras kepala! “Aku nggak apa-apa kok!”

Tetapi pendapatnya berubah ketika dokter menyuruhnya memeriksakan darahnya. Ternyata Mas Rianto mengidap Diabetes melitus. Penyakit kencing manis.

Dan karena jari kakinya sudah membusuk, dokter terpaksa memotongnya. Mas Rian diberi obat penurun kadar gula darah. Dan diberi ancaman.

    “Harus diet. Dan harus rajin memeriksa gula darah. Kalau ada luka, cepat diobati. Kalau sudah menjadi gangren, tak ada terapi lain kecuali amputasi. Membuang bagian yang busuk dan jaringan yang sudah mati itu.”

Dua tahun Mas Rian mematuhi perintah dokter. Dia rajin memeriksakan darahnya. Rajin diet. Rajin minum obat. Tetapi menjelang tahun ketiga, karena kesibukannya berwiraswasta, dia melupakan kesehatannya. Dia sedang bersemangat sekali merintis usaha barunya di bidang komputer. Dan karena kelihatannya usahanya maju pesat, dia melupakan kesehatannya. Sia-sia aku selalu memperingatkannya.

Mas Rian baru mau pergi ke dokter setelah kakinya mulai menebarkan bau busuk lagi. Ternyata ada luka di telapak kaki kanannya yang cepat sekali melebar dan membusuk. Luka itu bukan hanya bernanah. Kulit di sekitarnya juga berwarna kehitam-hitaman.

    “Kalau Mas Rian tidak mau ke dokter, aku tidak mau lagi tidur seranjang dengan Mas!” ancamku separo putus asa. “Tidak tahan bau busuknya!”
    “Oke! Oke!” katanya jengkel. “Tadi sore juga aku sudah suruh sekretarisku telepon perawatnya Dokter Tiar. Dapat nomor tiga. Tapi tidak keburu ke sana. Kamu kan tahu bagaimana sibuknya aku belakangan ini!”
    “Tahu,” dengusku sama kesalnya. “Yang aku tidak tahu, apakah mereka masih mau menerima bookingan Mas. Soalnya sudah supuluh kali dibatalkan!”

Tetapi kejengkelanku berubah menjadi kecemasan ketika Dokter Tiar selesai memeriksa luka Mas Rian.

    “Gangren,” suaranya sama seriusnya dengan airmukanya. “Rasanya hampir terlambat…”

Terlambat! Sepotong kata yang sangat menakutkan! Mengerikan! Apalagi bila diucapkan untuk orang yang sangat kita cintai!
 

...>>
 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003