|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
KeLuarga |
|
28 Pebruari 2006
Keterbukaan dan Rasa Hormat Pasutri Tjuk & Maureen Soemarsono |
|
|
|
Mengungkapkan
kekurangan dan kesalahan kita, serta meminta maaf kepada
pasangan adalah tahap awal yang perlu dilakukan pada saat
kita mengampuni kesalahannya. Hal itu merupakan proses
interaksi saling memberi dan menerima kasih yang sejati.
Namun bagian ini sering atau memang sengaja kita lupakan,
agar kekurangan dan kesalahan itu dapat kita sembunyikan. |
|
|
Marilah kita
renungkan kebenaran firman Tuhan dari Efesus 5:20-21
yang mengatakan, “Ucaplah syukur senantiasa atas
segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada
Allah dan Bapa kita dan rendahkanlah dirimu seorang
kepada yang lain di dalam takut akan Kristus”.
Saling merendahkan diri seorang kepada yang lain
berdasarkan takut akan Kristus, merupakan landasan utama
bagi kita untuk dapat meminta maaf kepada sesama. Apabila
kita berani meminta maaf atas kesalahan kita kepada
pasangan, berarti kita sudah dapat memiliki sikap rendah
hati dan dapat menundukkan diri, serta menyadari bahwa
setiap orang dapat saja berbuat salah termasuk diri kita
sendiri.
Meminta maaf dengan hati nurani yang murni adalah suatu
rasa kemerdekaan dari dalam yang timbul karena mengetahui
dan menyadari bahwa hubungan kita dengan Tuhan dan sesama
harus dapat berlangsung secara terbuka.
Keterbukaan adalah luapan hati nurani yang murni dan
merupakan langkah menuju pemulihan jiwa yang terluka
dalam keluarga yang mengalami masalah. Namun sebaliknya,
salah satu bentuk hati nurani yang tidak murni adalah
kesombongan dan keangkuhan. Inilah yang menjadi
penghalang terbesar bagi seseorang untuk dapat terbuka
dan berani meminta maaf kepada pasangan. Kesombongan ini
membentuk pandangan yang terlalu berlebihan terhadap diri
sendiri dan merupakan sikap melawan Tuhan, dan tidak
mentaati-Nya. |
|
|
Alkitab
menegaskan dalam 1 Petrus 5:5b bahwa “Allah
menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang
yang rendah hati”.
Kesombongan membuat mereka menuruti kemauan diri sendiri
dan tidak peduli dengan kehendak Allah. Kesombongan
selalu mendatangkan sikap merendahkan orang lain, melihat
kelemahan orang lain dan tidak mau melihat kelemahan diri
sendiri. Mungkin mereka dapat “mengampuni” orang lain
tanpa dilandasi keterbukaan akan kekurangan diri sendiri,
dan hanya memandang bahwa orang lain itu tidak benar. Hal
itu merupakan pengampunan semu yang hanya dilandasi
kesombongan dan keangkuhan, mereka ingin menunjukkan
bahwa “akulah yang paling benar”.
Pengampunan yang disertai hati nurani yang murni dan
penuh keterbukaan akan mendatangkan kesatuan suami-isteri
yang kokoh dalam keluarga. Keterbukaan tidak hanya
terbatas diterapkan dalam hal meminta maaf, tetapi juga
meliputi segala keadaan dalam kehidupan rumah tangga.
Untuk memperkokoh kesatuan suami-isteri, kita perlu
menyadari bahwa di dalam satu keluarga, masing-masing
anggota merupakan anggota tubuh Kristus. Tidak ada satu
pun dari anggota tubuh yang merasa lebih baik dari pada
yang lain, ataupun sebaliknya. Semua anggota tubuh saling
melengkapi terhadap anggota tubuh yang lain, sehingga
masing-masing individu dapat menerapkan “rasa hormat”
sebagai dasar hubungan yang sehat dengan pasangan.
Tidak diragukan lagi bahwa konsep “rasa hormat” itu
merupakan konsep yang telah kita kenal untuk dapat
membangun suatu hubungan yang sehat serta dapat
membangkitkan semangat saling mendukung dengan pasangan.
Konsep inilah yang disarankan bagi suami dan isteri untuk
dihayati dan dilaksanakan dalam kehidupan keluarga, baik
dengan pasangan maupun dengan anak-anak dan anggota
keluarga yang lain. Kalau kita memiliki rasa hormat dan
menghargai pasangan, maka kita secara tidak langsung
mengatakan bahwa pasangan kita memiliki makna dalam
kehidupan kita. Tetapi sebaliknya, bila kita tidak
memiliki rasa hormat dan tidak menghargai pasangan, maka
pasangan akan merasa diremehkan dan tidak memiliki makna
dalam kehidupan kita. |
|
|
Untuk
menumbuhkan rasa hormat dalam pasangan suami-isteri,
perlu memperhatikan nasihat yang sangat berharga bagi
seorang suami yang dinyatakan oleh rasul Paulus dalam
1Petrus 3:7 sebagai berikut: “Demikian juga kamu,
hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu,
sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai
teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya
doamu jangan terhalang”.
Demikian pula bagi seorang isteri, rasul Paulus
menasihatkan agar para isteri juga memakai perlengkapan
“hormat” yang penuh “kuasa” dengan memberikan kesempatan
bagi suami untuk melihat sikapnya yang sejati dan
terhormat. 1Petrus 3:5 mengatakan, “Sebab
demikianlah caranya perempuan-perempuan kudus dahulu
berdandan, yaitu perempuan-perempuan yang menaruh
pengharapannya kepada Allah; mereka tunduk kepada
suaminya”.
Rasa hormat itu merupakan sebuah keputusan yang harus
diterapkan dalam diri kita setiap hari bahkan setiap saat.
Namun pada umumnya pasangan-pasangan zaman sekarang ini
banyak yang mengabaikan nasihat rasul Paulus itu,
terutama para suami yang menempatkan “rasa hormat” kepada
isterinya pada “tingkatan lebih rendah” setelah hobby dan
kesibukan yang lain. Pekerjaan di kantor,
seminar-seminar, sebuah bola golf yang kecil, hura-hura
bersama kawan-kawan dekat, dan bahkan tayangan “tertentu”
di telivisi memperoleh tempat pada “tingkatan yang lebih
tinggi” dalam hidupnya. Ini merupakan kenyataan yang
sering muncul sebagai pernyataan dan pengakuan para ibu
rumah-tangga yang “kesepian” di rumah. Namun ada pula
sebaliknya, para isteri yang menjadi wanita karier dan
memiliki penghasilan besar serta sebagai penopang
kehidupan keluarga, memandang rendah suaminya. Mereka
tidak terbuka dan tidak menaruh rasa hormat kepada
pasangannya.
Sikap keterbukaan dan rasa hormat itu dalam batas-batas
tertentu juga perlu dilakukan kepada anak-anak dan para
menantu, agar mereka juga dapat memahami bila terjadi
kesulitan-kesulitan keluarga dan secara bersama-sama
mencari pemecahannya. Dengan sikap ini diharapkan setiap
anggota keluarga dapat terhindar dari kesalah-pahaman,
karena mereka belajar saling mengerti dan saling mengisi,
sehingga akan terbina dan tercipta saling bertanggung
jawab.
Pengembangan sikap keterbukaan dan rasa hormat ini akan
mendorong dan mewarnai setiap suami atau isteri atau
anggota keluarga yang lain untuk memiliki peran penting
dalam keluarga. Seberapa besar sikap keterbukaan dari
seorang suami atau seorang isteri, pada hakekatnya sudah
melekat pada masing-masing individu yang bersangkutan dan
memiliki tendensi yang bersifat konstan, walaupun masih
ada kemungkinan dapat mengalami perubahan.
Namun demikian tidak dapat dipungkiri bahwa ada orang
yang memiliki sikap sulit berubah, dan ada pula yang
memiliki sikap mudah berubah. Hal itu tergantung sejauh
mana sikap itu sudah mendarah-mendaging pada seseorang,
atau sudah menjadi kerangka acuan di dalam kehidupannya. |
|
|
Dalam upaya
mengubah pembentukan sikap, para pakar bimbingan dan
konseling pernikahan menyarankan untuk menggunakan
berbagai cara, antara lain melalui tiga pendekatan, yaitu:
komponen kognitif, komponen afektif dan komponen konatif.
Pada dasarnya pendekatan dengan komponen kognitif adalah
melakukan proses perubahan dan pembentukan sikap dengan
cara memberi pengertian baru yang berkaitan dengan
pengetahuan, pendapat, pandangan dan kepercayaan, serta
bagaimana mempersepsikan obyek sikap itu sesuai dengan
apa yang diperlukan.
Sedangkan pendekatan dengan komponen afektif melakukan
proses perubahan pembentukan sikap melalui perasaan,
yaitu rasa senang, bahagia dan sukacita. Bila seorang
suami menginginkan perubahan sikap isterinya yang selalu
bersungut-sungut, maka suami tersebut memberikan pujian
yang dilakukan berulang-ulang bila isterinya sedang
tersenyum. Lama kelamaan sikap cemberut itu dapat berubah
menjadi sikap ceria dan penuh sukacita.
Dan yang terakhir pembentukan sikap melalui komponen
konatif, yaitu dengan cara melatih bertindak, berbuat
seperti yang diinginkan. Bila telah dibiasakan demikian,
diharapkan pada akhirnya akan terbentuk perbuatan dan
sikap seperti yang dikehendaki. Namun pendekatan ini
harus pula diikuti dengan memberikan pengertian.
Menurut hemat kami, pendekatan yang paling efektif adalah
melalui adaptasi proses belajar bertumbuh dengan saling
mengasihi dan saling membangkitkan kesadaran, dengan
merenungkan dan melaksanakan firman Tuhan setiap hari. |
|
|
2 Timotius
3:16-17 mengatakan, “Segala tulisan yang
diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk
menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan
untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian
tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk
setiap perbuatan baik”.
Sebenarnya pendekatan ini merupakan kombinasi dari tiga
pendekatan tersebut di atas, namun bersifat alkitabiah.
Pendekatan ini lebih mengandalkan Alkitab sebagai
pengetahuan, pandangan dan kepercayaan, serta sebagai
acuan untuk melatih bertindak, membuka
pengertian-pengertian baru tentang keterbukaan yang akan
menumbuhkan rasa hormat dan sukacita kita kepada Tuhan
dan sesama.
Bila kita ingin menempuh dengan pendekatan ini, maka kita
perlu menciptakan suasana dan lingkungan yang mendukung
ke arah pembentukan sikap tersebut. Suasana dalam rumah
tangga yang penuh kasih dalam Tuhan dan keterbukaan dalam
segala hal sampai yang sekecil-kecilnya, kecuali “rahasia
jabatan”.
Dalam hal menciptakan lingkungan, kita tidak perlu
meng-isolasi-kan keluarga kita hanya dalam lingkungan
terbatas atau komunitas tertentu yang sesuai dengan
tingkatan hidup kita. Melainkan kita perlu menerapkan
insulasi, yaitu menyaring kehidupan lingkungan yang
heterogin agar keluarga kita tidak tercemar dari
lingkungan yang tidak baik. Dengan demikian kita justru
dapat belajar menjadi “lilin-lilin” bagi kehidupan mereka
yang tersesat. |
|
|
Kami ingin
berbagi pengalaman rohani yang cukup unik bagaimana kami
dapat menyadari dan menerapkan fungsi keterbukaan dan
rasa hormat yang mendatangkan pemulihan hubungan
suami-isteri dan keluarga.
Dulu sewaktu masih aktif bekerja, saya pun memiliki sikap
terlalu mementingkan diri sendiri dan pekerjaan adalah
yang utama, sehingga perhatian kepada pasangan merosot
pada “tingkatan lebih rendah”, demikian pula dengan
anak-anak. Waktu itu kami belum sepenuhnya memahami
penerapan konsep “rasa hormat” yang alkitabiah di dalam
kehidupan rumah tangga, walaupun kami sudah belajar
tehnik berdialog dengan pasangan dalam kegiatan Pasutri
GKI Pondok Indah.
Saya baru menyadari bahwa saya belum mentaati firman
Tuhan dalam hal “menghormati” pasangan, setelah
merenungkan firman Tuhan dari Yakobus 5:16 yang
mengatakan, “Karena itu hendaklah kamu saling mengaku
dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh”. dan
Amsal 28:13 juga menegaskan, “Siapa
menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung,
tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan
disayangi”.
Kemudian firman itu menggerakkan saya untuk meminta maaf
pada pasangan, mengakui kekurangan dan kesalahan saya
pada masa lalu serta mencetuskan komitmen kepadanya untuk
memberikan rasa hormat dan perhatian yang pantas
diterimanya. Keterbukaan saya itu membuat pasangan tahu
akan kekurangan dan kesalahan saya, sehingga kondisi itu
membuat saya tidak sombong dan keterbukaan itu menjadi
pagar yang baik bagi diri saya.
Hubungan kami sebagai suami-isteri semakin dipulihkan,
karena keterbukaan dan konsep “rasa hormat” yang
alkitabiah itu semakin melekat dalam kehidupan keluarga,
dan tidak hanya terbatas dengan pasangan, tetapi juga
dengan anak-anak, para menantu dan cucu-cucu serta orang
lain.
Secara perlahan tetapi pasti, kami dapat bertumbuh
semakin memahami konsep “rasa hormat” itu di dalam
hubungan kami dengan Bapa di sorga dan kami ingin
memberikan tempat yang paling mulia bagi Allah di dalam
kehidupan kami sekeluarga.
Dengan penuh kasih dan kesehatian, kami sekeluarga
memprioritaskan untuk membangun mezbah keluarga, berdoa,
memuji dan menyembah Tuhan serta merenungkan firman-Nya.
Kalau kita berani terbuka dan menaruh rasa hormat kepada
Tuhan dan sesama, niscaya kuasa Firman-Nya akan
dinyatakan dan Tuhan sendiri yang akan berkarya di dalam
hidup kita. Dalam hal ini kita juga harus berani
memberikan kesempatan kepada-Nya untuk masuk dan duduk
bersama dengan kita dan kita bersama Dia. |
|
|
Wahyu 3:20
mengatakan, “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan
mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan
membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku
makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan
Aku".
Keterbukaan kepada Tuhan dan sesama akan memberikan
kesempatan kepada Firman Allah yang hidup untuk mengubah
situasi dan memperbaharui kehidupan keluarga. Inilah
kenyataan dalam kehidupan yang perlu disadari juga oleh
masing-masing individu sebagai pasangan suami-isteri.
Kita yakin bahwa Tuhanlah yang mengubahkan pembentukan
sikap kita menuju keterbukaan dan rasa hormat. Oleh
karena itu, apapun upaya kita untuk mengubah pembentukan
sikap, kiranya masih harus dibarengi dengan pendekatan
alkitabiah yang mengandalkan firman Tuhan. |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|