|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Keluarga |
|
16 Januari 2008
Komitmen Pasutri
Pasutri Tjuk – Maureen |
|
|
|
Banyak di antara kita sebagai pasangan suami-isteri,
walaupun sudah lama menikah dan mempunyai anak-anak yang
sudah beranjak dewasa, namun masih belum dapat melakukan
perintah Tuhan, seperti dalam Kolose 3:18-19 yang
mengatakan, “Hai Istri-istri tunduklah kepada suamimu,
sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai suami,
kasihilah istrimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia”.
Saya bersama pasangan juga pernah mengalami kesulitan
bertumbuh untuk melakukan perintah Tuhan itu. Terlebih
dalam Efesus 5:25 yang mengatakan, ”Hai suami, kasihilah
istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan
telah menyerahkan diri-Nya baginya”. Wow…! Jadi, saya
harus mengasihi pasangan, seperti Kristus mengasihi gereja?
Dapatkah saya melakukannya? Karena apa yang dikatakan ayat
itu merupakan standar kasih yang sempurna, kasih tanpa
pamrih, bahkan kasih yang rela berkorban. |
|
|
|
Komitmen Bertumbuh dalam Yesus |
Sampai pada
suatu ketika, Tuhan menuntun kami berdua sewaktu bersaat
teduh bersama, untuk menghayati firman-Nya dalam Efesus
4:22-24 yang mengatakan, (22) “Berhubung dengan kehidupan
kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang
menemui kebinasaan oleh nafsumu yang menyesatkan, (23)
supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu (24) dan
mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut
kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang
sesungguhnya”.
Kami sangat tersentuh dan segera datang ke hadirat Tuhan,
mohon pengampunan dan bimbingan-Nya. Kemudian kami diberi
hikmat untuk dapat mengerti dan menghayati ayat-ayat
tersebut. Ketiga ayat tersebut mengandung prinsip yang
sangat tepat sebagai pegangan bagi setiap pasangan
suami-istri untuk bertumbuh saling mengasihi dan peduli.
Paulus menjelaskan tanggung jawab yang harus kita lakukan
untuk bertumbuh menjadi serupa Kristus, melalui tiga tahap,
yaitu:
- Memiliki komitmen yang kuat untuk melepas cara-cara
lama dalam bertindak. Kita sebagai suami-istri harus sudah
dilahirkan kembali dalam roh (Be Reborn in Our Spirit),
yaitu: percaya (believe) kepada Yesus Anak Allah yang
telah mati di Kayu Salib untuk menyelamatkan kita semua;
mempercayakan (trust) setiap celah kehidupan kita
kepada-Nya; dan menerima (receive) Roh Kudus agar
mengendalikan dan memberdayakan kehidupan kita. Oleh
karena itu, kita perlu menyadari dan mengucapkan komitmen
bersama di hadapan Tuhan, untuk meletakkan fondasi yang
kokoh sebelum mulai melangkah pada tahap berikutnya,
karena komitmen adalah “Kekuatan Kehidupan”. Dengan
komitmen yang kuat, maka pasangan suami-istri memiliki
kekuatan untuk melepas kebiasaan lama dalam bertindak.
Suami mengasihi istrinya dengan tulus dan juga istri
tunduk dan hormat kepada suami, seperti yang Tuhan
perintahkan.
- Memperbaharui pikiran kita, sejalan dengan pembaharuan
manusia batiniah kita. Dalam New King James Version,
Efesus 4:23 dikatakan, “be renewed in the spirit of your
mind”. Membaharui pikiran kita di dalam roh (manusia
batiniah) yang terlebih dulu telah dibaharui. Apabila
dipadukan dengan Filipi 2:5 yang mengatakan, “Hendaklah
kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan
yang terdapat juga dalam Kristus Yesus”, maka kita
mendapat pengertian bahwa pikiran dan perasaan kita harus
dikuasai oleh manusia batiniah kita yang sudah diterangi
oleh Roh Kudus, dengan menggunakan pikiran dan perasaan
Kristus. Untuk itu, baik suami, maupun istri harus
bersama-sama memperbaharui pola pikir yang didahului
dengan pembaharuan manusia batiniah. Mengapa perlu
memperbaharui pola pikir? Karena Pola Pikir (the way to
think) dapat menentukan Pola Rasa (the way to feel) dan
Pola Rasa itu akan membangun Pola Tindak (the way to act),
sehingga kita dapat bertindak dengan benar. Tuhan mencipta
manusia yang dikaruniai akal budi dan kesadaran moral yang
dapat membedakan benar dan salah, sehingga kita dapat
bertanggung jawab kepada Allah. Dengan pola pikir yang
benar sesuai kehendak Allah, maka kita dapat memiliki pola
rasa dan pola tindak yang benar yang berkenan kepada
Allah. Apabila kita sudah memiliki pikiran dan perasaan
Kristus, maka kita juga akan dapat bertindak seperti
Kristus.
- Mengembangkan kebiasaan-kebiasaan baru dalam kebenaran
dan hidup kudus. Pasangan suami-istri harus mengembangkan
kebiasaan-kebiasaan baru dalam kebenaran dan hidup kudus,
dengan mengenakan karakter Kristus. Karakter Kristus yang
menonjol adalah KASIH dan PEDULI. Pengorbanan Tuhan Yesus
di Kayu salib adalah wujud nyata dari kasih yang sempurna
yang dikaruniakan-Nya kepada kita. Kasih itu bukan hasil
usaha kita, tetapi “Anugerah” dari Tuhan Allah melalui
pengorbanan Yesus. Kita perlu memiliki pengalaman
merasakan kasih Yesus dalam kehidupan kita, dan apabila
kita sudah dapat merasakan kasih Kristus, maka kita pasti
dapat meresponi kasih-Nya dengan mengasihi Dia dan sesama
termasuk pasangan kita. Dalam Galatia 5:14, Yesus
mengajarkan kasih kepada kita: “Kasihilah sesamamu manusia
seperti dirimu sendiri”.
Kita perlu menyadari bahwa proses untuk dapat mengasihi
dan peduli pada istri, serta tunduk dan hormat kepada
suami, harus diawali dengan suatu keputusan, yang
diwujudkan dalam komitmen bersama di hadapan Tuhan:
“Tuhan, aku mau mengasihi dan peduli pada istri (aku mau
tunduk dan hormat kepada suami), dan mewujudkan pernikahan
yang kudus”. Dengan komitmen tersebut, Tuhan akan
memampukan kita untuk saling mengasihi dan peduli pada
pasangan, karena pada dasarnya setiap manusia memiliki
hasrat untuk dikasihi serta bergaul intim dengan orang
lain, dan pernikahan memang dirancang untuk memenuhi
kebutuhan dikasihi dan keintiman itu. |
|
|
|
Komitmen Mewujudkan Ikatan Spiritual |
Kesatuan hati
dan tumbuh bersama perlu diwujud-nyatakan dalam kesatuan
suami-istri dengan menegakkan Ikatan Spiritual dalam
pernikahan yang menjanjikan keintiman sejati bagi Pasutri
dalam kehidupan keluarga. Pasutri yang memiliki Ikatan
Spiritual, menghasilkan gairah dan energi yang luar biasa
yang tidak tertandingi oleh seluruh pengalaman Pasutri
yang hanya mengandalkan “ikatan emosional” dan “ikatan
phisik” dalam pernikahan mereka.
Jika Pasutri ingin saling mengasihi dengan Kasih Allah,
mereka harus memandang Allah sebagai “Inti Kehidupan”,
dengan mendasarkan setiap tindakan mereka hanya untuk
kemuliaan Allah, serta memiliki komunikasi yang merupakan
“Dasar Kehidupan” untuk mengasihi serta melayani Allah dan
sesama (Matius 22:37-38; Markus 12:30-31; dan Lukas
10:27-28). Dengan menempatkan Kristus sebagai “Pusat
Hubungan”, mereka akan bersatu secara rohani, memiliki
keintiman sejati dan akan menjadi satu daging.
Ketika anda dan pasangan sudah terikat secara spiritual,
maka bukan lagi Anda dan pasangan yang saling mengasihi,
namun Allah sendirilah yang melakukannya, Allah mengasihi
Anda melalui pasangan Anda. Dengan demikian, Pasutri mampu
memahami dan menerapkan konsep pemenuhan kebutuhan yang
bersumber dari Kasih Kristus dan mengalami kasih-Nya dalam
kehidupan mereka, sehingga tidak lagi saling menuntut,
akan tetapi justru saling memberi. Maka kualitas
komunikasi menjadi semakin meningkat dan pernikahan mereka
berkenan kepada Allah serta memenuhi rancangan-Nya.
Kalau pernikahan kita ilustrasikan sebagai mobil, maka
body mobil itu adalah “ikatan fisik” dalam pernikahan, dan
mesin mobil itu merupakan “ikatan emosional”, sedangkan
bahan bakar sebagai “ikatan spiritual”. Ikatan spiritual
dalam pernikahan adalah sebagai “bahan bakar penggerak
yang tangguh” untuk memfungsikan ikatan emosional dan
ikatan fisik, maka “tangki cinta” spiritual itu harus
dijaga agar tetap penuh.
Namun ikatan emosional dan ikatan phisik tetap membutuhkan
perhatian dan tidak boleh diabaikan, agar terjadi suatu
keseimbangan. Kebutuhan “perawatan” ikatan emosional dapat
dipenuhi dengan melakukan dialog pasangan yang berkualitas.
Dialog adalah bagian dari komunikasi untuk memahami
perasaan dan apabila Pasutri dapat merasakan dan
menghayati apa yang dirasakan oleh pasangan, maka hubungan
pernikahan akan menjadi lebih baik dan hamonis. Namun yang
terpenting, Pasutri harus mencermati kondisi “tangki cinta”
ikatan spiritual mereka agar tetap penuh, karena ikatan
spiritual merupakan faktor utama untuk mendorong pemenuhan
keintiman emosional dan fisik, serta meningkatkan kualitas
komunikasi pasangan.
Kami mengajak Anda bersama pasangan, menjalani pernikahan
yang dilandasi oleh “Ikatan Spiritual” yang terikat oleh
darah dan tubuh Kristus (1 Korintus 10:16-18). Ikatan ini
memang sesuatu yang unik karena Anda dan pasangan memiliki
hubungan yang dekat dengan Yesus Kristus, Anda dan
pasangan bukan hanya menyertakan Allah dalam segala hal
dan mengundang-Nya ke dalam setiap sudut dan celah
hubungan Anda, tetapi juga memahami dan menggunakan
pikiran dan perasaan Kristus serta mengenakan karakter-Nya,
“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan
perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (Filipi
2:5). Pola pikir, pola rasa dan pola tindak Kristus yang
diajarkan oleh Paulus dalam Filipi 2:6-8 merupakan “model”
yang perlu diterapkan dalam pola pikir, pola rasa dan pola
tindak Pasutri untuk mengasihi dan peduli pada istri serta
tunduk dan hormat kepada suami:
- Pola Pikir Kristus (ayat 6) Yesus menyangkal diri:
“walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan
dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan”,
- Pola Rasa Kristus (ayat 7) Yesus mengosongkan diri:
”melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan
mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan
manusia”.
- Pola Tindak Kristus (ayat 8) Yesus rela berkorban: “Dan
dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan
diri-Nya dan taat sampai mati di kayu salib”.
Tuhan Yesus memiliki gambar diri ‘’Congruent”, suatu
kesempurnaan yang dapat memperhitungkan diri sendiri,
memperhitungkan orang lain, dan memperhitungkan keadaan.
Dalam kondisi dapat memperhitungkan diri sendiri, Yesus
mengenali diri sendiri dan menyangkal diri: “walaupun
dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah
itu sebagai milik yang harus dipertahankan” (Filipi 2:6).
Ketika Yesus menyangkal diri, Dia mampu memberi
penghargaan yang patut pada diri-Nya, untuk
memperhitungkan manusia, dan demi keselamatan manusia,
sejalan dengan kehendak Bapa yang mengutus Dia. Maka Dia
sanggup: “mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil
rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia”. (Filipi
2:7). Menghargai diri identik dengan menyangkal diri,
semakin tinggi tingkat penghargaan diri seseorang terhadap
dirinya, maka dia dapat melakukan tindakan yang semakin
efektif dan bermanfaat dalam hidupnya dan mendatangkan
berkat bagi orang lain, Yesus rela berkorban: “Dan dalam
keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan
taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Filipi
2:8).
Karena itu Yesus mengatakan, “Setiap orang yang mau
mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul
salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Lukas 9:23).
Menyangkal diri adalah kebebasan untuk mengutamakan orang
lain lebih dari kepentingan diri sendiri, agar tidak
berpusat untuk memikirkan diri sendiri, melainkan untuk
kepentingan orang lain juga. Menyangkal diri bukan
menghilangkan identitas diri atau menghina diri sendiri,
melainkan bermegah atas kasih karunia Tuhan dalam hidup
kita.
Dengan menggunakan Filipi 2:6-8 sebagai “model”, Pasutri
dapat membangun pola pikir, memusatkan pola rasa, dan
mengarahkan pola tindak, agar suami belajar mengasihi dan
peduli pada istri dan istri belajar tunduk dan hormat
kepada suami (Kolose3:18-19 dan Efesus 5:25), yaitu:
- Pola Pikir Pasutri: Menyangkal diri dan tidak
mempertahankan status duniawi, tetapi menjaga status
sebagai pengikut Kristus, yang diciptakan menurut
gambar-Nya, sebagai anak-anak tebusan Allah yang menjadi
pewaris Kerajaan Surga, dan sebagai anak-anak yang
mentaati Firman-Nya. Masing-masing individu menyadari
sepenuhnya bahwa setiap orang, termasuk diri sendiri pasti
memiliki kekurangan, kelemahan dan dosa. Namun di sisi
lain juga menyadari bahwa setiap orang yang dihadapi,
termasuk diri pasangan, memiliki masalah dan sedang
berjuang dalam peperangan sulit. Baik suami, maupun istri
tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi memikirkan
kepentingan pasangan dan keluarga.
- Pola Rasa Pasutri: Mengosongkan diri dan mengisi dengan
rasa belas kasih dan lambat untuk menuntut keadilan, serta
tidak menghakimi pasangan. Tidak ada cara yang lebih baik
untuk hidup bagi Tuhan, selain melalui tanggapan spiritual
dan membiarkan manusia batiniah yang bekerja.
- Pola Tindak Pasutri: Rela berkorban dan merendahkan
diri dengan sikap positif, penuh kasih dan memenangkan
pasangan. Tidak cepat untuk membela diri atau berusaha
untuk menutupi kesalahan dengan menciptakan berbagai dalih.
Membuang kesombongan, keangkuhan dan kecongkakan dari
dalam diri kita, yang dapat ditunggangi Iblis untuk
menghancurkan kehidupan pernikahan.
Apabila kita sudah membangun pola pikir kita dengan pola
pikir Kristus, maka kita dapat melakukan perintah Allah
dalam Kolose 3:18-19 dan Efesus 5:25, suami mengasihi dan
peduli pada istri, istri tunduk dan hormat kepada suami.
Ini merupakan keseimbangan yang harus dilakukan oleh
setiap Pasutri. Ketika Anda dan pasangan sudah melakukan
keseimbangan ini, berarti Anda sudah memiliki “kunci
kehidupan” yang dapat membuka persahabatan dengan pasangan,
baik sahabat dalam pelayanan, sahabat di ruang tamu,
sahabat di dapur dan sahabat di tempat tidur. Amsal 17:17
mengatakan, “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu
dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran”. Yesus juga
mengajak kita untuk menikmati persahabatan (1 Petrus 3:7),
kita pun dapat menikmati persahabatan dengan pasangan,
agar dapat saling memberi cinta kasih yang sejati. |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|