|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Keluarga |
|
14 April 2007
Berikan Uangmu Setengahnya Saja
Jusak Suhardja |
|
|
|
Apakah Anda orang tua yang baik? |
Banyak orang tua yang menginginkan anaknya belajar
sebanyak mungkin. Media juga menyajikan berbagai sekolah
unggulan untuk orang tua. Di sini termasuk berbagai kursus
pengetahuan, bahasa dan bahkan motivational. Kita
menyaksikan orang tua ingin memberikan yang terbaik untuk
anaknya dalam pendidikan. Tapi apakah tindakan dan konsep
orang tua seperti ini menunjukkan bahwa mereka adalah
orang tua yang baik?
Untuk menjawabnya, kita mungkin perlu berpikir sebentar.
Setelah bercermin dengan keadaan kita, kita mungkin
menjawab relatif. Mungkin juga berkata, bahwa kita
sedang berusaha menjadi orang tua yang baik. Sadar atau
tidak, pertanyaan itu mengusik kita. Memang kita mempunyai
persepsi dan standar yang berlainan. Jikalau kita harus
mendefinisikan tentang orang tua yang baik, kita kan
membahasnya dari pengalaman dan dari hati kita. Jelas,
membahas tentang orang tua yang baik membangkitkan
perasaan bermacam-macam. Hal ini menyentuh nilai-nilai
yang paling dalam. Status orang tua yang baik adalah
sesuatu yang kita hargai di tempat khusus. Karena ini
melibatkan konsep ideal dan etika hidup.
Jika kita membicarakan pegawai yang baik, kita bicara
bukan hanya perhatiannya pada perusahaan, pencapaian dalam
sales atau penghematan dalam budget. Kita melihat jauh ke
dalam karakter dan perilakunya. Nilai-nilai dan
perwujudannya juga kita sangat hargai. Lebih lagi, kita
ingin komitmen dan totalitasnya. Yesus, Mahatma Gandhi dan
Mother Theresa, kita hargai karena karakter dan
nilai-nilainya. Kita terinspirasi tentu juga oleh
pencapaian. Tetapi lebih dari itu, kita hargai karena
komitmen dan totalitasnya dalam menjalankan nilai-nilainya
yang agung. |
|
|
|
Apakah orang tua yang baik juga karena komitmen dan totalitasnya? |
Jawaban kita mungkin tidak sama. Banyak orang tua menilai
dirinya dari totalitasnya pada pendidikan. Ada orang tua
yang memasukkan anaknya untuk kursus Matematika, Inggris,
Olahraga dan Musik sekaligus, dan menganggap bukankah ikut
banyak kursus itu baik? Ada orang tua yang berkomitmen
agar anaknya mempunyai prestasi akademis, juara lomba atau
tampil di TV. Seorang anak TK-B, di sekolah anak saya,
bahkan sudah mendapatkan 20 piala lomba.
Seminar yang tengah marak adalah bagaimana menjadikan anak
berprestasi secara akademis, membangun intelektual dan
skill, serta meningkatkan pemahaman moral dan sosial.
Percakapan kita adalah usaha untuk meningkatkan
intelektual anak. Kita menomor duakan diskusi tentang
orang-orang yang berkomitmen memegang nilai-nilai, karena
kelihatan hidup mereka tidak kemilau, tidak menarik.
Sedikit orang tua yang membicarakan nilai-nilai
Kekristenan dan totalitas, seolah-olah nilai-nilai tidak
pernah ada.
Saya mengenal seorang bapak yang terkenal jujur dan lurus
selama puluhan tahun. Nilai dan komitmennya memberikan
teladan bagi orang-orang sekitarnya. Namun beberapa tahun
yang lalu, ia menyerah. Ia memutuskan untuk meninggalkan
Indonesia. Karena berbagai alasan, Ia pindah menjadi
penduduk negara lain. Perjalanannya dulu memberikan
kekuatan, tapi kepergiannya membuat kita sadar, ia lelah.
Membicarakan perjalanan orang-orang agung membuat kita
lelah. Kita tidak bisa mencapainya. Kita tidak mau
mencapainya, khususnya dalam era materialisme.
Kita ingin menjadi orang tua yang baik, dan melihat
anak-anak menjadi dewasa, bukan cuma intelektual, tapi
emosi. Anak-anak idealnya cerdas bukan cuma pikiran, tapi
hati. Kita tidak ingin mereka dewasa tapi kekanak-kanakan.
Juga tidak ingin mereka dewasa tapi penuh dengan
nilai-nilai duniawi. Seperti istilah Benjamin Franklin, an
empty sack cannot stand upright. Kita tidak ingin luarnya
indah, hatinya kosong.
Namun kita tidak selamanya di samping anak-anak. Suatu
saat mereka akan berdiri sendiri. Saat itu kita ingin
anak-anak juga memuliakan Tuhan. Kita bertanggung jawab
agar anak-anak takut dan gentar di hadapan Tuhan (Fil
2:12). Bekal kekal yang kita dapat berikan adalah
nilai-nilai kita, arti hidup kita. Tak ada satupun dari
kita mampu memberi warisan yang bertahan seumur hidup.
Harta dapat habis. Intelektual bertumbuh dan berubah.
Nilai-nilai akan bertahan seumur hidup. Yang bernilai di
hidup kita adalah memuliakan Tuhan. |
|
|
|
Kita ingin anak-anak juga memuliakan Tuhan, tapi bagaimana caranya? |
Jawaban kita tak ada yang seragam. Yang pasti, nilai-nilai
yang tertanam di dalam diri kita haruslah nilai-nilai yang
dibentuk dari pengetahuan tentang Allah. Calvin, sang
reformator, mengatakan bahwa ia tidak melihat ada
pengetahuan yang benar tentang Allah pencipta, tanpa wahyu
Alkitab. Dengan membaca Alkitab kita mengenal Tuhan dan
juga mengenal diri kita sendiri. Sebagai orang tua kita
harus memurnikan hati nurani kita dan datang untuk minta
ampun pada-Nya tiap-tiap hari.
Menjadi orang tua yang baik adalah usaha yang penuh
komitmen dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Juga
usaha yang sunyi dan lamban. Saat itu hanya ada orang
tua dan anak. Kita berdialog berulang-ulang dengan anak.
Waktu kita berbicara tentang nilai-nilai, kita berbicara
juga tentang masa lalu. Kita mempersiapkan tentang masa
yang akan datang. Kita perlu mempertanyakan kebenaran masa
lalu. Kita menganalisa kegagalan kita. Kita bercerita
tentang keberhasilan kita. Kita mempunyai sebuah
kepentingan, kita ingin kebenaran ini bermanfaat di masa
kini.
Kesadaran akan kebenaran harus juga ditemukan dalam
biografi. Proses nilai, totalitas seseorang dan arti
hidupnya banyak ditemukan disana. Francis Schaffer,
seorang Teolog berkata, dalam sejarah, satu-satunya
kesalahan terbesar manusia adalah manusia tidak belajar
dari sejarah. Usaha memasuki area dialog adalah usaha
menangkap wajah kita di masa lalu di dalam biografi kita
dan memberikannya pada anak-anak. Kita berusaha membuka
buku harian kita di masa lampau agar masa lampau dapat
hadir di masa kini.
Wajah di buku harian itu mengandung misteri. Membukanya
berarti membawanya ke arah kemuliaan. Di dalam wajah masa
lalu ada tension, denial, pengakuan, kekurang indahan,
pengrusakan kebaikan, tetapi di masa yang akan datang,
pesannya memberi kekuatan pada anak untuk menghadapi
masalah, berubah dan maju. |
|
|
|
Dapatkah kita melakukan usaha dialog tanpa waktu khusus? |
Anak-anak bukanlah imitasi. Bukan pula mimpi kita. Juga
bukan echo dari suara kita. Anak-anak tidak menghafal
nilai-nilai kita. Walau mereka juga tidak patut membuang
nilai-nilai. Kita ingin anak-anak terinspirasi dan
menemukan jalan hidup yang lebih agung. Seperti Stephen
Covey katakan bahwa pemimpin menginspirasi orang lain
untuk menemukan suara mereka sendiri. Kita perlu waktu
khusus.
Sebagian besar kita tidak mempunyai cukup waktu. Kita tahu
bahwa pekerjaan adalah untuk hidup. Tapi seringkali begitu
banyak pekerjaan, sehingga kita hidup untuk pekerjaan itu
sendiri. Namun jelas tanpa waktu cukup dan tanpa
terinspirasi nilai-nilai Kristen, anak-anak dapat menjadi
seperti empty sacks. Seperti Herbert Spencer, social
theorist berkata yang membentuk kita adalah waktu, dan
bukan sebaliknya. Dialog tentang nilai-nilai tidak cukup
sekedar dilakukan di meja makan atau melalui telepon.
Dialog perlu waktu khusus sebelum tidur, saat bermain
bahkan saat bangun tidur. Membuat anak terinspirasi perlu
waktu lebih banyak. |
|
|
|
Bagaimana caranya? |
Tak selalu
semua yang orang tua kerjakan adalah cerdas. Orang tua
harus terus menseleksi pekerjaannya agar tidak terjebak
dalam era materialisme dan meninggalkan nilai-nilai
Kristen yang sebenarnya dibutuhkan anak. Orang tua yang
baik, bukanlah yang berkomitmen dalam mendidik intelektual,
skill dan moral anak. Tetapi yang haus dan lapar mencari
kebenaran dengan anak. Orang tua yang tak melepaskan anak
untuk mencari nilai-nilainya sendiri, tapi bersama-sama
bergumul dalam setiap masalahnya. Seperti kata pepatah:
berikan waktumu
dua kali lebih banyak
tapi uangmu
setengahnya saja |
|
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|