|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Keluarga |
|
17 Nopember 2006
Tidak Virgin Handrawan Nadesul |
|
|
|
Ini oleh-oleh kecil saya diundang bicara di Presbyterian
Church Singapura, awal Oktober lalu. Dari berbicara di
Bina Pranikah, selain di Komisi Pemuda saya memperoleh hal
yang agak berbeda dengan yang selama ini pernah saya dapat
dari audiens kelompok yang sama di Indonesia dalam hal
seksualitas dan tata nilai pergaulan. Dari kalangan senior
saya memetik info ihwal anak muda di sana. Apakah yang
agak berbeda itu? |
|
|
BIASANYA
kalau saya memberikan ceramah pendidikan seks (di
sekolah-sekolah), atau memberikan kegiatan bina pranikah (di
sejumlah gereja), pertama-tama satu yang saya pancing dari
audiens di awal pertemuan, selain dari kuesioner yang saya
ajukan, “Apakah pihak laki-laki bersedia menerima kalau
calon istrinya sudah tidak virgin?” Selama ini belum
pernah saya mendengar ada jawaban bersedia.
Buat saya sedikit aneh bila di audiens di Singapura yang
tidak terlampau banyak itu, dari satu kali pertemuan, saya
mendengar ada tiga orang pemuda yang menjawab bersedia
menerima sekiranya calon istrinya sudah tidak virgin.
Mereka berumur di atas 25 tahun, dan tentu belum menikah.
Di kesempatan terpisah bina pranikah, juga ada yang
mengiyakan sikap yang sama.
Dari interaksi omong-omong hidup sehat dengan kalangan
senior di hari yang lain, saya mendapat kesan bahwa
pergaulan anak muda Singapura sebetulnya nyaris tidak
berbeda dengan anak muda Indonesia. Satu-dua memang ada
yang lebih nakal. Namun rata-rata lebih kurang sama.
Sebagian dari mereka malah terlambat menikah bukan karena
tak suka, tapi mendahulukan karier dan bekerja.
Lalu kenapa ada pemuda yang bisa menerima seandainya calon
istrinya sudah tidak virgin, dan anak-anak kita di
Indonesia sini dari sampling yang padahal lebih banyak (sejak
tahun 1985 sampai sekarang, mungkin sudah ribuan anak
sekolah dan calon pengantin yang saya pernah tanya ihwal
virginitas) belum satu pun yang sudi menerima calon istri
andai sudah tidak virgin?
Buat saya ini pertanyaan besar dengan jawaban yang masih
lepas terbentang.
Tahun 1984 saya ikut Kongres Seksualitas Nasional di Bali.
Waktu itu ada penelitian pendahuluan pada sebuah SMA di
Denpasar ihwal virginitas. Dari kuesioner terungkap, bahwa
semua siswa tak mau menerima kalau calon istrinya sudah
tidak virgin. Siswa yang sama setuju dengan seks bebas,
yang berarti boleh membuat siswinya menjadi tidak virgin
lagi. |
|
|
VIRGINITAS
seharusnya dijadikan tema besar dalam kesibukan pendidikan
seks kita, karena dua hal. Pertama, buat kultur kita,
setiap remaja puteri masih memikul stigma kalau sudah
tidak virgin. Dan kedua, hampir pasti malah menghalanginya
memetik indahnya hari depan.
Saya pernah menulis soal reparasi selaput dara (hymen
repair) di sebuah majalah wanita tahun 90-an. Ketika itu
sedang in jasa diam-diam itu di sebuah klinik. Seorang
wanita mengirimi saya surat dari Medan menanyakan berapa
ongkosnya, dan dia mengaku sudah mengumpulkan uang untuk
reparasi selaput daranya yang sudah koyak ke Jakarta. Ia
pembantu rumah tangga. Majikannya memperkosanya.
Dalam benak saya merenung, selevel pembantu rumah tangga,
virginitas begitu merisaukan hidupnya. Mestinya bagi
remaja puteri, anak sekolahan, dari keluarga baik-baik,
mengalami hal yang sepilu itu, harus lebih sangat
merisaukannya lagi. Apalagi mengingat tidak ada lelaki
yang sudi menerima kalau calon istrinya sudah tidak
virgin. Kalau saja diberi tahu akan hal itu, para remaja,
khususnya remaja puteri mestinya bakal membuat mereka jadi
sangat risau.
Kita tidak punya data yang sahih soal angka tidak virgin
anak sekolah kita. Tapi realitas yang ada menunjukkan,
angka anak sekolah yang sudah tidak virgin agaknya tidak
menurun melihat pola dan gaya pergaulan anak sekarang.
Dari pembicaraan informal dengan beberapa bidan di
Jakarta, dan pihak klinik bersalin, permintaan aborsi
sekarang sudah datang dari siswi SD. Angka permintaan
aborsi kalangan anak sekolah pun, konon, terus bertambah.
Virginitas perlu terus dibicarakan karena sekali stigma
itu sudah melabel dalam diri seorang “gadis”, segera itu
menjadi sangat dilematis. Mengapa? Lantaran ia akan
menjadi seorang calon istri yang serba salah.
Mengaku tidak virgin kepada calon suami, belum tentu bakal
diterima, atau malah kemungkinan diputus hubungannya. Atau
kalau pun diterima, kelak jadi kartu truf bagi pihak suami
untuk menyudutkannya. Saban kali bertengkar dalam hidup
perkawinannya, suami mungkin saja akan bilang, “Bukankah
kamu dulu sudah tidak virgin. Jadi aku kan boleh-boleh
saja berbuat macam-macam sekarang!”, misalnya.
Andaikata saat sebelum komit untuk menikah, tidak mengaku
kalau sudah tidak virgin pun, akan muncul masalah malam
pengantin yang tidak berdarah (Ketika awam masih
beranggapan kalau malam pengantin harus berdarah). Dari
catatan, tak sedikit kasus remaja dengan status
“nona-bukan-nyonya-bukan” begini, yang akhirnya memutuskan
tidak kawin, dan sebagian hari depan mereka telanjur
gumpil. |
|
|
JADI
sesungguhnya betapa berharganya upaya sekolah memberikan
pendidikan seks, ketika pihak orangtua gamang harus bicara
apa. Indonesia sudah meratifikasi bahwa hak reproduksi
milik setiap remaja (Konferensi Kependudukan Dunia, di
Kairo 1994).
Namun kita belum memberikan hak itu bagi remaja kita. Maka
angka-angka seperti angka kecelakaan seks, kawin muda,
putus sekolah, janda muda, anak tanpa ayah, aborsi,
kehamilan yang tak diharapkan (unwanted child), AIDS,
semua itu barang pasti bagian dari akibat diabaikannya
pendidikan seks bagi anak. Sejatinya pendidikan seks sudah
perlu masuk kurikulum sejak masih TK mula.
Saya ingin memberi salut kepada sekolah Tirta Marta
Jakarta yang sudah menciptakan modul pendidikan seks. Itu
berarti bukan saja ada niat untuk memberi hak reproduksi
sehat bagi anak, melainkan juga merasa berkepentingan
untuk lebih serius menyusun perangkat pendidikan bagaimana
menyelamatkan hari depan anak-anak sekolah dari godaan
seksualitas. Godaan centil yang jauh lebih berat dibanding
yang dihadapi generasi ayah-ibunya dulu, melihat begitu
mengglobalnya informasi, genitnya tayangan televisi, dan
entengnya internet bikin cawat moral anak muda sering
kedodoran sekarang ini.
Bahkan di sebuah pojok kampung atau pedesaan, seorang
remaja lugu yang jauh dari hiruk-pikuk pergaulan kota,
bisa gampang mengakses siaran televisi Perancis yang
semi-blue itu dari kamar tidurnya. Tanpa bekal pendidikan
seks, berita remaja memperkosa anak tetangga sehabis
nonton film perempuan nggak bisa beli baju, bukan kejadian
sekali-dua.
Saya pribadi risau menyaksikan pola dan gaya pergaulan
anak muda sekarang. Mereka seperti memasuki hutan rimba
penuh hewan buas bernama seks dan seksualitas tanpa
dibekali senjata, atau kemampuan menembak. Nasib mereka
hanya tinggal pada bekal iman.
Kita melihat rata-rata anak muda di Amerika memang sudah
menguasai pendidikan seks dari kurikulum sekolahnya.
Mereka sudah suntuk memahami hal-ihwal seks dan
seksualitas. Namun kalau nyatanya masih seks bebas,
kecelakaan seks, hamil sebelum menikah, dan aborsi masih
tinggi, jangan salahkan pendidikan seksnya.
Bisa jadi itu urusan bekal iman. Jadi memang tak cukup
hanya pembekalan pendidikan seks belaka. Ketakutan
sejumlah pihak di kita kalau pendidikan seks menjadi
“knowing is doing” sampai sekarang juga belum terbuki,
kalau makna pendidikan seks bukan diterjemahkan sebagai
praktik seks seperti halnya yang diberikan dalam konseling
perkawinan, atau bina pranikah.
Kondisi anak-anak sekolah, dan pemuda kita sekarang ini
bukan saja tak punya bekal pendidikan seks, atau kalau pun
punya sering tak lengkap, namun kebanyakan pendidikan iman
pun belum ideal betul. Sering-sering lebih pada konsep
“Patuhi apa yang aku katakan, dan bukan yang aku lakukan!”
melihat pada saat yang sama semakin banyak kenakalan
orangtua di depan mata anak. |
|
|
DAMPAK sosial
tidak virgin masih ruwet. Keruwetan ini sesungguhnya bisa
dijadikan motivasi kuat agar para siswi mempertahankan
keutuhan selaput daranya, dan tidak mengumbar kegadisannya
sejak jauh hari sebelum hari perkawinannya.
Kalau selaput dara sudah cacat, selain hari depan sudah
lecet, sedikit cara untuk menyembunyikan bila selaput dara
sudah tak utuh. Tidak pula dengan teknik tinggi operasi
selaput dara. Karena kalau bicara manusia “virgin”
seutuhnya tentu bukan cuma “virgin” secara fisik,
melainkan tentu tetap perlu “virgin” pula sosok jiwa,
sosial, dan spitirualitasnya.
Bila ternyata sudah tidak virgin, mungkin betul calon
suami bisa dikelabui. Mungkin juga betul sesiapa bisa
dikibuli. Tapi jiwa yang sudah tidak “virgin”, roh yang
sudah lecet, dan spitirualitas yang ompong, akan tetap
membekas di hati. Hati kecil kita sendiri yang akan terus
merasakannya dan memikulnya sebagai kealpaan yang belum
ada satu pun cara untuk menghapuskannya. Tidak juga cukup
bisa ditips-ex dengan bertobat semata.
Pergaulan anak muda kita sekarang berkubang dalam situasi
kepalang tanggung. Pergaulan seksnya sudah demikian
beringas. Namun sikap ksatria pemerintah untuk membekali
semua anak-anaknya masih malu-malu kucing. Maka yang
terjadi sekarang ialah skandal. Skandal karena orang yang
lebih tua tidak memberikan hak anak-anaknya untuk eling
waspodo ketika memasuki rimba belantara bernama seks dan
seksualitas.
Kalau memang nyatanya sudah memilih permisif seks,
sepatutnya harus tulus pula menerima andai pasangannya
sudah tidak virgin. Jangan sampai seksnya mau, tapi
bekasnya ogah! Atau sepatutnyalah memilih menolak itu
semua, dan berikrar untuk membentengi diri dengan bekal
tahu seks, dan iman yang harus terus naik kelas.
Kalau itu yang dipilih, orangtua dan sekolah wajib
menyebarkan ikrar bagi anak gadisnya. Mantapkan diri
setiap remaja puteri untuk berikrar agar tetap virgin
sebelum memasuki pintu perkawinan. Ini harus menjadi
bagian dari kredo hidup setiap gadis. Dengan cara begitu
sekaligus mengajarkan kepada remaja putera juga untuk
tidak sembrono, tidak gegabah, dan tidak seenaknya
mengambil keputusan pendek seks yang berisiko merusak hari
depan mereka berdua.
Salah satu pil pendidikan seks yang belum sempat remaja
kita rutin minum kini, sesungguhnya juga ikut memberi efek
dalam menjinakkan kodrat seks yang dibawa semua remaja
agar menjadi lebih beradab.
Tabiat kodrat seks remaja di mana-mana dunia tidak berubah.
Dari zaman kuda gigit besi, sampai zaman rambut berduri
seperti sekarang ini, kodrat seks manusia sejatinya barang
liar, dan tidak pernah menjadi kuno. Hanya bedanya,
pergaulan zaman sekarang cenderung mengumbarnya.
Setiap sikap orang yang lebih tua membatasi pergaulan
bebas dianggap anak sebagai sikap yang kuno. Dan
perlawanan generasi muda terhadap nasihat yang kuno itu
yang anehnya tapi nyata, sering bikin kancing dan
retsleting kolor hari depan mereka sudah pada copot semua
ketika umur mereka masih sangat belia.
Astaga! |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|