KeLuarga
15 Agustus 2005
Seorang Pria dengan Tuhannya
Chandra Suria
Di dalam perkembangan gereja di Indonesia, pembinaan Jemaat dilakukan melalui berbagai macam program kegiatan yang diadakan oleh berbagai macam Komisi.

Hampir dalam setiap gereja selalu dapat kita temukan Komisi Wanita, Komisi Remaja, dan Komisi Pemuda, yang bertanggung jawab akan pembinaan iman Jemaat yang bersangkutan.

Belakangan ini Komisi Dewasa dan Komisi Senior juga mulai terbentuk dan berkembang pesat, sejalan dengan kesadaran akan perlunya wadah pembinaan di kalangan Jemaat dewasa dan lanjut usia.

Tetapi sampai saat ini, salah satu bidang yang masih kurang mendapatkan perhatian secara khusus adalah pembinaan kaum pria (baca: bapak). Padahal menurut apa yang tertulis di dalam Alkitab, Tuhan memberikan peran yang penting bagi kaum pria di dunia ini sebagai imam, raja dan kepala di dalam keluarga dan rumah tangga.
 
Kitab Ulangan 6:4-9 mengatakan:

4. Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!
5. Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.
6. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,
7. haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.
8. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu,
9. dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.
 
Saya pernah mendengar bahwa perintah tersebut di atas diberikan Musa ketika dia sedang berbicara di depan seluruh umat Israel, yang sesuai dengan adat istiadat pada waktu itu hanyalah dihadiri oleh kaum pria Israel. Jadi dapat dikatakan bahwa Musa sebenarnya mengatakan bahwa adalah tanggung jawab kaum pria (para ayah) untuk membawa seluruh keluarganya beribadah kepada Tuhan.

Adalah tanggung jawab para ayah untuk mengajar keluarganya untuk mengasihi Tuhan dan menjalani kehidupan ini sesuai dengan kehendak-Nya. Sungguh merupakan tanggung jawab yang sangat besar yang tidak mudah untuk dipenuhi.

Sebagai seorang pria pada zaman ini, kita harus bergumul dan berjuang dengan banyak hal di dalam kehidupan kita setiap harinya. Bagaimana tidak? Tuntutan di dalam masyarakat sekarang ini luar biasa besarnya. Perjuangan untuk mempertahankan standard kehidupan kita saja sudah demikian sulitnya, apalagi untuk bisa meraih puncak kesuksesan.

Mencari pekerjaan pada saat ini sudah semakin sulit, dan kalaupun sudah memiliki pekerjaan, persaingan untuk meningkatkan karir kita juga tidaklah mudah. Situasi dunia bisnis sudah sangat kompleks dan sangat menyita seluruh waktu, tenaga dan pikiran kita. Belum ditambah dengan segala urusan rumah tangga, kehidupan perkawinan kita, dan pendidikan serta pertumbuhan anak-anak kita.

Semuanya itu masih ditambah lagi dengan segala tuntutan kenyamanan hidup dan konsumerisme yang dengan bertubi-tubi terus dilancarkan oleh masyarakat masa kini.

Oleh karena itu tidak usah heran kalau banyak para pria (baca: ayah) yang saat ini sudah tidak memiliki waktu lagi untuk Tuhan, apalagi memimpin dan mengajarkan Firman Tuhan kepada keluarganya. Tidak aneh lagi kalau kita melihat sekarang banyak kaum wanita (baca: ibu) yang justru mengambil alih tugas dan fungsi tersebut.

Bisa kita lihat pada kegiatan di gereja yang lebih didominasi oleh kaum wanita, walaupun acara kegiatan tersebut adalah tentang ”family ministry” atau pertemuan dengan Guru Sekolah Minggu dan/atau pembina remaja untuk membicarakan pembinaan iman anak-anak kita. Sekarang ini seolah-olah sudah ada pembagian tugas bahwa para ayah bertugas untuk mencari nafkah dan memperbaiki taraf hidup duniawi keluarga, dan selebihnya adalah tugas para ibu.

Saya sangat menyadari bahwa peran seorang ibu di dalam pertumbuhan iman anaknya adalah sangat penting dan telah berulang kali terbukti hasilnya yang luar biasa. Tidak ada yang lebih penting selain dari doa seorang ibu bagi anak-anaknya dan/atau doa seorang istri bagi suaminya.

Akan tetapi saya pikir sudah tiba saatnya bagi kita kaum pria untuk meningkatkan tanggung jawab kita di dalam masalah pertumbuhan iman, kepada Tuhan kita Yesus Kristus, di dalam keluarga; terutama sekali dalam menghadapi segenap tantangan zaman di abad ke 21 ini. Itu adalah tanggung jawab kita yang nanti harus kita pertanggung jawabkan di akhir hidup kita.

Hal yang pertama harus kita lakukan adalah dengan memastikan bahwa iman kita sendiri juga selalu bertumbuh di dalam Tuhan, dan bahwa kehidupan kita setiap harinya bisa merupakan suatu teladan bagi keluarga dan lingkungan kita. Persoalannya, kehidupan kita sehari-hari seringkali menempatkan kita dalam posisi yang kurang kondusif bagi pertumbuhan iman kita?
 
Alkisah ada seorang ayah yang sedang melepaskan anaknya untuk pergi mengikuti pendidikan militer. Sang ayah sebenarnya merasa cemas, karena sebagai orang Kristen dia telah pernah mengalami banyak kejadian yang tidak menyenangkan pada saat dahulu dia mengikuti pendidikan militer yang serupa. Dia takut kalau-kalau anaknya juga akan mengalami hal yang sama. Setelah mendapatkan berbagai macam nasihat dari sang ayah, maka berangkatlah anak tersebut ke tempat pendidikannya. Beberapa waktu kemudian, ayah tersebut mengirim surat kepada anaknya untuk menanyakan bagaimana kabar sang anak. Setelah menanti beberapa lama, tibalah balasan surat dari anaknya yang berbunyi: ”Kabar saya baik-baik saja dan sampai sekarang saya belum mengalami hal-hal yang kurang menyenangkan. Mereka belum tahu bahwa saya orang Kristen”.

Cerita di atas hanyalah sebuah anekdot, akan tetapi kalau kita renungkan lebih jauh lagi, sebenarnya banyak di antara kita yang juga sering melakukan hal yang sama di dalam kehidupan kita sehari-hari di tengah-tengah masyarakat.

Sebagai orang Kristen, ketika beraktifitas di tengah masyarakat, seringkali kita tidak ingin untuk terlalu memperlihatkan kekristenan kita. Mungkin karena kita tidak ingin dikatakan ”overacting”, mungkin karena takut, mungkin karena malu, dan masih banyak lagi alasan lainnya. Tetapi pada prinsipnya, seringkali kita telah memisahkan kehidupan rohani kita dengan kehidupan duniawi kita.

Kita mau mengikuti kehendak Tuhan dan bersekutu dengan Tuhan selama hal itu tidak mengganggu rencana dan kehidupan kita sendiri. Kita ingin kehidupan yang seimbang antara mengikuti kehendak Tuhan dan mengejar keinginan dan cita-cita kita.

Padahal, Matius 6:24 mengatakan: Tidak seorang pun dapat bekerja untuk dua majikan. Sebab ia akan lebih mengasihi yang satu daripada yang lain. Atau ia akan lebih setia kepada majikan yang satu daripada kepada yang lain. Begitulah juga dengan kalian. Kalian tidak dapat bekerja untuk Allah dan untuk harta benda juga.

Di sini Tuhan Yesus mengatakan bahwa kita tidak dapat hidup dengan memiliki dua fokus yang berbeda.

Setiap orang ingin berhasil dalam hidupnya. Sebagai seorang pria, tuntutan itu menjadi lebih besar karena adalah pandangan umum bahwa keberhasilan/kesuksesan suatu rumah tangga bergantung dari apa yang bisa dicapai oleh sang kepala rumah tangganya. Keberhasilan biasanya datang dari kerja keras yang terencana dan terpusat pada satu tujuan.

Seorang juara tidak dapat dihasilkan tanpa latihan yang tekun, terencana dan waktu yang panjang. Semua konsentrasi dan tenaga harus ditujukan kepada tujuan tersebut dan tidak boleh terpencar ke tempat lain.

Kalau kita mengikuti kisah para juara olah raga misalnya, pasti semua itu adalah buah dari kerja keras, ketekunan dan dedikasi yang panjang di dalam hidup mereka. Sejak bertahun-tahun yang lalu hari-harinya selalu diisi dengan berbagai macam kegiatan yang ditujukan kepada satu hal, olahraganya tersebut. Tentunya mereka juga tetap belajar di sekolah, bermain dengan kawan-kawannya, dan melakukan hal-hal yang lain, akan tetapi pusat perhatian dan kegiatan hidupnya pasti pada olahraganya tersebut.

Oleh karena itu hampir semua dari kita mencurahkan segenap tenaga dan pikirannya untuk menggapai keberhasilan di dalam hidup ini. Ukuran yang kita pakai adalah uang yang lebih banyak, rumah yang lebih besar, mobil yang lebih mahal, posisi yang lebih tinggi. Apakah memang begitu? Sampai di mana batasnya?

Menurut pengalaman saya, kepuasan yang bisa kita dapatkan dari hal-hal duniawi hanyalah terjadi pada saat kita mendapatkannya; dan setelah itu perasaan puas tersebut hilang begitu saja. Misalnya kalau kita bekerja keras untuk mendapatkan satu jabatan tertentu, katakanlah jabatan manager sebuah perusahaan, maka kepuasan kita hanya didapat pada hari kita diangkat ke posisi tersebut. Beberapa saat kemudian, perasaan tersebut hilang dan diganti dengan keinginan untuk menjadi direktur.

Itulah yang ditawarkan oleh dunia, yaitu sesuatu yang bersifat sementara dan tidak kekal. Kepuasan, damai sejahtera dan sukacita yang kekal dan tidak berubah dalam situasi dan kondisi apapun hanyalah didapatkan di dalam Tuhan Yesus.

Sebagai orang Kristen, seharusnya kita mencurahkan segenap tenaga dan pikiran kita hanya kepada-Nya. Standar keberhasilan kita haruslah menurut standar yang diajarkan oleh Tuhan Yesus sehingga kita bisa mendengar Tuhan Yesus berkata: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia (Matius 25:21a) pada akhir hidup kita nanti. Di dalam bukunya ”A Man Of God”, pendeta Jack Graham mengatakan:

We need to be maxed-out men for Jesus Christ, wholy sold to Him and giving Him the best we have. Now I didn’t say we need to burn ourselves out. There’s a big difference between burning out and maxing out. God didn’t call any man to drive himself so hard that he flames out and wastes away. I’m talking about maximizing your strengths, your commitments, and your devotion to the Lord Jesus Christ

Saya tidak mengatakan bahwa kemudian kita semua harus hanya bekerja di gereja saja, menjadi pendeta dan tidak perlu lagi menjalani kehidupan kita di masyarakat lainnya. Sama sekali tidak. Tetapi kita harus tahu apa bahwa Tuhan Yesuslah prioritas hidup kita, dan hal itu tercermin setiap kali kita mengambil keputusan dan/atau bertindak di dalam hidup kita.

Tuhan menghendaki agar kita senantiasa setia hanya kepada Dia, seperti yang tertulis dalam 2 Tawarikh 16:9a, Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia.
 
Kita sering mendengar istilah bahwa sebagai orang Kristen, kita adalah murid Tuhan Yesus. Murid berarti kita harus belajar sesuatu, dan dalam hal ini kita harus belajar serta mempraktekkan ajaran Tuhan Yesus dalam kehidupan kita sehingga kita menjadi lebih serupa dengan Dia.

Dalam bahasa Inggris, istilah yang dipakai adalah ”diciple” yang akar katanya adalah kata ”dicipline”. Jadi dengan menjadi murid Tuhan Yesus, berarti kita menempatkan diri kita dengan penuh disiplin dalam pengajaran Tuhan Yesus setiap hari dan setiap saat dalam kehidupan kita.
 
Tantangan dalam kehidupan sehari-hari
Pernahkah anda pergi ke Mal Pondok Indah di hari-hari menjelang lebaran atau hari natal? Pengunjungnya sangat banyak dan kita harus berdesak-desakan dari satu tempat ke tempat lainnya. Seringkali kita ingin belok ke satu arah tetapi tidak bisa karena padatnya pengunjung. Sehingga yang bisa kita lakukan adalah berjalan terus mengikuti arus dan perlahan-lahan bergeser ke tempat yang ingin kita tuju. Baru pada saat itu kita melihat bahwa toko yang ingin kita kunjungi sudah terlewatkan.

Dalam banyak hal, kehidupan kita seringkali juga kita jalani seperti itu. Hari-hari kita berjalan dengan cepat, padat dan sibuk. Kita bangun pagi-pagi sekali, bersiap-siap, berangkat ke kantor dan baru pulang di malam hari dengan keadaan yang lelah dan kehabisan tenaga. Kita ingin membaca Alkitab, berdoa, mengikuti kegiatan pelayanan dan/atau kegiatan gereja lainnya, tetapi kita merasa sudah tidak punya waktu dan tenaga lagi.

Ini merupakan tantangan yang paling besar bagi orang Kristen zaman sekarang. Inilah yang dimaksud dengan Tuhan Yesus dalam kitab Markus 8:34, Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.

Tuhan Yesus tidak pernah mengatakan bahwa mengikut Dia adalah hal yang mudah. Dia meminta komitmen yang luar biasa dari kita semua dan seharusnya tidak ada yang lebih penting dari Dia. Kita harus bisa untuk tidak terbawa dalam arus kehidupan kita sehari-hari dan berhenti untuk datang kepada-Nya.
 
Semua serba instan
Mie bungkus instan (supermie, indomie dsb) merupakan makanan yang paling populer saat ini di Indonesia. Hampir di seluruh pelosok tanah air, sampai ke tempat-tempat terpencil, kita bisa mendapatkan mie instan tersebut dijual di warung-warung. Banyak orang yang menyukainya karena mudah membawanya, mudah menyiapkannya, dan enak rasanya. Kalau kita merasa lapar, kita bisa memasaknya dan dalam waktu 5-10 menit sudah siap untuk kita makan.

Ini sebenarnya cermin dari kehidupan di dunia kita saat ini. Semua menginginkan keberhasilan dalam waktu yang singkat. Salah satu kelemahan bangsa kita, yaitu korupsi dan kolusi, juga disebabkan oleh orang-orang yang menginginkan keberhasilan dan/atau kekayaan dalam waktu yang singkat dan mudah.

Seringkali mentalitas instan ini juga kita bawa dalam kehidupan rohani kita. Kita ingin untuk mendapatkannya, tetapi sulit bagi kita untuk menyisihkan waktu dan usaha untuk melatih dan menumbuhkan iman kita.

Padahal kita harus menyadari bahwa kita tidak dapat bersikap terburu-buru di dalam pertumbuhan iman kita dan/atau di dalam menantikan karya Tuhan di dalam hidup kita. Kita harus bertekun dan bersabar untuk membangun hubungan kita dengan Dia setiap hari dan setiap saat dalam kehidupan kita.
 
Konsep kehidupan Kristiani
Sebagai seorang pria yang ingin membawa keluarganya beribadah kepada Tuhan, kita perlu memulainya dari diri kita sendiri dengan serius memberikan komitmen hidup kita kepada Tuhan.

Banyak orang yang berpikir bahwa mereka bisa menjadi orang Kristen dengan tidak perlu terlalu serius sampai mengganggu kenyamanan hidup mereka; bahwa mereka tidak perlu untuk tekun membaca Alkitab dan datang kepada Tuhan setiap hari; bahwa mereka cukup datang ke gereja setiap hari Minggu dan dari hari Senin sampai Sabtu tidak perlu orang tahu bahwa mereka orang Kristen.

Pada suatu hari Tuhan Yesus berkata kepada seorang pemungut cukai bernama Lewi, yang juga dikenal sebagai Matius, ”Ikutlah Aku” (Lukas 5:27). Hal tersebut sepertinya hal yang sederhana, tetapi kalau kita baca selanjutnya dalam ayat 28: Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia, hal tersebut merupakan hal yang sangat besar bagi Matius karena dia harus meninggalkan semuanya, pekerjaannya, keluarganya, teman-temannya dsb. Hal yang sama juga dialami oleh Petrus, Andreas, Yohanes serta Yakobus (Matius 4:18-22).

Dengan kata lain, mengikut Yesus menuntut komitmen total dari kita untuk senantiasa hidup sesuai dengan perintah-Nya setiap hari dan setiap saat di dalam setiap situasi dan kondisi.

Saya pernah mendengar suatu anekdot tentang seorang peternak yang memiliki dua ekor sapi yang baru.

Sebagai orang Kristen, dia berdoa: ”Tuhan, saya ingin mempersembahkan satu dari dua ekor sapi milik saya kepada-Mu. Saya akan menjualnya dan mempergunakan uang hasil penjualanannya untuk pekerjaan-Mu”. Peternak itu sangat puas dan bersukacita atas keputusannya tersebut dan memberitahukan keputusannya itu kepada istrinya. Keesokan harinya, peternak tersebut kembali ke rumah dari kandang sapinya dengan muka yang muram. Dan ketika istrinya menanyakan sebabnya, ia menjawab: ” Tadi malam, sapi yang saya berikan kepada Tuhan jatuh sakit dan mati”.

Tanpa kita sadari, seringkali begitulah cara kita menghadapi Tuhan. Kita memberikan komitmen kita dengan setengah hati, karena kita tidak mau kehilangan milik kita yang lain. Walaupun sebenarnya kita juga tahu bahwa semua milik kita itu datangnya dari Dia. Banyak di antara kita yang berpikir: ”Paling tidak saya kan sudah sedikit memberikan komitmen saya. Memang tidak 100%, tapi kan sudah paling tidak 50%”.

Bagi mereka yang menyukai kopi, tidak ada yang lebih nikmat lagi selain duduk minum kopi yang masih panas dan mengepul. Selain itu banyak juga orang yang menyukai minum kopi yang dingin, es kopi, tetapi rasanya saya belum pernah bertemu dengan orang yang menyukai kopi yang tidak panas dan tidak dingin.

Hal ini sama dengan yang dikatakan oleh Tuhan Yesus kepada jemaat di Laodikia dalam Kitab Wahyu 3:15-16, Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.

Tuhan Yesus tidak mau kita itu setengah-setengah. Dia meminta kita untuk memilih antara mengikut Dia atau tidak sama sekali. Jadi Tuhan Yesus minta komitmen dari kita 100% atau tidak usah sama sekali. Setengah hati atau sebagian bukanlah merupakan pilihan yang bisa diterima.

Pernyataan ini mungkin terlalu keras untuk sebagian orang, akan tetapi itulah yang dikatakan oleh Tuhan Yesus.
 
Buah dari mengikut Yesus
Dalam Kitab Yohanes 15:1-17, Tuhan Yesus menekankan pentingnya untuk tinggal di dalam Dia. Yesus menyatakan bahwa Dialah pokok anggur dan para murid—Nya (termasuk kita orang Kristen) adalah rantingnya. Itulah kunci terutama dari menghasilkan buah Roh, Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku (ayat 4).

Salah satu hal yang menarik dalam ayat-ayat ini adalah bahwa apabila kita tinggal di dalam Dia maka kita akan bertambah produktif dengan semakin bertumbuhnya kita di dalam Dia. Dalam ayat 2 kita dapat membaca kata berbuah, dan di ayat 5 dan 8 kita lihat berbuah banyak.

Kalau kita baca dengan teliti yang harus kita lakukan sebenarnya mudah sekali, yaitu tinggal di dalam dia. Dan sebagai konsekuensinya adalah kita bisa berbuah dan kemudian kita akan berbuah banyak. Kita tidak perlu bersusah payah untuk mencari jalan untuk menghasilkan buah, karena buah tersebut adalah hasil dari komitmen kita untuk meletakkan Tuhan Yesus sebagai pusat hidup kita.

Rasul Paulus menjelaskan bahwa buah Roh tersebut terdiri dari kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Galatia 5:22-23). Buah Roh tersebut adalah karakter Tuhan Yesus yang ada di dalam hati kita, yang diberikan oleh Roh Kudus, sebagai tanda bahwa memang kita adalah anak-Nya.
 
Hubungan pribadi kita dengan Tuhan Yesus
Kata “Tinggallah di dalam Aku …” di dalam bahasa Inggris dipakai kata “abide” yang menurut Kamus Webster’s II berarti: bersabar menunggu, bertahan dalam satu kondisi, menyerahkan dan menerima. Itulah yang diminta oleh Tuhan Yesus, untuk kita tinggal dan menikmati situasi dan kondisi di dalam hubungan kita dengan Dia.

Dengan kata lain kita memberikan ketaatan kita kepada Dia dan kita bersukacita dengan itu.

Saya sangat menyukai satu definisi kehidupan Kristiani yang pernah saya dengar, yaitu: “a long obedience in the same direction”. Mungkin terjemahan bebasnya kira-kira adalah ketaatan yang terus menerus dan konsisten. Saya menyukainya karena fokusnya adalah pada konsistensi dan bukan kesempurnaan, pada “direction” dan bukan “perfection”.

Tidak ada seorangpun dari kita yang bisa mencapai kesempurnaan, karena dalam kehidupan Kristiani berarti sudah sama seperti Kristus. Yang penting di sini adalah konsistensi kita untuk selalu bergerak ke arah Kristus, menjadi semakin “serupa” dengan Dia.

Sayangnya seringkali kita membiarkan diri kita untuk digoda oleh dunia sehingga perhatian kita teralihkan, menjadi ragu-ragu dan merasa tidak mampu untuk tinggal di dalam Dia secara total.

Tuhan Yesus hanya meminta kita untuk tinggal di dalam Dia, menyisihkan sebagian dari waktu kita untuk Dia secara rutin dan konsisten setiap harinya, bersekutu dengan Dia secara pribadi, membaca Firman-Nya, dan berdoa kepada-Nya. Ini langkah pertama yang harus timbul dari inisiatif kita sendiri. Selanjutnya Dia yang akan bekerja karena kita sudah menjadi ranting yang berpegang pada pokok yang benar. Kita akan menghasilkan buah Roh yang pada akhirnya akan menjadi berkat bagi lingkungan kita. Itulah keberhasilan.
 
Wahyu 3:20 mengatakan: Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.

Tuhan Yesus sudah berdiri dan mengetok pintu hati kita. Pertanyaannya adalah apakah kita mendengar dan membukakan pintu? Kita tidak bisa hanya diam di dalam dan berkata “pintu tidak dikunci, masuklah”. Kita harus berinisiatif terlebih dahulu untuk membuka pintunya.

Tulisan ini merupakan bagian dari serial 4 tulisan yang dibuat dengan mengacu kepada buku berjudul “Man of God”, karangan Pdt. Jack Graham.
  1. Seorang Pria dengan Tuhannya
  2. Seorang Pria dengan Keluarganya
  3. Seorang Pria dengan Integritas Dirinya
  4. Seorang Pria dengan Pelayanannya
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003