|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Keluarga |
|
19 Mei 2006
Otoritas Orangtua dalam Keluarga Tjuk Sumarsono |
|
|
Kebangkitan
Yesus adalah satu kebenaran utama dalam Injil (1 Korintus
15:1-8), dan kebangkitan-Nya memungkinkan tersedianya
kehadiran Kristus serta Kuasa-Nya atas dosa dalam
perjalanan hidup kita sehari-hari. Galatia 2:20 mengatakan,
“Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup,
melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku
yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh
iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan
menyerahkan diri-Nya untuk aku”. Demikian pula Efesus
1:19-20 mengatakan, “dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita
yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya, yang
dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia
dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah
kanan-Nya di sorga”.Kematian dan kebangkitan Yesus Kristus
yang mengadakan pendamaian adalah lengkap dan memadai
untuk menebus manusia seutuhnya, yaitu roh, jiwa dan tubuh.
Sebagaimana kita ketahui bahwa dosa merupakan ciptaan
Iblis untuk membinasakan kita, namun pengampunan dosa
merupakan berkat Allah untuk menebus dan memulihkan kita.
Orang percaya hendaknya terus maju dengan kerendahan hati
dan penuh iman percaya untuk memperoleh seluruh karya
pendamaian Kristus, termasuk bagaimana kita harus
menyikapi dan menata kehidupan dalam keluarga. Yakobus
5:16b mengatakan, “Doa orang yang benar, bila dengan yakin
didoakan, sangat besar kuasanya”. Berdoa dan berusaha yang
disertai dengan iman adalah suatu sarana yang ampuh untuk
dapat menikmati karya penebusan dan pendamaian Kristus.
Pengorbanan-Nya di kayu salib adalah wujud nyata dari
kasih yang sempurna yang dikaruniakan-Nya kepada kita
semua. Kasih itu bukan hasil usaha kita, tetapi suatu
“anugerah” dari Tuhan Allah kita yang lebih dulu mengasihi
kita dengan pengorbanan-Nya di kayu salib dan menebus dosa
kita. Yohanes 4:10-11 mengatakan, “Inilah kasih itu: Bukan
kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah
mengasihi kita dan yang telah mengutus AnakNya sebagai
pendamaian bagi dosa-dosa kita. Saudara-saudara yang
kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka
seharusnya kita juga saling mengasihi”.
Apabila kita sebagai orangtua sudah dapat meresponi Kasih
Yesus seperti dalam Yohanes 4:10-11 maka kita sudah hidup
dalam ibadah (worship). Kita sudah menjadikan worship itu
sebagai inti dalam kehidupan keluarga kita dan menjadikan
“prioritas utama” dalam tujuan hidup berkeluarga di dunia
ini. Maka sudah dipastikan bahwa kita dapat mengasihi
sesama termasuk keluarga dan anak-anak kita. Namun
sebaliknya bila kita belum memiliki kasih kepada sesama
termasuk anak-anak kita, dan tidak memiliki kerinduan
untuk melayani orang lain, maka patut kita pertanyakan:
“Apakah Yesus Kristus sudah berada di dalam kehidupan
keluarga kita?”
Kita sering
mendengar pemahaman yang keliru bahwa orangtua mengasihi
anak-anak mereka “tanpa syarat” seperti Yesus mengasihi
kita. Orangtua masa kini sering merasa enggan atau rasa
takut untuk melakukan kontrol terhadap anak-anak mereka.
Mereka sering terkecoh dengan nasihat-nasihat yang rancu
dan saling bertentangan dari para psikolog atau dari buku
yang menyesatkan. Nasihat yang keliru itu sering
menganjurkan agar orangtua memberi kebebasan kepada
anak-anak untuk memilih dan membiarkan anak-anak
mengontrol diri sendiri dan menanggung akibat dari pilihan
mereka. Para orangtua tidak boleh memiliki persepsi lain,
kecuali pikiran positif terhadap anak-anak, walaupun
ketika anak-anak itu melawan dan membantahnya. Bahkan
dianjurkan kepada para orangtua harus memberi kebebasan,
sekalipun mereka melakukan tindakan yang keliru dan
bertentangan dengan kebenaran Alkitab.
Saya tidak sepenuhnya sependapat bila pengertian kasih
yang “tidak bersyarat” itu diartikan sebagai tindakan
orangtua yang hanya sekadar mengasihi dengan memberikan
pujian dan penghargaan kepada anak-anak dan tidak peduli
apa yang mereka lakukan. Memang benar bahwa kita harus
memberikan kebebasan kepada anak-anak kita untuk memilih
dan memutuskan sendiri apa yang mereka ingin lakukan,
tetapi kebebasan itu harus diberikan setahap demi setahap,
sejalan dengan kematangan akal budi mereka.
Kebenaran yang harus kita tegakkan adalah sebaliknya,
yaitu: “Allah mengasihi kita sehingga Dia peduli dan
melatih kita untuk hidup sebagai anak-anak-Nya dan menegor
kesalahan-kesalahan kita, namun tetap menghargai sikap
baik kita”. Dalam kaitannya dengan kebenaran ini, orangtua
kristiani harus dapat melihat bahwa tugas mereka adalah
mengasihi anak-anak mereka dengan kasih Tuhan – yaitu
kasih yang tidak hanya bersifat sentimentil, dan tidak
harus selalu penuh dengan toleransi dan mengalah. Tetapi
jika kita sebagai orangtua yang benar-benar mengasihi
anak-anak, kita harus berani menetapkan batasan-batasan
dan peduli untuk menekankan agar anak-anak bertingkah laku
yang benar, sekalipun anak-anak cenderung salah
mengartikan dan kurang menyukai kepedulian kita.
Sebagai orangtua kristiani harus memberikan kasih yang
bersifat mengajar dan mendidik mereka dalam kebenaran yang
alkitabiah. Hakekat dan wujud nyata dari kasih orangtua
kepada anak-anak adalah mengarahkan untuk beradaptasi
proses belajar memperlengkapi diri mereka dengan
ketrampilan menjalani kebenaran hidup yang penuh tantangan.
Jika anak-anak belajar untuk patuh dan melakukan apa yang
benar, kita sebagai orangtua harus menunjukkan penghargaan
dan memberikan dorongan agar mereka memiliki citra diri
yang utuh. Namun, saya tidak akan membiarkan anak-anak
melakukan apa saja yang mereka kehendaki, mereka perlu
diajarkan tentang kebenaran, walaupun saya tetap bersikap
positif pada mereka. Pada prinsipnya orangtua mempunyai
hak, bahkan kewajiban untuk menekankan agar anak-anak
memilih untuk bertindak benar, dan untuk itulah saya
menerima tanggung jawab sebagai orangtua.
Anak-anak memang sensitif dengan teguran kita, oleh karena
itu bila kita menegur mereka harus dengan kasih dan sikap
yang lembut, namun tegas dan bernilai positif. Dengan
menegakkan disiplin dan didikan dalam batas wajar, bukan
dengan tindak kekerasan dan penganiayaan, maka anak-anak
tidak akan mengalami kerapuhan dan tidak menjadikan
kepahitan dalam jiwa mereka, Bahkan sebaliknya, jiwa
mereka akan lebih terpola dan semakin bertumbuh dengan
baik, apalagi bila jauh sebelumnya kita sudah menetapkan
nilai-nilai yang kita sepakati bersama, untuk diterapkan
bersama dalam kehidupan keluarga sehari-hari.
Kita sebagai orangtua sebaiknya mengajarkan, membimbing
dan mendukung serta memelihara keturunan sebagaimana
layaknya. Demikian pula, orangtua harus mengasihi,
mengurus dan mengarahkan sifat dan tingkah laku serta
hal-hal yang baik dengan tekun kepada anak-anak kita,
seperti Firman Tuhan dalam Ulangan 6:7 yang mengatakan,
“Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada
anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di
rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila
engkau berbaring dan apabila engkau bangun”. Ayat ini
merupakan perintah, tugas dan pemberian otoritas Tuhan
kepada para orangtua untuk melatih anak-anaknya dengan
tekun, karena Tuhan menginginkan agar anak-anak dapat
bertumbuh dan bertingkah laku baik. Orangtua harus
menunaikan tugas dan otoritas dengan penuh ketaatan dan
hormat yang senantiasa akan menghasilkan pertumbuhan bagi
anak-anak untuk dapat mencapai potensi mereka secara utuh
dan bertahan menghadapi segala tantangan dalam kehidupan
di dunia ini.
Di samping itu kita sebagai orangtua selalu
mengumandangkan tentang Kebesaran Allah dalam akal-budi
anak-anak secara berulang-kali dan sedini mungkin, agar
dapat membangun fondasi dan menanamkan kepercayaan dasar
dalam hati nuraninya akan Kebesaran dan ke-Mahakuasa-an
Tuhan Allah kita. Sebagai salah satu contoh demikian:
“Tuhan itu Allah kita, kita harus mempercayai-Nya dan
mengasihi tanpa pamrih. Hanya Dialah yang kita andalkan.
Kehendak-Nya adalah sempurna dan semua yang terjadi begitu
indah sesuai dengan rencana-Nya bagi kita”. Anak-anak yang
mendengarkan kebenaran ini secara berkesinambungan, tidak
mudah tergoyahkan dan tidak akan berpaling daripada-Nya.
Maka kelangsungan hidup yang kokoh dalam keluarga ini akan
lebih terjamin dan mereka lebih dapat bersatu-padu, sehati
dan sepikir dalam meniti kehidupan, apapun kondisinya.
Menanamkan
cinta kasih anak-anak kepada Tuhan secara totalitas dan
tanpa pamrih, disertai cinta kasih kepada sesama, akan
menjadi fondasi serta dapat mendorong semangat dan
kepercayaan yang mendalam bagi anak-anak, sebagai bekal
kehidupan menjelang dewasa. Hal ini perlu adanya
keteladanan yang nyata dari orangtua kepada anak-anak.
Sungguh tidak mungkin bagi orangtua yang ingin menerapkan
sebuah prinsip pada anak-anak mereka, bila kedua
orangtuanya itu tidak benar-benar melakukan dan meyakini
prinsip itu dengan sepenuh hati. Demikian pula dalam
menanamkan nilai-nilai kejujuran, bila orangtua itu
sendiri tidak melakukan kejujuran. Dan sungguh tidak
mungkin bila orangtua ingin menekankan bibir yang bersih
dan memberkati, bila kedua orangtua itu sering mengutuk
dan mengumpat satu dengan yang lain.
Cinta kasih kepada Tuhan dan sesama, perlu
diwujud-nyatakan dalam satu kata dengan perbuatan secara
menyeluruh dengan dedikasi yang mendalam bersama keluarga.
Kebenaran itu lebih bersifat permanen tertanam dalam
sanubari anak-anak, apabila juga tercermin dalam kehidupan
kedua orangtua, bukan hanya sekadar bibir kosong belaka.
Memberikan contoh kebenaran dalam perbuatan, akan lebih
berdampak positif bagi anak-anak, ketimbang secara oral
yang bertubu-tubi namun tidak disertai contoh perbuatan
nyata dari kedua orangtua. Namun komunikasi lisan dua arah
yang disertai teladan tindakan nyata merupakan upaya yang
efektif bagi pertumbuhan kehidupan masa depan anak-anak
kita.
Selanjunya, dalam upaya membangun keluarga agar menjadi
semakin kokoh, orangtua perlu mengarahkan pembentukan
karakter anak-anak dengan menanamkan rasa takut akan Tuhan.
Ulangan 6:13-15 mengatakan, “Engkau harus takut akan TUHAN,
Allahmu: kepada Dia haruslah engkau beribadah dan demi
nama-Nya haruslah engkau bersumpah. Janganlah kamu
mengikuti allah lain, dari antara allah bangsa-bangsa
sekelilingmu, sebab TUHAN, Allahmu adalah Allah yang
cemburu di tengah-tengahmu, supaya jangan bangkit murka
TUHAN, Allahmu terhadap engkau, sehingga Ia memunahkan
engkau dari muka bumi”.
Ketika masing-masing anggota keluarga memelihara rasa
takut akan Tuhan, sesuatu yang indah terjadi dalam
kehidupan keluarga. Rasa angkuh dan sombong akan terus
berkurang sejalan dengan meningkatnya rasa takut akan Dia.
Kita jangan sampai menyalah artikan “takut akan Tuhan”
dengan pengertian dangkal. Tetapi rasa takut ini diarahkan
pada rasa takut berbuat dosa karena menaruh rasa hormat
pada nama-Nya yang Kudus, berserah penuh atas kehendak dan
ke-Mahakuasaan-Nya serta memiliki rasa takut untuk
melakukan pelanggaran, terutama pada ayat 14 yang
menegaskan: “Janganlah kamu mengikuti allah lain, dari
antara allah bangsa-bangsa sekelilingmu”.
Memang banyak sekali allah-allah lain yang berada di
sekitar kita, apalagi pada masa kini kita dikelilingi
illah-illah materialisme, sensualitas, kebejatan moralitas,
dan hedonisme. Belum lagi banyak “iming-iming”
kepopularitasan, kekuasaan, intelektualisme, filosofi
palsu, obat-obat terlarang, dan lain-lain yang sengaja
disebarkan manusia yang tidak bertanggung jawab demi
kepentingan diri sendiri. Namun bagi keluarga yang kuat
dan kokoh, akan tetap bertahan menghadapi illah-illah di
zaman ini, karena mereka selalu menyadari bahwa “Nama
Tuhan adalah menara yang kuat, di sanalah kita berlindung
dan menjadi selamat”.
Dalam
Perjanjian Baru juga mengajarkan kebenaran yang sama
tentang keluarga seperti dalam Perjanjian Lama. Tidak ada
satu pun perintah Tuhan yang membatalkan dalam hubungan
antara orangtua dan anak-anak. Bahkan dalam Perjanjian
Baru lebih menegaskan dan mengukuhkan agar orangtua
kristiani mengajar dan mendidik anak-anak dalam ketaatan
dan moral, seperti dalam Efesus 6:1-4 yang mengatakan,
“Hai anak-anak, taatilah orangtuamu di dalam Tuhan, karena
haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu – ini
adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata
dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu
di bumi. Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah
di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam
ajaran dan nasihat Tuhan”. Apabila Efesus 6:1-4 ini kita
hayati dan dilakukan dalam kehidupan keluarga, orangtua
harus berani mengajarkan kepada anak-anak untuk
menghormati orangtua sebagai pemilik otoritas dari Tuhan,
jika tidak demikian, mereka akan mengalami kesulitan untuk
menghormati siapapun termasuk Tuhan. Namun sebaliknya ayat
ini juga menegaskan agar orangtua memiliki hikmat dan
bijaksana dalam mendidik anak-anak, agar mereka tidak
mengalami kemarahan dan kepahitan kepada orangtua. Karena
didikan yang terlalu keras dan melewati batas kewajaran
akan berdampak negatif.
Pembinaan yang ditanamkan secara berkesinambungan dan
penuh kasih kepada anak-anak, sangat diharapkan akan
memperoleh hasil positif sebagai berikut: “Anak-anak
menaruh rasa hormat kepada Allah, kepada orangtua, kepada
gereja, serta kepada bangsa dan negara. Mereka dapat
mempraktekkan kebiasaan hidup sehat, makan makanan yang
sehat, tidur pada waktunya, peduli dengan anggota keluarga
yang lain dan keberadaan orang lain di luar rumah, serta
peduli dengan lingkungan sekitar, bahkan mereka dapat
menempatkan diri dalam kondisi lingkungan seperti apapun.
Namun untuk membangun keluarga yang kokoh dan kuat seperti
itu, tidak dapat dilakukan dalam sekejap, melainkan akan
melalui proses yang panjang dan berkesinambungan. Oleh
karena itu, disarankan kepada keluarga muda yang memiliki
anak-anak balita, sebaiknya dapat melakukan pembinaan
kepada mereka sedini mungkin dan berkesinambungan. Di
samping itu juga dituntut keteguhan hati seorang ayah
sebagai imam dalam keluarga, serta komitmen bersama bagi
pasangan suami-isteri sebagai orangtua yang setia
membimbing dan membina serta melaksanakan otoritas Allah
dalam keluarganya. Kualitas dasar kekristenan bagi
pasangan suami-isteri perlu ditegakkan dengan membangun
fondasi yang kokoh, seperti mendirikan rumah di atas batu
(Matius 7:24-25). Akan lebih kokoh lagi kalau mereka
bersama-sama, secara pribadi membangun hubungan dengan
fondasi yang tidak kelihatan, yaitu Yesus.
1 Petrus 2:6 mengatakan, Sebab ada tertulis dalam Kitab
Suci: “Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu
yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa
yang percaya kepada-Nya tidak akan dipermalukan”. |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|