|
Pada tanggal 15 Mei 2004, Sub Komisi Pasutri mengadakan
Couple’s Power Series bagi para Pasutri dengan tema:
“Managing Conflict for Couple” oleh Pdt, Samuel Santoso
sebagai Nara Sumber, di Ruang Pertemuan, lantai 3 GKI
Pondok Indah.
Pasutri Parlin–Mega sebagai PIC
penyelenggaraan acara ini menyatakan sukses, karena
Pasutri yang hadir sebanyak 70 pasang, baik yang sudah
mengikuti Retret maupun yang belum dan dari hasil
pencatatan panitia melalui kuesioner, ternyata 95%
menyatakan puas dan bersedia mengikuti Couple’s Power
Series yang akan datang. Acara ini dibuka tepat jam 17.00
dan diawali sharing oleh Pasutri Rudi–Mieke selaku MC.
Dari awal, Pdt Samuel Santoso menyatakan bahwa manusia itu
pada umumnya memiliki perbedaan, baik phisik, pikiran,
pandangan, sifat, maupun perilaku. Oleh karena itu potensi
adanya konflik terbuka bagi siapa saja yang melakukan
interaksi dan komunikasi, demikian pula Pasangan
Suami-isteri. Kemudian pembicara menjelaskan Norma
Teologis yang dipergunakan untuk pendekatan mengupas
tuntas masalah konflik dalam tubuh Pasutri Kristiani,
yaitu ada 5 hal yang esensial sebagai berikut:
1. Perkawinan Kristiani adalah perkawinan yang dirancang
oleh dan menjadi karya Tuhan dan bukan sekadar sebuah
gejala sosio-antropologis saja. Hal ini dapat disimak
dalam Kejadian 2:18-25 dan Matius 19:5-6. Perkawinan
Kristiani secara kasat mata memang pilihan dari sepasang
lelaki-permpuan. Akan tetapi pilihan yang kasat mata ini
sebenarnya adalah tanggapan (baca: pengaminan) manusia
terhadap rancangan dan karya Tuhan sendiri bagi
kehidupannya.
2. Tuhan sendiri yang merancang pola relasi atau pola
kehidupan orang yang mengimaninya. Pola relasi yang
menjadi pola kehidupan manusia Kristen adalah pola
segitiga sama sisi seperti gambar di bawah ini, yang
mendasarkan dari Matius 22:37-39. Keseimbangan ini
menjamin kesejahteraan hidup orang yang beriman kepada
Kristus dalam segala segi dan aspek kehidupan mereka.
Masing-masing pihak dalam segitiga ini bersikap membuka
diri secara positif dan pro-aktif
3. AGAPE – kasih yang berkorban (Yohanes 15:13) menjadi
warna utama dari relasi yang terjadi di antara ketiga
pihak ini. Dari pihak Allah sudah jelas teruji dan hal ini
bisa menjadi inspirasi atau sumber tempat manusia bisa
menimba kasih yang agung untuk di-share. Memang ada PHILIA,
STORGE, dan EROS juga dalam hubungan antara suami-isteri
tetapi ketiganya harus dikuasai dan dipengaruhi oleh
AGAPE. Mengejawantahkan AGAPE harus menjadi prioritas
utama Pasutri Kristiani.
4. Ada upaya optimal untuk mewujudkan hal-hal yang secara
manusiawi ideal tersebut di atas. Idealisme itu tanpa
melupakan realitas bahwa yang mesti menjalankan tetap
manusia dengan segala sisi minusnya. Rasul Paulus dengan
tepat menggambarkan dinamika ideal dan realistik ini dalam
Filipi 3:10-14 yang baik. Yang menyatakan kasih secara
maksimal adalah Tuhan Yesus saja, sedangkan kita punya
kecenderungan menjadi minimalis yang egois, manun yang
diharapkan oleh Tuhan adalah TELEOS – sejauh-jauhnya.
Dengan demikian beban mental dikurangi sebanyak-banyaknya
dan orang bisa berusaha dengan lega dan pasti digenapi
karena Tuhan sendiri yang menyempurnakannya.
5. Dalam kehidupan orang Kristern – tidak terkecuali hidup
berkeluarganya – ada dimensi lain yang diberikan oleh
Tuhan. Dimensi itu adalah dimensi’menyangkal diri’ dan
‘memikul salib’ setiap hari (Lukas 9:23).
Dalam kaitannya dengan KONFLIK, Pdt. Samuel Santoso
menegaskan, bahwa konflik pada dasarnya netral dan alamiah
karena sesungguhnya tidak ada dua orang yang sama di dunia
ini. Perbedaan dalam pelbagai aspek dan segi potensial
menimbulkan konflik. Paling tidak ada tiga nilai dari
konflik, yakni:
1. Konflik menunjukkan interdependensi. Pihak yang
terlibat konflik menyatakan saling-ketergantungan. Banyak
pasangan yang merasa semakin dekat satu sama lain justru
sesudah mengalami sendiri konflik yang dikelola dengan
baik.
2. Konflik menjadi pertanda kebutuhan suatu perubahan.
Konflik harus menjadi sebuah kesempatan untuk lebih saling
beradaptasi dan mendorong kreativitas sehingga perubahan
yang terjadi positif dan bersifat membangun.
3. Konflik juga menolong mendiagnosa masalah dan dengan
demikian juga mendorong munculnya ke permukaan kebutuhan
dan harapan bersama secara lebih jelas.
Secara gamblang, Pdt. Samuel Santoso menggambarkan dengan
berbagai contoh kehidupan suami-isteri tentang banyak hal
yang dapat menolong dan yang tidak dapat menolong
penyelesaian konflik, dan di sini kami tuliskan intinya
sebagai berikut:
1. Kita tidak akan terjebak dalam konflik bila kita
memusatkan pada topik pembicaraan jelas dan konkret, namun
sebaliknya bila kita tetap bertahan pada pendapat sendiri
saja dan menganggapnya sebagai satu-satunya kebenaran,
maka akan timbul konflik.
2. Harus bersikap sabar akan menolong penye-lesaian
konflik, namun bila kita tidak siap untuk mengakui bahwa
pihak lain ternyata benar, maka konflik itu tidak dapat
diselesaikan secara baik.
3. Menyimak dengan seksama baik ungkap-an lisan, maupun
dengan Body Language akan lebih baik dalam mengantisipasi
terjadinya konflik, tetapi sebaliknya bila kita selalu
menginterupsi akan terjadi potensi adanya konflik lebih
besar.
4. Menghargai pendapat pihak lain, ini berarti dapat
menghargai lawan bicara kita untuk memperkecil terjadinya
konflik dan harus dapat menghindari untuk tidak berebut
bicara pada saat yang sama dan ingin mendominasi
percakapan.
5. Apabila kita dapat membuka keluhan dan masalah dengan
jelas, pasti orang lain atau pasangan kita mengerti secara
lebih jelas dan jangan sampai dalam menyampaikan masalah
dengan panjang-lebar, berputar kesana-kemari yang
mengaburkan masalah dengan sasaran yang tidak jelas.
6. Dalam diri kita memiliki komitmen dan berniat untuk
mencapai kesepakatan. Apabila tidak, akan terjadi hal-hal
yang lebih mengundang masalah menjadi lebih besar, yaitu
dengan berteriak, marah-marah, berkata kasar, membanting
barang, bahkan akan terjadi sesuatu yang lebih fatal bila
disertai dengan ancaman.
7. Dalam tahap yang lebih serius, kita perlu memusatkan
perhatian pada apa yang telah disetujui bersama, tetapi
jangan terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan yang
sebenarnya belum ada kesepakatan bersama.
8. Apabila dalam pasangan suami-isteri sudah memiliki
suatu nilai-nilai yang sudah ditetapkan untuk dicapai
bersama pasangan, maka kita perlu konsisten untuk
memusatkan perhatian pada apa yang kita harapkan bersama.
Jangan sekali-kali memaksakan kehendak kepada pasangan dan
keluar dari nilai-nilai yang kita sepakati bersama.
9. Yang terakhir, kita harus dapat menerina sumbangan
pemikiran untuk menyelesaikan masalah dan siap memaafkan
pasangan atau kalau perlu bahkan mengubah sikap diri
sendiri ke arah yang lebih positif. Jangan berlaku egois.
Dengan gaya humoris, Pdt. Samuel Santoso menutup
pembicaraannya dengan menyarankan agar Pasutri dapat
menemu-kenali diri yang berbeda dengan pasangannya tentang
kepribadian, Budaya dan Nilai-nilai serta harapan atau
idealisme masing-masing pribadi untuk direfleksikan
bersama pasangan.
|