|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Keluarga |
|
5 Juli 2006
Anak Berkebutuhan Khusus Jane Simon, Msi. |
|
|
Istilah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) tidak asing lagi di
telinga kita. Siapakah mereka? Mereka adalah anak-anak
ciptaan Allah, yang Dia titipkan di antara kita, para
orang tuanya. ABK memiliki ciri khusus yang membuat mereka
nampak berbeda dari anak-anak lain seusianya. Contoh ABK
misalnya anak hiperaktif, sulit konsentrasi, perhatiannya
sangat mudah teralihkan, mengalami kesulitan dalam membaca,
menulis, atau berhitung, autis, asperger, lambat bicara,
down syndrome, dan sebagainya.
Kalau dulu mungkin hanya satu dua orang ABK yang dapat
kita lihat, sekarang kita dapat melihatnya lebih sering.
Salah satunya pada anak autis, menurut Kompas, 16 April
2005, pada tahun 1970-an anak-anak yang mengalami autis
hanya 1:10.000 kelahiran, kini tercatat 1:150 kelahiran.
Data tersebut menunjukkan peningkatan yang cukup tajam,
sementara penyebabnya belum diketahui pasti.
Beberapa spekulasi menyebutkan kemungkinan penyebabnya,
yaitu:- Akibat dari faktor keturunan (genetis) di mana
kehidupan manusia masa kini terlalu banyak memakai zat
kimia beracun yang dapat menyebabkan terjadinya mutasi
genetika,
- Menghirup polusi udara yang semakin meningkat
di sekeliling kita,
- Gara-gara imunisasi dengan vaksin
yang mengandung timerosal,
- Karena ibu saat hamil
mengonsumsi bahan makanan yang terkontaminasi merkuri atau
bahan kimia lain yang dapat mengganggu pertumbuhan sel
otak,
- Faktor pencernaan yang buruk akibat jamur candida
(dari pemberian antibiotik yang terlau banyak pada saat
anak sakit) yang terlalu banyak di dalam usus sehingga
menghambat sekresi enzim. Akibat kekurangan enzim tersebut
beberapa jenis protein (casein dari susu dan glutein dari
gandum) tidak dapat dicerna sempurna dan berubah menjadi
zat opioid (efeknya seperti opium) dan bila diserap
kembali oleh usus masuk ke peredaran darah otak, akan
menimbulkan gejala yang mirip dengan autisme.
Mari kita kenali secara selintas beberapa ABK yang sering
kita temui di sekeliling kita, di antaranya adalah: |
|
|
|
Autisme |
|
Autisme adalah gangguan perkembangan yang meliputi
keterlambatan pada bidang komunikasi, interaksi sosial,
dan perilaku karena adanya keterlambatan perkembangan pada
area keterampilan motorik, perseptual, bahasa, kognitif
dan sosial. Gejalanya mulai nampak pada anak sebelum
mencapai usia 3 tahun, misalnya anak terlambat bicara,
suka merancau dengan bahasa yang tidak dimengerti orang
lain, membeo, marah-marah, menangis atau tertawa sendiri
tanpa sebab yang nyata, menolak/menghindar kontak mata,
tidak mau menengok jika dipanggil, sering menolak untuk
dipeluk, asyik main sendiri, tidak ada usaha untuk
berinteraksi dengan orang lain, jika didekati malah
menjauh, tidak punya rasa empati terhadap orang lain,
sering mengamuk tak terkendali (tempertantrum) terutama
ketika keinginannya tidak terpenuhi bahkan bisa menjadi
agresif dan destruktif, anak bisa mencium-cium, menggigit,
menjilat mainan atau benda apa saja, jika mendengar suara
keras langsung menutup telinga, ia juga tidak menyukai
rabaan, dan akan merasa tidak nyaman jika memakai pakaian
dari bahan yang kasar. |
|
|
|
Asperger |
|
Asperger adalah gangguan neurobiologis yang ditemukan pada
tahun 1944 tetapi baru dikenal pada tahun 1994. Anak-anak
asperger pada mulanya seringkali didiagnosa sebagai anak
ADD/DH, autis, bahkan schizophren. Hal ini tentu saja
membingungkan dan membuat frustrasi para orangtua. Ciri
khas anak asperger adalah kurang mampu bersosialisasi dan
berkomunikasi, sangat taat pada rutinitas/ritual tertentu,
suka mengulang gerakan-gerakan motorik, seperti bertepuk
tangan, menjentik-jentikkan jari, bahkan
menggerak-gerakkan bagian tubuhnya secara berulang.
Umumnya mereka memiliki inteligensi yang tinggi pada area
tertentu, seperti misalnya ia mampu belajar secara
akademik tetapi sulit menjalani aktivitas kehidupan
sehari-hari, dapat pula anak pandai mengingat sesuatu
tetapi tidak bisa menjawab soal-soal tipe essay. Gejalanya
ada kemiripan dengan anak autis, seperti sulit kontak mata
namun mereka tidak ada kesulitan di dalam berbicara,
kemampuan bahasanya baik, memiliki banyak perbendaharaan
kata, tetapi tidak bisa menggunakannya dengan tepat di
dalam konteks sosial, serta cara bicaranya pun monoton.
Anak asperger bisa mencari interaksi sosial dengan orang
lain, bisa juga tidak. Ia sering sulit menerjemahkan suatu
situasi sosial dan mengekspresikan emosinya dengan tepat,
misalnya kurang spontan terhadap keadaan bahagia, kurang
dapat menunjukkan bahwa ia berminat terhadap sesuatu, atau
ia senang karena temannya berprestasi, dan sebagainya. |
|
|
|
ADD (Attention Deficit Disorder) |
|
ADD merupakan gangguan atensi di mana anak tidak dapat
memperhatikan atau sulit konsentrasi pada sesuatu hal,
perhatiannya mudah sekali teralihkan. Anak seperti ini
seringkali gagal untuk memperhatikan detail atau melakukan
kesalahan yang tidak perlu dalam tugas sekolah atau
pekerjaan lainnya, kelihatannya anak tidak mendengar saat
diajak berbicara, sering tidak mengikuti petunjuk dan
gagal dalam menyelesaikan tugasnya, ia sering menghindar,
menolak atau tidak suka terlibat dalam tugas yang
membutuhkan keuletan/ketekunan, sering kehilangan
barang-barang yang digunakannya, sering lupa melakukan
aktivitas rutin sehari-hari. |
|
|
|
ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) |
|
Seperti pada ADD, ADHD ditambah dengan gejala hiperaktif.
Anak menunjukkan gejala tidak dapat duduk tenang di kursi,
sering berlarian atau memanjat-manjat secara berlebihan
dalam situasi yang tidak dibenarkan untuk itu, pada remaja
atau orang dewasa hal ini diwakili dengan perasaan tidak
tenang atau gelisah, sepertinya selalu bergerak seperti
motor yang berputar, banyak bicara (tukang ngobrol). Ada
kalanya anak ADHD menunjukkan pula gejala impulsif seperti
sering mengganggu/menginterupsi orang lain, sulit menunggu
giliran, dan seringkali anak sudah menjawab lebih dahulu
sebelum seseorang selesai mengucapkan pertanyaannya. |
|
|
|
Dyslexia |
|
Dyslexia merupakan kesulitan di dalam membaca dan menulis,
yang bukan disebabkan karena kurang cerdas, tidak memahami
perintah ataupun masalah sensori seperti harus mengenakan
kacamata. Anak sulit menyebutkan nama-nama huruf, membaca
kalimat, memahami kalimat sekalipun bisa disuarakannya,
anak juga sering salah mengeja huruf. Dyslexia seringkali
diikuti dengan dyscalculia, yaitu kesulitan untuk
menghitung dan aphasia |
|
|
|
Aphasia |
|
Aphasia merupakan ketidakmampuan anak untuk memproduksi
atau memahami bahasa karena adanya kerusakan otak. Anak
bisa bicara tetapi tidak bisa menulis atau kebalikannya.
Anak terkadang lebih dapat memahami kalimat kompleks
daripada yang bisa diproduksinya. |
|
|
|
Down Syndrome |
|
Down syndrome
merupakan keterbelakangan mental yang disebabkan oleh
adanya gangguan kromosom. Ciri umum yang nampak adalah
adanya lipatan kulit di sudut mata bagian dalam yang
cenderung menurun/miring. Para ibu yang berusia di atas 35
tahun atau para ayah di atas 50 tahun berisiko melahirkan
anak down syndrome. Anak-anak seperti ini dapat hidup
normal dan produktif hingga dewasa dengan bantuan orang
lain, bahkan hingga usia di atas 60 tahun, namun memiliki
risiko terkena penyakit Alzheimer. |
|
|
Pada dasarnya
kita tidak tahu, apa maksud Tuhan dengan kehadiran
anak-anak berkebutuhan khusus ini. Memiliki anak-anak
seperti ini seringkali membuat para orang tua merasa sedih,
kecewa, malu dan bersalah padahal bukan salah anak-anak
ini, sehingga tidak sedikit dari mereka yang
menutup-nutupi kondisi anak mereka terutama ketika
berhadapan dengan orang lain, berusaha menolak kehadiran
mereka, bahkan ada yang membuang anaknya dengan
memberikan perlakuan yang tidak semestinya, misalnya anak
dikucilkan/dimusuhi, tidak memberikan kasih sayang yang
tulus/sama seperti kasih sayang terhadap saudara kandung
anak tersebut, timbul ketegangan dalam keluarga (saling
menyalahkan, hubungan antar anggota keluarga jadi tidak
harmonis), dan sebagainya. Padahal anak-anak ini tidak
berdosa dan kita sebagai orang tuanya harus memiliki suatu
keyakinan bahwa Tuhan memiliki suatu rencana indah bagi
mereka dan bagi orangtuanya kelak.
Dalam satu kesempatan, saya dipertemukan Tuhan dengan
teman lama yang sudah hampir 20 tahunan tidak bertemu.
Salah seorang anaknya mengalami asperger. Ia bersama
beberapa teman senasib berinisiatif mendirikan suatu
organisasi yang berkecimpung di dalam pemberian terapi
pada para ABK ini. Suatu hari, saya pun diundang olehnya
untuk berkunjung ke Bianglala Nanda yang beralamat di Jl.
Pesantren Wetan 17, Bandung. Bianglala Nanda adalah tempat
pelayanan bagi ABK yang berada di bawah naungan Badan
Pekerja Majelis Klasis Bandung (BPMKB)/GKI Klasis Bandung.
Bianglala Nanda memberikan bantuan kepada para ABK dan
keluarganya untuk mengatasi permasalahan mereka melalui
terapi perilaku (ABA = Applied Behavior Analysis), terapi
okupasi (melatih motorik halus), paedagogi, care group,
konsultasi bagi anak dan orang tua ABK yang ditangani oleh
para terapis khusus, dokter, dan psikolog Kristen, agar
mereka dapat menjadi orang yang mandiri dan dapat diterima
oleh masyarakat. Visi Bianglala Nanda adalah menjadi wadah
pusat informasi dan layanan khusus bagi masyarakat tanpa
membedakan suku dan agama.
Saya melihat
komitmen, kesabaran, kreativitas, kemauan, dan ketulusan
adalah kunci dari para terapis, dokter, psikolog serta
para pengurus inilah yang mewujudkan adanya Bianglala
Nanda. Dapat saya bayangkan, sekiranya Tuhan memberikan
ABK ini kepada saya, betapa bingungnya saya. Apa yang
harus saya lakukan, bagaimana cara menangani anak ini, ke
mana saya harus mencari pertolongan untuk kemajuan
perkembangannya, dan sebagainya. Kita harus bersyukur
karena ternyata Tuhan sudah membukakan jalan, salah
satunya adalah dengan adanya organisasi Bianglala Nanda di
Bandung ini, kita yang memiliki anak berkebutuhan khusus
dapat memanfaatkannya dan membuka jalan bagi perkembangan
anak-anak kita.
Saya yakin, Tuhan begitu peduli terhadap anak-anak
berkebutuhan khusus ini, maka kitapun harus peduli
terhadap kehadiran mereka. Mari kita rangkul mereka dengan
sebaik-baiknya, bukan dengan menolak kehadiran mereka,
karena mereka pun makhluk ciptaan Tuhan yang patut kita
kasihi, kita sayangi, dan kita hargai keberadaannya. |
|
|
Sumber Pustaka:
http: //en.wikipedia. org/wiki/dyslexia. 8 Juni 2006.
Dyslexia.
http: //en.wikipedia. org/wiki/aphasia. Wikipedia. 8 Juni
2006. Aphasia.
Kompas, 16 April 2005. Deteksi Dini Penting Dilakukan.
MST. 3 April 2001. Artikel: ADHD. Depok: Psikologi
Perkembangan - UI.
Papalia, et al. 2001. Human Development. 8th ed. USA:
McGraw-Hill Companies, Inc.
www.Nativeremedi.com. April 2006. Aspergers Syndrome.
Yuspendi. 2001. Terapi Terpadu Bagi Penyandang Autisma.
Psikomedia Vol. 1 No. 2, Oktober 2001, 41-59. |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|