KeLuarga
23 Juni 2005
My Dad, My Mom, My Model
Jane Simon, SPd., MSi.
Anak adalah anugerah dan titipan Tuhan yang harus kita jaga, kita rawat, kita pelihara, kita sayangi, dan kita didik untuk kelak menjadi orang dewasa yang berguna.
 
Akh..., aku sebal dengan Papa. Papa tidak mendengarkan kata-kataku. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku ingin keluar dari SMP Pari ini, aku ingin pindah ke sekolah Ubur-ubur yang diceritakan oleh temanku di sana. Temanku bilang SMP Ubur-ubur mudah. Tidak perlu belajar berat, santai-santai saja. Gurunya menyenangkan, teman-temannya banyak dan ok. Kalau kepentok nilai tidak bagus, gampang... keluarkan saja sedikit uang lebih 2 juta misalnya, nilai jadi baik, kita bisa lulus dengan mudah.

Aku tahu, awal tahun ajaran lalu Papa sudah setuju dengan keinginanku tersebut. Tapi entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba saja Papa berubah sikap. Ini pasti gara-gara Kepala Sekolah Pari. Pasti dia mempengaruhi pikiran Papa. Aku sebal... sebal... sebal...

Oh... iya, aku tahu caranya supaya Papa mengabulkan keinginanku. Aku marah saja pada semua orang di rumah, Mbok Surti (pembantu), Pak Kadir (supir), Pak Man (tukang kebun), Mbak Tia (kakak) dan Ajeng (adik), kalau perlu marah-marah juga pada Mama. Papa pasti mengalah... he... he... he... Aku pasti menang! Seperti yang sudah-sudah, keinginanku pasti terkabul. Papa selalu membelaku, biar Mama marah seperti apapun, Papa pasti bela aku.

Selain cara itu... oya, ada satu lagi cara lain. Aku mulai saja dengan mogok sekolah, bangun kesiangan, tidak buat PR, tidak belajar, pura-pura pusing atau sakit kepala. Kalau sakit pasti aku diistirahatkan di rumah sakit langganan Papa yang serba mewah. Malah enak, dapat ruangan VIP serba nyaman, sejuk, dan dilayani. Satu lagi, mungkin aku juga perlu banyak-banyak bikin ulah di kelas, supaya dikeluarkan dari sekolah. Yang penting keinginanku tercapai. Aku ingin keluar dari sekolah Pari!

Ini kan salah Papa. Dari dulu aku sudah bilang, aku tidak suka dengan sekolah Pari. Tapi Papa memaksaku untuk masuk. Sekolah Pari fasilitasnya minim, serba sederhana, teman-temannya itu-itu lagi, kurang banyak. Bayangkan satu tingkatan kelas hanya ada satu kelas, dan teman satu kelas tidak banyak pula hanya 25 orang kurang lebih. Jadi pergaulanku tidak bisa luas. Aku bosan berteman dengan mereka-mereka lagi. Kalau naik kelas pun temanku tidak berubah, ya... mereka-mereka juga.
 
Sepenggal kisah di atas menggambarkan sikap anak remaja SMP hasil didikan orang tua yang menggunakan pola asuh permisif. Orang tua cenderung membolehkan semua keinginan anak, kurang memberikan arahan dan bimbingan, serta tidak tegas. Orang tua jarang menuntut anak untuk bertanggung jawab dan kurang mengontrol anaknya sehingga otomatis orang tua seperti ini jarang memberikan hukuman kepada anaknya. Anak diberikan hak yang sama seperti orang dewasa dan bebas mengatur dirinya, serta bebas mengambil keputusan sendiri tanpa bimbingan dan arahan orang tua, akibatnya anak dapat berbuat sekehendaknya sendiri.

Menjadi orang tua memang tidak mudah. Terlebih ketika kita berhadapan dengan anak usia remaja. Tidak ada sekolah menjadi orang tua. Umumnya kita berperan sebagai orang tua berdasarkan pengalaman yang kita alami dari orang tua kita sebelumnya dan berdasarkan nilai-nilai yang kita serap dari lingkungan sekitar kita hidup. Oleh karena itulah, setiap orang tua memiliki pola asuh yang berbeda, setiap keluarga memiliki aturan sendiri yang juga berbeda dari keluarga lainnya.
 
Berikut ini beberapa tips bagi orang tua di dalam menghadapi anak di usia remaja:
1. Menjadi pendengar yang baik
Jadilah pendengar yang baik bagi anak remaja Anda. Tidak perlu menyetujui seluruh ide-idenya, tetapi dengan menunjukkan bahwa Anda mendengarkannya, ia akan merasa dihargai. Bayangkan, banyak sekali yang terjadi di dalam kehidupannya: sekolah, ulangan-ulangan, ujian, olah raga, penerimaan teman-temannya, belum lagi masalah berkencan, dan merencanakan sekolah lanjutan serta masa depannya. Jika kita mendengar, ia akan merasakan dukungan orang tuanya.

2. Be reasonable
Ketika menghadapi situasi menegangkan, misalnya ketika berbeda pendapat dengan anak, bernegosiasilah dengannya. Sediakan waktu untuk mencari informasi sebanyak mungkin, gali sisi positif dan negatif ide yang diungkapkannya sebelum Anda memberikan suatu keputusan kepadanya.

3. Miliki aturan yang jelas
Konsekuensi dari tingkah laku yang tidak dapat diterima harus diberitahukan jauh hari sebelumnya. Ketika ia melanggar peraturan tsb, tidak perlu ribut lagi. Ikuti saja aturan yang sudah digariskan jauh hari sebelumnya tersebut.

4. Jadilah teladan yang baik
Nilai-nilai kehidupan diserap anak jauh hari sebelum diajarkan kepadanya. Anak melihat tingkah laku orang tuanya sehari-hari. Oleh karena itulah anak perlu melihat keteladanan Anda yang baik selaku orang tua. Jika Anda melakukan kesalahan, jangan enggan meminta maaf pada mereka. Mereka akan belajar dari sikap Anda.

5. Be there!
Ketika anak-anak membutuhkan Anda, kita harus siap berada di dekatnya. Jangan ditunda! Mereka akan berpaling kepada orang lain. Berdoalah selalu bagi remaja Anda dan katakan pada mereka bahwa Anda mendoakannya (Chandler, M.L., 1998, Women Today Magazines).
Anak yang dititipkan Tuhan kepada kita adalah tanggung jawab kita selaku orang tuanya, untuk dikasihi dan dididik. Mengasihi dan mendidik anak bukan berarti kita membiarkan mereka berbuat apa saja tanpa arahan dan bimbingan, justru tugas kitalah sebagai orang tua untuk mengajarkan kasih sayang, aturan, disiplin, dan nilai-nilai kebaikan lainnya.

Seperti induk burung ketika mengajarkan anaknya terbang, ia pun mendorong anaknya dari ketinggian tempatnya bersarang jatuh ke bawah agar memperoleh pengalaman bagaimana caranya terbang sampai berhasil. Demikian pula sebaiknya kita, jangan takut mendidik anak berarti akan “menyakitinya”, justru dengan mengajarkan disiplin dan memberikan batasan-batasan aturan membuat anak “respek” terhadap kita dan tahu mana yang baik dan mana yang tidak.

Jika kita biarkan mereka berbuat sekehendak hatinya tanpa arahan yang jelas, akan jadi seperti apakah anak kita? Bagaimanakah tanggung jawab kita terhadap Tuhan?

JS/Mei 2005
 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003