|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Keluarga |
|
28 April 2008
Keluarga Silang Atau Keluarga Saling? Mirip Tapi Beda Lo! |
|
|
Prinsip utama
dalam kehidupan keluarga yang bahagia sesungguhnya cuma
satu, yaitu saling. Keluarga bahagia adalah keluarga
saling. Itulah satu-satunya motivasi ketika Allah pertama
kali memertemukan laki-laki dan perempuan, yaitu agar yang
satu menjadi “penolong yang sepadan” bagi yang lain.
Saling menolong.
Kata “saling” mirip benar dengan kata “silang”. Akan
tetapi, keduanya mempunyai arti maupun konsekuensi yang
sungguh bertolak belakang. Silang bisa berarti seperti
peristiwa di sebuah perempatan jalan. Ada dua mobil, yang
satu hendak berjalan lurus, sedangkan yang lain mau belok
ke kanan. Keduanya sama-sama mau melaju lebih dulu, tak
mau menunggu. Akibatnya, mereka saling silang. Bertabrakan
dengan hebatnya.
Inilah gambaran keluarga yang tidak bahagia. Penuh
tabrakan-tabrakan dahsyat. Sebab yang satu tak pernah mau
mengalah terhadap yang lain. Sebab masing-masing
berprinsip “aku mesti jalan lebih dulu!”.
Silang juga bisa berarti di satu titik. Akan tetapi, cuma
sebentar. Setelah itu masing-masing berjalan
sendiri-sendiri. Semakin lama, semakin jauh.
Ini gambaran kehidupan keluarga yang tidak bahagia. Rumah
hanya merupakan tempat persinggahan di mana
anggota-anggota keluarga bertemu, tetapi tak lama. Sebab
setelah itu masing-masing berjalan menuju arah yang
bermacam-macam. Rumah hanya tempat untuk bersilang. Lalu,
semakin berjauhan.
Amat disayangkan bila kini semakin banyak jumlah keluarga
silang. Dan semakin sulit membina keluarga saling.
Padahal dalam
hal ini, Alkitab memberikan penjelasan yang amat jelas dan
gamblang. Yang mesti dibina dan diusahakan adalah saling,
bukan silang.
Anda baca saja Efesus 5 atau Kolose 3. Tak sedikit pun ada
keragu-raguan di situ. Istri harus menghormati suami. Akan
tetapi, toh suami tidak boleh “mentang-mentang”. Ia harus
mengasihi istrinya. Saling.
Anak-anak mesti menaati orang tua. Akan tetapi toh orang
tua tidak boleh sewenang-wenang. Orang tua tidak boleh
menyakiti hati anak-anak mereka. Saling.
Bawahan berkewajiban menghargai atasan. Akan tetapi atasan
tidak boleh lalu bersikap “semau gue”. Ia harus berlaku
“jujur dan adil” terhadap bawahannya. Saling. Nah, kurang
jelas apa lagi?
Dalam renungan ini, saya ingin mengajak Anda untuk
merenungkan bagaimana penting “saling” itu mesti kita
terapkan di dalam hubungan antara orang tua-anak dan
antara anak-orang tua.
Alkitab amat jelas, tandas, dan tegas mengatakan bahwa
anak-anak harus menghormati dan menaati orang tua mereka.
Itu tak perlu kita pertanyakan lagi. Itu juga telah
menjadi bagian dari sikap budaya kita.
“Hormatilah ayahmu dan ibumu supaya lanjut umurmu di tanah
yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu” (Keluaran 20:12).
“Hai anak-anak, hormatilah orang tuamu di dalam Tuhan,
karena haruslah demikian” (Efesus 6:1).
Anak-anak harus menghormati orang tua mereka, bukan
terutama karena dan apabila orang tua itu pantas dihormati,
tetapi hanya karena satu alasan saja: sebab mereka adalah
orang tua Anda. Titik.
Dan karena sampai kapan pun orang tua itu adalah orang tua,
maka perintah ini terus berlaku, tidak hanya pada waktu
anak-anak membutuhkan orang tua mereka, tetapi juga pada
waktu orang tua membutuhkan anak-anak mereka.
Toh yang lebih sering menjadi persoalan adalah, bagaimana
orang tua harus menjalin hubungan dengan anak-anak mereka.
Bagi orang-orang Yahudi–tetapi saya yakin, juga bagi
kebanyakan kita–anak-anak itu dipahami sebagai kelanjutan
orang tua. Banyak orang tua yang tersenyum puas menjelang
ajal sebab dapat berkata, “Aku puas, sebab walaupun aku
mati, anak-anakku akan melanjutkan apa yang belum
kuselesaikan.”
Itulah sebabnya, mengapa tidak mempunyai anak menjadi
persoalan yang akan serius. Bukan saja karena ada
kekosongan yang mendalam tetapi juga karena “tak ada yang
melanjutkan”.
Bahkan tidak mempunyai anak laki-laki pun dirasakan oleh
banyak orang sebagai kekurangan yang luar biasa. Sebab
“tidak ada yang melanjutkan keturunan”.
Betapa pun wajar dan normalnya pandangan seperti ini, ia
mengandung bahaya. Bahayanya ialah, anak-anak itu sering
tidak dilihat sebagai manusia-manusia yang mempunyai
kepribadian sendiri, tetapi hanya sebagai kelanjutan orang
tua mereka.
Yang paling sering adalah kita menggembleng anak-anak
begitu rupa dan kalau perlu kita bentuk dan kita paksa,
untuk memenuhi cita-cita dan ambisi orang tua yang tidak
kesampaian. Mereka seolah-olah tidak berhak untuk
mempunyai cita-cita dan ambisi sendiri.
Ayah yang gagal menjadi juara tinju, lalu membentuk
anak-anaknya secara keras untuk menjadi juara tinju dunia.
Ibu yang menderita karena bersuamikan orang yang tidak
mampu memberi kecukupan material, lalu berkeras melarang
anak-anak perempuannya menikah dengan orang-orang yang
mereka cintai hanya karena mereka tidak cukup kaya.
Tanpa sadar, kita lalu membentuk anak-anak kita seperti
tanaman bonsai. Kita tidak memberi kesempatan kepada
anak-anak itu untuk bertumbuh dan berkembang secara wajar.
Setiap kali daunnya, batangnya, dan akar-akarnya kita
pangkas sehingga “bonsai” kita itu terbentuk seperti yang
kita kehendaki. Bonsai itu memang indah, tetapi kerdil dan
tidak produktif. Hidup sekadarnya. Mati tidak, hidup dalam
arti sebenarnya pun tidak. Merana dan menderita.
Banyak orang
tua tidak sadar bahwa mereka telah membuat anak-anak
mereka merana dan menderita, justru ketika mereka
mengatakan, “Tapi Nak, ini demi kebaikanmu sendiri.” Atau,
“Ini semua terpaksa aku lakukan demi kasihku kepadamu!”
Tentu orang tua harus mengasihi anak-anaknya. Tetapi
mengasihi itu tidak berarti memiliki.
Tentu orang tua berkewajiban membina dan mengarahkan
anak-anaknya. Akan tetapi, itu sama sekali tidak berarti
mencetaknya.
Anak-anak bukanlah lembaran kertas fotokopi. Mereka
mempunyai kepribadian sendiri. Mereka berhak mengambil
keputusan sendiri. Dan kemudian mereka memikul risiko atas
keputusan mereka sendiri.
Apa yang dituliskan oleh Kahlil Gibran di bawah ini,
alangkah tepatnya:
|
Boleh kauberikan cintamu kepada mereka, tapi jangan
pikiranmu,
sebab mereka
mempunyai
pikiran sendiri.
Boleh kauberikan rumah untuk
tubuh mereka,
tapi jangan untuk jiwa mereka, sebab jiwa mereka tinggal
di rumah masa depan.
Boleh Anda berusaha menjadi seperti mereka, tapi jangan
menjadikan mereka seperti Anda.
Sebab hidup tidak bergerak
ke belakang atau
mogok di masa silam. |
|
Dikutip dari “Iklan Bagi Anak Hilang” karya
Pdt. Eka Darmaputra, Ph.D, editor Pdt. Ayub Yahya,
terbitan Gloria Graffa. |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|