Keluarga
29 Juni 2004
Managing Conflict For Couple
Pasutri Tjuk - Maureen

Pada tanggal 15 Mei 2004, Sub Komisi Pasutri mengadakan Couple’s Power Series bagi para Pasutri dengan tema: “Managing Conflict for Couple” oleh Pdt, Samuel Santoso sebagai Nara Sumber, di Ruang Pertemuan, lantai 3 GKI Pondok Indah.

Pasutri Parlin–Mega sebagai PIC penyelenggaraan acara ini menyatakan sukses, karena Pasutri yang hadir sebanyak 70 pasang, baik yang sudah mengikuti Retret maupun yang belum dan dari hasil pencatatan panitia melalui kuesioner, ternyata 95% menyatakan puas dan bersedia mengikuti Couple’s Power Series yang akan datang. Acara ini dibuka tepat jam 17.00 dan diawali sharing oleh Pasutri Rudi–Mieke selaku MC.

Dari awal, Pdt Samuel Santoso menyatakan bahwa manusia itu pada umumnya memiliki perbedaan, baik phisik, pikiran, pandangan, sifat, maupun perilaku. Oleh karena itu potensi adanya konflik terbuka bagi siapa saja yang melakukan interaksi dan komunikasi, demikian pula Pasangan Suami-isteri. Kemudian pembicara menjelaskan Norma Teologis yang dipergunakan untuk pendekatan mengupas tuntas masalah konflik dalam tubuh Pasutri Kristiani, yaitu ada 5 hal yang esensial sebagai berikut:

    1. Perkawinan Kristiani adalah perkawinan yang dirancang oleh dan menjadi karya Tuhan dan bukan sekadar sebuah gejala sosio-antropologis saja. Hal ini dapat disimak dalam Kejadian 2:18-25 dan Matius 19:5-6. Perkawinan Kristiani secara kasat mata memang pilihan dari sepasang lelaki-permpuan. Akan tetapi pilihan yang kasat mata ini sebenarnya adalah tanggapan (baca: pengaminan) manusia terhadap rancangan dan karya Tuhan sendiri bagi kehidupannya.

    2. Tuhan sendiri yang merancang pola relasi atau pola kehidupan orang yang mengimaninya. Pola relasi yang menjadi pola kehidupan manusia Kristen adalah pola segitiga sama sisi seperti gambar di bawah ini, yang mendasarkan dari Matius 22:37-39. Keseimbangan ini menjamin kesejahteraan hidup orang yang beriman kepada Kristus dalam segala segi dan aspek kehidupan mereka. Masing-masing pihak dalam segitiga ini bersikap membuka diri secara positif dan pro-aktif

    3. AGAPE – kasih yang berkorban (Yohanes 15:13) menjadi warna utama dari relasi yang terjadi di antara ketiga pihak ini. Dari pihak Allah sudah jelas teruji dan hal ini bisa menjadi inspirasi atau sumber tempat manusia bisa menimba kasih yang agung untuk di-share. Memang ada PHILIA, STORGE, dan EROS juga dalam hubungan antara suami-isteri tetapi ketiganya harus dikuasai dan dipengaruhi oleh AGAPE. Mengejawantahkan AGAPE harus menjadi prioritas utama Pasutri Kristiani.

    4. Ada upaya optimal untuk mewujudkan hal-hal yang secara manusiawi ideal tersebut di atas. Idealisme itu tanpa melupakan realitas bahwa yang mesti menjalankan tetap manusia dengan segala sisi minusnya. Rasul Paulus dengan tepat menggambarkan dinamika ideal dan realistik ini dalam Filipi 3:10-14 yang baik. Yang menyatakan kasih secara maksimal adalah Tuhan Yesus saja, sedangkan kita punya kecenderungan menjadi minimalis yang egois, manun yang diharapkan oleh Tuhan adalah TELEOS – sejauh-jauhnya. Dengan demikian beban mental dikurangi sebanyak-banyaknya dan orang bisa berusaha dengan lega dan pasti digenapi karena Tuhan sendiri yang menyempurnakannya.

    5. Dalam kehidupan orang Kristern – tidak terkecuali hidup berkeluarganya – ada dimensi lain yang diberikan oleh Tuhan. Dimensi itu adalah dimensi’menyangkal diri’ dan ‘memikul salib’ setiap hari (Lukas 9:23).

Dalam kaitannya dengan KONFLIK, Pdt. Samuel Santoso menegaskan, bahwa konflik pada dasarnya netral dan alamiah karena sesungguhnya tidak ada dua orang yang sama di dunia ini. Perbedaan dalam pelbagai aspek dan segi potensial menimbulkan konflik. Paling tidak ada tiga nilai dari konflik, yakni:

    1. Konflik menunjukkan interdependensi. Pihak yang terlibat konflik menyatakan saling-ketergantungan. Banyak pasangan yang merasa semakin dekat satu sama lain justru sesudah mengalami sendiri konflik yang dikelola dengan baik.

    2. Konflik menjadi pertanda kebutuhan suatu perubahan. Konflik harus menjadi sebuah kesempatan untuk lebih saling beradaptasi dan mendorong kreativitas sehingga perubahan yang terjadi positif dan bersifat membangun.

    3. Konflik juga menolong mendiagnosa masalah dan dengan demikian juga mendorong munculnya ke permukaan kebutuhan dan harapan bersama secara lebih jelas.

Secara gamblang, Pdt. Samuel Santoso menggambarkan dengan berbagai contoh kehidupan suami-isteri tentang banyak hal yang dapat menolong dan yang tidak dapat menolong penyelesaian konflik, dan di sini kami tuliskan intinya sebagai berikut:

    1. Kita tidak akan terjebak dalam konflik bila kita memusatkan pada topik pembicaraan jelas dan konkret, namun sebaliknya bila kita tetap bertahan pada pendapat sendiri saja dan menganggapnya sebagai satu-satunya kebenaran, maka akan timbul konflik.

    2. Harus bersikap sabar akan menolong penye-lesaian konflik, namun bila kita tidak siap untuk mengakui bahwa pihak lain ternyata benar, maka konflik itu tidak dapat diselesaikan secara baik.

    3. Menyimak dengan seksama baik ungkap-an lisan, maupun dengan Body Language akan lebih baik dalam mengantisipasi terjadinya konflik, tetapi sebaliknya bila kita selalu menginterupsi akan terjadi potensi adanya konflik lebih besar.

    4. Menghargai pendapat pihak lain, ini berarti dapat menghargai lawan bicara kita untuk memperkecil terjadinya konflik dan harus dapat menghindari untuk tidak berebut bicara pada saat yang sama dan ingin mendominasi percakapan.

    5. Apabila kita dapat membuka keluhan dan masalah dengan jelas, pasti orang lain atau pasangan kita mengerti secara lebih jelas dan jangan sampai dalam menyampaikan masalah dengan panjang-lebar, berputar kesana-kemari yang mengaburkan masalah dengan sasaran yang tidak jelas.

    6. Dalam diri kita memiliki komitmen dan berniat untuk mencapai kesepakatan. Apabila tidak, akan terjadi hal-hal yang lebih mengundang masalah menjadi lebih besar, yaitu dengan berteriak, marah-marah, berkata kasar, membanting barang, bahkan akan terjadi sesuatu yang lebih fatal bila disertai dengan ancaman.

    7. Dalam tahap yang lebih serius, kita perlu memusatkan perhatian pada apa yang telah disetujui bersama, tetapi jangan terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan yang sebenarnya belum ada kesepakatan bersama.

    8. Apabila dalam pasangan suami-isteri sudah memiliki suatu nilai-nilai yang sudah ditetapkan untuk dicapai bersama pasangan, maka kita perlu konsisten untuk memusatkan perhatian pada apa yang kita harapkan bersama. Jangan sekali-kali memaksakan kehendak kepada pasangan dan keluar dari nilai-nilai yang kita sepakati bersama.

    9. Yang terakhir, kita harus dapat menerina sumbangan pemikiran untuk menyelesaikan masalah dan siap memaafkan pasangan atau kalau perlu bahkan mengubah sikap diri sendiri ke arah yang lebih positif. Jangan berlaku egois.

Dengan gaya humoris, Pdt. Samuel Santoso menutup pembicaraannya dengan menyarankan agar Pasutri dapat menemu-kenali diri yang berbeda dengan pasangannya tentang kepribadian, Budaya dan Nilai-nilai serta harapan atau idealisme masing-masing pribadi untuk direfleksikan bersama pasangan.


DATA PRIBADI NARA SUMBER
Nama: Samuel Santoso
A l a m a t: Taman Meruya Ilir D.12 No. 57 Jakarta 11620
Pendidikan:

  1. S.1 – Sekolah Tinggi Theologia Duta Wacana 1972
  2. S.2 – Graduate School of Theology, Association of Theological Seminary in South East Asia 1991
  3. Bidang Studi Biblika Perjanjian Lama

Pelayanan: Pendeta Jemaat GKI Kedoya, Jakarta
Hobby: Pecinta Keluarga

 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003