|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
KeLuarga |
|
15 Agustus 2005
Seorang Pria dengan Tuhannya Chandra Suria |
|
|
Di dalam perkembangan gereja di Indonesia, pembinaan
Jemaat dilakukan melalui berbagai macam program kegiatan
yang diadakan oleh berbagai macam Komisi.
Hampir dalam setiap gereja selalu dapat kita temukan
Komisi Wanita, Komisi Remaja, dan Komisi Pemuda, yang
bertanggung jawab akan pembinaan iman Jemaat yang
bersangkutan.
Belakangan ini Komisi Dewasa dan Komisi Senior juga mulai
terbentuk dan berkembang pesat, sejalan dengan kesadaran
akan perlunya wadah pembinaan di kalangan Jemaat dewasa
dan lanjut usia.
Tetapi sampai saat ini, salah satu bidang yang masih
kurang mendapatkan perhatian secara khusus adalah
pembinaan kaum pria (baca: bapak). Padahal menurut apa
yang tertulis di dalam Alkitab, Tuhan memberikan peran
yang penting bagi kaum pria di dunia ini sebagai imam,
raja dan kepala di dalam keluarga dan rumah tangga. |
|
|
Kitab Ulangan 6:4-9 mengatakan:
| 4. |
Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita,
TUHAN itu esa! |
| 5. |
Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan
dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. |
| 6. |
Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah
engkau perhatikan, |
| 7. |
haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada
anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di
rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila
engkau berbaring dan apabila engkau bangun. |
| 8. |
Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada
tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, |
| 9. |
dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu
rumahmu dan pada pintu gerbangmu. |
|
|
|
Saya pernah mendengar bahwa perintah tersebut di atas
diberikan Musa ketika dia sedang berbicara di depan
seluruh umat Israel, yang sesuai dengan adat istiadat
pada waktu itu hanyalah dihadiri oleh kaum pria Israel.
Jadi dapat dikatakan bahwa Musa sebenarnya mengatakan
bahwa adalah tanggung jawab kaum pria (para ayah) untuk
membawa seluruh keluarganya beribadah kepada Tuhan.
Adalah tanggung jawab para ayah untuk mengajar
keluarganya untuk mengasihi Tuhan dan menjalani kehidupan
ini sesuai dengan kehendak-Nya. Sungguh merupakan
tanggung jawab yang sangat besar yang tidak mudah untuk
dipenuhi.
Sebagai seorang pria pada zaman ini, kita harus bergumul
dan berjuang dengan banyak hal di dalam kehidupan kita
setiap harinya. Bagaimana tidak? Tuntutan di dalam
masyarakat sekarang ini luar biasa besarnya. Perjuangan
untuk mempertahankan standard kehidupan kita saja sudah
demikian sulitnya, apalagi untuk bisa meraih puncak
kesuksesan.
Mencari pekerjaan pada saat ini sudah semakin sulit, dan
kalaupun sudah memiliki pekerjaan, persaingan untuk
meningkatkan karir kita juga tidaklah mudah. Situasi
dunia bisnis sudah sangat kompleks dan sangat menyita
seluruh waktu, tenaga dan pikiran kita. Belum ditambah
dengan segala urusan rumah tangga, kehidupan perkawinan
kita, dan pendidikan serta pertumbuhan anak-anak kita.
Semuanya itu masih ditambah lagi dengan segala tuntutan
kenyamanan hidup dan konsumerisme yang dengan
bertubi-tubi terus dilancarkan oleh masyarakat masa kini.
Oleh karena itu tidak usah heran kalau banyak para pria (baca:
ayah) yang saat ini sudah tidak memiliki waktu lagi untuk
Tuhan, apalagi memimpin dan mengajarkan Firman Tuhan
kepada keluarganya. Tidak aneh lagi kalau kita melihat
sekarang banyak kaum wanita (baca: ibu) yang justru
mengambil alih tugas dan fungsi tersebut.
Bisa kita lihat pada kegiatan di gereja yang lebih
didominasi oleh kaum wanita, walaupun acara kegiatan
tersebut adalah tentang ”family ministry” atau pertemuan
dengan Guru Sekolah Minggu dan/atau pembina remaja untuk
membicarakan pembinaan iman anak-anak kita. Sekarang ini
seolah-olah sudah ada pembagian tugas bahwa para ayah
bertugas untuk mencari nafkah dan memperbaiki taraf hidup
duniawi keluarga, dan selebihnya adalah tugas para ibu.
Saya sangat menyadari bahwa peran seorang ibu di dalam
pertumbuhan iman anaknya adalah sangat penting dan telah
berulang kali terbukti hasilnya yang luar biasa. Tidak
ada yang lebih penting selain dari doa seorang ibu bagi
anak-anaknya dan/atau doa seorang istri bagi suaminya.
Akan tetapi saya pikir sudah tiba saatnya bagi kita kaum
pria untuk meningkatkan tanggung jawab kita di dalam
masalah pertumbuhan iman, kepada Tuhan kita Yesus Kristus,
di dalam keluarga; terutama sekali dalam menghadapi
segenap tantangan zaman di abad ke 21 ini. Itu adalah
tanggung jawab kita yang nanti harus kita pertanggung
jawabkan di akhir hidup kita.
Hal yang pertama harus kita lakukan adalah dengan
memastikan bahwa iman kita sendiri juga selalu bertumbuh
di dalam Tuhan, dan bahwa kehidupan kita setiap harinya
bisa merupakan suatu teladan bagi keluarga dan lingkungan
kita. Persoalannya, kehidupan kita sehari-hari seringkali
menempatkan kita dalam posisi yang kurang kondusif bagi
pertumbuhan iman kita? |
|
|
Alkisah ada seorang ayah yang sedang melepaskan anaknya
untuk pergi mengikuti pendidikan militer. Sang ayah
sebenarnya merasa cemas, karena sebagai orang Kristen dia
telah pernah mengalami banyak kejadian yang tidak
menyenangkan pada saat dahulu dia mengikuti pendidikan
militer yang serupa. Dia takut kalau-kalau anaknya juga
akan mengalami hal yang sama. Setelah mendapatkan
berbagai macam nasihat dari sang ayah, maka berangkatlah
anak tersebut ke tempat pendidikannya. Beberapa waktu
kemudian, ayah tersebut mengirim surat kepada anaknya
untuk menanyakan bagaimana kabar sang anak. Setelah
menanti beberapa lama, tibalah balasan surat dari anaknya
yang berbunyi: ”Kabar saya baik-baik saja dan sampai
sekarang saya belum mengalami hal-hal yang kurang
menyenangkan. Mereka belum tahu bahwa saya orang
Kristen”.
Cerita di atas hanyalah sebuah anekdot, akan tetapi kalau
kita renungkan lebih jauh lagi, sebenarnya banyak di
antara kita yang juga sering melakukan hal yang sama di
dalam kehidupan kita sehari-hari di tengah-tengah
masyarakat.
Sebagai orang Kristen, ketika beraktifitas di tengah
masyarakat, seringkali kita tidak ingin untuk terlalu
memperlihatkan kekristenan kita. Mungkin karena kita
tidak ingin dikatakan ”overacting”, mungkin karena takut,
mungkin karena malu, dan masih banyak lagi alasan lainnya.
Tetapi pada prinsipnya, seringkali kita telah memisahkan
kehidupan rohani kita dengan kehidupan duniawi kita.
Kita mau mengikuti kehendak Tuhan dan bersekutu dengan
Tuhan selama hal itu tidak mengganggu rencana dan
kehidupan kita sendiri. Kita ingin kehidupan yang
seimbang antara mengikuti kehendak Tuhan dan mengejar
keinginan dan cita-cita kita.
Padahal, Matius 6:24 mengatakan: Tidak seorang pun dapat
bekerja untuk dua majikan. Sebab ia akan lebih mengasihi
yang satu daripada yang lain. Atau ia akan lebih setia
kepada majikan yang satu daripada kepada yang lain.
Begitulah juga dengan kalian. Kalian tidak dapat bekerja
untuk Allah dan untuk harta benda juga.
Di sini Tuhan Yesus mengatakan bahwa kita tidak dapat
hidup dengan memiliki dua fokus yang berbeda.
Setiap orang ingin berhasil dalam hidupnya. Sebagai
seorang pria, tuntutan itu menjadi lebih besar karena
adalah pandangan umum bahwa keberhasilan/kesuksesan suatu
rumah tangga bergantung dari apa yang bisa dicapai oleh
sang kepala rumah tangganya. Keberhasilan biasanya datang
dari kerja keras yang terencana dan terpusat pada satu
tujuan.
Seorang juara tidak dapat dihasilkan tanpa latihan yang
tekun, terencana dan waktu yang panjang. Semua
konsentrasi dan tenaga harus ditujukan kepada tujuan
tersebut dan tidak boleh terpencar ke tempat lain.
Kalau kita mengikuti kisah para juara olah raga misalnya,
pasti semua itu adalah buah dari kerja keras, ketekunan
dan dedikasi yang panjang di dalam hidup mereka. Sejak
bertahun-tahun yang lalu hari-harinya selalu diisi dengan
berbagai macam kegiatan yang ditujukan kepada satu hal,
olahraganya tersebut. Tentunya mereka juga tetap belajar
di sekolah, bermain dengan kawan-kawannya, dan melakukan
hal-hal yang lain, akan tetapi pusat perhatian dan
kegiatan hidupnya pasti pada olahraganya tersebut.
Oleh karena itu hampir semua dari kita mencurahkan
segenap tenaga dan pikirannya untuk menggapai
keberhasilan di dalam hidup ini. Ukuran yang kita pakai
adalah uang yang lebih banyak, rumah yang lebih besar,
mobil yang lebih mahal, posisi yang lebih tinggi. Apakah
memang begitu? Sampai di mana batasnya?
Menurut pengalaman saya, kepuasan yang bisa kita dapatkan
dari hal-hal duniawi hanyalah terjadi pada saat kita
mendapatkannya; dan setelah itu perasaan puas tersebut
hilang begitu saja. Misalnya kalau kita bekerja keras
untuk mendapatkan satu jabatan tertentu, katakanlah
jabatan manager sebuah perusahaan, maka kepuasan kita
hanya didapat pada hari kita diangkat ke posisi tersebut.
Beberapa saat kemudian, perasaan tersebut hilang dan
diganti dengan keinginan untuk menjadi direktur.
Itulah yang ditawarkan oleh dunia, yaitu sesuatu yang
bersifat sementara dan tidak kekal. Kepuasan, damai
sejahtera dan sukacita yang kekal dan tidak berubah dalam
situasi dan kondisi apapun hanyalah didapatkan di dalam
Tuhan Yesus.
Sebagai orang Kristen, seharusnya kita mencurahkan
segenap tenaga dan pikiran kita hanya kepada-Nya. Standar
keberhasilan kita haruslah menurut standar yang diajarkan
oleh Tuhan Yesus sehingga kita bisa mendengar Tuhan Yesus
berkata: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang
baik dan setia (Matius 25:21a) pada akhir hidup kita
nanti. Di dalam bukunya ”A Man Of God”, pendeta Jack
Graham mengatakan:
We need to be maxed-out men for Jesus Christ, wholy sold
to Him and giving Him the best we have. Now I didn’t say
we need to burn ourselves out. There’s a big difference
between burning out and maxing out. God didn’t call any
man to drive himself so hard that he flames out and
wastes away. I’m talking about maximizing your strengths,
your commitments, and your devotion to the Lord Jesus
Christ
Saya tidak mengatakan bahwa kemudian kita semua harus
hanya bekerja di gereja saja, menjadi pendeta dan tidak
perlu lagi menjalani kehidupan kita di masyarakat lainnya.
Sama sekali tidak. Tetapi kita harus tahu apa bahwa Tuhan
Yesuslah prioritas hidup kita, dan hal itu tercermin
setiap kali kita mengambil keputusan dan/atau bertindak
di dalam hidup kita.
Tuhan menghendaki agar kita senantiasa setia hanya kepada
Dia, seperti yang tertulis dalam 2 Tawarikh 16:9a, Karena
mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan
kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap
Dia. |
|
|
Kita sering mendengar istilah bahwa sebagai orang
Kristen, kita adalah murid Tuhan Yesus. Murid berarti
kita harus belajar sesuatu, dan dalam hal ini kita harus
belajar serta mempraktekkan ajaran Tuhan Yesus dalam
kehidupan kita sehingga kita menjadi lebih serupa dengan
Dia.
Dalam bahasa Inggris, istilah yang dipakai adalah
”diciple” yang akar katanya adalah kata ”dicipline”. Jadi
dengan menjadi murid Tuhan Yesus, berarti kita
menempatkan diri kita dengan penuh disiplin dalam
pengajaran Tuhan Yesus setiap hari dan setiap saat dalam
kehidupan kita.
|
|
|
|
Tantangan dalam kehidupan sehari-hari |
Pernahkah anda pergi ke Mal Pondok Indah di hari-hari
menjelang lebaran atau hari natal? Pengunjungnya sangat
banyak dan kita harus berdesak-desakan dari satu tempat
ke tempat lainnya. Seringkali kita ingin belok ke satu
arah tetapi tidak bisa karena padatnya pengunjung.
Sehingga yang bisa kita lakukan adalah berjalan terus
mengikuti arus dan perlahan-lahan bergeser ke tempat yang
ingin kita tuju. Baru pada saat itu kita melihat bahwa
toko yang ingin kita kunjungi sudah terlewatkan.
Dalam banyak hal, kehidupan kita seringkali juga kita
jalani seperti itu. Hari-hari kita berjalan dengan cepat,
padat dan sibuk. Kita bangun pagi-pagi sekali,
bersiap-siap, berangkat ke kantor dan baru pulang di
malam hari dengan keadaan yang lelah dan kehabisan tenaga.
Kita ingin membaca Alkitab, berdoa, mengikuti kegiatan
pelayanan dan/atau kegiatan gereja lainnya, tetapi kita
merasa sudah tidak punya waktu dan tenaga lagi.
Ini merupakan tantangan yang paling besar bagi orang
Kristen zaman sekarang. Inilah yang dimaksud dengan Tuhan
Yesus dalam kitab Markus 8:34, Setiap orang yang mau
mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul
salibnya dan mengikut Aku.
Tuhan Yesus tidak pernah mengatakan bahwa mengikut Dia
adalah hal yang mudah. Dia meminta komitmen yang luar
biasa dari kita semua dan seharusnya tidak ada yang lebih
penting dari Dia. Kita harus bisa untuk tidak terbawa
dalam arus kehidupan kita sehari-hari dan berhenti untuk
datang kepada-Nya. |
|
|
|
Semua serba instan |
Mie bungkus instan (supermie, indomie dsb) merupakan
makanan yang paling populer saat ini di Indonesia. Hampir
di seluruh pelosok tanah air, sampai ke tempat-tempat
terpencil, kita bisa mendapatkan mie instan tersebut
dijual di warung-warung. Banyak orang yang menyukainya
karena mudah membawanya, mudah menyiapkannya, dan enak
rasanya. Kalau kita merasa lapar, kita bisa memasaknya
dan dalam waktu 5-10 menit sudah siap untuk kita makan.
Ini sebenarnya cermin dari kehidupan di dunia kita saat
ini. Semua menginginkan keberhasilan dalam waktu yang
singkat. Salah satu kelemahan bangsa kita, yaitu korupsi
dan kolusi, juga disebabkan oleh orang-orang yang
menginginkan keberhasilan dan/atau kekayaan dalam waktu
yang singkat dan mudah.
Seringkali mentalitas instan ini juga kita bawa dalam
kehidupan rohani kita. Kita ingin untuk mendapatkannya,
tetapi sulit bagi kita untuk menyisihkan waktu dan usaha
untuk melatih dan menumbuhkan iman kita.
Padahal kita harus menyadari bahwa kita tidak dapat
bersikap terburu-buru di dalam pertumbuhan iman kita dan/atau
di dalam menantikan karya Tuhan di dalam hidup kita. Kita
harus bertekun dan bersabar untuk membangun hubungan kita
dengan Dia setiap hari dan setiap saat dalam kehidupan
kita. |
|
|
|
Konsep kehidupan Kristiani |
Sebagai seorang pria yang ingin membawa keluarganya
beribadah kepada Tuhan, kita perlu memulainya dari diri
kita sendiri dengan serius memberikan komitmen hidup kita
kepada Tuhan.
Banyak orang yang berpikir bahwa mereka bisa menjadi
orang Kristen dengan tidak perlu terlalu serius sampai
mengganggu kenyamanan hidup mereka; bahwa mereka tidak
perlu untuk tekun membaca Alkitab dan datang kepada Tuhan
setiap hari; bahwa mereka cukup datang ke gereja setiap
hari Minggu dan dari hari Senin sampai Sabtu tidak perlu
orang tahu bahwa mereka orang Kristen.
Pada suatu hari Tuhan Yesus berkata kepada seorang
pemungut cukai bernama Lewi, yang juga dikenal sebagai
Matius, ”Ikutlah Aku” (Lukas 5:27). Hal tersebut
sepertinya hal yang sederhana, tetapi kalau kita baca
selanjutnya dalam ayat 28: Maka berdirilah Lewi dan
meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia, hal
tersebut merupakan hal yang sangat besar bagi Matius
karena dia harus meninggalkan semuanya, pekerjaannya,
keluarganya, teman-temannya dsb. Hal yang sama juga
dialami oleh Petrus, Andreas, Yohanes serta Yakobus (Matius
4:18-22).
Dengan kata lain, mengikut Yesus menuntut komitmen total
dari kita untuk senantiasa hidup sesuai dengan
perintah-Nya setiap hari dan setiap saat di dalam setiap
situasi dan kondisi.
Saya pernah mendengar suatu anekdot tentang seorang
peternak yang memiliki dua ekor sapi yang baru.
Sebagai orang Kristen, dia berdoa: ”Tuhan, saya ingin
mempersembahkan satu dari dua ekor sapi milik saya
kepada-Mu. Saya akan menjualnya dan mempergunakan uang
hasil penjualanannya untuk pekerjaan-Mu”. Peternak itu
sangat puas dan bersukacita atas keputusannya tersebut
dan memberitahukan keputusannya itu kepada istrinya.
Keesokan harinya, peternak tersebut kembali ke rumah dari
kandang sapinya dengan muka yang muram. Dan ketika
istrinya menanyakan sebabnya, ia menjawab: ” Tadi malam,
sapi yang saya berikan kepada Tuhan jatuh sakit dan mati”.
Tanpa kita sadari, seringkali begitulah cara kita
menghadapi Tuhan. Kita memberikan komitmen kita dengan
setengah hati, karena kita tidak mau kehilangan milik
kita yang lain. Walaupun sebenarnya kita juga tahu bahwa
semua milik kita itu datangnya dari Dia. Banyak di antara
kita yang berpikir: ”Paling tidak saya kan sudah sedikit
memberikan komitmen saya. Memang tidak 100%, tapi kan
sudah paling tidak 50%”.
Bagi mereka yang menyukai kopi, tidak ada yang lebih
nikmat lagi selain duduk minum kopi yang masih panas dan
mengepul. Selain itu banyak juga orang yang menyukai
minum kopi yang dingin, es kopi, tetapi rasanya saya
belum pernah bertemu dengan orang yang menyukai kopi yang
tidak panas dan tidak dingin.
Hal ini sama dengan yang dikatakan oleh Tuhan Yesus
kepada jemaat di Laodikia dalam Kitab Wahyu 3:15-16, Aku
tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak
panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas!
Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau
panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.
Tuhan Yesus tidak mau kita itu setengah-setengah. Dia
meminta kita untuk memilih antara mengikut Dia atau tidak
sama sekali. Jadi Tuhan Yesus minta komitmen dari kita
100% atau tidak usah sama sekali. Setengah hati atau
sebagian bukanlah merupakan pilihan yang bisa diterima.
Pernyataan ini mungkin terlalu keras untuk sebagian orang,
akan tetapi itulah yang dikatakan oleh Tuhan Yesus. |
|
|
|
Buah dari mengikut Yesus |
Dalam Kitab
Yohanes 15:1-17, Tuhan Yesus menekankan
pentingnya untuk tinggal di dalam Dia. Yesus menyatakan
bahwa Dialah pokok anggur dan para murid—Nya (termasuk
kita orang Kristen) adalah rantingnya. Itulah kunci
terutama dari menghasilkan buah Roh, Tinggallah di dalam
Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak
dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak
tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak
berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku (ayat
4).
Salah satu hal yang menarik dalam ayat-ayat ini adalah
bahwa apabila kita tinggal di dalam Dia maka kita akan
bertambah produktif dengan semakin bertumbuhnya kita di
dalam Dia. Dalam ayat 2 kita dapat membaca kata berbuah,
dan di ayat 5 dan 8 kita lihat berbuah banyak.
Kalau kita baca dengan teliti yang harus kita lakukan
sebenarnya mudah sekali, yaitu tinggal di dalam dia. Dan
sebagai konsekuensinya adalah kita bisa berbuah dan
kemudian kita akan berbuah banyak. Kita tidak perlu
bersusah payah untuk mencari jalan untuk menghasilkan
buah, karena buah tersebut adalah hasil dari komitmen
kita untuk meletakkan Tuhan Yesus sebagai pusat hidup
kita.
Rasul Paulus menjelaskan bahwa buah Roh tersebut terdiri
dari kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran,
kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan,
penguasaan diri (Galatia 5:22-23). Buah Roh tersebut
adalah karakter Tuhan Yesus yang ada di dalam hati kita,
yang diberikan oleh Roh Kudus, sebagai tanda bahwa memang
kita adalah anak-Nya.
|
|
|
|
Hubungan pribadi kita dengan Tuhan Yesus |
Kata “Tinggallah di dalam Aku …” di dalam bahasa Inggris
dipakai kata “abide” yang menurut Kamus Webster’s II
berarti: bersabar menunggu, bertahan dalam satu kondisi,
menyerahkan dan menerima. Itulah yang diminta oleh Tuhan
Yesus, untuk kita tinggal dan menikmati situasi dan
kondisi di dalam hubungan kita dengan Dia.
Dengan kata lain kita memberikan ketaatan kita kepada Dia
dan kita bersukacita dengan itu.
Saya sangat menyukai satu definisi kehidupan Kristiani
yang pernah saya dengar, yaitu: “a long obedience in the
same direction”. Mungkin terjemahan bebasnya kira-kira
adalah ketaatan yang terus menerus dan konsisten. Saya
menyukainya karena fokusnya adalah pada konsistensi dan
bukan kesempurnaan, pada “direction” dan bukan
“perfection”.
Tidak ada seorangpun dari kita yang bisa mencapai
kesempurnaan, karena dalam kehidupan Kristiani berarti
sudah sama seperti Kristus. Yang penting di sini adalah
konsistensi kita untuk selalu bergerak ke arah Kristus,
menjadi semakin “serupa” dengan Dia.
Sayangnya seringkali kita membiarkan diri kita untuk
digoda oleh dunia sehingga perhatian kita teralihkan,
menjadi ragu-ragu dan merasa tidak mampu untuk tinggal di
dalam Dia secara total.
Tuhan Yesus hanya meminta kita untuk tinggal di dalam Dia,
menyisihkan sebagian dari waktu kita untuk Dia secara
rutin dan konsisten setiap harinya, bersekutu dengan Dia
secara pribadi, membaca Firman-Nya, dan berdoa kepada-Nya.
Ini langkah pertama yang harus timbul dari inisiatif kita
sendiri. Selanjutnya Dia yang akan bekerja karena kita
sudah menjadi ranting yang berpegang pada pokok yang
benar. Kita akan menghasilkan buah Roh yang pada akhirnya
akan menjadi berkat bagi lingkungan kita. Itulah
keberhasilan. |
|
|
Wahyu 3:20 mengatakan:
Lihat, Aku berdiri di muka pintu
dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku
dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan
Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama
dengan Aku.
Tuhan Yesus sudah berdiri dan mengetok pintu hati kita.
Pertanyaannya adalah apakah kita mendengar dan membukakan
pintu? Kita tidak bisa hanya diam di dalam dan berkata
“pintu tidak dikunci, masuklah”. Kita harus berinisiatif
terlebih dahulu untuk membuka pintunya. |
|
Tulisan ini merupakan bagian dari serial 4 tulisan yang
dibuat dengan mengacu kepada buku berjudul “Man of God”,
karangan Pdt. Jack Graham.
Seorang Pria dengan TuhannyaSeorang Pria dengan Keluarganya
Seorang Pria dengan Integritas Dirinya
Seorang Pria dengan Pelayanannya |
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|