|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
KeLuarga |
|
15 Oktober 2005
Seorang Pria dengan Keluarganya Chandra Suria |
|
|
Lingkungan yang paling kecil dari setiap orang adalah
keluarganya. Keluarga adalah yang pertama kali kita kenal
sebagai anak yang bertumbuh dan keluarga juga merupakan
tempat kita pertama kali mempelajari tentang kehidupan
ini. Ketika seorang pria bertumbuh menjadi dewasa dan
memiliki keluarga sendiri, maka Tuhan memberikan tanggung
jawab kepada pria tersebut untuk memimpin keluarga
tersebut.
Di dalam keluarga, Tuhan meminta kita, kaum pria, untuk
memimpin dua pribadi yaitu pasangan kita (istri) dan
anak-anak kita – bagi mereka yang telah diberikan Tuhan.
Oleh karena itu, artikel kali ini akan membahas dua pokok
pembahasan yaitu (1) mengasihi istri kita dan (2)
mendidik anak-anak kita. |
|
|
|
Mengasihi Istri |
Alkitab mencatat dua perintah penting bagi seorang suami
tentang bagaimana seharusnya sikap seorang suami terhadap
istrinya.
Yang pertama adalah yang tertulis di dalam 1 Petrus 3:7 sebagai berikut:
Demikian juga kamu, hai suami-suami,
hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang
lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari
kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan
terhalang.
Kalau kita baca secara lengkap 1 Petrus pasal yang ketiga
ini dari ayatnya yang pertama, kita bisa melihat konteks
keseluruhannya.
Ayat 1-6 menceritakan terlebih dahulu tentang sikap
seorang istri yang menyenangkan hati Tuhan, yaitu dengan
hidup saleh dan taat kepada suaminya seperti Sarah taat
kepada Abraham. Namun perlu kita catat di sini bahwa
ketaatan seorang istri kepada suaminya harus diimbangi
dengan kebijaksanaan dan hormat dari suami terhadap
istrinya.
Oleh karena itu ayat 7 tersebut dimulai dengan kata “Demikian juga”. Jadi sebagai seorang suami, kita kaum
pria, perlu untuk mengenal dengan baik istri kita,
memahami pikiran dan perasaannya, serta mengetahui apa
yang menjadi kebutuhannya. Harus kita akui bahwa bagi
banyak pria, hal ini bukanlah hal yang mudah.
- Yang pertama kali harus diperhatikan oleh kita para suami
adalah untuk menyediakan waktu bersama istri kita
untuk
saling mengenal dan meningkatkan relasi kita.
Salah satu penyebab kesulitan tersebut adalah karena
seringkali kita tidak cukup banyak menghabiskan waktu
bersama istri kita. Artinya menghabiskan waktu bersama di
sini bukan hanya dengan berada di tempat yang sama dengan
istri kita atau pergi bersama, tetapi juga termasuk
kebersamaan secara emosi dan spiritual.
Banyak pasangan suami istri yang setelah menikah dan
tinggal serumah justru tidak lagi cukup menghabiskan
waktu bersama untuk berinteraksi dan lebih saling
mengenal. Kesibukan dengan pekerjaan, urusan rumah tangga
yang lain serta anak-anak seringkali menjadikan mereka
kekurangan waktu untuk memperhatikan hubungan di antara
mereka berdua. Tidak heran kalau lama kelamaan banyak di
antara mereka yang jadi semakin tidak mengenal dan merasa
asing satu dengan yang lain.
- Hal yang kedua yang bisa kita dapatkan dari ayat tersebut
adalah di dalam hal spiritual, bahwa istri kita adalah
”teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan”.
Di sini jelas dikatakan bahwa kita harus menjalani
kehidupan spiritual kita bersama-sama dengan istri kita.
Adalah menjadi tanggung jawab kita sebagai suami untuk
memimpin dan mendorong pertumbuhan iman istri kita.
Kita sering menjumpai banyak istri yang menjadi contoh
dan inspirasi bagi suami mereka melalui kehidupan rohani
mereka, tetapi sebaliknya seringkali kaum istri tidak
mendapatkan pimpinan dan dorongan spiritual yang seimbang
dari sang suami. Di dalam banyak rumah tangga istrilah
yang lebih berperan di dalam kehidupan spiritual mereka
sementara sang suami hanya berkonsentrasi di dalam
pekerjaan mereka.
Tidak penting apakah kita sendiri sudah siap dan mantap
di dalam kehidupan rohani kita sendiri, tetapi yang
penting adalah bahwa kita bersama-sama dengan istri kita
bertumbuh di dalam iman kita kepada Tuhan. Kita bisa
memulainya dengan berdoa dan membaca Alkitab bersama-sama,
misalnya.
- Hal ketiga yang perlu kita perhatikan adalah, di kalimat
terakhir dalam ayat 7 ini, ”supaya doamu jangan terhalang”,
yang melambangkan keseriusan Tuhan akan kasih dan
perlakuan kita terhadap istri kita. Sedemikian rupa
sehingga dikatakan di sini bahwa kalau kita tidak
bersungguh-sungguh dalam hal ini, doa kita pun tidak akan
terdengar oleh-Nya.
Oleh karena itu, adalah penting bagi kita para suami
untuk memastikan bahwa kita sudah memperlakukan istri
kita dengan penuh hormat dan bijaksana sebelum kita
melangkah keluar ke tengah-tengah masyarakat, baik di
dalam pekerjaan kita maupun pelayanan kita.
Ayat yang kedua adalah yang ditulis oleh Paulus di dalam
Efesus 5:25 sbb: Hai suami, kasihilah isterimu
sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah
menyerahkan diri-Nya baginya.
Paulus membandingkan kasih kita kepada istri kita dengan
kasih Kristus kepada jemaat-Nya, yang berarti kasih yang
didasarkan kepada perjanjian (covenant) dan bukan sekadar
kontrak. Covenant adalah suatu kesepakatan di dalam Tuhan
yang harus ditepati dan tidak bisa diubah, sementara
kontrak manusia seringkali tidak ditepati. Bahkan
seringkali di dalam kontrak buatan manusia telah
dicantumkan klausul yang memungkinkan kontrak tersebut
dibatalkan.
Pada saat ini, kita percaya bahwa sebagai pengikut Tuhan
Yesus, kita berada di bawah perjanjian (covenant)
keselamatan yang ditandai dengan darah Kristus. Puji
Tuhan karena kita boleh yakin dan percaya bahwa Tuhan
tidak akan mengingkari convenant tersebut. Demikian juga
dengan hubungan kita dengan istri kita. Tuhan
menginginkan agar hubungan tersebut tidak bersyarat,
kekal dan setia. Sama seperti hubungan Kristus dengan
jemaat-Nya.
Yang dikatakan oleh ayat tersebut di atas tentang Kristus
dan kasih-Nya terhadap jemaat adalah dengan menyerahkan
diri-Nya, yaitu kasih yang penuh pengorbanan. Kasih
seperti inilah yang harus kita berikan kepada istri kita.
Salah satu penyebab masalah yang terbesar di dalam
kehidupan pernikahan adalah karena adanya rasa egoisme di
dalam diri suami maupun istri. Dapat dikatakan di sini
bahwa seorang suami seharusnya berkonsentrasi akan apa
yang bisa dia berikan bagi istrinya dan tidak berpikir
akan apa yang bisa didapat dari istrinya. Kehidupan
pernikahan bukanlah suatu proses ”take and give”
melainkan merupakan proses ”give and give”.
Kalau kita memandang perkawinan kita dari sisi “apa yang
bisa saya dapatkan dari perkawinan tersebut”, maka
seringkali kita akan mengalami kekecewaan. Dengan
mengikut contoh dari kasih Tuhan Yesus, seharusnya kita
memandangnya dari sudut “apa yang bisa saya berikan
kepada istri kita”.
Selanjutnya yang dimaksud Paulus dengan menyerahkan
diri-Nya tentunya adalah kematian Yesus di kayu salib.
Dalam hal ini sepertinya tidak banyak di antara kita yang
sampai harus mengorbankan hidup kita bagi istri kita,
akan tetapi di dalam konteks ini kita perlu merenungkan
apakah kita bersedia untuk mematikan keinginan kita,
aktifitas kita dan kesenangan kita di dalam kehidupan
sehari-hari agar kita punya lebih banyak waktu bagi istri
kita?
Sepertinya ini adalah pengorbanan sehari-hari yang sangat
sulit bagi kebanyakan para suami untuk memenuhinya.
Tetapi pengorbanan seperti itulah yang telah ditunjukkan
oleh Tuhan Yesus, pengorbanan yang memberikan yang
terbaik dari diri-Nya sendiri untuk orang yang
dikasihi-Nya. Itulah yang dituliskan oleh Paulus bagi
kita para suami. |
|
|
|
Mendidik Anak |
Pertumbuhan anak di zaman sekarang ini sangatlah berbeda
dengan apa yang dialami oleh kita para orang tua pada
waktu kita bertumbuh dahulu. Dengan segala kemajuan
teknologi yang telah ada serta pergeseran nilai-nilai
moral dan etika di tengah masyarakat masa kini, anak-anak
kita bagaikan mereka yang berdiri di tengah jalan raya
dan mendapatkan ancaman untuk ditabrak dari kanan, kiri,
depan dan belakang. Tanpa ada sesuatu pun yang bisa
melindungi mereka terhadap bahaya yang mengancam mereka
secara spiritual, moral dlsb.
Banyak contoh yang terjadi ketika para ayah, yang
seharusnya menjadi sosok yang berperan untuk menjaga,
tidak punya cukup waktu dan tenaga untuk menyadari akan
ancaman bahaya tersebut. Seringkali kita baru menyadari
setelah semuanya terjadi dan yang tersisa hanyalah rasa
penyesalan belaka.
Tidak seorang pun yang mengatakan bahwa menjadi ayah itu
mudah, akan tetapi sebagai orang Kristen kita percaya
bahwa seorang ayah yang berkomitmen untuk memimpin
keluarganya berdasarkan Firman Tuhan akan berhasil dengan
campur tangan Tuhan.
Alkitab memberikan banyak sekali pegangan bagi seorang
ayah di dalam kitab Amsal. Kitab Amsal bahkan juga
merupakan kitab yang memberikan banyak pegangan bagi
kehidupan pada umumnya. |
|
|
|
Takut akan Tuhan |
Amsal 1:7a mengatakan
”Takut akan TUHAN adalah permulaan
pengetahuan”. Takut akan Tuhan merupakan tema dari
kebanyakan ayat di dalam kitab Amsal, karena dari sinilah
awal kebijakan (wisdom) di dalam kehidupan ini.
Kata
takut di sini bukanlah berarti takut yang gentar, tetapi
lebih ke arah takut yang segan dan hormat. Mengakui
kesucian, kebesaran dan keluarbiasaan Tuhan dan
meresponnya dengan rasa kagum dan hormat. Kita ingin agar
anak-anak kita ”takut” dan mengasihi Tuhan.
Adalah
penting agar kita mengajar anak-anak kita untuk mentaati
dan menghormati Tuhan di dalam kehidupan mereka serta
memahami akan Firman Tuhan yang ditulis oleh Paulus di
dalam Galatia 6:7, ”Jangan sesat! Allah tidak membiarkan
diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu
juga yang akan dituainya”. |
|
|
|
Menjaga hati dan pikiran |
Alkitab mengajarkan bahwa apa yang kita pikirkan
memberikan dampak yang luar biasa dalam pembentukan diri
kita sebagai manusia. Amsal 23:7 mengatakan ”For as he
thinks in his heart, so is he” (New King James version).
Kita adalah manusia seperti apa yang kita pikirkan di
dalam hati kita, dan oleh karena itu dalam Amsal 4:23 Salomo mengatakan
“Jagalah hatimu dengan segala
kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan”.
Sebagai seorang ayah, kita wajib untuk mengajar anak-anak
kita untuk menjaga hati dan pikiran mereka dari hal-hal
yang tidak sesuai dengan ajaran Tuhan Yesus. Anak-anak di
zaman sekarang terekspos terhadap banyak hal yang tidak
pernah dialami oleh orangtua kita dan bahkan oleh kita
sendiri. Ketika mereka beranjak remaja, mereka sudah
melihat dan mendengar semua yang ada di tengah-tengah
masyarakat ini.
Kita tidak bisa mengisolasi anak-anak kita dari
pengaruh-pengaruh dunia luar, dan Tuhan juga tidak
menghendaki kita untuk mengisolasi anak-anak kita dari
dunia ini. Tuhan menginginkan kita, orang Kristen untuk
menjadi garam dan terang dunia. Oleh karena itu, salah
satu jalan terbaik adalah dengan mengisi hati dan pikiran
anak-anak kita terlebih dahulu dengan Firman Tuhan,
sehingga mereka bisa mengetahui ketika mereka berhadapan
dengan sesuatu yang tidak sejalan dengan ajaran Tuhan
Yesus. |
|
|
|
Menjadi contoh yang hidup |
Amsal 4:11 mengatakan ”Aku mengajarkan jalan hikmat
kepadamu, aku memimpin engkau di jalan yang lurus”.
Adalah penting bagi kita untuk menyadari bahwa kita tidak
bisa memimpin anak-anak kita pergi ke tempat yang kita
sendiri belum pernah pergi. Tuhan tidak bisa berbuat
sesuatu melalui kita sebelum Dia sendiri berbuat sesuatu
kepada kita di dalam diri kita terlebih dahulu. Kita
harus memberikan contoh (godly example) karena kita tahu
seringkali anak-anak kita akan meniru dan akhirnya
menjadi seperti diri kita ini.
Bagaimana kita bisa mengharapkan anak kita untuk
mengasihi Tuhan kalau kita sendiri tidak mengasihi Dia.
Sebagai orangtua, kita perlu ingat apa yang tertulis
dalam Amsal 20:7, ”Orang benar yang bersih kelakuannya —
berbahagialah keturunannya”.
Di sini perlu kita sadari bahwa anak-anak kita tidak
mengharapkan kita untuk sempurna, tetapi mereka
mengharapkan kita untuk realistis. Kita tidak perlu
berpura-pura dan berusaha menjaga image kita di depan
mereka. Sebagai ayah, kita pasti akan melakukan kesalahan
dan jalan yang terbaik adalah mengakuinya dan meminta
maaf untuk itu. Anak-anak kita pasti akan lebih
menghargainya. |
|
|
|
Berdoa bagi anak |
Salah satu hal yang terpenting sebagai orang tua adalah
berdoa bagi anak-anak kita.
Dalam Kitab Efesus 6:10-18, Rasul Paulus mengatakan bahwa
sebagai orang Kristen, kita dan keluarga kita setiap hari
akan menghadapi peperangan dengan segala kuasa jahat yang
ingin merusak kehidupan kita. Akan tetapi Paulus juga
menyebutkan senjata yang telah diberikan oleh Tuhan
kepada kita untuk mengalahkan musuh tersebut, yaitu kebenaran, keadilan (ayat 14),
pemberitaan Injil (ayat
15), iman kita (ayat 16), Firman Allah (ayat 17) dan yang
terakhir adalah doa (ayat 18), ”Berdoalah setiap waktu di
dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan
permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang
Kudus”.
Banyak di antara kita yang merasa susah atau segan untuk
berdoa, apalagi untuk di tengah-tengah orang banyak
memimpin doa. Tidak jarang di dalam kegiatan persekutuan
orang-orang banyak yang menghindar untuk berdoa. Salah
satu kegiatan gerejawi yang paling sedikit peminatnya
adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan doa.
Memang kegiatan berdoa dengan tekun membutuhkan
kedisiplinan diri yang luar biasa dan berbeda denga
kedisiplinan kita dalam hal lainnya. Padalah berdoa
merupakan kegiatan berinteraksi dengan Tuhan secara
langsung. Sebagai orangtua Kristen, kita perlu untuk
dengan tekun berdoa bagi anak-anak kita kepada Tuhan. Dan
kemudian juga meningkatkannya dengan berdoa bersama-sama
dengan anak kita untuk kehidupan mereka. |
|
|
Sebagai seorang pria, Tuhan memberikan kita tanggung
jawab yang unik di dalam keluarga kita. Seringkali kita
tidak bisa memenuhi semuanya karena satu dan lain hal.
Pola kehidupan kita di dunia saat ini sangatlah
menyulitkan kita untuk benar-benar mengikuti perintah
Tuhan yang telah diberikan oleh-Nya di dalam Firman-Nya.
Akan tetapi kalau kita pikirkan lebih lanjut lagi,
sebenarnya dalam banyak hal itu disebabkan oleh diri kita
sendiri yang tidak mau mengikuti-Nya 100%. Kita masih
ingin mengkompromikannya dan berusaha untuk mendapatkan
semuanya.
Tuhan telah memberikan petunjuk-Nya di dalam Firman-Nya.
Sekarang pertanyaannya adalah apakah kita para suami/ayah
mau untuk memberikan diri kita kepada keluarga kita,
seperti yang telah dicontohkan oleh Tuhan Yesus kepada
kita? |
|
Tulisan ini merupakan bagian dari serial 4 tulisan yang
dibuat dengan mengacu kepada buku berjudul “Man of God”,
karangan Pdt. Jack Graham.
Seorang Pria dengan TuhannyaSeorang Pria dengan Keluarganya
Seorang Pria dengan Integritas Dirinya
Seorang Pria dengan Pelayanannya |
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|