|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
KeLuarga |
|
17 Oktober 2005
Isteri Bijak dalam Pernikahan Maureen Ong |
|
|
Banyak
wanita terutama para isteri yang menyimpan pertanyaan
dalam hatinya: “Bagaimanakah seharusnya menjadi seorang
isteri yang luar biasa, dapat menjalani kehidupan
perkawinan yang berhasil dan mengalami hidup yang
berkelimpahan?” Tentu saja untuk menemukan jawaban yang
tepat dan memiliki kebenaran mutlak hanya bersumber dari
Firman Tuhan.
Mari kita simak bersama Firman Allah dari Amsal 31:10-31
yang menggambarkan seorang wanita yang telah dibentuk
oleh Allah dalam hidupnya menjadi isteri yang penuh
hikmat sesuai rencana-Nya.
Namun dalam perikop ini bukan mengintimidasi dan membuat
para isteri bertambah cemas dan harus dengan sekuat
tenaga mencapai standar seperti bunyi ayat-ayat tersebut.
Kita para isteri tidak perlu memaksakan harus melakukan
semua hal yang tertera pada Amsal 31, tetapi cukup
menyerahkan kepada Allah dan biarlah Dia yang menempa dan
membentuk kita sesuai rencana-Nya.
Kolose 4:3 mengatakan: “Sebab di dalam Dialah tersembunyi
segala harta hikmat dan pengetahuan”. Kita yakin slow but
sure kita akan berkembang menjadi seorang isteri yang
penuh hikmat seperti yang digambarkan dalam Amsal 31
tersebut, asalkan kita benar-benar mencari kebenaran
Firman-Nya.
Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan isteri yang penuh
hikmat atau isteri bijak?
Alkitab memperkenalkan satu pemikiran bahwa isteri bijak
yaitu seorang isteri yang menguasai seni kehidupan sesuai
keinginan Allah dan menjadikan Firman-Nya sebagai
petunjuk dalam mengambil keputusan hari lepas hari dalam
kehidupan. Dalam bahasa Ibrani disebut “hakam” atau
“hokmah” dan dalam bahasa Inggris disebut “wisdom”.
Pengertian “hakam” di sini adalah “ahli” atau “mahir”,
yaitu seorang isteri yang ahli dan mahir dalam urusan
rumah tangga yang memiliki hubungan baik dengan pasangan
dan pandai mengurus anak-anak, dengan menerapkan Firman
Allah dalam segala keadaan.
Sedangkan “hokmah” memiliki arti: “pengetahuan dan
kemampuan mengambil pilihan tepat pada kesempatan yang
tepat”. Maka seorang isteri bijak memiliki pengetahuan
dan kemampuan yang konsisten dalam mengambil pilihan
tepat. Melakukan seperti itu, merupakan satu indikasi
yang menunjukkan kematangan dalam mengurus rumah tangga
bersama suami dan anak-anak. Menurut Denise Glenn dalam
bukunya berjudul “Hikmat Bagi Para Ibu”, pada hakekatnya
menjadi isteri bijak dan penuh hikmat, perlu memegang
prinsip-prinsip utama yang alkitabiah, sebagai berikut: |
|
|
|
Pertama: Memiliki kualitas hubungan pribadi yang
berkesinambungan dan takut kepada Allah, dalam arti
menunjukkan pengagungan dan penghormatan kepada-Nya. |
Ini
merupakan persyaratan mutlak yang harus dilakukan oleh
seorang isteri bijak. Amsal 31:30 mengatakan: “Kemolekan
adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi
isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji”.
Memiliki sikap rendah hati dan tunduk kepada Allah akan
mendapat hikmat, namun sebaliknya isteri yang angkuh dan
suka membanggakan diri tidak akan menerima hikmat dari
Allah. Amsal 3:13-16 mengatakan: “Berbahagialah orang
yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian,
karena keuntungan melebihi keuntungan perak, dan hasilnya
melebihi emas. Ia lebih berharga dari pada permata;
apapun yang kauinginkan, tidak dapat menyamainya. Umur
panjang ada di tangan kanannya, di tangan kirinya
kekayaan dan kehormatan”.
Ayat-ayat tersebut menyatakan bahwa memiliki hikmat akan
memperoleh kebahagiaan, panjang umur, kekayaan dan
kehormatan. Hikmat lebih berharga dari emas, perak dan
permata.
Hikmat tidak secara instan dapat diperoleh seorang isteri,
namun apabila seorang isteri memiliki kedekatan dengan
Allah dan meminta hikmat kepada-Nya, niscaya dia akan
menerima hikmat itu. Saya pernah memiliki kerinduan
menerima kepekaan ilahi dan hikmat Allah bagi seorang
isteri, namun sampai bertahun-tahun saya mencari dan
belum menemukannya. Setelah melalui proses yang panjang
dengan melakukan ketaatan dan kepatuhan serta mengikis
keegoisan yang hanya memikirkan diri sendiri, maka hikmat
itu baru saya peroleh dari Allah.
Hanya dekat dengan Kristus maka hikmat akan diberikan
Allah kepada kita. 1 Korintus 1:24b mengatakan: “Kristus
adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah”. Demikian pula
Mazmur 1:2-3 mengatakan: “Tetapi yang kesukaannya ialah
Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan
malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air,
yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak
layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil”. Maka
kita menjadi isteri yang bersuka-cita dalam Tuhan dan
layak mendapat hikmat. |
|
|
|
Kedua: Memiliki kualitas hubungan dengan suami
yang alkitabiah dapat membangun pernikahan yang harmonis
dan langgeng. |
Setelah kita
belajar memperbaiki kualitas hubungan kita dengan Allah,
maka prioritas kita yang berikutnya adalah mulai belajar
memperbaiki kualitas hubungan dengan pasangan, agar
dengan mulus dapat membina dan mendidik anak-anak untuk
masa depan mereka.
Bagi para isteri yang telah mengikuti Retreat Pasutri dan
belajar teknik berdialog, mungkin sudah mahir
berkomunikasi dengan pasangan. Tetapi di sini saya tidak
mengemukakan teknik berdialog, melainkan prinsip-prinsip
yang alkitabiah untuk meningkatkan kualitas hubungan
dengan suami. Kebenaran Allah tentang perkawinan akan
memberikan kesempatan bagi kita untuk membuka diri agar
Allah melakukan pemulihan-pemulihan di hati kita yang
terluka. Ini juga berlaku bagi para ibu yang sudah tidak
bersuami karena perceraian atau suami telah meninggal
dunia. Firman Allah akan membawa pemulihan dan
pembaharuan atas jiwa kita untuk persiapan mengajar
kepada anak-anak akan kebenaran Allah tentang kehidupan.
Kita harus benar-benar tunduk dan taat melakukan Firman
Allah dan melaksanakan kehendak-Nya termasuk tunduk
kepada suami adalah perintah Allah.
Efesus 5:22-23 mengatakan: “Hai isteri, tunduklah kepada
suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala
isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah
yang menyelamatkan tubuh”. Demikian pula Kolose 3:18
mengatakan: “Hai isteri tunduklah kepada suamimu,
sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan”.
Dan lebih tegas lagi 1 Petrus 3:1-6 menyatakan bahwa
ketaatan dan ketundukan isteri kepada suami yang
dilandasi dengan ketaatan dan kepatuhan kepada Allah akan
memberi kemenangan.
Seorang isteri yang digambarkan pada perikop ini tetap
menjaga kekudusan jasmani, namun tidak menggunakan
perhiasan lahiriah. Mereka mengenakan perhiasan manusia
batiniah yang berasal dari roh lemah-lembut dan tenteram
yang sangat berharga di mata Allah.
Mungkin ada pembaca yang menanyakan: “Bagaimana jika
suami saya bukan seorang Kristen, apakah saya masih tetap
harus tunduk kepadanya? Jawabannya: “Tentu saja anda
harus tetap tunduk kepada suami anda”. Mengapa demikian?
Karena Allah akan bekerja melalui otoritas yang
dirancang-Nya dalam kehidupan anda untuk menggenapi
rencana-Nya. Memang, 1 Petrus 3:1-6 tidak menjamin
seorang suami akan diselamatkan jika isteri tunduk
kepadanya, tetapi ini suatu jalan yang mungkin dapat
memenangkan dia bagi Tuhan.
Mari kita baca kembali 1 Petrus 3:1-2 sebagai berikut:
“Hai Isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di
antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga
tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya, jika
mereka melihat bagaimana murni dan salehnya hidup isteri
mereka itu”. Anda boleh yakin bahwa suami anda sedang
mengamati dan menantikan anda untuk melihat apakah
komitmen anda kepada Kristus membawa perbedaan. Seorang
isteri yang tunduk kepada suaminya adalah sangat menarik
bagi suami dan dia akan melihat sesuatu yang berbeda
dalam diri anda. Dan tidak ada yang mustahil bagi Allah
untuk mengubah diri suami anda. |
|
|
|
Ketiga: Memiliki kualitas hubungan dengan
anak-anak menjadi tolok ukur bagi keberhasilan anak-anak
kita yang akan membawa lebih banyak kebenaran di bumi. |
Namun perlu
diingat bahwa seorang ibu tidak akan dapat mendidik
anak-anaknya dengan baik bila memiliki hubungan yang
buruk dengan pasangannya. Tanggung jawab seorang ibu
adalah dengan setia mengkomunikasikan kebenaran tentang
Tuhan Yesus Kristus kepada anak-anaknya, sehingga mereka
dapat memenuhi tujuan Allah atas kehidupan mereka. Inilah
merupakan misi seorang ibu, dan ini merupakan sesuatu
yang sangat penting dipahami bagi seorang ibu muda yang
sedang mengasuh anak-anak mereka yang masih kecil dan
remaja.
Apakah kita sebagai ibu mempunyai visi untuk anak-anak
kita? Tentu saja kita memiliki visi untuk anak-anak kita,
namun kita tidak perlu secara spesifik tahu bagian apa
yang akan mereka lakukan. Kita tidak ingin memainkan
peran Allah dalam merancang kehidupan mereka. Kiranya
cukup dengan mempersembahkan anak-anak kita kepada Allah,
baik yang masih dalam kandungan, yang baru lahir, yang
masih pra sekolah, yang masih remaja, maupun anak
dewasa-muda. Kemudian mengajarkan kepada mereka bahwa
mereka dilahirkan di dunia ini bukan sekadar mengisi
tempat, tetapi untuk suatu tujuan kerajaan Allah.
Suatu hal yang sangat penting bagi seorang ibu harus
selalu mengucapkan kata-kata positif kepada anak-anaknya,
sekaligus dapat mengajarkan kepada mereka agar selalu
mengucapkan kata-kata positif kepada orang lain. Karena
apa yang dikatakan oleh mulut seorang ibu kepada
anak-anaknya sangat berpengaruh pada kehidupan mereka,
Amsal 18:21 mengatakan: “Hidup dan mati dikuasai lidah,
siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya”.
Demikian pula Amsal 31:26 mengatakan: “Ia membuka
mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada
di lidahnya”. Itulah sebabnya hindari kata-kata negatif
kepada mereka, dan sebaliknya ucapkanlah kata-kata
positif untuk mendorong mereka menanamkan “citra positif”
dalam diri mereka. Sebaiknya tidak mengatakan: “Dasar
anak bandel dan bodoh, jangan lakukan itu lagi!” Tetapi
ucapkan kata-kata positif dengan nada lembut dan
mendorong: “Kamu kan anak baik dan pintar, jangan lakukan
itu ya”.
Menanamkan “citra positif” dalam diri anak-anak sejak
balita sangat penting dan membantu perkembangan dan
pertumbuhan rohani mereka sebagai bekal untuk meniti
kehidupan mereka. Tidak ketinggalan pula kita selalu
berdoa untuk mereka, karena doa seorang ibu besar
kuasanya, agar seluruh perlengkapan senjata Allah
dikenakan kepada anak-anak kita dan rancangan Allah akan
terjadi dalam kehidupan mereka. |
|
|
|
Keempat: Bekerja adalah perintah Allah untuk
memberdayakan sumberdaya yang ada. |
Haruskah
seorang isteri bekerja untuk membantu suami mendapatkan
tambahan penghasilan bagi keluarga? Kita tahu banyak para
isteri yang bergumul mengenai masalah ini, dan
kadang-kadang hati dan pikiran mereka berbeda. Hati
mengatakan untuk tinggal di rumah mengurus bayi dan
anak-anak yang masih kecil, sedangkan pikirannya
mengatakan bahwa anggaran tidak mencukupi kebutuhan hidup
dan harus bekerja. Maka untuk memutuskan apakah harus
bekerja atau tidak, mari kita simak Amsal 14:1 yang
mengatakan: “Perempuan yang bijak mendirikan rumahnya,
tetapi yang bodoh meruntuhkannya dengan tangannya sendiri”.
Ayat ini dapat dijadikan pedoman bagi para isteri untuk
menetapkan bekerja atau tidak. Apakah pekerjaan yang akan
dilakukan, akan berdampak positif bagi kehidupan rumah
tangga, atau bahkan meruntuhkannya.
Semua itu kembali pada diri kita sendiri, namun Denise
Glenn memberi saran untuk menggunakan tiga prinsip utama
di atas sebagai bahan evaluasi dalam mengambil keputusan
bekerja atau tidak, yaitu:
- Apakah dengan bekerja, anda masih dapat menjaga
hubungan dengan Allah sebagai prioritas pertama anda, dan
apakah masih memiliki waktu pribadi dengan Dia dalam
persekutuan yang intim?
- Apakah dengan bekerja, anda masih dapat menjaga dan
membina hubungan dengan suami sebagai prioritas kedua
anda, dan apakah suami yang memiliki otoritas akan
mengijinkan anda untuk bekerja?
- Apakah pekerjaan yang akan anda lakukan masih memiliki
waktu untuk membina hubungan dengan anak-anak sebagai
prioritas ketiga anda, mengingat kehadiran dan
penghiburan anda sangat mereka butuhkan untuk pertumbuhan
jasmani dan rohani mereka, dan apakah keterikatan anda
dengan mereka sesuai dengan tingkatan usia mereka?
Dengan ketiga pertanyaan tersebut dapat membantu kita
untuk mengambil keputusan, karena setiap ibu memiliki
situasi dan kondisi yang berbeda. |
|
|
|
Kelima: Pelayanan adalah perintah Allah yang
menjadi dambaan bagi setiap isteri bijak. |
Dengan
sukacita kita melaksanakan rencana dan tugas yang telah
Allah persiapkan bagi setiap kita yang mengenal Dia
sebagai Juru Selamat. Kita diberikan peran khusus dalam
kerajaan Allah yang dengan sempurna disesuaikan untuk
kita. Tetapi kita memiliki dua pilihan, apakah kita mau
tunduk dan patuh kepada rencana-Nya atau tidak.
Sebagai isteri bijak kita dapat berserah dengan lembut
seperti tanah liat di tangan-Nya, karena kita menyadari
bahwa kita diciptakan untuk melayani Allah. Kapan pun dan
dengan cara apapun kita melayani sesama, sebenarnya kita
sedang melayani Allah. Oleh karena itu, sebaiknya kita
membuka diri untuk Dia pakai dalam kerajaan Allah. Efesus
2:10 mengatakan: “Karena kita ini buatan Allah,
diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan
baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya
kita hidup di dalamnya”.
Pelayanan adalah pekerjaan yang berat, ketika Allah
memberi tugas pelayanan yang menyita waktu dan energi
kita, membuat kita terjaga sampai malam, dan bangun dini
hari. Memang itu pekerjaan yang berat, tetapi itu
bukanlah kerja keras kita. Apabila kita menerima rencana
Allah dan patuh melakukan tugas apapun yang Allah berikan
sesuai rencana-Nya, maka Dia akan memampukan kita.
Semua kemampuan kita berasal dari Allah, dan setiap orang
diberikan kemampuan yang berbeda. Roma 12:6a mengatakan:
“Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan
menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita”.
Setiap kemampuan yang kita miliki harus kita pergunakan
sebaik-baiknya untuk kemuliaan Allah, bukan untuk mencari
pujian dari manusia. 1 Korintus 10:31b mengatakan: “Jika
engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semua itu
untuk kemuliaan Allah”.
Namun sebelum melakukan pelayanan, terlebih dahulu kita
perlu mengkomunikasikan kepada suami yang memiliki
otoritas, maka dia akan memberikan pertimbangan kepada
kita. Dan alangkah baiknya bila kita dapat melakukan
pelayanan bersama pasangan. Semakin kita memberikan
kemampuan untuk melayani orang lain, semakin banyak kita
menerima kemampuan itu, dan semakin kita mencurahkannya,
semakin kita diisi. Oleh karena itu isteri bijak akan
melakukan pelayanan sesuai kemampuan yang Allah berikan
kepada kita.
Marilah kita saling mendoakan, agar kita dapat
menempatkan diri dan bertumbuh sebagai isteri bijak dalam
pernikahan sesuai perintah Allah, demi menjaga
keharmonisan dan kelanggengan rumah tangga kita. |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|