|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
KeLuarga |
|
12 Desember 2004
Remaja vs Ortu |
|
|
Namaku Maria.....
Sekarang aku berusia 21 tahun dan kuliah di
sebuah PTS terkenal di Surabaya. Orang tuaku cukup kaya.
Apapun yang aku minta pasti dipenuhi. Sebenarnya orang
tuaku adalah orang tua yang cukup demokratis dan terbuka.
Mereka memberi kebebasan kepadaku dan tidak pernah
melarangku untuk melakukan apa saja sesukaku, sepanjang
itu tidak merugikan diriku.
Tetapi kebebasan yang mereka berikan itu justru tidak
membuatku bahagia. Aku merasa terlalu dibiarkan tidak
diperhatikan oleh orang tuaku. Aku ingin sekali mereka
menegurku ketika aku berbuat salah. Aku ingin mereka
mendengarkan aku saat tertimpa masalah, dan aku juga ingin
mereka menopangku kala dirundung duka. Tetapi semuanya itu
tidak pernah terjadi dalam hidupku.
Enam tahun yang lalu, saat aku masih duduk di kelas 3 SMP,
adalah saat pertamaku mengenal hubungan cinta dan seks.
Aku menyerahkan milikku yang paling berharga pada
laki-laki yang menjadi cinta pertamaku. Aku tidak pernah
menyesalinya, sekalipun kini kami sudah berpisah.
Sekarang
aku tinggal di kota besar, jauh dari keluargaku, dan
hidup
bersama kekasih baruku. Orangtuaku tidak pernah tahu
tentang hal ini. Yang mereka tahu, aku adalah putri kecil
mereka yang manis, berprestasi, dan selalu membuat bangga
orang tua.
|
Masalah hubungan antara remaja dengan orang tuanya
seolah-olah tidak ada habisnya dan bahkan mungkin akan
terus-menerus menjadi pokok pembicaraan yang penting
dalam kehidupan berkeluarga. Ada begitu banyak orang tua
yang merasa kebingungan dengan perilaku anak-anaknya yang
menginjak usia remaja. Mereka begitu khawatir bahkan
tidak tahu bagaimana cara menghadapi anak-anak remajanya
yang mengalami pubertas. Bahkan seringkali, para orang
tua mendidik anak remajanya dengan cara yang salah, dan
yang terjadi adalah miscommunication. Banyak orang tua
yang mengeluh anak remajanya. susah diatur, lebih
mementingkan teman-temannya, berani memberontak, bahkan
yang lebih mengerikan lagi, banyak anak-anak remaja
sekarang yang terlibat dalam kehidupan sex bebas dan
narkoba.
|
|
Kebebasan berlebih, kontrol kendor |
Contoh kasus di atas menunjukkan bahwa orang tua merasa
anak-anak perlu diberi kebebasan supaya mereka dapat
mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya, hanya
sayangnya kontrol dan disiplin dari orang tua pada kasus
Maria ini sangat lemah. Orang tua Maria mengira, dengan
memberikan kebebasan yang seluas-luasnya si anak akan
merasa bahagia. Mereka juga merasa, Maria tidak perlu
dikontrol lagi karena selama ini ia selalu menunjukkan
sikap yang baik terhadap orang tuanya. Di sini orang tua
Maria menjadi kurang peka terhadap kebutuhan anaknya yang
sesungguhnya. Ini yang kemudian mengakibatkan Maria
kemudian berusaha mencari-cari sendiri apa yang
dibutuhkannya, tetapi pencariannya itu justru membawa dia
kepada pergaulan yang tidak sehat.
Orang tua Maria berusaha memahami keinginan Maria dengan
memberi kebebasan dan kepercayaan penuh kepadanya. Tetapi
karena mereka terlalu percaya, akibatnya kontrol orang
tua yang seharusnya tetap terus dijalankan menjadi hilang,
sehingga tanpa sepengetahuan orang tuanya, anak ini telah
terjerat dalam pergaulan bebas. Memang sebaiknya orang
tua itu memberikan kebebasan dan kepercayaan penuh kepada
anak-anaknya.
Tetapi, bagaimanapun juga, pengawasan dari orang tua
tetap ada dan harus dijalankan. Pengawasan ini dilakukan
bukan berarti untuk memata-matai anak, tetapi untuk
mengantisipasi agar si anak tidak terjerumus dalam
pergaulan yang salah. Kasus Maria ini juga menunjukkan
bahwa seringkali kita sebagai orang tua, kelewat sibuk
mencari uang dan cenderung melimpahi anak-anak kita
dengan materi/ kekayaan dengan anggapan kalau kebutuhan
fisiknya terpenuhi, mereka pasti akan senang dan bahagia.
Anak-anak remaja ini memang senang. Tetapi itu hanya
kesenangan semu. Yang mereka butuhkan dan yang mereka
harapkan adalah lebih dari sekadar materi. Mereka ingin
merasakan dicintai oleh orang tuanya, diperhatikan,
dilimpahi kasih sayang, dan merasakan bahwa hidup mereka
begitu berarti bagi orang tuanya.
Sering juga kita berpikir bahwa dilihat dari segi usia,
anak-anak kita masih terlalu muda, sehingga tidak mungkin
mereka dapat melakukan hal-hal yang buruk. Justru inilah
yang harus diwaspadai. Seringkali juga kita suka
menyamakan pergaulan anak muda zaman sekarang dengan
pergaulan anak muda di zaman mereka. Jangan pernah
menganggap anak-anak kita terlalu polos.
Anak-anak zaman sekarang justru sangatlah rentan bahaya.
Perkembangan teknologi dan informasi yang begitu pesat
memudahkan mereka untuk mengakses apa saja, lebih-lebih
segala sesuatu yang berakibat buruk akan dengan sangat
mudah diterima oleh remaja. Dunia yang sekarang
menawarkan berbagai macam hal yang berujung pada
kenikmatan duniawi yang seringkali menjerumuskan. Kita
tidak bisa lagi menyamaratakan pergaulan anak-anak kita
sekarang dengan pergaulan remaja pada zaman kita dahulu.
Jika hal ini tidak segera kita antisipasi, si anak remaja
ini akan mudah sekali terseret pada lingkungan yang tidak
benar.
|
|
What should we do? |
Perhatian, pengawasan dan didikan kita sebagai orang tua
sangat dibutuhkan agar anak-anak kita tidak salah dalam
melangkah. Masa depan anak-anak kita pun ditentukan pula
dari bagaimana cara kita mendidik anak-anak. Amsal 22:6
menegaskan, Didiklah orang muda menurut jalan yang patut
baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan
menyimpang dari pada jalan itu. Kalau kita tidak
mendidik dengan benar sesuai dengan Firman Allah,
akhirnya kasus Maria di atas bukan tidak mungkin juga
akan terjadi pada anak-anak kita kelak, dan membekali
anak-anak kita dengan Firman Allah adalah sebuah
keharusan bagi setiap orang percaya (Efesus 6:4, Dan
kamu, bapa-bapa,
didiklah mereka di dalam ajaran dan
nasihat Tuhan).
Memberikan kebebasan tetapi juga mendidik anak-anak kita
untuk bertanggungjawab dengan kebebasan yang kita berikan
menjadi salah satu solusi atas masalah hubungan remaja
dan orang tua yang selalu dipersoalkan selama ini. Tetapi
perlu diingat, jangan sampai kita lupa untuk tetap
mengontrol anak-anak remaja kita, agar jangan sampai
mereka terpengaruh oleh hal-hal negatif yang ditimbulkan
oleh lingkungan di mana mereka beradaptasi di luar
keluarga.
Dan sebagai orangtua, kita pun tak cukup berperan sebagai
orang tua saja. Kita harus bisa menempatkan diri sebagai
teman dan sahabat terdekat bagi anak-anak kita. Mengapa
demikian? Anak-anak remaja kita memiliki kecenderungan
lebih suka curhat dengan teman sebayanya atau sahabatnya,
karena dianggap lebih mengerti dan memahami mereka.
Terlebih di usia-usia remajanya, anak-anak cenderung
lebih memilih dan percaya pada teman ketimbang orang
tuanya sendiri. Bukan hal yang salah memang jika
anak-anak kita curhat dengan sobat-sobatnya. Persoalannya,
bagaimana jika sobat-sobatnya ini bukannya memberi
nasehat yang baik tapi malah menjerumuskan mereka?
Akan jauh lebih baik jika kita juga mampu menempatkan
diri sebagai teman dan sahabat bagi anak-anak remaja kita,
supaya mereka tak hanya merasa memiliki orangtua yang
sangat memperhatikan mereka, tetapi juga teman curhat dan
sahabat yang baik bagi anak-anak kita.
Bukankah akan
lebih baik jika anak-anak lebih mempercayai orangtuanya
ketimbang mempercayai orang lain? Jangan pernah
menganggap anak-anak remaja kita seperti anak-anak kecil.
Di masa-masa puber, mereka biasanya tidak suka dianggap
dan diperlakukan seperti anak kecil. Akan jauh lebih
bijaksana bila kita mulai mengajaknya berpikir dan
memperlakukan mereka sebagai seorang teman.
Kalau kita mampu mendidik anak-anak kita dengan benar
sesuai dengan Firman Allah, tentunya akan menjadi suatu
sukacita tersendiri bagi kita, seperti yang diungkapkan
Amsal 29:17, Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan
ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu.
(yth) |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|