|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Keluarga |
|
7 Juli 2007
My Parent = My Best friend
Riani Joshapine |
|
|
Waktu anak-anak kita lahir, mereka bukanlah setengah
bagian dari seseorang atau sebagian kecil dari seorang
manusia. Mereka adalah manusia seutuhnya, mereka secara
komplet sama seperti kita, yaitu pribadi yang utuh, unik
dan berharga di mata Allah. Bagi Tuhan, memang mereka
memiliki potensi untuk berbuat dosa, tetapi mereka juga
diberi kesempatan untuk diselamatkan dan hidup baru
mengikut Dia.
Mungkin kita belum mengenal mereka secara tuntas, namun
disadari atau tidak mereka adalah seorang pribadi yang
juga sudah memiliki ciri, karakter atau sifat yang unik,
yang Tuhan khusus rancangkan buat dirinya. Memang akibat
dosa, mereka berpotensi untuk memikirkan, melakukan bahkan
memiliki kebiasaan-kebiasaan yang tidak disukai Tuhan,
tetapi sama seperti kita, Tuhan memberi kemampuan pada
mereka untuk berjuang me-ngalahkan yang tidak baik dalam
diri mereka dan juga sebaliknya, kemampuan untuk
mempertahankan yang baik.
Masalahnya, harus ada seseorang yang memberitahukan kepada
mereka atau membuka jalan agar mereka mengenal dirinya
sendiri dan mengenal Tuhan Sang Pemberi. Untuk itulah
Tuhan memberikan kita sebagai orangtua mereka. Kita
dipanggil bukan hanya melahirkan, menghadirkan dan
memfasilitasi mereka, tapi lebih mulia dari itu kita
dipanggil untuk menyaksikan cinta Tuhan sehingga mereka
dapat melanjutkan cinta itu sepanjang hidupnya.
Untuk menyaksikan cinta Tuhan dan membuat-Nya hidup dalam
hati anak-anak kita, diperlukan sebuah usaha yang serius.
Salah satu jalan untuk melancarkannya adalah dengan
bersahabat dengan anak. Melalui persahabatan, kita dapat
menunjukkan jalan, mendampingi dan berbicara kepada mereka,
bukan hanya sekadar memerintahkan mereka melakukan aturan
dan larang-an. Menjadi sahabat bagi anak, berarti menjadi
jembatan bagi anak untuk bertemu Tuhan yang sangat
mengasihi mereka. |
|
|
|
Menjadi Sahabat Bagi Anak |
Sahabat yang
baik adalah sahabat yang menaruh kasih setiap waktu dan
menjadi seorang saudara dalam kesukaran (Amsal 17:17).
Persahabatan seperti itu bukanlah milik orang dewasa saja.
Persahabatan bisa terjadi antar 2 orang yang seumur, antar
seorang nenek dengan seorang muda, antar seorang anak
kecil dengan seorang anak kecil lainnya, antar seorang
remaja dan seorang pemuda, tetapi juga antar orangtua
dengan anak-anaknya.
Dalam Amsal, apa saja yang dapat kita beri dalam
persahabatan? Sebuah persahabatan adalah ibarat seorang
membangun rumah. Kadangkala, ada yang harus di-bongkar
karena kesalahan pembuat-nya sendiri. Namun pembangunan
itu tetap berjalan karena rumah itu belum selesai. Setelah
rumah itu selesai, bukan berarti bangunan itu berdiri
kokoh selama-lamanya. Ada masa di mana rumah itu harus
ditata ulang, diperbaiki, dirapihkan, atau direnovasi.
Demikian juga persahabatan yang kita jalani dengan anak.
Ada masa di mana kita membangun persahabatan kita dengan
anak. Ada kalanya kita menjadi lemah dan secara tidak
sengaja merusak persahabatan itu. Namun setelah anak-anak
tumbuh besar dan telah menjadi sahabat kita, bukan berarti
persahabatan itu akan terus kokoh. Ada masa di mana kita
harus memperbarui persahabatan itu, menatanya ulang atau
mempercantik persahabatan itu.
Persahabatan juga merupakan seni. Diperlukan keterlibatan
“rasa” di dalamnya. Kadangkala persahabatan menjadi lemah
saat kita lelah menjalani keseharian kita, atau bisa jadi
kita menjadi berapi-api dan api itu menyulut sahabat kita.
Entah api yang menyemangati kita untuk melayani dan
bersukacita, atau api yang justru membakar persahabatan
itu sendiri.
Persahabatan adalah juga sebuah persembahan. Apa yang kita
punya kita berikan pada sahabat kita. Saya pernah katakan
pada seorang ibu dan bapak yang memiliki pendidikan tinggi,
“Tempat kerja bapak dan ibu layak menerima keahlian dan
ilmu yang bapak ibu miliki. Namun jangan lupa, anak-anak
juga layak mendapatkan keahlian dan ilmu yang bapak ibu
miliki.” Kalau saja kita mau memberikan persembahan diri
dan hidup kita buat pelayanan serta pekerjaan Tuhan,
bukankah anak-anak kita juga layak menerima persembahan
itu? Mereka bukan hanya membutuhkan uang hasil pekerjaan
kita, tetapi mereka juga membutuhkan kerja kita bagi
dirinya. Persembahan yang kita beri pada Tuhan dalam
bentuk daya, dana dan doa, dapat kita salurkan juga pada
anak-anak yang sesungguhnya sangat membutuhkan bimbingan
kita untuk kemudian mempersembahkan hidupnya juga kepada
Tuhan.
Memang, di zaman seperti ini tentu bukanlah hal yang mudah
untuk menjalin persahabatan dengan anak. Ada anak-anak
yang sejak lahir sudah ditinggalkan orang-tuanya dalam
masa-masa keemasan mereka, karena kebutuhan ekonomi dengan
bekerja dari pagi sampai larut malam. Ada pula anak-anak
yang diserahkan sepenuhnya pada pengasuh sehingga
sekalipun orangtua ada di rumah setiap kebutuhan anak
dipenuhi oleh para pengasuhnya itu. Atau ada pula
anak-anak yang sulit menjadi dekat dengan orangtua karena
perbedaan usianya dengan adik atau kakak yang sangat dekat,
sehingga perhatian orangtua jadi terpecah.
Dalam kondisi seperti itu, anak-anak kita biarkan mencari
sahabatnya sendiri. Entah melalui internet, bersahabat
dengan tetangga atau dengan para pengasuhnya. Akibatnya,
saat kita menyadari kedekatan mereka itu, kita menjadi
marah dan iri hati. Kita merasa bahwa orang-orang di
sekitar mereka, termasuk persahabatan di dunia maya
melalui media, telah merebut hati anak-anak kita. Padahal
kita lupa, bahwa selama ini kitalah yang telah memberi
waktu dan ruang pada mereka untuk mencari sahabat mereka
sendiri, karena kita tidak sempat mengisinya di masa-masa
itu.
Pertanyaannya sekarang, kalau boleh memilih, mana yang
akan kita pilih? Membiarkan mereka mencari sahabat mereka
sendiri, atau kita memilih untuk menjadi sahabat terbaik
mereka?
Kalau saya harus memilih, saya tentu akan memilih yang
kedua. Lalu, bagaimana caranya? Pintu masuk untuk menjadi
sahabat terbaik bagi anak adalah membuat mereka percaya
pada kita. Mereka mungkin akan diam saja, tetapi hati
mereka menyimpan apa yang mereka katakan dan lakukan.
Mereka bisa menolak atau me-nerima kita sebagai sahabat
terbaik mereka. Saat mereka percaya pada kita, terbukalah
pintu bagi kita untuk menjadi sahabat mereka. Saat
kepercayaan berakhir, tertutuplah pula kesempatan untuk
bersahabat dengan mereka.
Pertanyaan selanjutnya, bagai-mana membuat mereka percaya
pada kita? V. Gilbert Beers, seorang pakar pendidikan anak,
mengatakan ada 5 cara agar anak-anak kita dapat
mempercayai kita atau mempercayakan hidupnya kepada kita.
- Konsistenlah! (Be Consistent)
Anak-anak di bawah lima tahun belajar sesuatu melalui
pengulangan. Konsistenlah ter-hadap apa yang kita katakan
pada mereka. Duduklah bersama mereka dan perhatikanlah
kesukaan mereka. Kalau kita mengatakan bahwa “Papa/mama
menyayangimu!” tunjukkanlah itu dengan bahasa yang dapat
mereka pahami. Misalnya, anak-anak akan bersahabat dengan
orang-orang yang membuatnya bahagia/senang. Itu sebabnya
jika kita mengatakan bahwa kita menyayangi mereka atau
mereka begitu berharga buat mereka, tunjukkanlah
kekonsistenan itu dengan cara menyediakan waktu bersama
anak, membuat mereka bahagia atau tertawa saat bermain
atau bercanda dengan kita. Konsisten juga bisa ditunjukkan
dengan cara memberi contoh bagaimana kita berbicara dengan
penuh kehangatan dengan mereka atau dengan pasangan kita.
Sebab menurut Paul Gunadi, seorang anak akan sulit
menghargai atau menghormati orangtuanya apabila mereka
seringkali bertengkar. Mungkin mereka akan diam saja di
depan kita, tetapi dalam hati mereka, mereka sudah tidak
lagi menghargai kita. Itu sebabnya, kita juga perlu
memperlakukan atau berbicara kepada anak dengan sopan dan
ramah, seperti kita mengharapkan mereka ber-bicara
demikian kepada kita.
- Berikan alasan! (Be reasonable)
Menurut Gilbert Beers, anak-anak balita sudah dapat
di-ajarkan mengenai “alasan”. Penjelasan singkat yang juga
dibarengi dengan konsistensi, dapat membuat mereka belajar
memahami alasan tersebut. Misalnya, saat kita membuat
janji dengan mereka untuk pergi bersama, tiba-tiba ada hal
mendesak yang harus kita prioritaskan lebih dahulu.
Pastinya anak-anak akan kecewa, namun kita dapat
memberikan alasan sederhana yang dapat dimengerti anak.
Misalnya saat saya berjanji untuk bermain dengan anak saya
yang berusia 2,5 tahun sebelum dia tidur, tetapi ada
pekerjaan yang harus saya kerjakan saat itu secara
tiba-tiba. Lalu saya katakan pada dia, “Mami harus kerja
dulu, sebentar lagi mami akan bermain dengan kamu!” Untuk
sementara dia memang menerima. Namun tentu saja dia tidak
mengetahui apa arti “sebentar, dan benar saja tidak lama
kemudian dia menarik tangan saya kembali untuk bermain.
Lalu saya mengatakan kalimat yang hampir sama, “Sebentar
lagi pekerjaan ini selesai. Mami akan segera menyusul.” Di
dalam keterbatasan waktu, akhirnya pekerjaan itu selesai
dan dia sungguh mengalami bagaimana akhirnya saya bermain
bersamanya.
- Cintailah mereka! (Be loving)
Cara kita menunjukkan cinta tentu dengan berbagai cara.
Namun beberapa hal yang umum dan sangat dipahami anak
adalah melalui pelukan, ciuman dan tertawa bersama. Berapa
kali dalam satu hari kita melakukannya? Jangan lupa…
katakan “Aku mencintaimu” bersamaan dengan ungkapan cinta
yang kita beri. Sayangnya, seringkali ungkapan cinta itu
ditunjukkan hanya melalui pemberian barang-barang yang
kelihatan. Itu sebabnya ada anak-anak yang menerjemahkan
cinta orangtua sebatas apa yang dapat dilihat oleh mata
mereka. Mengapa? Karena rupanya hanya itu saja yang mereka
dapatkan selama hidupnya.
- Bergabunglah! (Be involved)
Dengan adanya perbedaan zaman dan kesibukan orangtua,
seringkali kita mengalami kesulitan untuk memahami dunia
anak, apalagi mainan apa yang sekarang diminati oleh
anak-anak kita. Itu sebabnya kita membelikan apa saja yang
mem-buat mereka senang. Sebetulnya, untuk bisa menunjukkan
bahwa kita bukan hanya sekadar orang yang lebih tua dari
mereka (maksudnya orangtua mereka), tetapi kita juga
adalah sahabat mereka, bermainlah bersama mereka,
belajarlah dengan mereka, dan ikutilah perkembangan
hidupnya melalui cerita-cerita yang diungkapkan di dalam
kesehariannya. Kita dapat bergabung dengan mereka saat
mereka bermain boneka, bermain kartu, atau membaca buku.
Mungkin kita berpikir, lebih baik meninggalkan dia di toko
buku bagian bacaan anak sementara kita membaca bacaan
lainnya. Namun sekali waktu, sempatkanlah mengikuti apa
yang anak kita baca. Seringkali celoteh mereka muncul
akibat mereka membaca buku-buku itu, di saat seperti
itulah kita dapat melanjutkan kome-tar-komentar itu dengan
pendapat kita sebagai orangtua atau justru sebagai seorang
sahabat. Dengan cara itu juga kita dapat bercakap-cakap
dengan mereka saat dalam perjalanan, saat menjelang tidur,
atau saat mereka tidak membawa bacaan atau mainannya.
- Hadirlah untuk mereka! (Be for your child)
Persahabatan tidak mungkin terjadi jika kita selalu
melakukannya jarak jauh. Kedekatan dan kehadiran kita
merupakan tanda bahwa kita menghargai mereka. Mungkin ada
kalanya kita tidak dapat bermain ber-sama mereka, atau
mengantar mereka untuk tidur malam setiap hari. Namun
bukan berarti kita tidak bisa hadir untuk mereka selamanya.
Kita dapat hadir saat mereka konser, atau saat mereka
menunjukkan hasil karya mereka di sekolah, atau saat
mereka me-rayakan perayaan gerejawi. Atau kita bisa hadir
dengan menunjukkan empati kita saat kita tahu bahwa siang
tadi mereka bertengkar dengan seseorang, dimarahi guru,
atau gagal melakukan proyek kerjanya. Hadir untuk anak,
memang tidak mudah. Tetapi hadir di hadapan anak dengan
hati yang mengarah pada anak, dapat kita usahakan. Itu
sebabnya, berdoa-lah agar sekalipun kita tidak memiliki
banyak waktu bersama mereka, setiap waktu bersama mereka
menjadi sangat berarti dan berkesan.
Akhirnya, yakinlah bahwa Tuhan memberikan mereka untuk
kita dan kita diberikan Tuhan buat mereka. Itu sebabnya,
mari tunjukkan keyakinan itu dan yakinkan mereka. Tuhan
memberkati persahabatan kita dengan mereka. |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|