|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Keluarga |
|
7 Nopember 2006
Lima Tantangan Keluarga Kristen Riani Josaphine Suhardja |
|
|
Suatu kali
para jari mengadakan pertemuan keluarga. Mereka makan
malam bersama dan saling berbagi cerita mengenai tantangan
yang secara nyata mereka alami sebagai anggota-anggota
tubuh, di tengah zaman yang semakin ingin memecah belah
mereka. Inilah hasil dari perbincangan mereka.
SI JEMPOL merasa tantangan terbesar bagi dirinya adalah
PERSAINGAN. Menurutnya, di dunia metropolitan seperti
Jakarta ini, besar sekali kemungkinan adanya persaingan.
Jari jemari harus siap diperadukan satu dengan lainnya.
siapa yang kuat, dia yang mendapat perlakuan secara khusus.
Bicara tentang si Jempol saja misalnya, ada banyak orang
yang lebih memilih serta menantikan kehadirannya
dibandingkan jari jemari lainnya. Sebab begitu si jempol
berdiri, semua orang sudah paham bahwa ada pujian yang
akan dikumandangkannya. Katanya, “Aku tidak mungkin
mengacungkan jempol untuk semua orang. Hanya pada
orang-orang tertentu saja aku mau berdiri dan menyatakan
pujianku. Semakin aku jujur, semakin orang menghendaki
kehadiranku.”
Apakah kita juga setuju dengan pendapat si jempol? Bahwa
salah satu tantangan yang dihadapi seorang Kristen di
zaman ini adalah persaingan? Sadar atau tidak kita ada di
dalam dunia persaingan ini. Mulai dari anak-anak sampai
orang dewasa, persaingan terus berlanjut dan
membayang-bayangi hidup kita.
Di kalangan anak-anak kita saja misalnya persaingan mulai
muncul saat mereka memperebutkan kasih sayang. Berapa
banyak orangtua yang tidak siap menjadi orangtua bagi
anak-anak mereka, sehingga mereka lebih suka berlaku manis
pada anak-anak mereka yang juga memberikan respon positif.
Untuk anak-anak yang manis, yang pandai, yang taat,
seringkali orangtua memberikan perhatian lebih ketimbang
pada anak-anak mereka yang memberontak, tidak taat dan
sulit belajar mandiri. Anak-anak jadi terbiasa berlaku
pura-pura demi memperebutkan perhatian orangtuanya.
Itu baru di dalam keluarga saat mereka berelasi dengan
orangtuanya. Tetapi di kalangan dunia anak sendiri,
jangankan anak-anak yang sudah menginjak akil balik, di
usia anak saya pun (sekitar 2 tahunan) sudah terjadi
persaingan. Persaingan terjadi karena masalah yang sangat
sepele kelihatannya, yaitu masalah bola plastik. Saat
persediaan bola plastik hanya satu, bola itu jadi
diperebutkan. Siapa yang mendapat bola itu? Rupanya yang
kuatlah yang bisa memegang dan menguasai bola itu. Mereka
yang ditendang, tidak bisa melawan atau membalas, harus
menerima kekalahan yang tidak adil itu dengan terpaksa.
Di kalangan para siswa persaingan juga muncul. Bukan hanya
di sekolah saat mereka bersaing nilai, tetapi juga saat
mereka bersaing teman favorite, pacar, bahkan juga saat
sebuah tim sedang memilih anggota terbaik mereka untuk
sebuah kompetisi olah raga.
Persaingan berlanjut di dunia bisnis, di kantor, di
jalanan, di toko, termasuk di dunia hiburan. Untuk
mengambil tempat duduk di restaurant favorite pun kita
bersaing waktu dengan pengunjung lainnya. mata kita harus
sigap mencari tempat duduk yang kosong, jika restaurant
yang kita tuju tidak memiliki stand pendaftaran customer
mereka.
Ternyata memang benar, persaingan muncul tidak memandang
bulu dan kelas. Di manapun, kapan pun selalu ada
persaingan. Entah anak-anak kita pandai atau biasa-biasa
saja, entah kita sedang berekreasi maupun bekerja,
persaingan bisa terjadi.
Pertanyaannya, apa buruknya dari sebuah persaingan?
Persaingan yang sehat tentu membawa hasil yang baik.
Tetapi sebaliknya jika persaingan itu didominasi oleh
ambisi dan ketinggian hati, maka persaingan akan membawa
seseorang pada tindakan kejam, sarkastis dan akhirnya
menimbulkan banyak korban. Padahal peneladanan Kristus
berbeda sama sekali dengan hal tersebut. Apa perbedaan
teladan Kristus dengan maraknya persaingan yang ada di
zaman ini?
Persaingan melegalkan kita mengorbankan orang lain,
sedangkan kehadiran Kristus mengajar kita untuk berkorban
demi orang lain. Persaingan menebalkan kepekaan sosial
kita, sedangkan kehadiran Kristus membuat kita semakin
peka akan kebutuhan sesama. Persaingan membawa kita pada
pementingan diri dengan kekuatan dan kelebihan kita,
sedangkan kehadiran Kristus mementingkan mereka yang lemah
dengan bantuan kekuatan serta kelebihan yang Tuhan beri
pada kita.
Apakah kita dan anggota keluarga kita bersaing secara
positif? Yesus juga mengajarkan kita untuk bersaing,
bersaing dalam perlombaan iman. Bersaing dalam memenangkan
kasih yang sejati, serta persaingan dalam menciptakan
perdamaian (Rom 12:18).
Kini giliran SI TELUNJUK unjuk bicara. Menurutnya,
tantangan terberatnya zaman ini adalah HARGA DIRI.
Si Telunjuk berkata, “Aku merasa, seringkali jariku
disalahgunakan orang lain. Saat mereka menggunakanku untuk
mempertahankan harga diri mereka. Mereka menunjuk
seseorang untuk melempar tanggung jawab, menunjuk yang
lemah untuk mempermalukan mereka, bahkan menunjuk diri
sendiri saat pujian disampaikan.”
Dan ironisnya, si telunjuk seringkali menjadi alasan bagi
perpecahan yang terjadi dalam keluarga. Sepasang suami
istri memutuskan untuk pisah kamar saat tidur malam, hanya
karena merasa tidak dihargai oleh pasangannya. Seorang
anak bisa meninggalkan rumah karena merasa tidak dihargai
oleh orangtuanya. Bahkan seorang pekerja segera
meninggalkan rumah tempat mereka bekerja karena merasa
harga dirinya diabaikan oleh sang tuan rumah.
Sempat seorang ayah berkata pada anaknya, “Kita boleh
tidak punya uang, tapi jangan sampai kita kehilangan harga
diri.” Rupanya harga diri begitu penting dan tinggi
nilainya. Dunia ini bisa menunjukkan perbedaan status sosial, pendidikan, ekonomi, budaya dan peradaban secara
mencolok, tetapi perbedaan itu tidak dapat menyembunyikan
yang disebut dengan Harga Diri.
Akibat dari memprioritaskan harga diri, seseorang sampai
hati mengorbankan uangnya, miliknya bahkan tenaganya.
Sayangnya, dunia ini pun menghargai seseorang dengan
hal-hal lahiriah. Rupanya, materi ikut berbicara, memberi
andil bagi keputusan berharga atau tidaknya seseorang.
Coba kita ingat-ingat, apa yang membuat seorang penjaga
toko menghargai kita? Pakaian kita, penampilan kita,
termasuk kartu kredit kita. Lalu, pelayanan apa yang juga
bergantung pada materi atau uang yang kita miliki? Kelas
dalam pesawat terbang, saat kita bermalam di rumah sakit,
atau saat kita berbelanja. Semoga dan jangan sampai itu
terjadi juga di gereja atau rumah kita.
Inilah tantangan keluarga Kristen di zaman ini, di mana
keutuhan keluarga perlu diupayakan melalui sikap saling
menghargai dan bukan karena masing-masing anggota keluarga
menonjolkan harga dirinya masing-masing. Saya pernah
mengatakan pada beberapa anak muda, mari kita turunkan
harga diri kita demi mempertahankan relasi. Apa maksudnya?
Relasi kita dengan Tuhan dan relasi kita dengan anggota
keluarga sangatlah penting. Tuhan mengharapkan agar sesama
anggota keluarga saling menolong dan melengkapi satu
dengan lainnya. Istilah menolong mengandung makna
kesediaan untuk merendahkan hati, turun menyodorkan tangan
bagi mereka yang lemah.
Yang lemah diangkat oleh yang kuat. Itu berarti ada upaya
turun ke bawah seperti Yesus yang kuat dan berkuasa turun
menjadi seorang manusia dan mengambil rupa seorang budak/hamba.
Ia menjadi sama seperti kita yang penuh dengan kelemahan.
Inilah teladan kerendahan hati demi mengangkat
keberhargaan seseorang. Kita yang lemah dan berdosa,
diangkatNya menjadi anakNya, menjadi serupa seperti
Kristus. Pengangkatan harga diri kita yang dilakukan oleh
Kristus inilah yang membuat Sang Bapa sedia menerima kita.
Kalau saja Allah di Sorga mau menerima kita yang lemah,
tidakkah kita meneladani Kristus yang telah mengangkat
kita? Ingat, tantangan keluarga zaman ini adalah mengajak
anggota keluarga mempertahankan relasi, bukan harga diri.
Justru dengan saling menghargai, termasuk menghargai yang
lemah, hidup kita jadi berharga. Bisa jadi bukan di mata
manusia, tetapi berharga di mata Dia, Allah yang telah
merendahkan diriNya buat kita.
Kini giliran Si JARI TENGAH unjuk gigi. Ia menekankan
EGOISME sebagai tantangan terberat zaman ini.
Si Jari Tengah berkata, “Coba semua jari berdiri. Siapa
yang tertinggi dan ada di pusat dari semua? Tentulah aku.”
Dengan rendah hati lalu dia melanjutkan pendapatnya,
“Karena itulah aku takut, takut aku menjadi sombong dan
takabur. Aku yang sengaja diciptakan paling tinggi di
antara kalian dan aku yang diletakkan Tuhan di
tengah-tengah dari semua anggota keluarga jari jemari, aku
takut aku menjadi sombong. Sempat terlintas dalam
pikiranku bahwa Allah sengaja melakukan itu karena memang
akulah yang terbaik dan untuk itu patutlah aku dilindungi,
diperhatikan, diistimewakan.
Saya teringat motto dari sebuah film yang menceritakan
pengalaman hidup para penjaga pantai. Mereka setuju bahwa
hidup mereka dipersembahkan agar orang-orang yang
seharusnya mati di lautan bebas karena kecelakaan,
memiliki kesempatan kedua untuk hidup kembali dengan
pertolongan mereka. “…so the others may live.”
Apakah prinsip itu tersirat dalam benak kita sebagai
anggota keluarga? Sebagai anggota masyarakat? Atau sebagai
seorang yang dipakai dalam dunia kerja dan pelayanan kita?
Seorang ibu berkata pada temannya, “Kalau saya tidak
berguna di tempat ini, masih banyak orang memerlukan saya.”
Apa pesan dari kalimat ini? Seseorang perlu diakui
keberadaannya, seseorang ingin menjadi penting dan
berharga.
Kali ini Si Jari Tengah setuju dengan telunjuk. Apa yang
membuat seseorang memaki-maki orang lain? Apa yang membuat
seseorang mengundurkan diri dari sebuah kegiatan? Apa yang
membuat seseorang mengacuhkan orang lain? kadangkala bukan
hanya karena ia tidak mendapati penghargaan terhadap
dirinya, tetapi juga karena egoisme diri.
Hati-hati, jangan-jangan egoisme juga telah menelusup
dalam keluarga kita. Kita bekerja bukan karena merupakan
kebutuhan, tetapi karena kita hobi bekerja dan mengejar
sesuatu yang menjadi ambisi pribadi kita. Ironisnya, kita
bekerja karena ingin melarikan diri dari keadaan keluarga.
Apa akibat dari egoisme? Menurut Mangunhardjana, membuat
seseorang kehilangan penghargaan terhadap orang lain.
Egoisme membuat orang lain sebagai alat atau objek untuk
memenuhi kepentingan pribadi. Egoisme membuat seseorang
tidak peka atau buta terhadap kebutuhan orang lain.
Apakah kita telah menjadikan anak-anak atau pasangan kita
sebagai objek? Apakah kita mencium, bermain dan membelikan
mainan buat anak-anak hanya untuk kepentingan kita? Atau
kita sedang belajar peka terhadap kebutuhan mereka?
Tantangan egoisme zaman ini mengajak kita merefleksi ulang,
apakah kita telah menjadi seorang anggota keluarga yang
memperhatikan kebutuhan anggota keluarga yang lain? Jangan
sampai kita buta, sebab di situlah keluarga kita sedang
terancam keruntuhan dan kerusakan.
Lain halnya dengan SI JARI MANIS, menurutnya justru
KESETIAAN PADA TUHAN merupakan tantangan terpopuler masa
kini.
Kisah-kisah penyangkalan terhadap kesetiaan marak
terdengar bukan hanya di masyarakat pada umumnya dalam
dunia bisnis, politik maupun pendidikan. Namun
ketidaksetiaan juga merebak di dalam keluarga-keluarga
Kristen. ketidaksetiaan pada sesama itu dimulai dari
ketidaksetiaan kita untuk mendengar dan melakukan firman
Tuhan.
Ketidaksetiaan menjalani apa yang Tuhan kehendaki membuat
kita semakin tidak peka akan tugas yang Tuhan berikan pada
kita sebagai utusanNya. Hanya dimulai dari hal-hal yang
sangat sepele. SMS (Short Message System) telah mencoba
menggoda setiap orang untuk melunturkan kesetiaannya.
Kata-kata manis yang membuat seseorang tersenyum sendirian,
perhatian yang hanya singkat tetapi penuh makna, “Sudah
makan belum?” menghancurkan dinding pemisah antar yang
sudah terikat dengan para penggodanya.
Tidak heran anak-anak juga belajar untuk tidak setia.
Mulai dari fleksibilitas orangtua dalam mengantar
anak-anak mereka ke Sekolah Minggu atau Kebaktian Remaja.
Ada yang menunjukkannya dengan cara terlambat datang, atau
malah sekalian tidak hadir. Dilanjutkan dengan
ketidaksetiaan menjadi pelaku firman.
Mari kita refleksikan ulang, apa yang sudah dengan setia
kita jalani? Membaca firman Tuhan dengan setia? Sudahkah
kita dengan setia berterimakasih pada Dia yang telah
memberkati kita? Atau sudahkah kita dengan setia
mengajarkan cinta Tuhan pada anak kita secara
berulang-ulang?
Seorang pria menyarankan pada temannya untuk menyimpan
cincin nikahnya jika ia bepergian. Bukan karena takut
hilang atau diambil orang, tetapi supaya banyak orang tahu
bahwa dia tidak terikat. Berbagai cara dapat juga kita
lakukan untuk menunjukkan ketidaksetiaan. Dan sayangnya
itu diperkuat dengan kepandaian kita membela diri.
Ironisnya, justru orang-orang yang tidak setia seringkali
mendapatkan banyak keuntungan dari ketidaksetiaannya itu.
Sebut saja orang-orang yang seringkali pindah pekerjaan.
Atau orang-orang yang ditawari gaji tinggi oleh perusahaan
kompetitor. Namun ada pertanyaan yang mudah-mudahan dapat
sedikit memperbaiki kita, yaitu: janji setia apa yang
sekarang hendak kita ucapkan di hadapan Tuhan dan keluarga
kita? Penuhilah janji itu di masa mendatang dan ajaklah
anggota keluarga kita juga belajar memegang janji setia
mereka pada Tuhan dan pada keluarga.
SI KELINGKING kini berucap, mengakhiri diskusi dan makan
malam keluarga jari jemari. Menurut SI KELINGKING
tantangan yang tidak kalah pentingnya untuk diwaspadai
adalah
PERHATIAN TERHADAP YANG TERKECIL. Si kelingking memang
jarang dibicarakan. Ia begitu kecil dan kurang kuat untuk
mengangkat sebuah kantong plastik belanjaan sekalipun
belanjaan itu ringan. Namun itulah justru tantangan mereka
sebagai anggota keluarga.
Seorang murid bertanya pada gurunya, “Manakah yang harus
kami selamatkan jika kami harus menyelamatkan banyak orang
di ambang kematian mereka, dengan adanya keterbatasan kami?”
Lalu jawab guru itu, belalah mereka yang paling lemah dan
paling membutuhkan pertolongan.
Guru itu rupanya memiliki prinsip Kristiani. Untuk itulah
Yesus datang ke dunia dan untuk itulah Dia mengutus kita.
Agar yang lemah menjadi kuat, yang kecil diperhatikan,
yang miskin berkata kukaya. Dia datang melalui kita, untuk
menguatkan orang lain, memperhatikan orang lain, menghibur
yang berduka.
Siapa yang paling kecil dalam keluarga kita? Perhatikanlah
dia dan ajaklah dia memperhatikan mereka yang juga kecil
dan membutuhkan perhatian.
Inilah hasil kesimpulan bincang-bincang para jari.
Terakhir, sebelum mereka menutup pertemuan itu,
“Ada satu yang kurang kata mereka, coba kita bersama-sama
menundukkan tubuh kita. ada sebuah simbol yang dapat
disalahartikan. Kepalan seluruh jari dapat berarti sebuah
pembalasan. Tetapi kepalan semua jari dapat juga berarti
semangat bersama untuk mewujudkan hal baik. Itulah
tantangan keluarga kita,” menurut para jari.
Lalu apa solusi dari semua tantangan itu? Sekarang mereka
mulai membuka mata keluar dari kumpulan keluarga kecil
mereka. “Lihat, ternyata masih ada keluarga lain di
sebelah kita. Mereka sama-sama jari tangan. Ada jempol,
telunjuk, jari tengah, jari manis dan kelingking.”
“O, itu bukan keluarga kita,” sahut si jempol.
“E... e... e... baru saja kita bicarakan bagaimana
sulitnya melepaskan egoisme, harga diri dan persaingan,”
tiba-tiba dengan berani di jari tengah menyanggah.
“Maaf, saya terbawa emosi. Apakah berarti kita harus
menyatukan kedua keluarga besar ini?” tanya si Jempol.
“benar!” jawab Si Telunjuk.
“Kita satukan keluarga kita dengan mereka sambil
berpelukan. Sebab saat kita berpelukan, kita semakin erat.
Kita bahkan dapat membisikkan kata-kata doa yang kita
perlukan agar kita diberi kesanggupan menghadapi tantangan
zaman yang berat ini,” lanjut Si Telunjuk dengan semangat.
“Kalau begitu, tunggu apa lagi? Sekaranglah waktunya. Mari
kita berpelukan! Maksudnya... berdoa!” jawab jempol sambil
berlari memeluk jari jemari lain di seberang mereka.
Oh Tuhan terima kasih, akhirnya keluarga besar itu menyatu
mencari Engkaulah sebagai satu-satunya sumber kuat mereka
menghadapi tantangan zaman ini. Ingatkan mereka terus, ya
Tuhan!” (/riajos/) |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|