|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Keluarga |
|
12 Mei 2007
Mengajarkan Buah Roh pada Anak
Riani Josaphine |
|
|
Apakah kita adalah salah satu orang tua yang berpikir
bahwa anak-anak kita bisa dengan sendirinya menghasilkan
buah Roh jika kita sudah membawa mereka ke Sekolah Minggu?
Atau jika kita sudah membacakan Alkitab setiap hari pada
mereka? Atau jika kita sudah mendoakannya siang dan malam?
Buah Roh memang adalah hasil karya Roh Kudus dari seorang
yang memiliki dan mengikuti kehendak Kristus. Namun untuk
menghasilkan anak-anak yang menunjukkan buah Roh dalam
keseharian hidup mereka, bukan hanya pekerjaan Roh Kudus
saja yang menjadi andalan kita, melainkan pelatihan dalam
melakukan pekerjaan-pekerjaan baik juga perlu kita ajarkan
berulang-ulang pada anak.
Musa sendiri mengingatkan bagaimana mengajarkan cinta pada
Tuhan haruslah dilakukan di berbagai tempat. Di rumah, di
perjalanan, di sekitar meja makan saat sarapan, makan
malam, saat anak-anak bersendagurau maupun saat anak-anak
sedang bermain. Mengapa harus sesering itu? Sebab sejak
zaman umat Allah, telah disadari bahwa halangan untuk
melakukan apa yang Tuhan kehendaki dapat terjadi di
berbagai tempat dan dengan berbagai cara. |
|
|
|
Mengenal Kasih dan Mempraktikkan Kasih |
Hal yang tidak boleh kita lupakan sebelum mempraktikkan
kasih adalah belajar mengenal Sang Kasih itu sendiri.
Matius 7:22 mengingatkan kita bahwa suatu kali dalam
penghakiman nanti, bisa jadi Tuhan tidak mengenal
orang-orang yang mengaku telah mengikut Dia. Salah satu
kalimat berbunyi, “…Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyah…”
Kata mengenal yang digunakan adalah ginosko. Kata itu
berarti “mengenal melalui pengalaman pribadi atau usaha
atau belajar mengenal.”
Dari mana anak-anak kita belajar menghayati dan menikmati
kasih dari Tuhan? Tidak lain dari orang tua mereka. Kita
merupakan contoh bagaimana kasih Allah nyata dalam hidup
anak-anak kita. Cara kita menegur dan mendisiplin mereka,
cara kita mengatakan “Aku mengasihimu” melalui pemberian
atau kedekatan fisik, cara kita menunjukkan kasih pada
pasangan, cara kita menunjukkan kasih pada mertua atau
orang tua kita, cara kita memperlakukan orang lain yang
berpapasan dengan kita, cara kita memperlakukan
orang-orang yang bekerja pada kita, atau cara kita
berhubungan dengan Tuhan, merupakan model kasih yang
membekali mereka dalam mengasihi.
Selain melihat model kasih dari orang tua, anak-anak juga
dapat belajar mengasihi melalui cara kita mengomentari
setiap kejadian yang secara spontan kita alami. Misalnya
saat anak melihat orang-orang yang bertengkar, apa
komentar kita terhadap hal itu? Atau saat kita kedatangan
tamu dan kebetulan mereka membawa anak-anak mereka, apa
yang kita ajarkan pada anak saat anak kita sedang memegang
mainannya? Apakah kita mengajak mereka untuk berbagi?
Di dalam kasih tidak ada ketakutan. Takut atau kuatir
adalah salah satu penghalang bagi kita untuk mengasihi.
Kita bisa takut mengasihi karena takut disakiti. Kita bisa
takut menyatakan kasih kalau-kalau kita mengalami
penolakan. Kita takut memberi cinta karena takut tidak
mendapat cinta yang setimpal dengan apa yang kita beri.
Padahal prinsip inilah justru yang perlu dihindari saat
kita mengajarkan anak-anak kita untuk mengasihi.
Kita mengajarkan anak-anak mengasihi, bukanlah supaya
mereka mendapatkan kasih dari orang lain, melainkan kita
mengajarkan anak-anak untuk mengasihi karena mereka
mendapatkan kasih dari dan memiliki kasih Allah yang
sejati. Dan kasih yang mereka berikan pada orang lain
bukanlah kasih yang terkondisi oleh perasaan sesaat. Betul,
saat kita memiliki perasaan haru atau belas kasihan, itu
menjadi pendorong kita untuk mengasihi. Tapi bagaimana
kalau perasaan itu berubah jadi kebencian? Kalau anak-anak
kita merasa marah pada teman yang merebut mainannya? Atau
mereka sedih karena tidak diperhatikan oleh teman-temannya?
Di sinilah kekuatan kasih, Kasih tidak bergantung pada
perasaan kita. Ia ada karena Tuhan yang memerintahkan kita
untuk terus mengasihi.
1 Yoh 4:7-8 mengatakan,
"saudara-saudaraku yang terkasih,
marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal
dari Allah, dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari
Allah dan mengenal Allah. Siapa yang tidak mengasihi, ia
tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih".
Kasih tidak bergantung pada perasaan, tetapi pada pola
pikir anak-anak kita sehingga mereka mau tidak mau terbawa
untuk mengasihi dalam kondisi apa pun. Mereka mungkin akan
melakukannya dengan berat hati, namun karena mereka tahu
bahwa itu adalah baik yang mereka harus lakukan, maka
ketaatan pada Sang Kasih menjadi otoritas tertingginya,
dan bukan perasaannya. |
|
|
|
The Power Of Joy |
Sukacita bukanlah sebuah usaha lahiriah yang mengakibatkan
anak-anak dapat tersenyum dan tertawa. Seringkali kita
bermain bersama anak dan membuat mereka tertawa bahagia.
Namun apakah itu sudah cukup disebut SUKACITA? Sukacita
tidak terkondisi oleh apa yang ada di luar, itu sebabnya
saat anak-anak kita terluka atau terbaring di rumah sakit,
mereka tetap bisa bersukacita.
Sukacita seperti apa yang dimaksud dalam buah Roh?
Sukacita yang sejati adalah sukacita yang berasal dari
hati. Sukacita yang terjadi karena Tuhan bekerja di dalam
batin, membantu kita melihat hadiah-hadiah dari Tuhan
menjadi alasan terbesar bagi anak-anak kita untuk
menikmatinya.
Mungkin anak-anak kita sempat merasakan bagaimana mereka
gagal dalam ujian. Kita dapat memaparkan sejumlah
kesalahan dan keburukan mereka dalam hal ini. Namun
sukacita membuka kacamata rohani kita dan anak-anak untuk
melihat hadiah yang Tuhan beri dalam pengalaman pahit itu.
Misalnya, sukacita dapat tetap terjadi karena justru
pengalaman gagal membuat anak-anak kita belajar bagaimana
mereka perlu menghargai waktu-waktu belajar mereka. Atau
pengalaman mendapat nilai buruk membuat mereka tahu apa
arti kecewa dan gagal.
Yakobus sendiri pernah mengatakan demikian,
"Saudara-saudara, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan
apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,
sebab kamu tahu bahwa ujian terhadap imanmu itu
menghasilkan ketekunan. Biarkanlah ketekunan itu
memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna
dan utuh dan tak kekurangan apa pun".
Yakobus 1:2-4
Itu berarti Yakobus mengajak kita untuk juga mengajarkan
anak-anak kita bagaimana melihat sebuah situasi buruk dari
kacamata iman. Dengan kata lain, ada sisi lain dari sebuah
pengalaman yang tidak baik, di mana melaluinya kita tetap
bisa belajar dan melihat kesempatan yang Tuhan beri.
Bahkan justru menurut Nehemia 8:11,
"Jangan kamu bersusah
hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!”
Atau dengan kata lain, “...sebab sukacita Tuhan adalah
kekuatanmu.” Itu berarti kita diajak untuk memfokuskan
hidup kita bukan pada masalah yang kita hadapi, melainkan
pada kekuatan yang Tuhan beri selama menghadapi masalah
tersebut.
Itulah juga yang perlu kita latih dalam diri anak-anak
kita. Seringkali menghadapi dunia yang serba mudah di
zaman ini, anak-anak kita cenderung mengeluh dan putus asa.
Menghadapi mati lampu, mereka berkeluh kesah karena AC di
rumah tidak dapat digunakan dan mereka kepanasan.
Menghadapi jalan yang macet, mereka marah karena lelah
menunggu. Apalagi menghadapi pelajaran yang begitu banyak
dengan tugas-tugas yang tak kunjung berhenti, mereka bisa
menjadi anak-anak yang masa bodoh atau justru stress
karenanya.
Di sinilah kekuatan Sukacita perlu ditularkan pada
anak-anak. Sukacita bukan karena apa yang mereka inginkan,
telah mereka dapatkan, melainkan sukacita karena mereka
mampu melihat bahwa saat tidak tercapainya keinginan
mereka, ada hal lain yang mereka miliki dan mampu kerjakan.
Itulah hadiah dari Tuhan untuk dinikmati dan disyukuri.
Ada sebuah lagu yang sangat terkenal di dunia anak-anak
sekolah minggu, bahkan juga bagi anak-anak bayi. Syairnya
berbunyi, “Happy ya ya ya, Happy ye ye ye, aku senang jadi
anak Tuhan.” Lagu ini mengajarkan bahwa sukacita mereka
bukan karena pakai baju baru, atau sekolah minggu di
lantai dan kelas yang bersih, atau karena mereka sudah
kenyang, tetapi karena mereka jadi anak Tuhan. Objektif
seperti itulah yang perlu kita dengungkan dalam keseharian
anak. Sukacita bukan karena mendapat, tetapi karena mereka
adalah anak-anak yang dicintai Tuhan. |
|
|
|
Berdamai Dengan Tuhan dan Sesama |
Kata yang paling sulit diucapkan oleh seorang anak saat
mereka menyadari bahwa mereka memiliki harga diri adalah
“Sorry”. Padahal cara yang disediakan Tuhan untuk berdamai
dengan kita adalah melalui kesadaran bahwa diri kita
bersalah (berdosa), dan untuk itulah kita membutuhkan
pengampunan dari Tuhan.
Bagaimana cara agar anak-anak kita berani menyatakan
kesalahannya? Mulailah dengan meminta maaf apabila kita
melakukan kesalahan kepada mereka.
“Maaf ya, tadi mama berbicara keras pada papamu sehingga
kamu menjadi takut.”
“Maaf ya, tadi papa lupa memberi kesempatan padamu untuk
berpendapat.”
“Maaf ya, papa pulang terlambat tidak seperti janji tadi
pagi.”
“Maaf ya, mama tadi harus memarahimu di depan orang karena
kita pernah berjanji bahwa kamu tidak akan merengek dalam
perjalanan kita, tapi ternyata kamu merengek di depan
mereka. Itu sungguh tidak menyenangkan.”
Sebaliknya, mintalah anak juga untuk belajar meminta maaf.
Entah kata apa yang lebih sesuai dengan anak, “Sorry” atau
“Maaf” merupakan cara untuk membuat anak-anak kita belajar
bahwa mereka perlu berdamai dengan orang lain.
Bukan hanya pada sesama, anak-anak juga perlu diajar untuk
meminta maaf (mengaku dosa) pada Tuhan. Doa pengakuan itu
bisa dibawakan oleh orang tua seakan orang tua bertindak
sebagai anak. Misalnya, “Hari ini kami minta ampun ya
Tuhan, karena Andrea marah-marah pada papi dan mami.”
Bagaimana cara agar anak-anak dapat meminta maaf dengan
rela? Banyak anak, karena takut pada orang tua mereka,
akhirnya memutuskan untuk meminta maaf sekalipun muka
mereka penuh dengan amarah. Tidak dapat disangkal bahwa
ada kalanya mereka memiliki sejumlah alasan yang
mengakibatkan mereka tidak merasa perlu untuk minta maaf
apalagi minta ampun pada Tuhan. Itulah sebabnya sebelum
anak-anak berdamai dengan orang tua, dengan teman atau
dengan Tuhan, mereka perlu diajak bercakap-cakap secara
pribadi. Jelaskanlah bahwa ketika temannya tadi menangis
karena dipukul oleh anak kita, itu tetap merupakan
kesalahannya. Mungkin saja anak kita memukul anak itu
karena dipukul terlebih dahulu, namun sebagai orang tua
yang mengikut Kristus, kita tetap harus mengajarkan pada
anak-anak kita untuk tidak membalas kesalahan orang lain.
Sehingga damai yang mereka miliki menjadi utuh, damai
dengan Tuhan tetapi juga dengan sesamanya. Dan itu mereka
lakukan bukan berdasarkan pada keputusan perasaan mereka
semata, tapi karena keinginan untuk taat pada Tuhan dan
karena kesadaran bahwa damai yang sejati hanya bisa
terjadi jika hati terbuka pada pesan Ilahi. Seperti yang
tertulis dalam Kolose 3:15,
“hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu,
karena untuk itulah kamu telah dipanggil dalam satu tubuh.” |
|
|
|
Sanggup Bertahan Saat Mengalami Kesulitan |
Kesabaran dalam
Galatia 5:22 juga merupakan salah satu
buah Roh. Kesabaran seperti apa yang dapat diajarkan pada
anak-anak kita? Tentu saja sabar dalam menghadapi segala
hal, seperti sabar menunggu, sabar dalam mengerjakan
tugas-tugas sekolahnya, sabar dalam memelihara diri, sabar
dalam merapihkan sesuatu, atau juga sabar dalam
mendengarkan perkataan/nasihat/ajaran orang tua. Namun
apalah artinya kesabaran jika anak-anak kita tidak
berjumpa dengan kesulitan selama menjalani hidupnya? Untuk
itu orang tua perlu menanti kesempatan di mana anak-anak
secara alami akan menjumpai kesulitan, dan pada waktu
itulah saat yang tepat untuk mengajarkan kesabaran.
Bisa saja kita melatih mereka untuk sabar melalui berbagai
permainan, namun akhirnya anak-anak kita harus mengalami
sendiri bagaimana mereka perlu bertahan di saat-saat sulit
dalam hidupnya.
Misalnya saja, seorang anak berusia 2-3 tahun dapat
belajar kesabaran saat mereka diminta untuk melepaskan
baju atau celananya sendiri. Atau seorang anak berusia 4-5
tahun dapat belajar kesabaran saat mereka harus mengikat
tali sepatunya sendiri. Sedangkan anak-anak yang lebih
besar dapat belajar sabar saat mereka ditugaskan untuk
merapihkan tempat tidurnya sendiri, memasukkan seprey yang
berantakan agar tempat tidurnya terlihat rapi, atau dengan
cara membereskan mainannya sendiri.
Terus terang, untuk mengajarkan kesabaran pada anak, kita
sendiri sebagai orang tua akan mengalami proses belajar
sabar menunggu mereka sampai mereka menjadi anak yang
semakin sabar. Itulah sebabnya seringkali kegagalan bukan
terletak pada anak, tetapi maaf, pada kita sendiri sebagai
orang tua. Kita lebih memilih agar orang-orang yang
bekerja pada kitalah yang membereskan mainan anak-anak
kita, sehingga mereka tidak pernah belajar bagaimana
merapihkan seluruh mainan dalam kotaknya. Atau, kita
membiarkan anak-anak kita berteriak karena ada
barang-barangnya tertinggal saat mereka harus pergi
meninggalkan rumah, padahal jika mereka mau lebih sabar
sedikit, mereka justru dapat masuk kembali ke rumah dan
mengambilnya sendiri.
Pertanyaannya, mengapa kita harus mengajari anak-anak kita
bersabar dalam hal-hal yang tampaknya sangat sepele
seperti itu? Tentu saja itu bukanlah tujuan akhir dari
pembelajaran tentang buat Roh kesabaran. Segala sesuatu
yang terjadi dalam hidup anak sehari-hari hanyalah alat
yang dapat kita gunakan untuk mempermudah dan membiasakan
anak-anak kita hidup sebagai seorang yang bertahan dalam
kesulitan. Namun kesulitan yang sesungguhnya sebenarnya
terletak di depan mereka saat mereka tidak lagi bersama
kita. Saat pencobaan datang dan mereka tidak menemukan
seorang teman tempat berbagi, atau saat penyakit atau
masalah mampir dalam hidup mereka dan mau tidak mau mereka
harus lari dan tersungkur pada Tuhan. Kesabaran yang telah
dilatih selama mereka kanak-kanak merupakan bekal yang
sangat berarti sehingga mereka juga diberi kesanggupan
bersabar menanti jawaban atau pertolongan Tuhan.
Itulah sebabnya tidak ada cara lain untuk memulai
pelajaran ini selain orang tua sebagai pelaku utama dan
model bagi anak-anak kita. Sebab kesan yang mereka terima
dari mata mereka sendiri, merupakan pembelajaran yang
paling bermakna dan membekas seumur hidup. Sekalipun
mereka belum mahir menjadi orang-orang yang sanggup
bertahan, setidaknya mereka memiliki acuan atau contoh
bagaimana harus bersikap dan berpikir. |
|
|
|
Berbagi dengan Yang Tidak Sama dengan Anak |
Kemurahan memang merupakan salah satu bagian dari buah Roh
yang seharusnya terjadi karena gerakan hati yang memiliki
belas kasihan akan orang-orang di sekitar kita, sehingga
dengan sukacita kita melakukan sesuatu untuk orang-orang
tersebut.
Itulah sebabnya, untuk menjadikan anak-anak kita berhati
tulus dalam menyatakan kemurahan hatinya, diperlukan
sebuah pembiasaan dalam berpikir sebelum anak-anak kita
diajak untuk bertindak sesuatu. Misalnya saja, saat
anak-anak kita melihat orang-orang yang meminta-minta di
pinggir jalan. Kepekaan bahwa ada orang-orang di pinggir
jalan yang membutuhkan (di samping sebenarnya sebagai
seorang dewasa kita berpendapat lain) perlu diperdengarkan
oleh kita sebagai orang tua. Misalnya, “Lihat De,
orang-orang di pinggir jalan itu. Kasihan mereka, ada yang
tidak punya rumah, ada juga yang belum makan. Mereka
minta-minta karena mereka perlu uang untuk makan.”
Penjelasan di atas memang akan menjadi kurang cocok jika
dijelaskan pada anak usia SD, itulah sebabnya penjelasan
mengenai hal di atas perlu ditambah atau dilengkapi sesuai
dengan bertambahnya usia anak. Misalnya, “Orang-orang di
pinggir jalan itu memang tidak punya uang untuk makan.
Tetapi sebetulnya, bisa saja mereka bekerja. Sayangnya,
bisa jadi di antara mereka ada yang sudah mencari
pekerjaan tetapi tidak mendapatkannya. Dan karena uang
yang mereka dapat dari hasil meminta-minta lebih besar
daripada mereka bekerja, akhirnya mereka menjadikan ini
sebagai pekerjaan mereka.”
Dalam diskusi dengan anak-anak yang lebih besar, tentu
saja mereka bisa bertanya, “Kalau begitu untuk apa kita
memberi mereka? Bukankah mereka akan menjadi seorang yang
malas bekerja dan hanya meminta-minta?” Lalu kita bisa
menjawab, “Tentu, mereka bisa menjadi orang yang malas
bekerja. Dan lebih menyedihkan lagi kalau mereka justru
menggunakan anak-anak mereka untuk mengundang belas
kasihan orang lain. Tetapi bagaimanapun juga, mereka
adalah orang-orang yang berbeda dari kita. Mungkin sedikit
roti atau susu bisa berguna untuk kesehatan anak-anak itu,
daripada kita memberi uang. Mungkin saja orang tuanya
tidak membelikan susu untuk mereka, siapa lagi yang mau
peduli kalau kita saja melewatkan mereka begitu saja
setiap minggunya. Ayo kita siapkan susu setiap kali kita
melewati jalanan ini.”
Bisa jadi karena diskusi yang sangat panjang, menyebabkan
kita tidak jadi memberi. Namun ingatlah bahwa itu bukan
tujuan dari diskusi yang kita harapkan. Yang kita harapkan
sebenarnya adalah anak-anak belajar peka bahwa ada
orang-orang di sekitarnya yang berbeda dari mereka dan
membutuhkan uluran tangan Tuhan melalui kita. Itu sebabnya
diskusi kritis mengenai dugaan-dugaan terhadap apa yang
dibahas, bukanlah tujuan dari diskusi. Maksudnya, jika
kita membahas, misalnya tentang seorang anak yang menjadi
kedi payung, tujuan utama kita adalah mengajarkan
anak-anak kita untuk memberi pada mereka yang tidak sama
kehidupannya dengan keluarga kita. Bukan berarti kita
hendak menghakimi atau menduga, siapa di balik usaha kedi
payung tersebut? Atau dikemanakan uang yang mereka terima?
Arahkah terus pada kepekaan anak untuk bermurah hati pada
orang-orang di sekitarnya. Ajaklah mereka untuk menyadari
bahwa Tuhan bisa menitipkan orang-orang yang tidak sama
dengan mereka, agar kita belajar bermurah hati. Misalnya,
pada orang yang lebih tua, pada seorang oma atau opa, pada
teman yang tidak membawa snack seperti anak kita, atau
juga pada sebuah berita yang melalui gereja atau sekolah,
anak-anak kita bisa belajar berbagi. |
|
|
|
Melakukan Pekerjaan Baik |
Menurut W. E. Vine, seorang cendekiawan Yunani, dalam
Vine’s Expository Dictionary of New Testament Words,
kemurahan atau keramahan surgawi adalah “sikap penuh kasih
Allah terhadap orang lain,” sedangkan kebaikan adalah
“Suatu tindakan atau perbuatan baik yang dilakukan bagi
kepentingan orang lain.”
Itulah sebabnya, menurut Greg Zoschak, jika seorang
Kristen tidak memiliki kemurahan dari Allah, ia mustahil
akan melakukan kebaikan pada orang-orang di sekitarnya.
Lebih lanjut lagi, kemurahan adalah apa yang orang-orang
dapat lihat melalui diri orang beriman, sedangkan kebaikan
adalah apa yang mereka alami dari orang beriman tersebut.
Untuk menjadi anak-anak Tuhan yang baik, mereka bukan
hanya perlu menunjukkan sikap baik mereka pada anggota
keluarga atau orang-orang yang dekat dengan anak, sehingga
banyak orang menyaksikannya. Namun anak-anak juga perlu
belajar untuk keluar dari zona kenyamanan mereka yaitu
tempat di mana mereka merasa aman melakukan kebaikan. Di
mana tempat itu? Tempat itu adalah di dalam rumahnya, di
lingkungan teman dekatnya, atau di lingkungan keluarga
besarnya.
Merefleksikan diri dan anak-anak kita, siapa yang
seringkali kita doakan dalam doa-doa pribadi kita? Pertama,
diri sendiri, kedua, kita mendoakan keluarga dekat, ketiga,
kita mendoakan keluarga jauh, keempat, teman dan sahabat
yang dekat dengan kita. Apakah itu pekerjaan yang baik?
Betul, itu pekerjaan yang baik, namun bukan itu saja hasil
dari buah Roh. Kemurahan Tuhan mengajarkan dan mengajak
kita juga untuk menunjukkan kebaikan-kebaikan Tuhan
melalui kita termasuk kepada orang-orang yang kita sama
sekali tidak terpikir untuk mendekati dan menolongnya.
Salah satu cara untuk melatih kebaikan kita pada
orang-orang di luar zona nyaman kita adalah belajar
memikirkan satu hal yang sama sekali tidak ada hubungannya
dengan diri kita, keluarga kita, gereja kita, atau sahabat
kita. Kepada atau pada mereka itulah kita dan anak-anak
kita bisa belajar berbuat baik.
Kebaikan haruslah dirasakan oleh mereka yang sama sekali
tidak bisa membalas kebaikan kita dan anak-anak kita.
Mungkin juga sampai orang yang kepadanya kita berbuat baik
mengatakan, “Aduh, saya tidak bisa membalas apa-apa.
Terima kasih!”
Estafet kebaikan itu lebih dapat dirasakan oleh lebih
banyak orang jika kita berbuat kebaikan pada orang-orang
yang tidak ada relasi atau kaitannya dengan kita. Biarkan
mereka membalas itu pada orang lain, dan bukan pada kita.
Yesus sendiri pernah berkata, “Apakah baiknya jika kita
berbuat baik pada orang yang baik pada kita? Penjahat pun
akan melakukan hal itu...”
Yesus mengumpamakan kebaikan dengan garam,
Matius 5:13 mengatakan,
“kamu adalah garam dunia. Jika garam itu
menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi
gunanya selain dibuang dan diinjak orang.”
Jikalau kita tidak memiliki kebaikan Tuhan, niscaya kita
tidak mungkin dapat membuat orang lain merasakan kebaikan
Tuhan itu melalui kita. Garam itu tidak terasa asin. Orang
tidak akan mengatakan, “Ini asin!” atau “Terima kasih
Tuhan atas kebaikanMu melalui orang itu!” melainkan orang
akan mengatakan, “Aduh, aku berhutang pada dia. Sebab dia
begitu baik pada saya.”
Anak-anak kita boleh-boleh saja belajar berbuat baik pada
orang-orang di sekitarnya, bahkan harus! Tapi jangan
sampai kita menawarkan asinnya garam yang mereka tabur
dengan alasan-alasan logis. Misalnya, “Kita harus baik
sama mba’, kalau ga ada mba’ mami repot sekali di rumah.”
Atau “Kita harus kasih kado ke temanmu itu, sebab kemarin
kan dia kasih kado mahal sekali!”
Apa artinya sebuah kebaikan jika itu terjadi karena balas
budi atau ada harapan-harapan di balik kebaikan yang kita
beri. Sesungguhnya, melakukan pekerjaan baik bukan hanya
terbatas pada pemberian-pemberian, melainkan melakukan
sesuatu dengan cara dan pikiran yang baik. Itu sebabnya
saat anak-anak kita memberi pun, mereka perlu melakukannya
dengan baik, selain memiliki motivasi/alasan yang baik
dalam melakukannya, dan kata-kata yang baik dalam
menyampaikannya. |
|
|
|
Kudapati Kau Tetap Setia |
Tidak ada orang tua yang menghendaki anak-anaknya menjadi
anak-anak yang tidak setia pada Tuhan. Tapi bagaimana
caranya membuat mereka tetap setia sampai akhir?
Amsal 22:6 mengatakan,
“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya,
maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari
pada jalan itu.”
Mendidik anak setidaknya memenuhi 3 hal, kognitif, afektif
dan psikomotorik anak. Salah satu cara mendidik anak untuk
tetap setia adalah dengan mengajarkan mereka untuk setia
datang ke gereja atau sekolah minggu.
Ada orang tua yang begitu kasihan pada anak-anaknya,
sehingga mereka memberikan pilihan pada anak untuk pergi
ke Sekolah Minggu atau tidak. Kasihan karena mereka
mungkin lelah setelah bermain sepanjang hari sabtu, atau
kasihan karena anak tidak begitu menikmati suasana Sekolah
Minggu, atau juga kasihan karena anak ingin bangun lebih
siang dari biasanya. Alasan-alasan ini menunjukkan bahwa
orang tua belum memahami dengan sepenuhnya, apa guna dari
Sekolah Minggu.
Itu sebabnya, diperlukan penjelasan yang logis dan prinsip
pada anak, mengapa mereka perlu ke Sekolah Minggu, apa pun
alasan keberatannya. Misalnya, kita ke Sekolah Minggu
karena kita mau bertemu Tuhan bersama teman-temanmu seiman.
Kita ke Sekolah Minggu karena kita beribadah pada Tuhan.
Atau kita ke Sekolah Minggu karena Tuhan memanggil kita
untuk datang berbakti pada Dia. Sehingga apa pun alasannya,
justru alasan-alasan itu yang perlu disesuaikan dengan
prinsip yang ditetapkan.
Misalnya, supaya anak-anak tidak terlambat bangun, kita
sebagai orang tua tidak akan mengajak mereka bermain
terlalu malam di hari sabtu. Atau jika anak-anak tidak
mengerti pelajaran yang mereka terima di Sekolah Minggu,
orang tua mengulang kembali ajaran itu dengan melihat buku
yang telah disediakan oleh Sekolah Minggu atau warta
gereja.
Selain memberikan alasan pada anak, kita juga perlu
mencari kesempatan untuk memberitahu anak bahwa pengalaman
pergi ke Sekolah Minggu adalah hal yang sangat
menyenangkan dan menyukakan hati Tuhan. Anak-anak juga
perlu merasa bahwa itu adalah hal terindah dalam hidup
mereka. Caranya? Orang tua perlu menunjukkan sikap yang
antusias, bukan hanya anak yang perlu dilatih untuk senang
bertemu Tuhan di Sekolah Minggu, tetapi juga orang tua
perlu memiliki sukacita saat pergi ke gereja. Sehingga
acara minggu pagi yang dijalankan oleh keluarga, menjadi
kebiasaan yang berkesan buat anak sepanjang hidupnya.
Kebiasaan lain yang dapat mengajarkan anak untuk setia
adalah berdoa bersama keluarga, atau juga kebiasaan
membaca Alkitab. Ada banyak Alkitab versi anak-anak dengan
berbagai usia yang dapat membuat anak mengerti isi dan
pesannya. Seperti ritual sikat gigi dan mencuci kaki
setiap malam, biarkan orang tua, khususnya para ayah
diberikan kesempatan untuk menjelaskan isi dan pesan
Alkitab pada anak-anak sebelum tidur setiap harinya.
Bahkan saat anak sedang berlibur, dirawat di rumah sakit,
atau bepergian, ingatkan mereka untuk melakukannya sebagai
bagian tradisi keluarga, tetapi juga hal yang Tuhan
kehendaki.
Itu sebabnya, kita sebagai orang tua juga perlu mengisi
diri sebelum mengajarkannya pada anak-anak kita. Kesetiaan
itu dapat kita mulai dengan memilih satu kali selain hari
Minggu, tempat atau wadah di mana kita bisa mempelajari
Alkitab bersama teman-teman seiman, entah itu dalam Kombas,
persekutuan wilayah, persekutuan doa pagi, atau
persekutuan lainnya. |
|
|
|
Lemah Lembut bukan Menunjukkan Kelemahan kita |
Apa itu lemah lembut? Bukan bersikap lemah, tetapi juga
bukan sekadar menunjukkan kelembutan. Kelemahlembutan
dapat dilihat saat kita berjumpa dengan orang-orang yang
menyakiti kita. Ada sebuah sikap keramahan yang
ditunjukkan karena Tuhan telah mengampuni kita dan telah
membuat kita dapat mengampuni orang lain.
Lemah lembut akan teruji apabila kita menjumpai hal-hal
yang tidak kita sukai. Memang sulit! Dalam pembelajaran
tentang karakter, lemah lembut di pasangkan secara
bertolak belakang dengan kemarahan. Lemah lembut bukanlah
kelemahan, melainkan sebuah kekuatan di bawah kontrol
Allah. Yesus berkata, dalam Yohanes 3:30,
“Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku
menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan
penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku
sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku".
Itu berarti, kita menjadi orang yang dapat mengampuni
orang lain, atau tidak menyimpan kemarahan kita, bukan
karena kita kuat, atau bukan karena kita ingin menjadi
orang baik, tetapi lebih dalam dari itu adalah supaya kita
dan anak-anak kita mengikuti apa yang Tuhan kehendaki,
karena kita semata hanyalah utusan Tuhan di dunia untuk
memberitakan diri-Nya bagi dunia ini.
Tidak mudah mengampuni dan menghilangkan kemarahan kita,
apalagi saat kita menjumpai hal-hal yang tidak sesuai
dengan pikiran dan perasaan kita. Itulah sebabnya di
saat-saat sulit di mana kemarahan kita teruji, kita perlu
menyerahkannya pada Tuhan sebagai sumber kelemahlembutan.
Dengan demikian Ia akan mengontrol kita dengan kuasa Roh
Kudus.
Hal seperti ini juga perlu diajarkan berulang-ulang pada
anak-anak kita. Sering sekali anak-anak kita menunjukkan
sikap marah kalau keinginan mereka tidak tercapai. Dan itu
bisa terjadi sejak usia dini mereka. Namun justru di
saat-saat seperti itulah kita dapat bersama anak membawa
mereka pada Tuhan. Berdoalah bersama anak, katakan secara
spontan doa kita agar anak kita dikuasai hatinya oleh
Tuhan. Agar kemarahannya ditenangkan oleh Tuhan.
Tidak dapat disangkal bahwa hal seperti itu bisa juga
terjadi terbalik. Maksudnya, saat kita membiasakan berdoa
pada Tuhan saat anak-anak hendak menunjukkan luapan
emosinya, mereka pun dapat melakukan hal yang sama pada
kita saat kita hendak marah-marah pada dia. Namun
terimalah itu sebagai sebuah didikan Tuhan melalui
anak-anak kita juga. Kerendahan hati untuk menerima ajaran
dan teguran Tuhan seperti itu akan membantu kita dan
anak-anak kita bergantung pada Tuhan sumber
kelemahlembutan. Dengan demikian, kita justru menunjukkan
pada anak-anak kita kekuatan dari hidup bergantung pada
Tuhan. Sebab di luar Tuhan, kelemahlembutan sulit dicapai,
apalagi dengan kekuatan kita sendiri. Seperti yang Paulus
katakan, “Apa yang aku tidak suka, justru itu yang aku
lakukan.” |
|
|
|
Penguasaan Diri dalam Segala Hal |
Waktu kita
anak-anak, kita mendapatkan didikan dari orang tua kita.
Ada di antara kita tentu yang memiliki pengalaman hidup di
bawah kecukupan. Mungkin kita harus berbagi gado-gado,
telor, tempat tidur bahkan tahu yang kita makan.
Seringkali, akibat pengalaman masa lalu kita, kita
menempatkan anak-anak kita di sebuah tempat yang lebih
istimewa dengan anggapan bahwa mereka tidak boleh hidup
menderita seperti kita. Itu sebabnya kita membiasakan
mereka mendapatkan banyak hal enak dan mudah.
Tidur di tempat yang nyaman dan dingin, makan banyak dan
main/nonton apa saja yang mereka mau. Merupakan sebuah
pembiasaan yang membuat anak sulit menguasai diri mereka
apabila kemudahan-kemudahan itu tidak mereka jumpai.
Akibatnya, kita mengalami kesulitan untuk menjelaskan hal
berharga dalam hidup mereka mengenai penguasaan diri.
Penguasaan diri dapat teruji apabila kita dan anak-anak
kita menghadapi hal-hal yang mereka gemari. Sebab dalam
pembelajaran tentang karakter, Self control bertentangan
dengan self indulgence. Itu berarti saat anak-anak
menginginkan makan ayam atau pizza lebih dari 2, ia harus
belajar menguasai diri dengan siap mendengar kata “Cukup!”
bukan karena orang tua tidak punya uang atau bukan karena
adiknya harus juga mendapat jatah makan, tetapi karena itu
cukup untuk dirinya.
Salah satu definisi mengenai penguasaan diri adalah,
mengubah keinginan kita untuk menyenangkan diri sendiri
menjadi keinginan untuk menyenangkan hati Tuhan. Bagaimana
caranya agar kita dan anak-anak kita dapat menjadi orang
yang menguasai diri? Konon keberhasilan dari meditasi
adalah kemampuan untuk menguasai diri.
Itu sebabnya, salah satu makna doa puasa dalam hidup orang
percaya bukanlah untuk mengubah kehendak Tuhan dalam hidup
kita, melainkan membuat kita dapat mengubah apa yang kita
kehendaki, dan menyesuaikan diri dengan apa yang Tuhan mau.
Tentu saja hal itu harus dimulai dalam diri kita sebagai
orang tua. Penguasaan diri dengan cara membatasi jam kerja
yang tidak pernah kunjung habis dan menyediakan waktu itu
lebih lagi untuk anak-anak kita, penguasaan diri dalam
belanja, penguasaan diri dalam hal mengungkapkan emosi
kita secara berlebihan pada pasangan atau pada anak-anak
kita sehingga mereka tidak menjadi korban dari sakit hati
atau keinginan kita yang egois.
Menurut The Power of True Success, penguasaan diri
ternyata adalah sebuah kekuatan dari Roh Kudus yang
merupakan bukti/hasil bahwa kita telah dikuasai atau
dipimpin oleh Roh Kudus. Pertanyaannya, rindukah kita
memiliki hidup yang dikuasai dan diubah oleh Roh Kudus?
Dan rindukah kita melihat anak-anak kita bertumbuh dengan
kuasa dan penyertaan Roh Kudus? Sehingga saat mereka
menjadi orang tua seperti kita, mereka bisa melanjutkan
itu pada anak-anak mereka? Indahnya hidup bersama Tuhan...
Tuhan memberkati kita. |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|