|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Keluarga |
|
25 Maret 2008
Pemimpin yang Melayani
Pasutri Tjuk – Maureen |
|
|
Kami percaya bahwa Anda sudah melayani keluarga dengan
menggunakan kedua telinga Anda untuk mendengarkan ungkapan
perasaan istri dan anak-anak, baik di dalam kesesakan,
maupun di dalam kebahagiaan.
Namun perlu disadari bahwa banyak kendala bagi kaum pria
untuk menjadi pemimpin yang melayani, karena setiap pria
memiliki kecenderungan ingin menunjukkan kekuatan serta
naluri berkuasa, berperang, mendominasi dan menang.
Padahal Tuhan menginginkan agar kaum pria menjadi pemimpin
keluarga yang mengasihi, peduli dan menghargai istri dan
anak-anaknya. Alkitab mengajarkan konsep “sikap kelembutan”
untuk mendorong agar setiap aspek kehidupan manusia dapat
bertumbuh dan berpusat kepada Kristus. Dia datang bukan
hanya menyelamatkan manusia, tetapi juga menegakkan
keadilan sosial, persamaan hak bagi laki-laki dan
perempuan (Galatia 3:28). Umat manusia harus menjadi satu
dan membawa kemenangan bagi setiap orang, tidak peduli
jenis kelaminnya.
Yesus mengajar kepada kaum pria agar menjadi pria sejati
yang memiliki “kekuatan” luar biasa, yaitu
kelemah-lembutan dan kerendahan hati, bukan dengan
menggunakan otot. Matius 11:29 mengatakan, “Pikullah kuk
yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku
lemah-lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat
kelegaan”. Belajar menjadi lemah-lembut dan rendah hati
tidak mudah, tetapi harus melalui proses memikul suatu
beban, yaitu ketidaknyamanan untuk mendisiplinkan diri
sendiri, karena kelemah-lembutan itu suatu unsur yang
sulit dikenali dalam diri pria. Lemah-lembut bukan berarti
“lemah gemulai, tetapi lemah-lembut yang tegas, menghargai
orang lain dan mendengarkan orang-orang di sekelilingnya,
serta memperhitungkan keadaan. Perlu disadari bahwa
seorang suami biasanya kurang dapat mendengarkan istri,
oleh karena itu Yakobus 1:19-20 menasihatkan, “Hai
ingatlah hal ini: setiap orang hendaknya cepat untuk
mendengar, tetapi lambat untuk berkat-kata, dan lambat
untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan
kebenaran di hadapan Allah”.
Mendengarkan adalah sebuah pelayanan yang mulia, karena
ketika Anda mendengarkan, Anda sedang menghargai pasangan
dan anak-anak dengan penuh kasih, namun tetap teguh
berpegang dalam kebenaran. Efesus 4:15 mengatakan, “dengan
teguh berpegang pada kebenaran di dalam kasih, kita
bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus yang
adalah Kepala”. Seorang suami sebagai pemimpin dan imam
dalam keluarga yang memiliki otoritas dari Tuhan untuk
memimpin keluarga dan bertanggung jawab kepada Allah,
harus memiliki keseimbangan dalam berpikir, merasakan dan
bertindak. Suami sebagai pria sejati memiliki hikmat dari
Tuhan untuk bertindak sebagai teladan dalam kehidupan
keluarga. Dia memiliki komitmen untuk bertumbuh lebih dulu
menjadi serupa Kristus yang “Congruent”, selalu
memperhitungkan orang lain, memperhitungkan diri sendiri
dan memperhitungkan keadaan.
Suami yang sudah bertumbuh tidak memiliki kecenderungan
seperti yang dilakukan manusia pada umumnya ketika
menghadapi masa-masa sulit, yaitu melampiaskan amarah,
atau menasihati pasangan dengan kata-kata keras, terutama
bila kesulitan itu ditimbulkan oleh pasangan. Tetapi dia
dapat melakukan kelemah-lembutan pada pasangan, karena ada
dorongan alami dalam dirinya, yaitu Roh Kudus yang
merupakan sebuah transformer yang membangkitkan tenaga
yang luar biasa dalam dirinya. Bersikap lemah-lembut dan
tenang di tengah pencobaan, merupakan salah satu cara yang
paling ampuh untuk membangun sebuah hubungan yang erat
dalam kehidupan rumah tangga. Terlebih lagi bila kita
menggunakan kata-kata yang baik, positif dan membangun,
supaya orang lain yang mendengarnya beroleh kasih karunia
dan mendapat kekuatan yang membangkitkan semangat hidup.
Efesus 4:29-30 menasihatkan kepada kita, “Janganlah ada
perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah
perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya
mereka yang mendengarnya beroleh kasih karunia”.
Pria yang kuat secara rohani menyadari bahwa perkataannya
memiliki kuasa yang dahsyat, yaitu perkataan yang selalu
menguatkan dan membangun. Perkataan positif perlu
dikembangkan sebagai sarana komunikasi keluarga
sehari-hari untuk menggantikan nasihat-nasihat yang
disertai amarah yang dapat mengecilkan arti pasangan.
Nasihat itu mungkin baik bila sesekali dilakukan sebagai
tanggapan yang sesuai bagi seseorang, namun perkataan
lemah-lembut dan membangun dapat menghindari perdebatan.
Kita sering tidak menyadari bahwa perkataan kita bernada “sumbang”,
maka kita perlu mengemas perkataan positif dan membangun,
sebagai ungkapan yang menyatakan bahwa pasangan memiliki
arti dalam kehidupan keluarga.
Kelemah-lembutan lewat ucapan dan tindakan yang
mencerminkan kasih dan kepedulian, sungguh berdampak luar
biasa, Matius 8:3 mengatakan, “Lalu Yesus mengulurkan
tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: ‘Aku mau,
jadilah engkau tahir’. Seketika itu juga tahirlah orang
itu dari pada kustanya”. Perkataan dan sentuhan Yesus yang
lembut kepada orang sakit kusta itu mendatangkan mukjizat
kesembuhan. Demikian pula perkataan dan sentuhan lembut
seorang suami kepada pasangan, atau seorang bapak kepada
anak-anaknya, yang disertai dengan pengampunan, akan
sanggup menghancurkan benteng-benteng kesombongan,
keangkuhan, kemarahan dan kekecewaan pasangan dan
anak-anaknya. Untuk membiasakan sikap dan perkataan
positif, membangun dan mendorong semangat bagi keluarganya,
suami bijak akan melakukan tindakan dan perilaku
sehari-hari, sampai menghasilkan karakter Yesus dalam
dirinya.
Yesus mengatakan bahwa wibawa seorang pemimpin ditentukan
oleh sejauh mana dia bersedia melayani, karena Yesus juga
datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan
untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak
orang (Markus 10:45). Suami bijak yang menjadi pemimpin
rumah tangganya, akan termotivasi pernyataan Yesus untuk
melakukan yang terbaik bagi istri dan anak-anaknya dengan
sikap sebagai hamba yang melayani mereka. “Barangsiapa
ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi
pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di
antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya”
(Markus 10:43-44). Apabila suami tidak bersedia melayani
keluarganya, maka suami tersebut telah
mendiskualifikasikan dirinya sendiri sebagai seorang
pemimpin di dalam rumah tangganya.
Melayani adalah identik dengan mengasihi, dan apabila Anda
sudah melayani istri dan keluarga, berarti Anda sedang
mengasihi mereka. Seorang pria tidak pernah berhenti
memimpin dan melayani. Itulah peran yang diberikan Tuhan
kepadanya. Namun kita seringkali mendengar keluhan dari
para istri bahwa suaminya dapat melayani sampai ke ujung
dunia, tetapi dia tidak dapat meluangkan waktu sedikit pun
untuk melayani keluarganya. Dan biasanya kaum pria ini
menciptakan dalih karena adanya kesibukan, beban kerja
yang berat, lelah, pelayanan di luar yang menyita waktu
dan lain sebagainya. Bahkan ditekankan kepada istrinya
bahwa keadaan ini harus diterima keluarganya sebagai harga
yang harus dibayar.
Dalih ini sering diungkapkan oleh para suami, hanya karena
mereka enggan meluangkan waktu untuk melayani istri dan
anak-anaknya. Mereka tidak menyadari bahwa Allah
menciptakan kaum pria untuk memimpin dan melayani di dalam
rumah tangganya. Sebagai pemimpin, Anda tidak perlu
melakukan pelayanan pekerjaan phisik seperti pembantu
rumah tangga, tetapi kalau diperlukan, tidak ada salahnya
Anda membantu istri dalam menyelesaikan pekerjaan itu.
Namun yang terpenting sebagai suami harus memiliki
perhatian khusus kepada istri dan anak-anaknya untuk
membimbing dan mengarahkan mereka, baik dalam spiritual,
mental, maupun phisik.
Oleh karena itu Tuhan memberi peran kepada suami untuk
melakukan Tri-dharma sebagai wujud nyata pelayanan seorang
suami kepada keluarganya, yaitu: peran sebagai pemimpin,
sebagai imam dan sebagai sahabat bagi istri dan
anak-anaknya. Peran itulah yang harus dipatuhi dengan
sebaik-baiknya, karena pernikahan ini bukan milik Anda,
tetapi milik Tuhan dan Anda hanya sebagai pengelola yang
harus mempertanggung-jawabkan hasil pengelolaan itu kepada
Tuhan, melalui Yesus Kristus. “Akulah pokok anggur yang
benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku
yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang
berbuah, dibersihkan-Nya supaya ia lebih banyak berbuah”.
(Yohanes 15:1-2). Berhasil dan tidaknya pengelolaan itu
terletak di tangan para suami, namun bila kita melakukan
pengelolaan dengan baik dan benar, niscaya akan
mengasilkan buah.
Sebagai pemimpin: Suami sebagaimana layaknya “kepala”
dalam tubuh phisik, yaitu melihat, berbicara, mendengar
dan berpikir demi kepentingan seluruh tubuh, namun tanpa
tubuh, kepala tidak berdaya. Oleh karena itu Anda sebagai
pemimpin keluarga perlu memiliki sosok yang berwibawa
yaitu “pemimpin yang melayani” untuk membimbing dan
mengarahkan istri serta anak-anak Anda, karena Anda
memiliki otoritas tertinggi dalam rumah tangga, namun
tidak otoriter. Bahkan kepemimpinannya itu diwarnai dengan
kepemimpinan yang partisipatif, yaitu memberikan wahana
keterbukaan, bebas mengeluarkan pendapat bagi istri dan
anak-anak.
Di sisi lain Anda perlu juga memberikan keteladanan yang
alkitabiah kepada mereka, yaitu “satunya kata dengan
perbuatan dan satunya mulut dengan tindakan”. Keteladanan
ini sangat diperlukan bagi mereka untuk dapat melakukan
nilai-nilai alkitabiah yang telah Anda tetapkan bersama.
Di samping itu perlu memberikan pemberdayaan kepada mereka
dengan mendidik dan melatih mereka untuk melakukan segala
sesuatu yang baik demi tercapainya hidup yang bermakna.
Sebagai iman dalam keluarga: Suami berkewajiban membimbing
pertumbuhan rohani istri dan anak-anak. Membangun keluarga
yang beribadah dan membangun ibadah keluarga, merupakan
sarana yang ampuh untuk membangun jalinan hubungan dengan
Tuhan dalam doa dan puji-pujian, serta komunikasi dengan
keluarga yang saling mengasihi. Suami yang berdoa bagi
istri dan anak-anaknya, dapat mengembangkan keintiman
spiritual yang menghasilkan “kesatuan roh”, yang pada
akhirnya berdampak positif pada keintiman emosional dan
keintiman fisik. Banyak para istri yang terkikis secara
fisik, emosional dan mental akibat serangan musuh yang
gencar, sehingga komunikasi dengan Allah mulai undur dan
berdampak ke dalam pernikahan. Apabila “tangki spiritual”
istri sedang kosong, suamilah yang wajib mendoakan, karena
suami diberi kuasa oleh Tuhan untuk “menahan kekuatan
musuh” (Lukas10:19), dan melindungi istri serta
anak-anaknya. Untuk itulah suami harus kuat dalam rohani
agar senantiasa dapat peneguhan dari Tuhan sebagai imam
dalam keluarga secara utuh.
Sebagai sahabat: Suami bertindak bijak, seperti firman
Tuhan yang mengatakan, “Hai suami-suami, hiduplah
bijaksana dengan istrimu, sebagai kaum yang lebih lemah!
Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia,
yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang” (1 Petrus
3:7). Dalam hal ini, Anda perlu menempatkan keberadaan
Anda menjadi sahabat bagi orang-orang yang Anda kasihi,
dan perlu belajar mendengarkan mereka. Pria sejati bukan
orang yang memiliki kemampuan berbicara yang menimbulkan
decak kagum dari orang yang mendengarkannya, tetapi
memiliki kemampuan mendengarkan keluarganya dan
orang-orang di sekitarnya. Mendengarkan adalah suatu
pelayanan yang luar biasa bagi pasangan dan keluarga.
Untuk mengembangkan sikap kepedulian sebagai pemimpin yang
melayani, Anda perlu berhenti sejenak dari kerja keras,
meluangkan waktu dari kesibukan-kesibukan pribadi yang
berkaitan dengan hobby Anda, menata kembali jadual
pelayanan Anda, untuk merenungkan firman Tuhan dan
merefleksi diri bersama pasangan.
Kita perlu beristirahat sejenak demi kebaikan diri sendiri
dan mengarahkan kepedulian kita kepada pasangan dan
keluarga demi menegakkan peran Suami sebagai pemimpin yang
melayani. Kita perlu waktu untuk pembaharuan dan
penyegaran kembali roh, jiwa dan tubuh, bersama keluarga. |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|