|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Keluarga |
|
29 Juli 2007
Memahami Peran Suami-Istri Dalam Pernikahan Kristen
|
|
|
|
Sub Komisi
Pasutri GKI Pondok Indah Sabtu (28/4) mengadakan kegiatan
Seminar dan Diskusi dengan mengangkat topik: THE LOVE OF
MONEY THE ROOT IS EVIL, Apakah Uang dapat Merusak Pasutri?
Seminar dan Diskusi mengundang pembicara dari Fokus Pada
Keluarga yang dibawakan oleh Novel Priatna. Acara dihadiri
oleh 23 pasangan suami istri (pasutri) berlangsung amat
menarik. Di awal acara Novel Priatna yang hadir bersama
istri menanyakan apa tujuan pernikahan? Dan beragam
jawaban dari hadirin pun berluncuran, sayangnya sebagai
seorang suami maupun istri kristiani, kita benar-benar
dibuatnya terbelalak karena ternyata bahwa tujuan
pernikahan Kristen bukanlah untuk memperoleh kebahagiaan.
Jadi… apa tujuan pernikahan sesungguhnya? |
|
|
|
Apa Keunikan Sebuah Pernikahan Kristen? |
|
Nilai dari
sebuah pernikahan Kristen adalah terletak pada “dasar”
terjadinya, yaitu inisiatif Sang Pencipta, bukan inisiatif
manusia. Oleh karena itu, pernikahan bukan hanya antar dua
pribadi manusia, namun ada kehadiran pribadi Sang Pencipta
di dalamnya. Tujuan utama dari pernikahan Kristen
“bukanlah” untuk memperoleh kebahagiaan, namun sebagai
sarana untuk saling bertumbuh secara karakter, sehingga
menjadi serupa dengan karakter Kristus. Yang artinya,
kebahagiaan adalah “anugerah” (hadiah). Salah satu bentuk
pertumbuhan yang dimaksud adalah bagaimana kita menyadari
akan peran (role) utama dari seorang suami maupun seorang
isteri |
|
|
|
Prinsip Alkitab (Kej.2:18) |
Suami adalah
kepala keluarga, isteri adalah penolong yang sepadan (pola
unequal ness). Pertanyaan kita mungkin, mengapa konsepnya
harus seperti ini? Apakah Allah pilih kasih? Untuk
menjawab pertanyaan tersebut hanya bisa diterima dalam
iman dan ketaatan, sebab tidak selalu jalan Allah bisa
dipahami. Contohnya: Mengapa Allah memilih Yakub bukannya
Esau, Yehuda bukannya Yusuf, Musa bukannya Harun, Daud
yang masih imut dan bukannya Kakak-kakaknya yang lebih
kuat dan gagah.
Apa artinya kepala keluarga? Allah menetapkan segala
“jabatan” sebagai anugerah, bukan berdasarkan bakat-bakat
atau kemampuan pribadi (contoh: Musa, Daud, dll), tapi
berdasarkan tanggungjawab. Dalam hal ini berlaku (termasuk)
juga Kepala Keluarga (KK). Jadi, suami akan dihormati
sebagai KK kalau bertanggungjawab. KK tidak sama dengan
“raja yang otoriter”, tapi servant-leader (orang pertama
yang meneladani Kristus).
Apa dasar perbedaan peran tersebut? Dasar perbedaan peran
tidak terletak pada perbedaan jenis pekerjaan (pekerjaan
rumah atau pencari nafkah), namun dalam pertanggungjawaban
pekerjaan. Adapun bentuk pertanggungjawaban adalah: Suami
sebagai perancang, pemikir, pengambil keputusan,
servant-leader, pembela, pelindung; sedangkan Isteri
sebagai penolong, memberi dukungan, teman bicara, dsb.
Bagaimana Kondisi Pernikahan Anda Saat Ini? Apakah Anda
merasa terjebak? “Pernikahan itu seperti sangkar:
burung-burung tanpa sadar masuk & mereka frustasi untuk
dapat keluar.” (Montaigne) |
|
|
|
Perhatikan dua pertanyaan berikut ini: Mengapa Isteri sulit tunduk kepada Suami? Mengapa Suami sulit untuk mengasihi Isteri? |
The Iceberg
Phenomena. Sebuah gambaran permasalahan pasutri
sebagaimana kita melihat fenomena gunung es, di mana
permasalahan tersebut baru pada permukaannya. Dan
sesungguhnya permasalah sebenarnya lebih besar. Hal ini
bisa dipahami mengingat pernikahan dipengaruhi oleh masa
lalu masing-masing.
Pernikahan lebih banyak dipengaruhi oleh masalah masa lalu
(faktor predisposisi) yang belum terselesaikan.
Faktor-faktor lain seperti masalah ekonomi, konflik,
bencana, dll, hanya faktor pencetus (faktor precipitasi).
Perkawinan terjadi oleh empat pribadi yakni: antara
Pribadi Dewasa Pria + Pribadi Kanak-kanak Pria dengan
Pribadi Dewasa Wanita + Pribadi Kanak-kanak Wanita.
Masalah masa lalu inilah yang justru merupakan salah satu
penghalang terbesar yang dapat merintangi kebahagiaan
dalam pernikahan, sebab pengalaman masa lalu
“mengendalikan” kehidupan Anda saat ini. Sikap Anda
terhadap pasangan, anak, dan orang lain, kemungkinan besar
dapat ditemukan dalam sikap & reaksi Anda yang Anda
“pelajari/terima” ketika masih kanak-kanak. |
|
|
|
Contoh Tipe Relasi Suami-Isteri |
Pleaser
- Melakukan segala sesuatu hanya untuk menyenangkan
pasangan
- Sebenarnya dilakukan bukan karena cinta, melainkan untuk
mendapatkan penerimaan/cinta pasangan
- Lebih mengandalkan perasaan dibandingkan akal sehat,
sehingga: sulit untuk berkata “tidak”, lebih sering
mengalah/berkorban, kurang objektif.
Controller
-
Suka mengontrol/mengatur pasangannya, supaya memperoleh
rasa hormat/respek
-
Terlalu mengandalkan rasio (objektifitas tinggi),
sehingga: empati rendah, miskin emosi, hambar, mudah marah,
legalis, perfeksionis.
|
|
|
|
Hubungan antara Peran Suami-Isteri Terhadap Keuangan Keluarga |
Keluarga dan pekerjaan merupakan dua hal yang tidak
terpisahkan, sebab keduanya saling mempengaruhi. Pekerjaan
menghasilkan income, yang kemudian akan menentukan standar
kehidupan keluarga tersebut.
Gambaran ideal/tradisional
Laki-laki sebagai providers sedangkan Perempuan sbg
homemakers.
Pada kondisi saat ini mulai terjadi pergeseran. Wanita
Bekerja: Pendidikan meningkat yang berpengaruh munculnya
tuntutan pendapatan, karir, jabatan meningkat, pengaruh
meningkat, kesadaran (awareness) terhadap personal option
meningkat dan timbulnya kebutuhan untuk self-expression &
self-fulfillment.
Power in Relationship & Decision Making
Tingkat penghasilan suami-isteri berpengaruh terhadap
besarnya kekuasaan masing-masing dalam pengambilan
keputusan. Uang sering diterjemahkan dengan kekuasaan.
Jadi ketika suami-isteri bekerja, konsep tradisional di
mana suami yang selama ini sebagai single power, mulai
harus berbagi. Bagaimana jika penghasilan isteri lebih
besar?
Posisi tawar menawar isteri bekerja juga semakin tinggi,
sehingga jika mereka merasa tidak bahagia, mereka tidak
takut untuk (mengancam) bercerai.
Kebahagiaan Pernikahan
Mana yang lebih bahagia, keluarga yang double income atau
single income? (tingkat kepuasan pernikahan). Hasil riset
mengungkapkan bahwa:
- Isteri rumahan lebih bahagia daripada isteri yang
bekerja (gaji kecil, status rendah, dll)
- Isteri yang bekerja lebih bahagia daripada isteri
rumahan
- Para suami, baik dari isteri rumahan maupun isteri
bekerja, tingkat kebahagiaannya sama
Apa artinya?
- Sikap/pandangan masing-masing pasangan terhadap
pekerjaan merupakan hal yang sangat penting
- Jika suami/isteri tidak setuju dengan pekerjaan
pasangannya, atau jika isteri bekerja hanya karena faktor
ekonomi semata, maka konflik dan ketegangan cenderung
terjadi
- Bagi para isteri yang lebih suka menjadi ibu rumah
tangga akan merasa bekerja menjadi sebuah keterpaksaan
- Sedangkan bagi para suami yang berprinsip bahwa hanya
laki-laki saja yang bekerja akan merasa terancam perannya
karena memiliki isteri yang bekerja, apalagi kalau
penghasilan isteri lebih besar (rendah diri)
- Bagaimana dengan waktu bersama?
- Bagaimana dengan beban isteri bekerja? Berarti suami (suami
lebih sedikit perannya di rumah)
- Setelah uang, hal yang paling menentukan apakah seorang
wanita yang menikah itu bahagia atau tidak adalah seberapa
besar keterlibatan suaminya dalam urusan rumah tangga.
|
|
|
|
Beberapa Prinsip tentang Peran Suami-Isteri |
Peran yang tepat akan membawa kebersamaan daripada
keterpisahan. Kita sedang membagi tanggung-jawab, bukan
sekedar membagi tugas (tugas suami ini & tugas isteri itu).
Suami-isteri adalah “satu daging”, yang juga berarti satu
tim kerja.
Beberapa Prinsip tentang Peran Suami-Isteri, peran yang
tepat dapat diperoleh dengan mempertimbangkan kekuatan dan
kelemahan pasangan. Misal: kalau biasanya pengaturan
keuangan keluarga dianggap sebagai “tugas” isteri, namun
kalau ternyata suami lebih efektif dalam mengelolanya,
maka suami bisa mengambil alih.
Beberapa Prinsip tentang Peran Suami-Isteri, peran yang
tepat bersifat tidak kaku (fleksibel). Misal: kalau isteri
juga bekerja, maka tidaklah fair kalau semua tugas rutin
rumah tangga dibebankan pada dirinya saja. Peran yg tepat
rela berkorban: Ada beberapa pekerjaan yang “kalau bisa”
bukan dia yang melakukannya. Misal: bangun di tengah malam
karena si kecil menangis, membantu anak (kecil) buang air
besar, dll |
|
|
|
Money Matters |
“Cinta akan uang adalah akar dari segala kejahatan” Dapat
disejajarkan dengan:”Salah dalam mengelola keuangan
merupakan akar dari segala jenis permasalahan manusia”
Eksistensi uang bukanlah masalah utamanya, melainkan sikap
(attitude) terhadap uang dan ketidakefisienan
(inefficiency) dalam mengelola uang secara bijaksana.
Baca: Ibr 13:5
Apa yang Alkitab katakan tentang uang?
- Uang harus dipandang secara realistis. Artinya: uang
dan kekayaan hanya bersifat sementara (temporer) Contoh:
Luk 12:16-21. Mengapa Yesus mengatakan bahwa orang kaya
tersebut adalah bodoh? Karena orang tersebut hanya kaya
secara duniawi tapi miskin dalam relasi dengan Allah
karena baginya uang menjadi pusat (center) hidup.
- Uang disediakan oleh Allah (Fil 4:19; Mat 6:25-34).
Oleh karena itu, semua yang kita miliki adalah “milik”
Allah. Kita diminta untuk bergantung pada pemeliharaan dan
penyertaan (providensia) Allah (bagi orang beriman
mencegah kekuatiran)
- Uang dapat menjadi sumber masalah:
a). Vertikal: menghambat pertumbuhan rohani. Yesus
mengatakan bahwa uang dapat menjadi allah lain dihati kita,
sehingga kita harus “memilih” siapa yang menjadi Allah
kita: Yesus atau Uang.
b). Horizontal: sumber konflik dengan sesama (Luk
12:13-15) - Uang harus dikelola secara bijaksana. “God’s own it,
and I manage it” Tuhan yang empunya, kita hanya sebagai
pengelola oleh karena itu: a. Gained honestly, b. Invested
carefully, c. Spent realistically, d. Shared joyfully.
Penyebab Masalah Keuangan
- Nilai-nilai yang terdistorsi. Materialisme, Hedonisme,
Konsumerisme, Instan, Keserakahan, dll.
- Penggunaan yang tidak bijak
a. Impulsif (contoh: suami yang selalu “menggandeng mesra”
isterinya kalau di mall karena takut lepas dan tak
terkendali dalam berbelanja)
b. Tidak ada limitasi
c. Spekulasi, akarnya: ingin cepat kaya (contoh: seorang
bapak yang ludes uang pensiunnya karena spekulasi di
bisnis yang tidak dikuasainya).
d. Kredit. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:
• Menggunakan kartu kredit seolah-olah tidak mengeluarkan
uang (riil), sehingga godaan untuk belanja sangat besar
(impulsive buying)
• Penggunaan credit card (yang tidak bijak) merupakan cara
“membelanjakan uang yang tidak kita punya dan membeli
barang-barang yang tidak kita butuhkan” - Perencanaan (budget) yang lemah
Fungsi budget:
· mencegah impulsivitas (harus mempertimbangkan prioritas)
· kontrol pengeluaran
· menyisihkan untuk tabungan (saving)
· antisipasi masalah untuk menghindari/mencegah stress
· alokasi pemberian/persembahan - Kurang memberi. Ada 3 area menurut Alkitab: Tuhan,
sesama tubuh Kristus, dan orang miskin. Dilakukan dengan
kacamata iman (memberi dan menerima adalah paralel bagi
Tuhan). Ada janji berkat Tuhan di balik persembahan kita
berikan, meski berkat Tuhan tidak selalu identik dengan
uang.
Menghadapi Pasangan yang Terlalu Banyak
Belanja- Sadari bahwa suami-isteri adalah satu tim dalam masalah
keuangan. Kemungkinan besar tidak ada seorang suami/isteri
pun yang suka “diingatkan” Mengapa? Ia merasa tidak
dipercaya, tidak dihargai, dll
Perhatikan! Adalah lebih penting menjaga relasi yang sehat
dibandingkan detail daftar pengeluaran. Jika kita
menempatkan relasi suami-isteri sebagai satu tim, maka
akan lebih mudah untuk mencari solusi terhadap pengeluaran
yang tidak disepakati.
- Mencoba memahami alasan di balik sikap pasangan
tersebut.
Akar dari masalah ini adalah: “mencari rasa aman”
(security) Misal: Kalau isteri selalu beli make up bermerk
keluaran terbaru terciptanya rasa aman untuk selalu
terlihat cantik di mata suami.
- Memberikan pemahaman bahwa kita harus “hidup” di bawah
jumlah penghasilan. Kuncinya adalah: budget planning yang
baik.
|
|
|
|
Kesimpulan |
|
Sikap terbaik terhadap keuangan adalah STEWARDSHIP. All of
our lives, resources, and energies belong to God. (NP/pwy) |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|