|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
KeLuarga |
|
15 Maret 2006
Seorang Pria dengan Integritas Dirinya Chandra Suria |
|
|
Setiap
manusia dalam kehidupannya akan selalu menghadapi pilihan
setiap hari. Mulai dari pilihan yang cukup sederhana,
seperti baju apa yang akan dipakainya hari ini, sampai
kepada pilihan yang besar dan penting yang akan
mempengaruhi kehidupannya, seperti keputusan dalam
pendidikan kita atau anak-anak kita, keputusan pernikahan,
keputusan pekerjaan, keputusan pelayanan bagi Tuhan dsb.
Realitanya adalah kita senantiasa harus menghadapi
persimpangan jalan di dalam kehidupan kita ini. Dan
pilihan yang kita ambil pada saat yang penting tersebut
akan membentuk kehidupan kita, kehidupan keluarga kita
dan bahkan pada akhirnya juga bisa membentuk kebudayaan
manusia di masa depan.
Adalah penting bagi kita untuk
mengenali segenap aspek dalam pilihan kita tersebut dan
pada akhirnya mengambil keputusan yang tepat. Ini adalah
langkah yang pertama menuju integritas kehidupan kita.
Dalam kamus Websters II, kata integritas diartikan
sebagai ketetapan yang teguh pada satu nilai standar.
Bagi para pria, integritas kita akan dituntut setiap kali
kita dihadapkan kepada pilihan-pilihan setiap harinya,
baik dalam fungsi kita sebagai ayah, suami dan di dalam
lingkup pekerjaan kita. Dalam kondisi kehidupan di masa
kini yang semakin banyak memiliki tuntutan duniawi,
seringkali kita di hadapkan pada dua pilihan di hadapan
kita.
Pilihan yang pertama kelihatannya merupakan jalan yang
lapang, mulus dan mudah untuk dijalani, sementara pilihan
yang kedua lebih kelihatan sempit dan terbatas. Jalan
yang lebar tersebut dipenuhi oleh orang-orang yang
mengajak kita untuk ke sana, sementara jalan yang sempit
hanyalah dilalui oleh sedikit orang. Ini adalah pilihan
kehidupan yang disebutkan oleh Tuhan Yesus dalam Matius
7:13-14. |
|
|
| 13. |
Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah
pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan,
dan banyak orang yang masuk melaluinya; |
| 14. |
karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju
kepada kehidupan, dan sedikti orang yang mendapatinya. |
|
|
|
|
Bagi kita orang Kristen, keputusan yang terutama dalam
kehidupan kita sudah kita ambil pada saat kita memutuskan
untuk percaya dan mengikut Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan
Juruselamat kita. Namun demikian, pembentukan kehidupan
kita tidak berhenti pada anugerah keselamatan yang telah
kita terima itu. Bahkan pada kenyataannya, untuk sebagian
besar dari kita keputusan-keputusan yang sukar dimulai
pada saat kita menerima Tuhan Yesus, pada saat di mana
orientasi dan perspektif kehidupan kita berubah mengikut
Dia. |
|
|
Banyak di antara kita yang berpikir kenapa kita harus
mengambil jalan yang sempit dan susah, sedangkan kita
memiliki pilihan untuk mengambil jalan yang lebar dan
mudah seperti yang diambil oleh kebanyakan orang di
sekitar kita? Jawabannya adalah Matius 7:13-14 di atas.
Karena Tuhan Yesus telah mengatakan bahwa jalan yang
lebar dan mudah itu akan membawa kita kepada kebinasaan.
Dibutuhkan integritas dan moral yang kuat bagi kita untuk
melalui jalan yang sempit itu, karena memang Tuhan Yesus
tidak pernah memanggil kita untuk menjalani kehidupan
yang mudah sebagai murid-Nya. Dia telah memberitahukan
dengan jelas harga yang harus kita bayar untuk mengikuti
Dia dan juga apa yang akan kita dapatkan dengan mengikut
Dia.
Jalan yang lebar dan mudah memang kelihatan lebih menarik
dan menjanjikan, karena itu banyak orang yang memilihnya.
Tetapi pandangan seperti itu seringkali menipu kita.
Mungkin mirip dengan jalan tol dalam kota yang seringkali
kelihatan lebih cepat dan lancar, tetapi pernahkan anda
terjebak dalam kemacetan di jalan tol dalam kota tersebut.
Tidak ada tanda-tanda untuk bergerak dan tidak ada jalan
keluar lainnya. Sebaliknya, melalui jalan yang sempit dan
berkelok-kelok, seringkali kita bisa lebih cepat sampai
ke tujuan.
Ilustrasi seperti itulah yang diingatkan oleh Tuhan Yesus.
Jalan yang lebar dan mudah itu memang jauh lebih mearik
bagi kepentingan pribadi kita, dan banyak orang yang
memilih untuk mengikuti kehendak dan dorongan pribadinya
sendiri. Oleh karenanya, kehidupan mereka akan selalu
terpusat kepada dirinya sendiri dan tidak menyertakan
Tuhan Yesus sama sekali.
Harus diakui memang sulit bagi kita manusia untuk melihat
dan menerimanya. Karena banyak contoh dari orang-orang
yang telah memilih jalan yang lebar tersebut dan mereka
semua terlihat hebat dan lancar kehidupannya. Mereka
sukses di jalan yang telah dipilihnya dan menikmati
segala kelimpahan yang mereka bisa dapatkan. Sampai suatu
saat badai kehidupan tiba dan semuanya jadi berantakan
karena mereka semua membangunnya di atas dasar pasir dan
bukan batu karang yang kokoh. |
|
|
|
Itulah sebabnya sangat penting bagi kita untuk melihat
segala sesuatu dalam kehidupan ini dari kacamata Tuhan.
Dalam Markus 8:34-37, Tuhan Yesus mengatakan: |
|
|
| 34b. |
Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus
menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku |
| 35. |
karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan
kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan
nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan
menyelamatkannya. |
| 36. |
Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi
ia kehilangan nyawanya? |
| 37. |
Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti
nyawanya? |
|
|
|
Dari ayat tersebut di atas, kita bisa melihat bahwa
sebagai orang Kristen yang telah ditebus oleh Tuhan Yesus
kita tidak bisa mengambil keputusan yang mempengaruhi
kehidupan kita berdasarkan keinginan dan ambisi kita,
karena Tuhan Yesus mengukur kehidupan ini dengan standar
yang berbeda dengan standar dunia dan manusia, dan Dia
memanggil kita untuk kepentingan yang berbeda juga.
Banyak contoh yang bisa kita ambil mengenai orang yang
berusaha mati-matian untuk mencapai sesuatu, dan setelah
mendapatkannya ternyata semuanya hampa dan mereka jadi
bertanya-tanya mengenai arti kehidupan ini. Mereka terus
mencari kepuasan di dalam kehidupan mereka dan tidak
pernah mendapatkannya.
Majalah Sports Illustrated mewawancarai Muhammad Ali
setelah dia mengundurkan diri dari dunia tinju. Saat itu
keluarga dan teman-temannya mulai meninggalkannya dan dia
mulai terkena gejala penyakit parkinson. Dalam wawancara
tersebut, Muhammad Ali berkata, I had the world, and it
wasnt nothing saya telah mendapatkan dunia dan
semuanya tidak ada artinya.
Ini adalah pernyataan dari salah seorang olahragawan yang
paling terkenal dan diakui di dunia ini. Muhammad Ali
telah mendapatkan seluruh dunia dengan prestasinya di
dunia tinju akan tetapi semuanya tidak bertahan lama.
Kita juga bisa melihat contoh di dalam Alkitab pada diri
raja Salomo, manusia yang paling kaya dan paling
bijaksana yang pernah hidup di muka bumi ini. Kebesaran
Salomo tidak bisa kita bayangkan, akan tetapi dalam kitab
Pengkhotbah 1:2, Salomo mengatakan: Kesia-siaan belaka,
kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu
adalah sia-sia.
Selanjutnya, dalam Pengkhotbah 2:1-11, Salomo berusaha
untuk mendapatkan kepuasan melalui jalan dunia. Dengan
segala kekuasaan, harta dan kebesarannya, berbagai hal
telah dilakukan dan pada akhirnya Salomo tetap merasakan
kesia-siaan belaka.
Hal ini sama dengan yang Tuhan Yesus katakan dalam Markus
8 di atas. Tuhan Yesus memberikan pertanyaan yang terbuka
kepada kita, apa yang bisa kita dapatkan dari dunia ini
dengan kehilangan nyawa kita? Tidak ada, semua adalah
kesia-siaan belaka. |
|
|
|
Berpaling kepada Tuhan Yesus berarti menghindar dari dosa,
kepentingan diri sendiri dan dunia. Kita tidak dapat
menggabungkan dunia dan Tuhan Yesus. Bagi mereka yang
pernah bermain sepatu roda akan bisa memahaminya. Dalam
bermain sepatu roda, skates atau ski, kedua kaki kita
harus selalu sinkron dan searah. Pada saat kedua kaki
kita begerak ke arah yang berbeda, maka tubuh kita tidak
dapat mengikutinya dan kita akan terjatuh. Demikian juga
dalam kehidupan spiritual kita. Kita harus memilih apakah
mengikut Tuhan Yesus atau dunia. |
|
|
|
Sebagai seorang pria, beberapa hal yang perlu kita
pertimbangkan setiap kali kita harus mengambil keputusan
adalah: |
|
|
- Setiap pria di dalam Tuhan harus memegang janji yang
telah diucapkannya kepada Tuhan pada saat kita memutuskan
untuk menjadi pengikut Tuhan Yesus. Janji yang kita
ucapkan pada saat kita dibaptis dewasa atau sidi atau pun
pada saat kita secara pribadi memutuskan untuk menerima
Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita. Kita juga
harus tetap konsisten dan memegang janji yang kita
ucapkan pada keluarga kita, gereja kita, pekerjaan kita
dsb. Konsisten dan memegang teguh janji yang telah kita
ucapkan adalah hal yang utama dalam integritas kehidupan.
- Sebagai kepala keluarga, adalah tugas dan tanggung
jawab kita untuk menjadi pemimpin spiritual. Dalam banyak
keluarga, seringkali sang istri yang bertindak sebagai
pemimpin spiritualnya. Apakah kita sudah mengutamakan
membawa keluarga kita kepada Tuhan Yesus?
- Kita patut untuk merenungkan apakah berdoa sudah
merupakan bagian yang penting dan tidak terpisahkan dalam
rutinitas kehidupan kita?
- Kita juga perlu untuk renungkan apakah setiap
keputusan kita akan membawa damai sejahtera bagi semua
yang akan terlibat? Dalam Matius 5:9, Tuhan Yesus berkata:
Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka
akan disebut anak-anak Allah
|
|
Cepat atau lambat, kita semua akan menghadapi
persimpangan jalan dalam kehidupan kita, di mana kita
harus memilih antara jalan dunia yang lebar dan luas atau
jalan Tuhan Yesus yang sempit dan sukar. Pada saat itu
akan terlihat integritas kehidupan kita. Apakah kita
sudah memilih jalan Tuhan Yesus dalam setiap langkah kita? |
|
Tulisan ini merupakan bagian dari serial 4 tulisan yang
dibuat dengan mengacu kepada buku berjudul Man of God,
karangan Pdt. Jack Graham.
Seorang Pria dengan TuhannyaSeorang Pria dengan Keluarganya
Seorang Pria dengan Integritas Dirinya
Seorang Pria dengan Pelayanannya |
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|