|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Keluarga |
|
17 Nopember 2007
Menjadi Manusia Seutuhnya
Pasutri Tjuk – Maureen |
|
|
Banyak suami atau isteri masih dikendalikan oleh keadaan
atau sesuatu yang terjadi pada masa lalu mereka; trauma,
sakit hati dan dendam menguasai pikiran mereka. Dengan
demikian, suasana hati menjadi kacau, berubah-ubah, dan
pikirannya tidak menentu yang mengakibatkan jiwanya
tertekan. dan tidak mengalami damai sejahtera. Orang yang
memiliki suasana hati yang kacau dan berubah-ubah, tidak
dapat berpikir positif dan manusia batiniahnya tidak
berkuasa mengendalikan pikirannya.
Alangkah baiknya bila Pasutri mulai menyingkirkan
bayang-bayang masa lalu, karena Allah tidak pernah
membiarkan kita terpuruk ke dalam masa lalu kita, Dia
menghendaki agar kita menyadari bahwa masa lalu itu sudah
berakhir dan sudah mati. Masa lalu sudah dikuburkan
bersama Kristus, dan diserahkan kepada kuasa Salib, masa
depan kita sudah siap dibangkitkan bersama Kristus
(Galatia 2:19b-20). Pasutri terus bergerak maju dan
melangkah ke masa depan yang penuh harapan.
Apabila metafora dunia masih menguasai diri Anda, segera
ingat akan nasehat Paulus dalam 2 Korintus 10:4-5, “Karena
senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi,
melainkan senjata yang dilengkapi dengan kuasa Allah, yang
sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kami mematahkan
setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu-kubu yang
dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang
pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan
menaklukannya kepada Kristus”. Ayat-ayat tersebut
menunjukkan bahwa manusia batiniah Paulus dapat
mengendalikan pikirannya dengan menggunakan pikiran
Kristus. Dan pada Filipi 4:8 Paulus mengajarkan pula bahwa
kita perlu memikirkan segala sesuatu yang baik untuk
memastikan bahwa manusia batiniah kita dapat mengendalikan
pikiran-pikiran kita, “Jadi akhirnya, sudara-saudara,
semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua
yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar,
semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah
semua itu”. Sedangkan ayat:7, Paulus menyatakan bahwa
damai sejahtera Allah akan diam dalam kehidupan kita
apabila segala pikiran kita dipusatkan pada
perkara-perkara yang tepat dalam Kristus Yesus. Untuk itu
Pasutri harus dapat memahami diri sendiri (Manusia
Batiniah) sebaik-baiknya. |
|
|
|
MEMAHAMI DIRI SENDIRI |
Mengenal dan memahami diri sendiri sangat penting bagi
Pasangan suami-isteri pengikut Kristus, karena dengan
memiliki pengenalan diri, mereka dapat berkomunikasi
dengan diri sendiri, yaitu manusia batiniah (roh) yang ada
di dalam dirinya, sehingga dapat bersekutu dengan Allah di
dalam roh, karena “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah
Dia, harus menyembahNya dalam roh dan kebenaran” (Yohanes
4:24). Persekutuan manusia dengan Allah hanya dapat
terjadi bila manusia itu mengenal, menghargai dan menilai
diri sendiri dengan benar dan alkitabiah. Manusia
batiniahnya harus dapat difungsikan sesuai rancangan Tuhan
dalam menciptakan manusia (Kejadian 2:7).
Fungsi manusia batiniah itu tidak dapat digantikan oleh
pikiran atau perasaan yang berasal dari jiwa, bahkan
manusia batiniah itu harus dapat menguasai pikiran,
perasaan dan keinginan yang berasal dari jiwa. Manusia
batiniah kita memiliki fungsi untuk melakukan jalinan
hubungan dengan Allah. Jalinan hubungan merupakan
persekutuan dengan Allah dalam bentuk doa dan pujian untuk
memulyakan Allah. Persekutuan dengan Allah dapat dilakukan
secara langsung di dalam roh atau manusia batiniah, bukan
hanya di dalam jiwa atau dengan manusia lahiriah saja.
Perintah Allah dalam Markus 12:30 mengatakan, “Kasihilah
Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu (roh atau manusia
batiniah) dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap
akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu”. Jadi kita
mengasihi Tuhan harus dengan segenap manusia seutuhnya,
yaitu : roh, jiwa dan tubuh.
Manusia batiniah kita memiliki fungsi untuk membangun
persekutuan dengan Allah, dan memiliki kekuatan yang dapat
mengendalikan pikiran, perasaan dan keinginan di dalam
jiwa. Sebagai Pasutri yang sudah dilahirkan kembali, maka
roh kita tidak akan tersekat dengan hayat Allah, bahkan
Roh Kudus tetap tinggal di dalam manusia batiniah kita,
dan kita di hidupkan menjadi bejana Roh Kudus.
Sebelum seseorang dilahirkan kembali, fungsi roh itu
berbaur menjadi satu dengan jiwanya sehinga fungsi roh
terhadap Allah menjadi lemah, bahkan telah mati dan
dikendalikan oleh jiwanya. Dia tidak dapat mengenali
manusia batiniahnya sendiri, sehingga tidak dapat
memberdayakan fungsi roh dengan baik. Roh itu menjadi
gelisah dan tidak mampu mengendalikan pikiran, perasaan
dan keinginan dalam jiwanya. Dalam kondisi demikian, kita
segera menggunakan firman Tuhan untuk memahami dan
mengenali diri sendiri, dengan cara: memisahkan manusia
batiniah dari kungkungan jiwa. “Sebab firman Allah hidup
dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua
manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan
roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan
pertimbangan dan pikiran hati kita” (Ibrani 4:12). Kita
bukan saja harus dapat memisahkan roh dari kungkungan jiwa,
tetapi sebaliknya roh kita harus dapat mengendalikan jiwa
kita. Alkitab dengan firmanNya mampu menegur kita bila
menyimpang dari jalan yang telah ditentukanNya (2 Timotius
3:16).
Dengan mengembalikan fungsi manusia batiniah, maka Pasutri
dapat hidup rukun dalam rancangan Tuhan. Kedekatan dengan
Tuhan dapat memahami tentang pengenalan diri, “siapa
manusia batiniah kita”. Melalui doa, kita juga dapat
membuka diri agar Roh Kudus mengajar kita untuk mehahami,
mengenal, menghargai dan menilai diri sendiri dengan benar,
sehingga kita dimampukan untuk memberdayakan fungsi
manusia batiniah kita untuk mengendalikan pikiran,
perasaan dan keinginan dengan benar. |
|
|
|
MENJAGA HARGA DIRI |
Harga diri merupakan kebutuhan dasar pribadi manusia pada
umumnya, seperti: penampilan, pendidikan, kedudukan,
jabatan, kekayaan materi dan apa kata orang dalam
masyarakat. Akan tetapi pengertian “harga diri yang
alkitabiah” adalah harga diri yang menyangkut status kita
sebagai pengikut Kristus, yang diciptakan menurut
gambarNya, sebagai anak-anak tebusan Allah yang menjadi
pewaris Kerajaan Surga, dan sebagai anak-anak yang
mentaati perintah Kristus. Maka Pasutri dapat memandang
dan menghargai diri sesuai dengan pola pikir Allah, bukan
menurut pikiran diri sendiri atau menurut keinginan orang
lain.
Tuhan Yesus memiliki gambar diri "Congruent”, suatu
kesempurnaan yang dapat memperhitungkan diri sendiri,
memperhitungkan orang lain, dan memperhitungkan keadaan.
Dalam kondisi dapat memperhitungkan diri sendiri, Yesus
mengenali diri sendiri dan memberi penghargaan yang patut
pada diriNya, sehingga Dia sanggup melakukan sesuai
kehendak Bapa di surga. Dia sanggup “mengosongkan diriNya
sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi
sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia
telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan
sampai mati di kayu salib” (Filipi 2:7-8). Menghargai diri
identik dengan menyangkal diri, semakin tinggi tingkat
penghargaan diri seseorang terhadap dirinya, maka dia
dapat melakukan tindakan yang semakin efektif dan
bermanfaat dalam hidupnya dan mendatangkan berkat bagi
orang lain. Yesus menyangkal diri, “walaupun dalam rupa
Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu
sebagai milik yang harus dipertahankan” (Filipi 2:5),
untuk memperhitungkan manusia, dan demi keselamatan
manusia, yang sejalan dengan kehendak Bapa yang mengutus
Dia. Oleh karena itu Yesus mengatakan, “Setiap orang yang
mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul
salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Lukas 9:23).
Menyangkal diri adalah kebebasan untuk mengutamakan orang
lain lebih dari kepentingan diri sendiri, agar kita tidak
berpusat untuk memikirkan diri sendiri, melainkan untuk
kepentingan orang lain juga. Menyangkal diri bukan
menghilangkan identitas diri atau menghina diri sendiri,
melainkan bermegah atas kasih karunia yang Tuhan telah
anugerahkan dalam hidup kita, dan kita dapat melakukan
rancanganNya dalam kehidupan kita.
Yesus memerintahkan kepada kita untuk mengasihi sesama
manusia seperti dirinya sendiri (Matius 19:19), berarti
Yesus mengajar kepada kita untuk mengasihi diri sendiri,
bukan membenci diri dan juga bukan “mengasihani” diri
sendiri. Sebab orang yang mengasihani diri sendiri selalu
memandang dirinya sebagi pusat perhatian, dan memposisikan
dirinya hebat atau sebaliknya berada dalam penderitaan dan
kekurangan, untuk menarik perhatian orang lain agar mereka
memujinya atau bahkan mengasihaninya. Sangat berbeda
apabila seseorang mengsihi dirinya, ia akan menghargai
dirinya juga. Ketika ia menghargai dirinya, ia akan
menyangkal dirinya, dan ketika ia menyangkal diri, berarti
dia tidak mementingkan diri sendiri, tetapi memperhatikan
kepentingan orang lain. Inilah suatu keseimbangan yang dia
dilakukan, yaitu : Menghargai diri namun tidak sombong;
mengasihi diri namun tidak mengasihani diri atau menyiksa
diri; menyangkal diri namun tidak mementingkan diri
sendiri. Jadi, menghargai diri tidak identik dengan
kesombongan diri, melainkan memiliki kemampuan untuk
mengenal dan menyadari kelemahan dan kekuatan diri sendiri
serta menerima dirinya sebagaimana adanya. Namun harga
diri yang berdasarkan kesombongan harus disingkirkan.
Allah menciptakan manusia menurut gambarNya, berarti
manusia merupakan makhluk yang mulia dan sangat berharga
di mataNya, milik kepunyaanNya dan menjadi biji mataNya
(Yesaya 43:4; 49:14-16; Keluaran 19:5; Zakaria 2:8).
Walaupun manusia telah jatuh dalam dosa, namun Allah tidak
membiarkan manusia tetap terpuruk karena pelanggarannya,
Kristus datang dengan karya penebusanNya untuk
mengembalikan harga diri manusia. Setelah diselamatkan
kita perlu meresponi dan berhati-hati menjaga keselamatan
dan harga diri kita yang telah ditebus dengan darah yang
mahal. Harga diri kita jangan sampai tercela oleh perilaku
dan tindakan yang tidak benar, tetapi tetap menjaga nama
baik dengan melakukan prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang
alkitabiah dalam kehidupan pernikahan.
Kesombongan, keangkuhan dan kecongkakan harus
disingkirkan, agar kita dapat menyadari bahwa kemampuan,
kepandaian dan kekayaan adalah pemberian Tuhan, sehingga
dapat menjaga harga diri yang merupakan anugerah Allah
melalui Penciptaan, Penebusan dan ketaatan akan peritah
Kristus. Mempertahankan harga diri berarti menghormati dan
menghargai nama Kristus yang berdiam di dalam manusia
batiniah kita. Karena kita adalah saksi Kristus, maka kita
harus bersaksi tentang Dia, tidak hanya melalui perkataan
saja, melainkan juga dalam perilaku dan perbuatan yang
sesuai dengan rancanganNya.
Agar dapat mempertahankan harga diri, Pasutri perlu terus
mengucap syukur atas kasih Allah yang begitu besar dan
sempurna, meresponi serta membina hubungan yang intim
denganNya dalam doa dan puji-pujian. Namun masing-masing
tetap memperhatikan kepentingan pasangan dan peka akan
kebutuhan mereka (Filipi 2:3). Hal itu merupakan salah
satu tujuan untuk mengikut Kristus dan menyangkal diri.
Sebagai pengikut Kristus, Pasutri juga harus mengembangkan
talenta dan karunia rohani untuk mengasihi serta melayani
Tuhan dan sesama yang merupakan tindakan iman untuk
mempertahankan dan menjaga harga diri sesuai rancangan
Allah. |
|
|
|
MENYADARI PERAN MANUSIA DI HADAPAN ALLAH |
Pasutri perlu menghayati peran manusia di hadapan Allah,
yaitu: Pertama: Menyadari bahwa Allah adalah Pencipta dan
manusia adalah hasil ciptaanNya, yang harus bertanggung
jawab kepada Sang Pencipta; Kedua: Allah adalah Sumber
Kehidupan yang menguasai alam semesta, sedangkan manusia
bergantung kepadaNya dan hanya menguasai diri sendiri; Dan
Ketiga: Allah adalah Hakim kehidupan, menciptakan
kehidupan dan menetapkan aturan-aturan di dalamnya,
sedangkan manusia hanya menjadi pelaku kehidupan dan
mematuhi aturan-aturan yang Allah tetapkan dan hidup
sesuai rancanganNya.
Suami dan isteri harus kembali mengikuti aturan-aturan
sesuai rancangan Allah:
- Berhenti memiliki sikap kemandirian di hadapan Allah:
Berpusat kepada Allah untuk menetapkan arah dan tujuan
hidup sebagai dasar perilaku serta tindakannya demi
kemuliaan Allah. Sehingga dapat menghayati hubungan yang
dekat dengan pasangan, jujur dan penuh tanggung jawab.
- Berhenti mencoba menguasai hal-hal yang tidak dapat
dikuasai: Mengembangkan sikap hidup berserah kepada Allah
serta mempercayai pengaturanNya. Dia yang mengendalikan
dan memberdayakan kehidupan.
- Berhenti menjadi hakim bagi sesama dan diri sendiri:
Menghentikan sikap mental yang suka mengadili, menghukum,
cepat marah, rasa malu yang berlebihan, dan lain-lain.
Sehingga mereka dapat bergaul dengan diri sendiri dan
sesama seperti yang Allah rencanakan, untuk menjadi
manusia seutuhnya sesuai “gambar” Allah.
- Berhenti membuat aturan-aturan baru: Kembali pada
aturan-aturan dan peran yang Allah berikan kepada manusia.
Khusus dalam pernikahan, masing-masing Pasutri harus
mengikuti aturan-aturan dan peran sesuai rancangan Allah,
yaitu : Suami sebagai pemimpin dan Imam dalam keluarga,
sedangkan isteri sebagai penolong yang sepadan.
|
|
LIMA LANGKAH MENJADI MANUSIA SEUTUHNYA |
Secara alami,
manusia pada umumnya berpikir tidak benar, bahkan
cenderung berpikir jahat. Oleh karena itu Pasutri perlu
waspada akan kondisi pikiran yang “alami” itu, dan segera
membangun kembali pikiran-pikiran dengan memasukkan
prinsip-prinsip dan nilai-nilai alkitabiah dalam akal budi
kita. Pasutri tidak akan pernah terlepas dari
pikiran-pikiran yang tidak benar bila tetap membiarkan
tanpa ada proses pertumbuhan terjadi dalam kehidupan
mereka. Untuk menguasai pikiran-pikiran kita yang “liar”
itu tidak mudah, tetapi juga tidak terlalu sulit dilakukan.
Tuhan memberi perlengkapan senjata firman bagi orang-orang
percaya untuk melakukan proses pembaharuan, “Dankita semua
mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak
terselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan
yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan
gambarNya, dalam kemuliaan yang semakin besar” (2 Korintus
3:18). Apabila kita memiliki ketaatan, ketulusan dan
kejujuran di hadapan Allah, pasti manusia batiniah kita
akan mengalami pertumbuhan yang luar biasa dalam “proses
kehidupan” yang semakin menjadi serupa Kristus.
Roh atau manusia batiniah harus berkuasa atas pikiran kita;
karena Pola Pikir (the way to think) dapat menentukan Pola
Rasa (the way to feel) dan Pola Rasa itu akan membangun
Pola Tindak (the way to act), sehingga kita dapat
bertindak benar. Oleh karena itu Pasutri harus membangun
pikiran dengan roh yang sudah dibaharui dengan pikiran
Kristus. Maka roh kita akan menguasai pikiran-pikiran dan
dapat berpengaruh positif pada jiwa dan tindakan tubuh
kita, dan semuanya akan saling berkaitan dalam satu sistem
manusia seutuhnya. Pasutri akan mengalami proses menjadi
manusia seutuhnya sesuai rancangan Allah, dengan melakukan
Lima Langkah:
- Dilahirkan kembali dalam roh (Be Reborn in Our Spirit).
Pasutri harus lahir baru, yaitu: percaya (believe) kepada
Yesus Anak Allah yang telah mati di Kayu Salib untuk
menyelamatkan kita semua; mempercayakan (trust) setiap
celah kehidupan kita kepadaNya; dan menerima (receive) Roh
Kudus agar mengendalikan dan memberdayakan kehidupan kita.
Manusia batiniah kita harus selalu beradaptasi dengan Roh
Kudus agar dapat mengendalikan pikiran kita, menaklukkan
keangkuhan dan kesombongan serta menggantikan dengan sikap
rendah hati dan ketaatan. 2 Korintus 10:5 mengatakan,
“Kami mematahkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan
manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami
menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus”.
Pasutri harus memiliki perhatian khusus untuk
mendisiplinkan diri dan berani mengembangkan otot-otot
rohani, membuang segala pikiran yang tidak benar dan
menggantikannya dengan pikiran Kristus. Berhasil dan
tidaknya tergantung sejauh mana kita dapat berserah dan
mempercayakan kepada Roh Kudus guna memusnahkan
musuh-musuh yang berasal dari dalam diri sendiri, yaitu
keangkuhan dan kesombongan yang dapat ditunggangi dan
dimanfaatkan oleh Iblis untuk menghancurkan pernikahan
kita. Kolose 3:5 mengatakan, “Karena itu matikanlah dirimu
segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan,
hawa napasu, nafsu jahat, dan juga keserakahan, yang sama
dengan penyembahan berhala”. Bila daging dengan segala
hawa nafsu dan keinginannya sudah mati, kita menjadi milik
Kristus (Galatia 5:24), dan manusia batiniah kita akan
mengendalikan Jiwa dan tindakan tubuh kita.
- Membangun kembali Pola Pikir (Rebuild our Thoughts).
Roh adalah elemen yang paling mulia, maka untuk menjadi
“manusia seutuhnya”, pikiran harus menundukkan diri dan
menghormatinya. Manusia batiniah yang beradaptasi dengan
Roh Kudus, akan mengendalikan Pikiran dalam jiwa kita
dengan pikiran Kristus, yaitu dengan cara sebagai berikut:
- Mengumandangkan pikiran Tuhan, yaitu prinsip-prinsip
dan nilai-nilai dari Alkitab dalam pikiran kita, maka akan
timbul pemahaman dan penghargaan Pola Pikir Tuhan dalam
akal budi kita.
- Mengguyur akal budi kita dengan firman Tuhan
terus-menerus dan mengingat kembali setiap saat, sehingga
firman Tuhan itu akan terekam dalam akal budi kita, dan
pikiran-pikiran yang berlawanan dengan firman Tuhan pasti
terlempar jauh dari akal budi kita. Maka pikiran kita
seutuhnya dikuasai oleh Pola Pikir Tuhan, melalui manusia
batiniah kita.
- Memusatkan kembali Perasaan (Refocus Our Emotions).
Pikiran yang seutuhnya dikuasai oleh Pikiran Kristus, akan
membangun perasaan positif, yang sejalan perasaan Kristus,
“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan
perasaan yang terdapat juga dalam Kristus” (Filipi 2:5).
- Mengatur kembali keinginan (Redirect Our Will). Apabila
Pasutri sudah memiliki pikiran dan perasaan Kristus, maka
keinginan mereka akan terkendali dan berjalan selaras
dengan pikiran, dan perasaannya. Pikiran dan perasaan
harus mengendalikannya sehingga dapat mewujudkan tindakan
tubuh (manusia badaniah) sesuai pembaharuan roh yang kita
lakukan.
- Berbuah kembali dalam kehidupan dengan sesama
(Reproduce Our Life in Others). Memiliki keselarasan dan
keseimbangan dalam roh, jiwa dan tubuh akan menghasilkan
buah dengan sesama. Maka Pasutri akan menjalani kehidupan
pernikahan mereka sesuai rancangan Allah.
Menjadi manusia seutuhnya akan menghasilkan hidup yang
benar dan pasti Anda akan berpikir: “semua yang benar,
semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua
yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut
kebajikan dan patut dipuji” (Filipi 4:8). Dan menghasilkan
buah roh dengan sesama, “ialah kasih, sukacita, damai
sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,
kelemah-lembutan, penguasaan diri” (Galatia 5:22-23). |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|