|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
KeLuarga |
|
28 Oktober 2004
Menjadi Orang Tua yang Bijaksana bagi Anak Remajanya Zilvanus Imanuel |
|
|
|
Suatu refleksi dalam rangka Bulan Keluarga |
Saat ini banyak orang tua yang mengeluh melihat perilaku
anak remajanya, bahkan dari percakapan dengan beberapa
orang tua, penulis sering mendengar ungkapan; “Anak-anak
sekarang tidak sama dengan kita sewaktu masih kecil atau
sewaktu kita masih remaja”.
Tidak sedikit orang tua yang merasa kecewa dan pusing
memikirkan perilaku anaknya, terutama anak remajanya, yang
kalau ditegur oleh orang tuanya mengatakan; “Ah....Papa
dan Mama sudah kuno, ketinggalan zaman dan tidak gaul”.
Bahkan tidak mustahil terjadi “konflik” antara remaja dan
orang tuanya. Tidaklah mengherankan apabila beberapa orang
tua merasakan bahwa menjadi orang tua masa kini lebih
sulit bila dibandingkan dengan masa dahulu. Tetapi, apakah
memang benar demikian?
Kalau kita mau menelaahnya lebih lanjut, kesulitan yang
timbul sebenarnya diakibatkan oleh karena kita kurang
menyadari perkembangan yang terjadi dalam kehidupan
masyarakat sebagai akibat dari perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang pesat, yang telah mengubah
pola perilaku kehidupan sehari-hari termasuk perilaku para
remaja kita yang masih mencari identitas diri. Kita masih
menganggap bahwa keadaan masih berjalan seperti biasa,
yang tanpa kita sadari sebenarnya telah terjadi suatu
perubahan besar dalam hubungan sosial di masyarakat.
Para orang tua dalam menghadapi dan berkomunikasi dengan
anak remajanya secara tidak sadar masih menggunakan pola
lama, yaitu ketika kita menerima didikan dan asuhan dari
orang tua kita sewaktu kita masih anak-anak atau sewaktu
kita masih remaja. Sehingga sadar ataupun tidak, pola
pendidikan dan asuhan yang kita terapkan kepada anak-anak
kita secara tidak langsung banyak pula dipengaruhi oleh
orang tua kita sendiri ketika kita masih kecil.
Jadi pengalaman kita di masa kecil ikut pula mempengaruhi
pola asuhan yang kita terapkan kepada anak-anak kita.
Sedangkan anak-anak dan remaja saat ini, terutama yang
berdiam di kota besar, dihadapkan pada kehidupan modern
sebagai akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Remaja saat ini sudah terbiasa menggunakan handphone dan
komputer yang pada zaman kita masih kecil belum ada,
bahkan mereka sudah pandai menjelajahi dunia maya melalui
internet, yang kita sebagai orang tuanya saja belum tentu
dapat “seahli” mereka dalam berselancar di dunia maya,
sehingga orang tua sering dianggap oleh remaja saat ini
“gatek” (gagap teknologi). Siaran TV pun tanpa kita sadari
telah ikut pula ambil bagian dalam perkembangan perilaku
remaja kita.
|
|
Empat Macam Orangtua |
Menghadapi situasi yang demikian itu, bagaimanakah
sebaiknya sikap kita sebagai orang tua terhadap anak-anak
kita, khususnya terhadap anak remaja kita? Bruce Narramore,
PhD dalam bukunya “Mengapa Anak-anak Berkelakuan Buruk”
mengemukakan ada empat macam cara dalam berperan sebagai
orang tua:
- Orang tua yang otoriter.
- Orang tua yang serba memperbolehkan.
- Orang tua yang “angin-anginan”.
- Orang tua yang Alkitabiah.
ad
1. Orang tua yang otoriter ibarat penguasa yang absolut
dan yang pemerintahannya di dalam keluarga tidak dapat
ditawar. Ia menganggap dirinya berhak bukan hanya untuk
memimpin dan mengarahkan anak-anaknya, tetapi juga untuk
mencoba membentuk mereka – dengan cara apapun yang
diperlukan – agar menjadi sebagaimana yang ia inginkan.
Orang tua yang demikian ini beranggapan bahwa bila
anak-anak dibiarkan mengikuti cara-cara mereka sendiri
maka mereka hanya akan menimbulkan masalah. Oleh sebab itu
mereka memberikan banyak batasan dan larangan sehingga
anak-anak hampir tidak dapat memberikan suara dalam
keputusan-keputusan yang menyangkut seluruh keluarga.
Tidak ada diskusi dan keinginan atau pendapat anak tentang
apa yang lebih mereka sukai, bahkan sering diabaikan,
sehingga orang tualah yang mengendalikan segala-galanya.
ad
2. Orang tua yang serba memperbolehkan tidak menaruh
perhatian sedikitpun pada soal ketaatan. Ia membiarkan
anak-anaknya menyatakan diri sebagaimana adanya,
mengarahkan diri mereka sendiri dan menentukan sendiri
segalanya. Orang tua yang serba memperbolehkan jarang
sekali untuk mendisiplinkan atau mengarahkan anak-anaknya
karena mereka menganggap anak-anak itu pada dasarnya
memiliki kemampuan untuk membuat keputusannya sendiri.
ad
3. Orang tua yang “angin-anginan” cenderung
terombang-ambing di antara serba memperbolehkan dan
otoriter. Ketika anak-anak kita pada mulanya berkelakuan
jelek kita tidak memperdulikannya, bahkan ketika mereka
masih kecil kita malah tertawa dan mengatakan “lucu”.
Tetapi ketika mereka bertambah besar atau apabila hati
kita sedang jengkel, kita tiba-tiba mengubah nada suara
kita dan menegur mereka dan apabila tidak diindahkan maka
kita menjadi sangat marah dan mulai mempergunakan ancaman,
teriakan atau suatu bentuk tekanan bahkan mengenakan
hukuman fisik.
ad
4. Orang tua yang Alkitabiah menurut Bruce Narramore PhD
adalah orang tua yang menerapkan konsep otoritas
berdasarkan kasih. Pandangan terhadap anak-anak bukan
sebagai orang yang pada dasarnya berdosa dan juga tidak
sebagai orang yang pada dasarnya baik. Anak-anak dipandang
sebagai pribadi-pribadi ciptaan Allah dengan suatu
kesadaran bahwa anak-anak itu mempunyai banyak kemampuan,
potensi dan kemungkinan yang baik serta memiliki akal budi
dan tabiat moral.
Empat pola perilaku orang tua sebagaimana yang dikemukakan
oleh Bruce Narramore PhD tersebut di atas mungkin dapat
membantu kita dalam menghadapi dan memahami perilaku anak
remaja kita sehingga kita dapat menjadi orang tua yang
bijak, orang tua idaman bagi anak-anak kita, karena kita
mempunyai tanggungjawab atas perkembangan anak-anak kita
sebagaimana yang terungkap dalam Amsal 22:6: “Didiklah
orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada
masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan
itu”.
Mendisiplinkan anak memang diperlukan tetapi disiplin yang
kita terapkan janganlah otoriter ataupun sebagai orang tua
yang serba memperbolehkan. Anak-anak membutuhkan bimbingan
dan perbaikan dari orang tua, anak-anak memerlukan kasih
sayang, perhatian dan dukungan dalam pertumbuhannya, namun
anak-anak perlu pula dilatih untuk mandiri.
Agar ia dapat mandiri, anak perlu dilatih dan dibimbing
untuk berdisiplin agar ia kuat dan berhasil dalam
menghadapi kehidupan. Kedisiplinan yang diperlukan oleh
anak-anak dan remaja kita adalah kedisiplinan yang
berdasarkan kasih yang akan membantu mereka dalam
mengekang kelakuannya, karena anak pun harus belajar bahwa
mereka adalah makhluk sosial yang dalam berhubungan dengan
orang lain baik dalam lingkungan keluarga maupun dalam
lingkungan masyarakat, ada aturan main dan batasan-batasan
yang harus ditaati, yang pada akhirnya akan membangkitkan
rasa aman dan membantu mereka dalam membangun harkat dan
martabat diri mereka dengan sejahtera.
Dalam menanamkan disiplin, tata tertib dan kontrol diri,
semuanya itu didasarkan atas cinta kasih sebagaimana Tuhan
yang juga telah mengasihi kita. Peraturan yang dibuat
hendaklah dijalankan secara konsisten dan jelas namun
tetap menyadari bahwa setiap manusia sebagai ciptaan Allah
mempunyai pribadi yang unik, memiliki keterbatasan dan
potensi tersendiri yang perlu kita gali dan kembangkan
seoptimal mungkin. Apabila diperlukan tindakan disiplin
jelaskan alasannya dan apabila orang tua telah melakukan
kesalahan jangan ragu untuk meminta maaf, karena dengan
demikian anak akan belajar apa artinya meminta maaf dan
memberi maaf.
Akibat hukuman yang sering dijatuhkan terhadap anak oleh
orang tuanya yang otoriter serta kekangan yang mereka
terima dimasa kanak-kanak, mungkin tidak akan timbul
sebelum mereka memasuki masa remaja bahkan sebelum masa
pra remaja. Menurut para pakar psikologi, setiap ingatan
yang menyakitkan akan tersimpan di bawah sadar sehingga
tidak mungkin terlupakan. Di kemudian hari penumpukan
emosi yang tidak tersalurkan itu akan menimbulkan tekanan
yang besar sehingga menyebabkan penyakit, misalnya depresi
atau masalah lain. Untuk itu kita sebagai orang tua harus
berhati-hati terhadap perkembangan emosi anak-anak kita.
Pada saat anak-anak dihukum atau dikekang kebebasannya
secara ketat, maka mereka menerima saja hukuman dan
kekangan tersebut dan diam tidak memberikan perlawanan
karena mereka tidak berdaya, mereka hanya bisa menangis
dan memendam perasaannya di dalam diri mereka. Namun
ketika mereka memasuki masa remajanya persoalan akan
timbul, gejolak rasa benci yang selama bertahun-tahun
terpendam, kini terungkap dalam bentuk pembangkangan dan
pemberontakan serta sikap yang negatif terhadap kita atau
sebaliknya mereka akan tertutup disertai rasa takut dan
kawatir. Itulah juga sebabnya Rasul Paulus memberikan
nasehatnya dalam Efesus 6:4: “… janganlah bangkitkan
amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka
di dalam ajaran dan nasehat Tuhan”.
|
|
Komunikasi Dua Arah |
Mengasuh dan mendidik anak berarti kita juga harus mampu
untuk mendengarkan anak-anak dan remaja kita dengan penuh
perhatian yang menunjukkan simpati kita terhadap mereka,
berusaha untuk menemukan perilaku positifnya, menghargai
pemikiran dan perasaan mereka serta menunjukkan perhatian
kita terhadap minat mereka dengan memberikan arahan serta
komentar yang menyejukkan hati terhadap kemampuan yang
mereka miliki sehingga kita dapat kembangkan secara
optimal, yang pada akhirnya dapat memotivasi anak untuk
mencapai prestasinya tetapi bukan memaksakan keinginan
orang tua terhadap anaknya.
Di sinilah diperlukan komunikasi dua arah yang setara,
akrab dan terbuka serta menghindari berbagai hambatan
komunikasi seperti menuntut, mengancam, marah-marah,
merendahkan dan melecehkan. Hambatan dalam berkomukasi
akan membawa anak mencari solusi ke tempat pelarian yang
tidak semestinya.
Dari penelitian para pakar, mereka berkesimpulan, bahwa
salah satu penyebab penting yang membuat para remaja
terjebak dalam perkelahian, narkoba dan sex bebas, karena
mereka merasa tidak didengar dan dimengerti oleh orang
tuanya.
Orang tuanya jarang berkomunikasi dengan anak-anaknya
karena disibukkan oleh berbagai macam kegiatan, sangat
pasif terhadap anak-anaknya, kalaupun berbicara dengan
anaknya mereka sangat instruktif. Sehingga untuk
mengimbangi rasa bersalahnya itu tidak jarang orang tua
akhirnya memberikan kebebasan kepada anak-anaknya dan
mengikuti semua keinginan anak termasuk memberikan
kelimpahan materi. Padahal harus pula disadari bahwa tidak
semua keinginan anak harus dipenuhi karena sifat tidak
tega bukanlah cinta kasih melainkan egoisme orang tua.
Selaku orang tua, janganlah membiarkan ketidaknyamanan dan
emosi negatif muncul, karena hal ini akan menghambat kita
dalam membangun jembatan komukasi yang efektif.
Orang tua yang bijak tentunya mau mendengarkan anak-anak
mereka, bersikap empati terhadap mereka yaitu ikut
merasakan apa yang dirasakan oleh anak, menempatkan diri
kita dalam perspektif anak-anak kita, melihat dunia mereka
seperti yang mereka lihat, sehingga kita dapat memahami
masalah anak kita agar dapat memberikan arahan yang tepat
bagi mereka. Dengan demikian terciptalah suasana keluarga
yang penuh kasih dan menyenangkan sehingga anak-anak dapat
tumbuh dan berkembang kepribadiannya dengan orang tuanya
yang bertanggungjawab dalam memenuhi kebutuhan jasmani,
rohani dan emosional anak-anak.
Komunikasi yang setara juga akan menciptakan suasana
keterbukaan di dalam keluarga, sehingga masing-masing
anggota keluarga dapat berbagi kasih, kebahagiaan,
keberhasilan maupun keprihatinan bahkan dapat saling
menopang dalam menghadapi kegagalan. Arahkan juga
anak-anak untuk terbiasa membaca Alkitab sebagaimana surat
Rasul Paulus kepada Timotius yang tertulis di dalam 2
Timotius 3:15-16;
”Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal
Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun
engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.
Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat
untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk
memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam
kebenaran”.
Ajarkan juga anak-anak untuk bersaat teduh agar iman
mereka bertumbuh dan kuat sehingga mereka mengerti dan
dapat memilah-milahkan mana yang patut dan tidak patut
mereka lakukan sebagai anak-anak Tuhan, karena kita tidak
mungkin dapat mengontrol kehidupan mereka sepenuhnya. Di
sinilah arti pentingnya bersaat teduh, di mana terjadi
proses pembentukan iman dan nilai-nilai hidup kristiani.
Theodore Roosevelt mengatakan bahwa “pendidikan tanpa
pengarahan yang baik, sama halnya memberikan senjata
kepada orang yang tidak bertanggung jawab dan pengarahan
yang baik didapat dari Alkitab”.
Dengan mengarahkan anak-anak untuk membaca Alkitab dan
bersaat teduh berarti kita telah memberikan makanan bagi
jiwanya dan membangun karakternya, sehingga dari dalam
hatinya akan timbul ketaatan untuk senantiasa dekat dengan
Tuhan. Ajak juga mereka untuk berdoa bersama-sama dan
berikan kesempatan kepada mereka untuk memimpin dalam doa
keluarga, sehingga secara tidak langsung kita telah
menanamkan rasa percaya diri mereka dan anak-anak kita
dapat belajar untuk mengungkapkan isi hatinya kepada Bapa
Yang Maha Kasih. Kebutuhan jiwa dan rohani anak merupakan
tanggung jawab orang tua, sebab apa yang terjadi dalam
kehidupan anak di kemudian hari tidak terlepas dari
keadaan hidupnya di masa kecil. (ZI) |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|