|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Keluarga |
|
3 April 2007
Jelajahi Potensi Anak
Puspa W. Cahyono, S.Psi, M.Sc. |
|
|
|
Gereja, Sekolah dan Potensi |
Gereja dan
pendidikan adalah dua kegiatan manusia yang saling
berdampingan dalam perkembangan budaya. Penelusuran
terhadap sejarah pendidikan formal yang sekarang disebut
sebagai sekolah akan menyinggung peran ibadah terhadap
perkembangan pendidikan. Pengaruh agama Kristen yang
kuat di Eropa pada abad ke-17 menyentuh penduduk baru
Amerika Serikat saat itu. Belajar membaca dan menulis
adalah kewajiban masyarakat beragama supaya dapat
mengalahkan upaya Setan mencegah manusia mengetahui isi
tulisan di Alkitab. [1]
Demikianlah budaya yang diturunkan oleh para bangsawan
Eropa yang pernah menduduki Indonesia. Dampak dari
“penularan” budaya ini tentu saja positif karena
masyarakat kita diperkenalkan pada agama
Kristen—perkenalan melalui proses pendidikan. Kini ada
pergeseran pemahaman terhadap tujuan pendidikan namun
tak bisa dipungkiri bahwa perkembangan sekolah sampai
sekarang memiliki tujuan berasas moral: keterampilan dan
pengetahuan yang melayani tujuan agama.
Perkenalan
singkat di atas hendak menunjukkan betapa besarnya peran
gereja dalam dunia pendidikan. Bagaimana dengan gereja
kami yang terkasih? GKI Pondok Indah tak kalah besar
perannya dalam upaya mencerdaskan manusia Indonesia.
Segala rupa dukungan diberikan pada dua sekolah
asuhannya, Sekolah Tirtamarta-BPK PENABUR dan Sekolah
Permata Bunda, baik untuk para siswa maupun para
pendidik dan karyawan. Hasilnya sudah jelas: kedua
sekolah yang berakreditasi “A” membina siswa beriman
yang meraih ragam juara di berbagai bidang, dari tingkat
institusi sampai dengan tingkat nasional. Keberhasilan
Nathan Darius dari SD Tirtamarta-BPK PENABUR yang telah
meraih juara Olimpiade Sains Nasional masih segar di
ingatan kami sehingga warga sekolah semakin terpacu
untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas
pendidikan.
Dukungan GKI PI yang paling saya rasakan pengaruhnya
terhadap perkembangan anak didik di jenjang TK adalah
pada saat perayaan Natal dan Pengucapan Syukur akhir
tahun. Mengapa kedua acara tersebut? Setiap tahun kami
diperkenankan untuk menggunakan fasilitas gereja sebagai
wadah perwujudan dari hasil pembelajaran siswa-siswi
kami selama mereka memperoleh pendidikan dalam waktu
satu semester, dua semester, sampai akhirnya mencapai
tiga tahun. Demi keberhasilan acara tersebut semua pihak
tanpa terkecuali—guru, siswa, pelatih ekstrakurikuler,
orang tua sampai dengan bagian kebersihan—melatih,
dilatih dan belajar untuk mengungkapkan kasih mereka
dengan memuji Tuhan melalui anugerah berseni.
Siswa Kelompok Bermain (usia tiga tahun) belajar lagu dan
gerak sederhana, keduanya upaya untuk meningkatkan daya
ingat dan keterampilan motorik yang sangat penting untuk
dikembangkan di kemudian hari. Dari pembelajaran lagu
ini dapat terpantau bibit-bibit potensi yang bisa
dikembangkan. Kemampuan memahami isi lagu, mengenal
gerak dan nada; semua ini bisa mempengaruhi arah
perkembangan kognitif dan minat seni siswa. Siswa TK A
dan TK B mempersembahkan kemampuan melantunkan lagu,
memainkan angklung dan menari. Semua siswa diberi peran
yang sesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimiliki.
Dengan demikian gereja dan sekolah bersatu mendukung
penjelahan potensi anak, terutama sejak dini. Berikut
akan saya paparkan sedikit informasi mengenai apa yang
dimaksud dengan potensi, dan mengapa sekolah perlu
merangsang dan membina potensi anak. |
|
|
|
Potensi itu Apa? |
|
Potensi
berarti sesuatu yang bisa diwujudkan; suatu kemungkinan.
Kata potent sendiri dalam bahasa Inggris berarti kuat,
jadi potensi adalah keberadaan kemampuan dari seseorang
dari dalam diri yang sangat kuat kemungkinannya untuk
diwujudkan.[2] Semua orang memiliki
potensi, dari yang muda sampai dengan yang tua dan jenis
potensi beragam. Potensi dilihat dari perpaduan antara
minat, bakat, dukungan, kemampuan fisik dan daya nalar
seseorang. Kesemua faktor ini disertai oleh pengaruh
lingkungan. |
|
|
|
Bagaimana Bisa “Melihat” Potensi
Anak? |
Indikator
resmi yang bisa menjadi pegangan untuk yakin bahwa anak
memiliki potensi menjadi seorang pengacara, misalnya,
belum ada. Untuk itu segala kemungkinan perlu dijelajahi
sejak dini. Jangan sampai ada kemampuan yang terlewatkan
karena sekarang bukanlah zaman orang punya kemampuan di
satu bidang saja. Sejak dulu pun kita bisa berpatokan
pada sang maestro Leonardo da Vinci yang merupakan
contoh bagaimana segala potensinya dijelajahi sehingga
ia menjadi seorang pelukis, arsitek, filsuf, ilmuwan,
dan lain-lain.
Jadi, apa yang perlu dilakukan? Bagaimana cara menjelajahi
potensi anak? Sejak usia dini, terutama dari usia
prasekolah orang tua dan lingkungan sudah bisa
memberikan stimulus melalui kegiatan variatif. Berikut
adalah penjabaran singkat mengenai peran keluarga dan
lingkungan. |
|
|
|
Peran Keluarga |
Berawal dari
lingkungan inti di antara keluarganya, orang tua bisa
mempersiapkan ragam alat yang bisa menarik perhatian
anak. Misalnya, dengan tindakan sederhana seperti
menyediakan ruangan untuk kegiatan tertentu bisa
merangsang minat anak. Ruangan-ruangan didekorasi
menurut pola warna dari yang primer, sekunder sampai
dengan warna bergradasi. Pewarnaan ruangan memberikan
pengaruh afektif dan bisa mempengaruhi daya seni anak.
Taman dihias sebisa mungkin dengan ragam jenis tumbuhan
pepohonan, bunga, semak, dan lain-lain. Gunanya adalah
supaya anak mau bertanya atau diajak untuk menikmati
keindahan alam dan memahami proses pertumbuhan yang
tentu saja merupakan anugerah dari Tuhan. Bila anak
menunjukkan ketertarikan, sudah tampak ada potensi untuk
mencari ilmu. Saya katakan mencari ilmu, bukan menjadi
petani karena kita tidak bisa gegabah langsung
memberikan label pada anak saat upaya pencarian diri
baru mulai.
Kebisasaan keluarga juga mempengaruhi potensi yang bisa
dikembangkan. Orang tua yang biasa duduk di depan
televisi akan mempengaruhi anaknya untuk sekadar menjadi
pengamat. Namun bila anak diajak untuk membahas tontonan
yang sedang dilihat, potensi anak semakin bisa
dijelajahi. Mulai dari acara berita, kartun, sinetron,
lagu, olahraga sampai dengan quiz orang tua bisa
perhatikan acara mana yang lebih diminati sekaligus
menjelaskan mengapa baik untuk ditonton dan mengapa
sebaiknya tidak.
Sedini mungkin libatkan anak dalam kegiatan sehari-hari.
Bisa dari kegiatan membersihkan sampai dengan memasak.
Jangan segan mengajarkan anak untuk sekadar lap meja.
Selain memperkuat motorik kasar anak, kegiatan ini
menumbuhkan potensi untuk menjadi mandiri. Ingat daya
saing dunia sekarang menuntut kita mencari ilmu di
Negara lain, bahkan bekerja di Negara lain yang sangat
mungkin tidak memudahkan kita mempekerjakan pembantu.
Jadi dari pembiasaan pun potensi bisa tumbuh dan
terwujud. |
|
|
|
Peran Lingkungan |
Sekolah
adalah institusi yang berupaya mewujudkan tujuan dari
masyarakatnya untuk generasi mendatang. Oleh sebab itu
sekolah memiliki tugas yang sama dengan orang tua, untuk
memantau dan mengembangkan kemampuan sehingga mencapai
daya maksimal. Beberapa contoh peran sekolah saya ambil
dari pengalaman di sekolah TKK Tirtamarta-BPK PENABUR.
Dalam penjelajahan potensi anak, kami siapkan ragam tema
yang akan didalami. Penyampaian tema-tema ini tidak
sekadar berupa diskusi, namun disertai kegiatan yang
menuntut partisipasi siswa dan masyarakat. Misalnya
untuk tema Kehidupan di Pesisir, para siswa
diperkenalkan pada mata pencaharian nelayan. Selain
menjual ikan, para nelayan juga membuat telur asin.
Untuk memperdalam pengetahuan siswa terhadap mata
pencaharian ini mereka diajak untuk ikut membuat telur
asin. Para guru mempersiapkan bahan dan memberikan
presentasi yang kemudian dilakukan oleh siswa.
Dari kegiatan ini beberapa potensi anak telah disentuh.
Dari daya observasi, bertanya, menghitung jumlah telur
yang ada, menalar informasi mengenai proses pengasinan,
dan lain-lain. Bila siswa mampu menceritakan kembali
pengalamannya, potensi sebagai pencerita tersentuh.
Siswa mungkin tertarik untuk menjadi nelayan atau bahkan
tertarik di bidang bisnis telur asin. Who knows? Segala
kemungkinan bisa dijelajahi.
Contoh lain adalah pada perayaan Kartini. Tahun lalu kami
mengambil tema profesi sehingga para siswa mengenakan
pakaian dari profesi tertentu untuk kemudian
diperagakan. Dari acara ini beberapa potensi terpantau.
Kepercayaan diri siswa dibina melalui keberanian untuk
tampil dan dari kegiatan ini juga anak diperkenalkan
dengan ragam profesi yang mungkin digelutinya di
kemudian hari.
Pengalaman lain adalah membuat pizza dan cokelat. Siswa
langsung mengalami sendiri proses pembuatan pizza dan
cokelat, dari bahan dasar sampai saat matang dan siap
dimakan. Potensi memasak dan memperhatikan bahan makanan
dijelajahi di kegiatan ini. Tahun ajaran mendatang kami
berencana untuk mengajak siswa ke Bank. Di sini siswa
akan diperkenalkan pada prosedur transaksi perbankan dan
bisa melakukan role-play membuka rekening di bank.
Masih banyak kegiatan kami yang menunjang penjelajahan
potensi anak—dari kegiatan sehari-hari seperti mengenal
benda sampai dengan perlombaan. Penjelajahan ini sangat
penting supaya siswa dapat mencapai kemampuan mereka
dalam segala cakupannya dan meraih semua kemungkinan
yang disediakan. Terutama untuk membekali para siswa
dalam menentukan bidang keprofesian yang hendak
didalami—semakin banyak waktu dan kesempatan yang
disediakan, semakin banyak kemampuan yang dikuasai oleh
siswa. |
|
|
|
Faktor yang Mendukung
Penjelajahan Potensi Anak |
Secara
ringkas beberapa poin yang bisa diambil dalam mendukung
penjelajahan potensi anak adalah:
• Pembiasaan
Membiasakan anak untuk merapihkan mainan, pergi ke
sekolah, menabung, meng-evaluasi perilakunya — semua ini
berpotensi untuk menerapkan disiplin yang sangat
diperlukan saat menginjak usia dewasa.
• Penjelasan
Memberikan penjelasan bagi anak akan mendorongnya untuk
semakin mencari tahu. Namun perlu diingat bahwa
penjelasan diberikan bagi anak dalam tahap perkembangan
di mana ia belum mampu mencari informasi dari sumber
lain. Anak usia prasekolah sampai dengan sekolah dasar
masuk dalam kategori ini. Anak usia sekolah menengah
sudah bisa dibiasakan untuk mencari sendiri penjelasan
dari buku, internet, Koran dan lain-lain, tentu saja
dengan pantauan dari orang tua dan/atau orang dewasa
lain.
• Keterlibatan
Melibatkan anak dalam kegiatan memberikan pengalaman
langsung—suatu bentuk pendidikan yang paling efektif.
Praktik langsung bisa mempengaruhi minat, bakat dan
keterampilan yang bisa diasah.
• Ketersediaan
Daya khayal anak bisa dikembangkan, namun sebelum
seseorang bisa membayangkan sesuatu mereka perlu
dihadapkan pada benda nyata. Terutama anak kecil yang
pengalaman hidupnya sangat minim. Bagaimana bisa
menjelaskan perbedaan buah dan sayur hanya berdasarkan
ucapan? Kita perlu sediakan buah jeruk, mangga, apel
asli untuk diketahui wujud, tekstur, harum dan rasanya
supaya bisa dibedakan dari sayur bayam, tauge, sawi dan
kacang panjang.
• Kesempatan
Berikan waktu khusus bersama anak sedikitnya tiga puluh
menit sehari meskipun hanya untuk menceritakan isi buku.
Dari jenis cerita sendiri potensi anak dapat terpetakan.
Ikutkan anak dalam perlombaan bila ia siap. Beri
kesempatan baginya untuk mencoba hal-hal baru, jangan
terlalu membatasinya sehingga ia sendiri belajar untuk
melihat keterbatasan dan kelebihannya. Misalnya bila
ingin membantu memotong, berikan pisau plastik yang
tidak membahayakan. Bila ingin mencoba alat musik,
misalnya, beri kesempatan disertai penjelasan mengenai
akibat bila ia tidak meneruskan pembelajaran alat musik
tersebut. Anak jadi belajar konsekuensi dari
perbuatannya dan bisa terjadi proses negosiasi antara
orang tua dengan anak.
• Dukungan
Terpenting adalah memberikan dukungan pada anak. Jangan
sampai mematikan daya juang anak untuk mendalami
sesuatu. Selama potensinya masih ada, upayakan agar
dapat dikembangkan. Dukungan positif melalui pujian,
penghargaan, dan pengakuan lebih besar pengaruhnya
daripada dukungan materi. |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|