|
Air mata membasahi sekujur wajahku. Mengalir deras dari
mataku. Seakan tak pernah kering.
Dari balik tirai airmata yang mengaburkan pandangan,
kutatap peti jenazah yang perlahan-lahan sedang diturunkan
ke liang lahat. Lagu rohani yang sendu mengiringi
perpisahan paling menyakitkan yang pernah kualami dalam
hidup ini. Perpisahan dengan Mas Rianto. Suamiku.
Kekasihku. Belahan jiwaku.
Rasanya seperti mimpi. Meskipun minggu lalu aku bahkan
tidak pernah bermimpi akan ada saat-saat seperti ini dalam
hidupku. Ketika aku kehilangan Mas Rian. Kehilangan orang
yang paling kucintai.
Minggu lalu semuanya masih berjalan seperti biasa. Kami
baru saja merayakan ulang tahun pernikahan kami yang kedua
puluh. Berdua saja. Karena memang setelah dua puluha tahun
menikah, kami belum dikaruniai seorang anak pun.
Tetapi ketidakhadiran seorang anak, tidak membuat
perkawinan kami tidak bahagia. Malah sebaliknya. Selama
dua puluh tahun, kami hidup seperti Adam dan Hawa ketika
masih di Taman Firdaus. Saling mencintai. Saling
membutuhkan. Saling memberi. Meskipun bukan berarti tak
pernah bertengkar. Berdebat. Berselisih. Tetapi ibarat
bumbu, pertengkaran justru tambah melezatkan hidup
perkawinan kami. Tambah mendekatkan kami. Tambah
memperdalam cinta kami.
Mas Rian sangat mencintaiku. Itu tak dapat diragukan lagi.
Dan cintanya tidak memudar sekalipun dua puluh tahun telah
berlalu.
Dia seorang suami yang setia. Dan sangat mencintai
istrinya. Meskipun karena sangat mencintaiku, dia
kadang-kadang terlihat sangat posesif. Sangat pencemburu.
Tak pernah dibiarkannya aku pergi seorang diri. Biarpun
cuma untuk ke salon kecantikan. Aku harus menunggu sampai
Mas Rian pulang kerja. Lalu dia akan mengantarkanku. Ke
mana pun aku pergi. Rasanya kalau WC kami tidak berada di
dalam rumah, dia pasti akan berkeras pula mengantarkanku
membuang hajat. Lucu? Memang. Tapi jangan tertawa. Karena
memang begitulah suamiku. Begitulah model cintanya. Dan
sampai dua puluh tahun berlalu, kebiasaan itu masih tetap
kami jalani.
Mula-mula aku memang sering protes. Aku merasa kebebasanku
dibatasi. Dikekang. Tapi lama-kelamaan aku dapat menerima
kondisi seperti itu tanpa perlawanan lagi.
Pertama karena aku mencintainya. Tidak ingin menyakiti
hatinya. Dan aku tahu sekali mengapa Mas Rian melakukannya.
Dia ingin melindungiku. Sekaligus ingin memonopoli. Ingin
memiliki untuk dirinya sendiri. Egois? Barangkali. Tapi
kalau seperti itu wujud cintanya, mengapa tidak? Daripada
dibiarkan, tak diperhatikan, tak dipedulikan? Mau ada di
rumah atau tidak, masa bodoh amat! Lebih menyakitkan punya
suami seperti itu, kan?
Alasan kedua karena aku sudah bosan melawan. Percuma. Mas
Rian tidak bisa diatur. Tidak bisa dibantah. Kemauannya
sangat keras. Dan dia tidak mau tunduk kepada siapa pun.
Apalagi kepada istrinya.
Jangankan kepadaku. Kepada majikannya pun dia sering
melawan. Makanya jangan heran kalau dia sering pindah
pekerjaan.
Yang paling membuatku sedih, Mas Rian juga tidak mau
tunduk kepada Tuhan. Baginya, tidak ada yang di atas
kecuali langit. Tidak ada yang lebih tinggi dari dirinya
sendiri.
“Tuhan itu cuma hiburan untuk orang yang lemah,” katanya
dari dulu sampai sekarang. “Tempat meminta sesuatu yang
tidak dapat kita peroleh sendiri.”
Mas Rian tidak menolak ketika aku minta pernikahan kami
dilangsungkan secara Kristiani. Dia menurut saja ketika
aku menginginkan pemberkatan di gereja. Dia patuh saat aku
minta dia dibaptis sebelum menikah. Tetapi sesudah itu,
dia kembali lagi ke kehidupannya yang lama. Seolah-olah
dia mengabulkan permintaanku hanya semata-mata untuk
menyenangkan hatiku. Dan supaya pernikahan kami
berlangsung mulus.
“Aku tidak peduli menikah di mana,” tukasnya acuh tak acuh.
“Pokoknya bisa menikahimu. Di bawah pohon pun jadi.
Disuruh jadi apa pun aku mau.”
“Jadi apa artinya pengakuan yang kamu ucapkan di depan
Tuhan, Mas?” desahku sedih. “Hanya untuk menyenangkan
hatiku? Atau supaya kita bisa menikah?”
“Tuhan ada dalam dirimu sendiri,” katanya mantap. “Karena
kamu pikir dia ada, maka dia pun ada.”
Bukan baru sekali dua aku mengajaknya ke gereja. Mas Rian
memang ikut. Tapi cuma sekadar mengantar. Karena memang
dia tidak membiarkan aku pergi seorang diri. Di gereja dia
lebih banyak tertidur daripada mendengarkan khotbah.
Apalagi kalau isi khotbahnya tidak ada kena mengenanya
dengan masa kini. Cuma membahas peristiwa dua ribu tahun
yang lalu.
Dia malah sering mengejek kalau kebetulan ada ayat Kitab
Suci yang tidak sesuai dengan pendapatnya.
“Kenapa sih kamu bodoh sekali, Ir? Kamu kan perempuan.
Masa kamu mau saja dibodohi, dibilang berasal dari tulang
rusuk pria? Cerita itu pelecehan buat wanita! Itu lagi
dongeng Tuhan menciptakan manusia dari tanah liat! Apa
kamu belum pernah mendengar teori evolusi?”
Sudah lelah aku membantah. Sudah bosan aku memaparkan
sanggahan. Beberapa malah kuambil dari jawaban yang
diberikan pendeta di gerejaku.
Tetapi Mas Rian tidak puas juga. Dia menganggap Tuhan cuma
dongeng. Supaya manusia takut berbuat jahat.
“Dan supaya manusia terhibur kalau orang yang dicintainya
mati. Karena ada harapan untuk bertemu di Surga. Padahal
di mana Surga itu? Tidak ada yang tahu, kan? Tidak pernah
ada yang melihatnya. Biar pakai peralatan yang paling
canggih sekalipun!”
Suami seperti itulah yang kumiliki selama dua puluh tahun.
Suami yang sangat kucintai. Tetapi yang tak pernah dapat
kubangkitkan imannya.
Sampai suatu hari keangkuhannya tersandung. Sama seperti
ketika kakinya tersandung batu tajam di kebun. Kakinya
luka. Berdarah. Tapi tidak terlalu parah. Bukan cuma Mas
Rian yang tidak mengacuhkannya. Aku juga tidak terlalu
memperhatikannya. Luka sekecil itu, apa artinya?
Mas Rian juga tidak peduli ketika selama berbulan-bulan
luka itu tidak sembuh juga. Malah semakin parah. Membesar.
Dan mengandung nanah.
Dia cuma membeli salep antibiotik yang sekarang dengan
mudah diperoleh biarpun tanpa resep dokter. Sesaat lukanya
seperti menyembuh. Tetapi begitu dia memakai sepatu
terlalu lama, luka itu mulai meradang lagi. Demikian
seterusnya sampai suatu malam, aku tiba-tiba terjaga oleh
bau busuk yang menyengat hidungku.
Mula-mula kukira ada tikus mati di kamar mandi. Barangkali
tikus itu terjebak di dalam pipa air. Mungkin juga cuma
bangkai cecak malang yang terjepit di pintu. Atau
paling-paling ada kucing tertabrak mobil di jalan. Lalau
bangkainya dibuang begitu saja ke tempah sampah di depan
rumah yang berada tidak jauh dari jendela kamarku.
Aku baru sadar suamikulah yang menyebarkan bau busuk,
ketika keesokan paginya di meja makan pun aku mencium bau
seperti itu, padahal tidak ada makanan yang basi.
Santai saja Mas Rian menunjukkan kakinya ketika kutanyakan
hal itu padanya.
“Biasa, jari kakiku,” katanya acuh tak acuh, seolah-olah
cuma bajunya yang kotor. “Nanti pulang kantor aku beli
salep lagi.”
“Kenapa tidak ke dokter, Mas?” tegurku dengan perasaan
cemas. “Luka itu kan sudah hampir setahun tidak
sembuh-sembuh!”
“Siapa bilang?” bantah Mas Rian, seperti biasa, tidak mau
kalah. “Sudah sembuh kok. Cuma lecet lagi kena sepatu.
Nanti pakai salep juga langsung kering.”
Tetapi kali ini, lukanya tidak pernah sembuh lagi. Luka
itu berubah menjadi borok yang menebarkan bau busuk.
Akhirnya Mas Rian mau juga ke dokter setelah kupaksa
sambil melontarkan ancaman.
“Kalau Mas Rian tidak mau ke dokter, aku juga tidak mau
pap smear. Buat apa sehat kalau Mas Rian sakit?”
“Siapa bilang aku sakit?” Dia masih membantah dengan gigih.
Dasar keras kepala! “Aku nggak apa-apa kok!”
Tetapi pendapatnya berubah ketika dokter menyuruhnya
memeriksakan darahnya. Ternyata Mas Rianto mengidap
Diabetes melitus. Penyakit kencing manis.
Dan karena jari kakinya sudah membusuk, dokter terpaksa
memotongnya. Mas Rian diberi obat penurun kadar gula darah.
Dan diberi ancaman.
“Harus diet. Dan harus rajin memeriksa gula darah. Kalau
ada luka, cepat diobati. Kalau sudah menjadi gangren, tak
ada terapi lain kecuali amputasi. Membuang bagian yang
busuk dan jaringan yang sudah mati itu.”
Dua tahun Mas Rian mematuhi perintah dokter. Dia rajin
memeriksakan darahnya. Rajin diet. Rajin minum obat.
Tetapi menjelang tahun ketiga, karena kesibukannya
berwiraswasta, dia melupakan kesehatannya. Dia sedang
bersemangat sekali merintis usaha barunya di bidang
komputer. Dan karena kelihatannya usahanya maju pesat, dia
melupakan kesehatannya. Sia-sia aku selalu
memperingatkannya.
Mas Rian baru mau pergi ke dokter setelah kakinya mulai
menebarkan bau busuk lagi. Ternyata ada luka di telapak
kaki kanannya yang cepat sekali melebar dan membusuk. Luka
itu bukan hanya bernanah. Kulit di sekitarnya juga
berwarna kehitam-hitaman.
“Kalau Mas Rian tidak mau ke dokter, aku tidak mau lagi
tidur seranjang dengan Mas!” ancamku separo putus asa.
“Tidak tahan bau busuknya!”
“Oke! Oke!” katanya jengkel. “Tadi sore juga aku sudah
suruh sekretarisku telepon perawatnya Dokter Tiar. Dapat
nomor tiga. Tapi tidak keburu ke sana. Kamu kan tahu
bagaimana sibuknya aku belakangan ini!”
“Tahu,” dengusku sama kesalnya. “Yang aku tidak tahu,
apakah mereka masih mau menerima bookingan Mas. Soalnya
sudah supuluh kali dibatalkan!”
Tetapi kejengkelanku berubah menjadi kecemasan ketika
Dokter Tiar selesai memeriksa luka Mas Rian.
“Gangren,” suaranya sama seriusnya dengan airmukanya.
“Rasanya hampir terlambat…”
Terlambat! Sepotong kata yang sangat menakutkan!
Mengerikan! Apalagi bila diucapkan untuk orang yang sangat
kita cintai!
|