|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
KeLuarga |
|
12 Desember 2005
Menghadapi Krisis Keluarga Tjuk Sumarsosno |
|
|
Setiap
keluarga pasti pernah mengalami krisis, karena krisis itu
merupakan bagian yang normal dalam kehidupan. Kita tidak
dapat menghindar dari krisis yang melanda kehidupan
keluarga, tetapi “badai” itu justru harus dihadapi dan
ditangani dengan baik, agar tidak sempat melumpuhkan dan
menghancurkan masa depan keluarga kita.
Ada bermacam-macam krisis yang menimpa kehidupan keluarga,
seperti kesulitan ekonomi, kehilangan pekerjaan, sakit
penyakit berbahaya yang menyerang salah satu anggota
keluarga, kecelakaan fatal yang menimpa anak kesayangan
ataupun suatu tragedi yang melanda kehidupan suami-isteri.
Pada saat mengalami seperti itu, kita merasa seolah-olah
hidup sendirian di dunia ini dan tidak ada orang lain
yang peduli menolong kita, bahkan ada kalanya kita merasa
bahwa Tuhan tidak adil dan meninggalkan kita. Salah satu
pertanyaan yang sering terlontar dari mulut kita adalah:
“Apakah saya masih memiliki harapan lagi?”
Tentu saja setiap orang masih dapat memiliki harapan,
karena firman Tuhan dalam Amsal 23:18 mengatakan:
“Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak
akan hilang”. Oleh sebab itu kita perlu menyikapi
dan menangani krisis dengan mengubah persepsi yang
negatif menjadi positif. Ini sangat penting bagi kita
agar dapat memiliki potensi untuk mengembangkan karakter
kristiani di dalam diri kita, dan yakin bahwa penderitaan
dan rasa sakit itu selalu menghasilkan sesuatu dan
bertumbuh.
Rasul Paulus dalam 2 Korintus 1:9 menegaskan bahwa
penderitaan membuat kita berpaling kepada Allah. Sikap
berpaling kepada Allah bukanlah sekadar menguat-nguatkan
hati, dan seolah-olah tidak terjadi apapun. Tidak juga
berpura-pura senang dan bergembira saat menghadapi krisis
yang membuat hancur hati dan ingin menangis. Tetapi kita
benar-benar bersandar dan berserah kepada Tuhan agar
dapat mengalami luka-luka dan carut-marut. |
|
|
Saya sendiri
pernah mengalami betapa pedihnya dilanda krisis keluarga
setelah saya pensiun dan tidak memiliki penghasilan cukup
untuk memenuhi kehidupan keluarga. Namun dalam menyikapi
krisis itu kami tetap bertahan dan mulai belajar menerima
keadaan, terus bersandar dan berserah penuh kepada-Nya.
Tuhan mengingatkan firman-Nya dalam Yeremia 29:11
yang mengatakan: “Sebab Aku ini mengetahui
rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu
demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera
dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu
hari depan yang penuh harapan”.
Janji Tuhan itulah yang saya pegang untuk melangkah dan
meniti sisa hidup saya bersama keluarga. Dan melalui
krisis itulah saya dan keluarga mulai dipulihkan serta
diperbaharui seperti tanah liat yang siap dibentuk.
Beberapa waktu berselang, saya mendengarkan keluhan
seorang sahabat yang juga mengalami kebangkrutan usahanya
dan keretakan rumah tangganya. Saya merasa sangat
terbeban untuk ikut membantu meringankan rasa sakitnya
melalui kesaksian yang kami alami. Namun dia selalu
menanyakan: “Mengapa ini harus terjadi di dalam kehidupan
saya dan apakah masa depan saya masih ada harapan?”
Di tengah-tengah kepanikannya, berulangkali dia
mempertanyakan keberadaan Tuhan di saat dia membutuhkan
pertolongan-Nya. Saya melihat bahwa penderitaan yang
bertubi-tubi atas dirinya itu, akibat penanganan krisis
yang keliru, sehingga timbul masalah komunikasi dengan
pasangannya, dan relasi mereka menjadi buruk.
Memang pada saat dilanda krisis, kita harus dapat
menentukan sikap positif untuk menghadapi krisis tersebut,
namun masing-masing orang memiliki pilihan yang berbeda.
Apakah kita mau bertahan hidup atau tidak. Kalau kita mau
bertahan, maka setelah mengalami kehancuran, kita akan
dapat bangkit kembali. Tetapi bagi mereka yang tidak
dapat bertahan dan mengeraskan hati untuk tetap tidak mau
belajar dari peristiwa itu, mereka akan mengalami
kepahitan dan trauma yang dalam sepanjang hidupnya. |
|
|
Banyak keluarga yang
mengalami kepahitan dan trauma yang dalam sepanjang
hidupnya. Banyak keluarga yang mengalami krisis, bukannya
mencari solusi tetapi mereka larut dan tenggelam di dalam
masalahnya dan saling menyalahkan satu dengan yang lain.
Hal ini akan dapat memicu konflik yang berkepanjangan.
Sikap hidup saling menyalahkan adalah karakteristik dari
individu dan keluarga yang tidak mampu bertahan. Keluarga
yang demikian akan mengalami kesulitan untuk
menyingkirkan penghalangnya dan ledakan-ledakan konflik
demi konflik akan terjadi dengan adanya “bahan bakar”
yang baru. Krisis yang satu belum dapat diatasi, namun
keluarga itu sudah kehilangan energi untuk menyelesaikan
konflik-konflik baru yang timbul.
Seharusnya mereka menyatukan hati dan pikiran mereka
dengan menggunakan pikiran Kristus dalam mencari solusi,
bukan dengan kebenaran diri sendiri. Filipi 2:5
mengatakan: “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama,
menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam
Kristus Yesus”.
Apabila dalam suat keluarga yang sedang dilanda krisis
tidak membangun kesatuan keluarga, (terutama kesatuan
suami-isteri), maka akan terjadi perubahan situasi yang
semakin keruh. Ditambah pula dengan opini negatif dari
masing-masing anggota keluarga, akan menimbulkan masalah
baru yang lebih gawat.
Tetapi bagi mereka yang melakukan firman Tuhan dalma
Filipi 2.5 maka mereka akan bertahan menghadapi krisis
yang menimpa diri mereka. Karena mereka tidak melarikan
diri dari kenyataan, tidak menghindar dan tidak pula
menyangkal, namun sebaliknya mereka menerima krisis itu
dengan penuh hikmat.
Mereka menyadari berbagai dampak yang akan terjadi dalam
kehidupan mereka dan merespons dengan sikap positif. Oleh
karena itu mereka memilih cara efektif untuk menangani
kesulitan yang besar, dan dengan penuh hikmat mereka
berupaya memecah-mecah kesulitan yang besar itu menjadi
bagian-bagian yang lebih kecil dan membereskannya satu
persatu.
Dengan demikian mereka tidak membesar-besarkan masalah
yang mereka hadapi dan tidak saling menyalahkan satu
dengan yang lain, tetapi tetap dalam kesatuan keluarga
yang utuh yang saling membangun dan berorientasi pada
solusi. |
|
|
|
H. Norman
Wright dalam bukunya yang berjudul “Apakah hidupku akan
sama seperti dulu lagi?” menyatakan bahwa mereka yang
tidak sanggup bertahan menghadapi krisis, tidak lagi
berorientasi pada solusi dan sering menggunakan
“frasa-frasa korban” yang mencerminkan untuk menyerah
kalah. Setiap kali berpikir terlebih mengucapkan satu di
antara frasa-frasa itu, maka secara tidak sadar mereka
mulai mempercayai dan menggenapinya. Pada akhirnya mereka
membujuk diri sendiri untuk percaya bahwa frasa-frasa itu
mewakili kebenaran dan akhirnya menjadi korban keyakinan
mereka yang keliru.
H. Norman Wright mengemukakan tujuh frasa yang selalu
dipergunakan oleh mereka, sebagai berikut: |
|
|
Pertama “Saya tidak biasa.......” Kata-kata ini biasanya
dipacu oleh tiga sikap yang sering menjadi hambatan untuk
maju terus dalam kehidupan mereka, yaitu: sikap tidak
percaya, takut dan kurang memiliki harapan.
Kedua: Itulah masalahnya.....” Kata-kata ini tercetus
dari mereka yang memandang kesulitan-kesulitan hidup
sebagai masalah atau beban dalam rasa takut dan
ketidak-berdayaan mereka. Dalam menghadapi krisis, kita
dapat belajar untuk berubah dan bertumbuh dengan
mempertahankan sikap hidup yang benar. Kalau kita
menghadapi masalah pelik, anggaplah itu merupakan
tantangan dengan mengatakan: “Itu adalah kesempatan untuk
belajar sesuatu yang baru”.
Ketiga: Saya tidak akan pernah....” Ini mencerminkan
kemandegan pribadi yang selalu menyerah tanpa syarat,
seolah-olah tidak percaya akan kasih karunia Tuhan yang
dapat memberi kemampuan dan kesempatan untuk mengatasi
krisis kita perlu sikap hidup yang penuh iman dan optimis
dengan mengatakan: “Saya belum pernah melakukan, tetapi
saya bersedia mencobanya”.
Keempat: “Ini sangat mengerikan....” Kadang-kadang frasa
ini tercetus tanpa disadari dalam situasi yang
mengejutkan, namun bila diucapkan berulang-ulang, maka
akan memberi dampak yang kurang baik dalam kehidupan.
Kita harus dapat belajar menyikapi krisis dengan berkata:
“Saya ingin belajar apa yang dapat saya lakukan dalam
situasi seperti ini.
Kelima: ”Mengapa hidup jadi seperti ini.....? “ Sebenarnya ini suatu respons yang normal dan alami
terhadap penderitaan yang mendalam dan guncangan yang
mendadak dalam hidup ini, namun bila kita ucapkan terus
menerus akan mengalami kesulitan dan tetap berkutat dalam
kelumpuhan tanpa ingin pulih kembali.
Keenam: “Seandainya saja.....” Frasa ini membuat kita
menjadi orang-orang yang terpenjara dalam mimpi-mimpi
yang telah hilang dan membuat diri kita terjebak dalam
angan-angan kosong dengan berandai-andai.
Ketujuh: “Apa yang akan saya lakukan...?” Pertanyaan ini
merupakan jeritan keputusan-keputusan yang disertai rasa
takut akan masa depan yang suram. Hal ini dapat terjadi
pada mereka yang memiliki sikap hidup pesimistik.
|
Sebenarnya frasa-frasa ini tidak perlu diucapkan secara
berlebihan tetapi digantikan dengan kata-kata positif dan
dengan sikap hidup yang optimistik agar tetap bertahan
dan tidak mengalami kepahitan dalam hidup kita. Kepahitan
adalah dampak negatif setelah mengalami krisis, karena
mereka memfokuskan diri pada ketidak-adilan apapun yang
terjadi.
Banyak orang di sekitar kita yang terpaku pada kesedihan
akibat adanya kebencian yang mendalam kepada keadaan atau
orang lain yang dianggap menjadi penyebab krisis yang
mereka alami, dapat juga membenci diri sendiri bahkan
kepada Tuhan. Mereka membangun bendungan di sekeliling
perasaan pahit itu, bukannya mengusir kepahitan itu pergi
tetapi malah membiarkannya mengendap dalam hati mereka.
Bagi mereka yang dapat bertahan pada hakekatnya mereka
memiliki semangat belajar yang luar biasa dan keinginan
bertumbuh. Suatu karakteristik mau belajar dari apa yang
telah menimpa mereka dan belajar memandang masa depan
sebagai suatu kesempatan serta membuang segala
bentuk-bentuk penyesalan masa lalu. Mereka hidup masa
kini dan memiliki sudut pandang ke masa depan.
Keluarga yang sehat dapat mengatasi rasa takut dan
menemukan cara yang efektif untuk membuat segalanya jadi
berbeda.
Para anggota keluarga belajar untuk menyelesaikan masalah
dan bersedia saling mendengarkan dan mengampuni satu
dengan yang lain. Pendekatan ini merupakan sumberdaya
untuk mendorong semangat dan harapan di tengah-tengah
hati yang sedang terluka.
Mereka mampu bertahan melewati krisis karena mereka
memiliki pola yang permanen untuk menikmati hidup. Mereka
masih dapat tertawa sekalipun dalam masa-masa sulit. Hal
itu merupakan cara yang terbaik untuk sejenak
beristirahat dari beratnya beban krisis.
Dengan demikian mereka tidak kehabisan energi yang
terbuang percuma, karena pada dasarnya mereka memiliki
sikap fleksibel, tahan uji dan mudah menyesuaikan diri
dengan perubahan.
Saya pun melakukan hal serupa dalam menyikapi krisis yang
melanda kehidupan keluarga. Setelah mengalami krisis ini
mata hati saya dicelikkan dan saya menyesal dengan cara
hidup saya dulu, namun saya tetap bersyukur walaupun pada
usia lanjut saya masih diberikan kesempatan untuk
bertumbuh.
Saya menyadari bahwa tinggal sedikit waktu yang tersisa
untuk mengubah hidup saya bersama keluarga dalam
menjalani hidup yang bermakna. Dan pada saat itulah saya
menemukan hikmat dari Allah Bersama Tuhan saya dapat
belajar melihat visi masa depan keluarga yang akan
menuntun apa yang saya lakukan saat sekarang ini.
Kemudian saya melakukan perenungan lebih dalam, dan
menemukan latar belakang sebagai berikut: Karena saya
merasa bangga dengan karier yang sukses (bukan diukur
dari materi), maka terbentuklah karakter yang terlalu
percaya pada kemampuan diri sendiri dan jarang
menyertakan Tuhan dalam setiap bidang kehidupan.
Saya bagaikan Petrus yang sombong yang dilucuti Tuhan
Yesus, namun dibentuk dan dibangun kembali karakternya
agar mendatangkan berkat bagi dirinya dan bagi orang lain
(Lukas 5:1-11). |
|
|
Perenungan yang saya lakukan dalam kondisi mencapai titik
nol itu dan dengan campur tangan Roh Kudus, saya
menetapkan visi dan misi saya dalam menjalani sisa
kehidupan yang bermakna bersama keluarga, sebagai berikut:
- Prioritas Pertama: Memfokuskan kehidupan kepada Tuhan
Pencipta alam semesta dan menyediakan waktu khusus secara
teratur untuk memuji dan memuliakan Tuhan, berdialog,
serta belajar ketaatan, kepatuhan dan kesetiaan pada
firman-Nya.
- Prioritas kedua: Memenuhi otoritas dari Tuhan untuk
menjadi “Imam dalam keluarga” yang mencerminkan
keteladanan dan membawa keluarga (isteri, anak, menantu
dan cucu) dalam terang sinar Tuhan Yesus dengan mengasihi
Tuhan dan sesama.
- Pritoritas ketiga: Menjadi “soko guru” bagi keluarga
dan membangun tembok-tembok yang telah runtuh serta
mengelola kehidupan masa depan keluarga yang damai
sejahtera dalam Tuhan.
- Prioritas keempat: Peduli dan membantu kehidupan orang
lain, terutama orang-orang miskin, yatim piatu dan para
manula.
|
Dengan membangun visi dan misi serta meletakkan
skala-prioritas, maka perjalanan hidup kita akan lebih
tertata dan berjalan seiring dengan tuntunan Roh Kudus
dalam meniti kehidupan masa depan yang damai sejahtera
dalam Tuhan.
Untuk mengakhiri tulisan ini, saya ingin menyampaikan
pesan kepada pasangan muda agar sesegera mungkin
mencermati prioritas-prioritas dan nilai-nilai kehidupan
keluarga anda untuk menetapkan arah dan tujuan hidup yang
lebih baik bagi kehidupan masa depan bersama Tuhan.
|
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|