|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Keluarga |
|
30 juni 2004
Menutup Pintu Perselisihan
Bersama Pasangan Tjuk Sumarsono |
|
|
Bertahun-tahun lamanya sejak kami menikah pada tahun 1971,
dalam kehidupan rumah tangga kami sering diwarnai
perselisihan. Walaupun saya sudah menerima Yesus dan hidup
sebagai orang kristiani, bahkan pasangan saya sudah
dibaptis sejak lahir, kami masih sering berselisih
pendapat dan kadang-kadang terjadi pertengkaran yang hebat.
Sering kali saya tidak dapat menghindari kondisi seperti
ini terjadi dan berlangsung tanpa saya sadari sepenuhnya.
Namun setelah kami mengalami proses belajar berdialog
suami-isteri dalam waktu yang cukup lama, maka kami mulai
memahami arti perselisihan dan bagaimana menepisnya.
Perselisihan sangat identik dengan percekcokan,
pertengkaran, ketidak sepakatan yang dapat berlanjut
semakin memanas sehingga terjadi argumentasi yang
berkepanjangan, dan seterusnya timbul amarah dan saling
mendendam. Kalau kondisi seperti ini terus berlangsung,
maka tidak ayal lagi akan terjadi sesuatu tindak kekerasan,
pertikaian yang menyakitkan hati masing-masing dan pada
titik akhir terjadi perceraian.
Banyak sekali keluarga berantakan dan mengalami kehancuran
total akibat perselisihan yang tidak terkendali. Mereka
tidak menghiraukan dampak buruk yang menimpa anak-anak
mereka, bahkan tidak lagi mau mengenali dan mencari akar
permasalahannya, namun dengan diliputi kesombongan,
kebencian dan kemarahan dalam ego mereka masing-masing,
mereka tidak dapat berpikir positif, sekalipun orang lain,
bahkan seorang pendeta telah menasehati mereka.
Pada suatu malam, saya terlibat dalam suatu perdebatan
sengit dengan pasangan. Pada awalnya perdebatan itu
biasa-biasa saja, akan tetapi lama-kelamaan semakin
memanas dan terjadi pertengkaran yang memuncak. Malam itu
saya tidur seperti biasa, namun pada tengah malam saya
terbangun, langsung sikat gigi, cuci muka dan membuka
Alkitab.
Roh Kudus mengingatkan pada saya melalui pembacaan Firman
Tuhan dari Efesus 4:26 yang mengatakan demikian: “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa; janganlah
matahari terbenam, sebelum padam amarahmu”.
Dengan membaca firman Tuhan itu saya tahu apa yang harus
saya lakukan, tetapi sikap keras kepala, gengsi dan
kesombongan yang ada dalam diri saya mengalahkan akal-budi
saya untuk tidak berbuat demikian. Dalam diri saya terjadi
kontradiktif antara hati dan pikiran.sehingga malam itu
saya tidak bisa tidur sampai menjelang pagi.
Beberapa hari kemudian saya membaca sebuah renungan yang
menggunakan ayat emas dari Yakobus 3:16 yang mengatakan
demikian: “Sebab di mana ada iri hati dan kamu
mementingkan diri sendiri, janganlah kamu memegahkan diri
dan janganlah berdusta melawan kebenaran“.
Renungan itu membangkitkan jiwa serta menyatukan kembali
hati dan pikiran saya, sehingga tergeraklah akal-budi saya
untuk berniat ingin menyelesaikan segala perselisihan
bersama pasangan. Ini adalah suatu kebenaran yang luar
biasa dan saya merasa menyesal tidak segera menyelesaikan
perselisihan itu. Dalam renungan itu mengatakan bahwa
jikalau kita dapat menyingkirkan perselisihan atau
pertengkaran dalam kehidupan rumah tangga kita, maka
masalah-masalah lain seperti kebingungan, kekuatiran dan
ketakutan dengan sendirinya akan tersingkir.
Demikian pula dampak perselisihan orang tua ditambah pula
dengan suasana rumah tangga yang penuh kemarahan dan
perdendaman dapat membuahkan pemberontakan bagi anak-anak
kita. Apabila pemberontakan itu berlangsung dalam waktu
cukup lama, mereka akan melakukan perbuatan tercela,
penggunaan obat-obat terlarang, bahkan perbuatan kriminal
dapat pula menimpa diri anak-anak kita.
Ketika relasi saya dengan Tuhan mulai bertumbuh, maka saya
mulai merindukan kedamaian dan ingin mengetahui bagaimana
mengabadikan kedamaian itu dalam kehidupan rumah tangga
saya. Saya berusaha untuk menemu-kenali serta mencari akar
permasalahan tentang perselisihan dan dampaknya yang
sangat berbahaya itu.
Mazmur 34:14 mengatakan: “Jagalah lidahmu terhadap yang
jahat dan bibirmu terhadap ucapan-acapan yang menipu“ yang dilengkapi oleh Matius 5:9
“Berbahagialah orang yang
membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak
Allah“, ternyata ayat-ayat tersebut lebih menguatkan tekad
saya untuk menyelesaikan perselisihan bersama pasangan.
Untuk mengantisipasi agar tidak terjadi perselisihan,
Joyce Meyer dalam bukunya “Hidup tanpa perselisihan”,
menyarankan agar kita waspada dengan 3 pintu yang sering
terbuka yang menimbulkan perselisihan, yaitu: pintu bibir
kita, pintu kesombongan dan pintu perdebatan. Marilah kita
mengunci ketiga pintu itu rapat-rapat agar “perselisihan”
tidak dapat masuk dan mengganggu kedamaian keluarga kita.
|
|
Pintu Bibir |
Bibir atau mulut kita perlu dijaga, karena kata-kata yang
salah atau diucapkan pada waktu yang tidak tepat akan
menyulut api perselisihan. Semakin banyak kata-kata yang
minir, maka api itu akan semakin menyala berkobar-kobar.
“Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan
dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita
sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan
menyalakan roda kehidupan kita, sedangkan ia sendiri
dinyalakan oleh api neraka” Yakobus 3:6.
Salah satu upaya untuk mencegah terjadi kobaran api itu,
maka saya memindahkan jauh-jauh bahan-bahan yang mudah
terbakar dan berhenti menuangkannya. Namun kadang-kadang
bahan bakar pengganti muncul lagi tanpa saya ketahui dan
sadari dari mana asalnya. Oleh karena itu saya selalu
ingat nasehat Amsal 15:1 yaitu: “Jawaban yang lemah lembut
meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas
membangkitkan amarah”
Lidah yang lembut rupanya mempunyai kuasa untuk
menyembuhkan dan jawaban yang lemah lembut membawa
kedamaian di tengah-tengah amarah. Kadang-kadang kita lupa
akan Firman Tuhan, dari Yakobus 1:19 “Hai saudara-saudara
yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah
cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata
dan lambat untuk marah”.
Tentu saja Tuhan menciptakan manusia dilengkapi dengan dua
telinga untuk lebih dapat mendengarkan dan Tuhan memberi
kita satu mulut untuk tidak banyak bicara sebelum
mendengarkan dengan cermat.
Kita perlu waspada begitu melihat ada gelagat
“perselisihan” di ambang pintu, kita segera menjaga bibir
dan bersikap hati-hati dengan perkataan kita. Dalam
keadaan seperti ini perlu disadari adanya dampak buruk
dari intonasi suara yang keras dan bahasa tubuh yang
menyeramkan, agar kita dapat mencegah secara dini sikap
keras kepala dan menuruti kehendak sendiri.
Jangan sampai kita membiarkan iblis membukakan pintu
“perselisihan” masuk melalui bibir kita dan menghancurkan
kebahagiaan pasangan suami-isteri, bahkan keluarga kita. |
|
Pintu Kesombongan |
Terlalu percaya diri merupakan suatu sikap yang mengarah
pada kesombongan. Saya memiliki latar belakang sebagai
Marketer (orang Pemasaran) yang dididik dan dilatih untuk
percaya diri dan dituntut dapat meyakinkan orang lain apa
yang kita tawarkan dan selanjutnya tawaran itu dapat
ditanamkan dalam benak pelanggan.
Saya pikir hal itu terbawa dalam kehidupan saya dengan
pasangan. Sikap seperti itu secara tidak sadar dapat
membuka peluang masuknya perselisihan. Karena ada
keinginan untuk meyakinkan bahwa pemikiran saya yang
paling benar dan harus ditanamkan dalam benak pasangan.
Oleh karena itu dalam kondisi seperti itu, saya perlu
sedikit undur, berdiam diri dan percaya bahwa hanya Allah
yang akan membereskan ketegangan ini.
Saya mempunyai saudara sepupu yang sangat dominan terhadap
suami dan keluarganya, karena diliputi kesombongan dan
kebanggaan akan dirinya yang sukses dalam karier dan
materi yang berlimpah-ruah, sehingga apa yang dikatakannya
harus dituruti dan dipatuhi oleh suami dan keluarganya.
Dalam situasi seperti itu, suami merasa tidak memperoleh
rasa hormat dari isterinya dan timbul tekanan-tekanan
dalam batinnya. Mula-mula timbul api dalam sekam, kemudian
berkobar dan terus berkobar sampai membakar seluruh
kehidupan rumah tangga mereka. Perceraian di antara mereka
tidak dapat dihindarkan.
Dalam hal menjaga pintu kesombongan”, kita perlu
merenungkan nasehat Firman Tuhan dari Amsal 13:10 yang
mengatakan: “Kepongahan dan keangkuhan hanya menimbulkan
pertengkaran, tetapi mereka yang mendengarkan nasehat itu
mempunyai pengetahuan dan hikmat”. Kesombongan tidak akan
membawa kita pada kemenangan, seperti yang dikatakan dalam
Amsal 16:18 “Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi
hati mendahului kejatuhan”.
Tanpa kerendahan hati, maka tidak akan ada harapan untuk
sebuah kedamaian. Oleh karena itu banyak pasangan yang
akhirnya bercerai gara-gara masing-masing pihak tidak
dapat mengatakan: “Maafkan saya” atau “Sorry ya, saya yang
bersalah”. Mereka saling mempertahankan kebenaran
masing-masing dan enggan mengaku salah.
Memang manusia memiliki sifat bawaan yaitu egois, mau
menangnya sendiri namun di sisi lain juga tidak mau
mengampuni, bahkan cenderung menghakimi. Kita perlu
meninggalkan itu semua dan bertumbuh dengan paradigma baru
yaitu kebersamaan. Oleh karena itu dalam tulisan ini
berjudul “Menutup Pintu Perselisihan Bersama Pasangan”.
Berarti salah satu pihak tidak dapat menyelesaikan
perselisihan tanpa ada kebersamaan. |
|
Pintu Perdebatan |
|
Perdebatan merupakan akar dari perselisihan dan perdebatan
bukanlah diskusi untuk memecahkan persoalan tetapi juga
bukan dialog yang saling membagi perasaan. Perdebatan
dilandasi saling berbantahan dan selalu mempertahankan
argumentasi yang belum tentu benar.
Dalam kehidupan gerejapun, orang Kristen sering terjebak
dalam perselisihan melalui perdebatan-perdebatan.
Seseorang atau sekelompok memikirkan suatu hal, sedangkan
yang lain meyakini sebaliknya. Mereka saling mencoba
meyakinkan dan mempertahankan opini mereka masing-masing
tanpa ada yang mau mengalah dan tidak mau memperhatikan
aspirasi orang lain.
Demikian pula dalam kehidupan pasangan suami-isteri,
mereka lebih mementingkan perdebatan dari pada berdialog
yang saling membagi perasaan, baik kesedihan maupun
kebahagiaan. Pasangan suami-isteri hendaklah memiliki
kasih yang terbuka, saling menerima dan melihat kritik itu
dengan jujur serta memberikan koreksi dengan penuh kasih,
bukan dengan celaan dan cercaan.
Perselisihan atau konflik dapat saja melanda setiap
pasangan, namun dalam suatu pernikahan yang sehat, bila
terjadi perselisihan, maka baik di dalam diri suami maupun
isteri segera timbul perasaan menyesal yang mendalam.
Mereka segera menyadari bahwa suami-isteri merupakan satu
tubuh yang tak terpisahkan dan bila terjadi sesuatu akan
merusak kesatuan pernikahan itu.
Hal ini sejalan dengan Tommy Nelson dalam bukunya yang
berjudul “The Book of Romance”, menyatakan bahwa setiap
pasangan perlu mengerti dan menghayati bahwa: siapa yang
benar atau siapa yang salah adalah tidak penting dalam
suatu pernikahan dan hal itu tidak pernah lebih penting
bila dibandingkan dengan kesatuan dan kasih dari suatu
keintiman suami-isteri. Kalau salah satu di antara
pasangan suami-isteri selalu menuntut hak-haknya, dia
justru sedang merusak keharmonisan dan kebahagiaan serta
kasih dari keluarganya.
Saya yakin bahwa setiap pasangan kristiani pasti
mengetahui Firman Tuhan dari Efesus 5:22-25, tetapi belum
tentu semua memahami dan menghayati makna Firman ini: “Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan,
karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus
adalah kepala jemaat. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk
kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami. Hai
suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah
mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya”.
Kita sebagai suami atau isteri sering memenggal bunyi
Firman itu, sehingga tidak menjadi satu kesatuan makna
yang utuh, untuk pembenaran diri sendiri. Suami menuntut
pasangannya tunduk kepadanya, namun mengabaikan
kewajibannya untuk mengasihi isterinya dan enggan
melakukan keteladanan Kristus. Akan tetapi sebaliknya
isteri juga menuntut pasangan untuk mengasihinya, tanpa
memperhatikan kewajiban untuk tunduk kepada suami sebagai
kepala keluarga, bahkan sering terjadi isteri ingin
berperan menjadi “kepala” keluarga, seperti dalam kasus
saudara sepupu saya di atas.
Untuk mengakhiri refleksi kita ini, marilah kita simak
penegasan John Eldredge dalam bukunya Wild at Heart,:
“Laki-laki selalu ingin menjadi pahlawan di mata perempuan
yang dikasihinya”. Pernyataan itu sejalan dengan Firman
Tuhan dalam Efesus 5:33 yang memerintahkan kepada suami
untuk mengasihi isterinya seperti dirinya sendiri dan
isteri hendaklah menghormati suaminya.
Sudahkah kita sebagai pasangan suami-isteri memberlakukan
Firman tersebut dalam kehidupan sehari-hari?
|
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|