|
Sub Komisi Pasutri, GKI Pondok Indah melakukan pembinaan
Pasutri bagi para jemaat secara berkesinambungan, baik
melalui Retret, maupun Seminar Sehari. Beberapa waktu lalu,
tepatnya tanggal 27 Maret 2004, Sub Komisi ini
menyelenggarakan acara “Couple’s Day Out” di Country Club
Cinere dengan pembicara tunggal Pdt. Paulus Kurnia yang
mendapat sambutan baik dan penuh antusias dari para
peserta yang jumlahnya 59 pasang.
Pada acara tersebut Pdt. Paulus memberikan topik bahasan
“Spiritual Intimacy” atau Keakraban Spritual” bagi Pasutri
dan diawali dengan menekankan bahwa setiap pasangan
suami-isteri Kristen pasti merindukan kehidupan perkawinan
yang berhasil untuk selamanya. Namun ternyata, “Bad things
could happen to good Christian marriages”.
Dengan kenyataan inilah Pdt. Paulus Kurnia menyatakan agar
Pasutri perlu membangun landasan yang kokoh, yaitu
Keakraban Spiritual dalam kehidupan mereka. Dikemukakan
pula ungkapan Eric Zorn sebagai berikut: “Kita berjanji
untuk mempertahankan kebersamaan kita, bukan karena kita
berpikir bahwa di antara kita takkan pernah berubah,
melainkan justru karena kita tahu segalanya akan berubah”.
Perubahan dalam kehidupan perkawinan kita rawan terhadap
berbagai persoalan pelik. Para peserta memberikan
tanggapaan tentang perubahan tersebut, antara lain: karena
kehadiran anak-anak, kehadiran anak menantu yang tinggal
serumah dengan mertua, campur tangan mertua yang terlalu
dominan, masalah krisis ekonomi yang melanda kehidupan
suami-isteri, atau kehadiran orang ke-tiga (WIL/PIL) yang
mengganggu keintiman mereka dan masih banyak lagi yang
diungkapkan oleh para peserta.
Pdt. Paulus Kurnia menambahkan bahwa banyak terjadi
peristiwa-peristiwa nyata yang diungkapkan oleh berbagai
pasangan dalam konsultasi, antara lain sebagai berikut:
- PERUBAHAN: “Saya terkejut melihat sifat-sifat aneh
suami saya – yang tidak pernah saya lihat semasa kami
pacaran dulu. Padahal kami pacaran 6 tahun lamanya. Saya
tidak tahan akan situasi seperti ini, lebih-lebih setelah
si Angel lahir 5 tahun yang lalu. Saya muak terhadap suami
saya”.
- UANG DAN KARIER: “Sudah lama saya memendam perasaan
marah pada Nancy. Saya hanya meminta agar dia menghormati
saya dan tidak bertindak kasar, lainnya tidak! Saya tidak
ingin mendengar ucapannya lagi bahwa hidup saya hanya
‘mendompleng’ padanya. Memang saya akui bahwa income dia
lebih besar daripada pendapatan saya”.
- KOMUNIKASI: “Saya memilih diam daripada konflik melulu
dengan Siane. Itu tidak terjadi masalah sampai akhirnya
kami ribut besar setelah menikah 25 tahun. Saya malu akan
hal ini, apalagi bila anak-anak kami yang sudah masuk di
perguruan tinggi mengerti persoalan kami”.
- SEKSUALITAS: “Kami sering ribut, kami telah memutuskan
untuk mengurus persoalan masing-masing. Dalam hal hubungan
intim, saya sering merasa kurang comfortable, sedangkan
dia selalu berejakulasi dini. Sudah 3 tahun terakhir ini
kehidupan seks kami tidak sukses”
- SPIRITUALITAS: “Papie, papie. Kok papie sudah tidur sih.
Kita kan belum berdoa. Ayo dong papie, kita berdoa”.
- EMPTY NEST: “Hidup pernikahan kami memuaskan. Semua
anak kami telah berkeluarga. Kami tinggal berdua saja.
Aktivitas kami hanyalah menikmati hidup di masa pensiun.
Tidak ada kegiatan lain. Melayani di gereja juga sudah
ketuaan. Siapa yang mau pakai? Minggu depan kami mau ke
LA”.
Dari kisah-kisah di atas terungkap bahwa banyak hal-hal
yang menjadikan kehidupan suami-isteri tidak mulus. Adakah
perkawinan kita bebas dari masalah, walaupun nampaknya
kita telah memiliki keahlian-keahlian dalam menyelesaikan
persoalan? Itu belum menjamin.
Kita berpikir bahwa persoalan-persoalan perkawinan bisa
diselesaikan semata-mata berkat beberapa cara yang telah
kita kuasai, seperti money talk, keterampilan
berkomunikasi, manajemen konflik, manajemen stress dan
manajemen kemarahan. Sekali lagi jawabannya adalah ‘belum
menjamin’.
Ataukah kita bisa mengatasi dan menyelesaikan masalah
perkawinan dengan cara-cara: berpisah untuk sementara,
menggunakan ilmu psikologi dalam perkawinan dan terapi
keluarga atau dengan mengikuti Family Enrichment? Apakah
cara-cara di atas dapat dijadikan faktor utama suksesnya
penyelesaian persoalan keluarga? Pdt. Paulus Kurnia
menegaskan bahwa cara-cara itu bukan menjadi faktor utama
dan belum sepenuhnya menjamin penyelesaian.
Tetapi bila setiap pasangan sudah dapat mengembangkan
“KEAKRABAN” atau “INTIMACY” dalam kehidupan perkawinan
yang dimulai dari awal bepacaran atau pertunangan, tentu
saja akan lebih mulus dan berhasil sampai kematian
memisahkan kita.
Menurut Pdt. Paulus Kurnia ada 5 ‘jendela’ untuk mencapai
keakraban suami-isteri, yaitu:
- Keakraban Intelektual: Bila pasangan suami-isteri
memiliki kesamaan dan kecocokan intelektual, mereka akan
memiliki relasi yang akrab satu dengan yang lain.
- Keakraban Rekreasional: Memiliki kesamaan dalam
melakukan kegiatan rekreasi atau hobby, akan lebih
menambah kedekatan dan keakraban di antara mereka.
- Keakraban Sosial: Memiliki tingkat dan kegiatan sosial
yang sama
- Keakraban Seksual: Memiliki kecocokan dalan melakukan
kegiatan seksual dengan dasar saling membahagiakan.
- Keakraban Spiritual (Rohani): Keakraban suami-iteri
yang berlandaskan pada perjanjian tiga pihak, yaitu: suami,
isteri dan Tuhan. Kerohanian kristiani mengajarkan bahwa
Tuhan Yesus sebagai pusat kehidupan untuk mencapai
kehidupan yang harmonis dan memiliki ketahanan relasi
suami-isteri. Kehidupan yang harmonis tidak dapat dicapai
sepenuhnya bila kita tidak menempatkan Tuhan Yesus sebagai
poros roda kehidupan kita. Sebagai ilustrasi, apa yang
terjadi bila sebuah roda tanpa poros (as)? Tentu saja
tidak akan mulus jalannya, bahkan kendaraan itu tidak akan
berjalan.
Oleh karena itu secara tegas dikatakan bahwa ‘keakraban
spiritual’ memberi sumbangsih terbesar bagi ketahanan
relasi suami-isteri.
Untuk lebih memperjelas pengertian tentang ‘Keakraban
Spiritual’ sebagai faktor utama dalam mengembangkan relasi
yang harmonis dalam kehidupan Pasutri, marilah kita simak
bersama gambar di bawah ini yang dapat menggambarkan
secara jelas korelasi antara Tuhan Yesus sebagai pusat
kehidupan suami-isteri dan merupakan fondasi dari
ketahanan relasi suami-isteri.
Keakraban suami-isteri dan keluarga dapat dicapai dengan
Membangun Persahabatan dengan Allah, melalui:
- Membaca Firman Tuhan dan merenungkan setiap hari secara
berkesinambungan
- Berdoa bersama pasangan secara teratur setiap hari
- Mengadakan IBADAH KELUARGA – bersama anak-anak secara
periodik
- Beribadah dan melayani Tuhan bersama pasangan (Full
Partnership in Ministry)
- Melakukan Retret Keheningan bersama pasangan
- Melakukan Honeymoon ke-2 dan seterusnya, sambil
mengagungkan kebesaran dan kebaikan Tuhan melalui alam
semesta
- Dan seterusnya dapat dibuat oleh masing-masing pasangan,
karena setiap pasangan memiliki keunikan tersendiri.
Dalam acara ini, ada sesi terakhir yang menarik, yaitu
Penjajakan Kerohanian masing-masing pasangan dalam Pasutri
(Spritual Assesment Inventory) dan diakhiri dengan Dialog
Kelompok. Dalam Spiritual Assesment Inventory ini,
masing-masing individu di berikan 47 pertanyaan yang harus
dijawab dengan mengisi jawaban pada lembar jawaban yang
tersedia. Dalam format jawaban ini tercantum ‘Skala’ dan
‘Skor’ yang kemudian dapat dijadikan indikator yang
mendekati kebenaran kondisi kerohanian masing-masing, yang
meliputi:
- Kesadaran akan Allah atau Awareness of God (AG)
Mengindikasikan sejauh mana seseorang melakukan komunikasi
dengan Allah dan sadar akan kehadiran Allah dalam
kehidupan sehari-hari.
- Penerimaan secara realistis atau Realistic Acceptance
(RA)
Merupakan pola relasi yang sehat dengan Allah yang
ditandai dengan kemampuan mentolerir perasaan-perasaan
ambivalen terhadap Allah, sehingga seseorang dapat
mempertahankan relasi karena mampu melihat hal-hal rohani
di balik pengalaman yang dianggap buruk.
- Kekecewaan atau Disappointment (D)
Merupakan relasi dengan Allah yang kurang sehat dan
ditandai dengan kekecewaan kepada Allah jika ia tidak
mendapat apa yang diinginkan.
- Ketidak Stabilan atau Instability (I)
Merupakan pola relasi dengan Allah yang kurang sehat dan
ditandai dengan ketidak-mampuan melihat hal-hal rohani di
balik pengalamannya yang buruk. Allah dianggap baik kalau
ia mengalami hal-hal positif, tetapi jika kengalami
hal-hal negatif maka perasaannya dengan Allah berubah.
- Merasa Agung atau Gradiosity (G)
Merupakan pola relasi dengan Allah yang kurang sehat,
ditandai dengan kehausan yang besar akan perhatian,
keinginan menampilkan diri lebih baik dari orang lain dan
mengharapkan Allah sebagai pribadi yang bisa mengangkat
harga dirinya.
- Impression Management (IM)
Merupakan alat kontrol yang mengacu sejauh mana kejujuran
anda mengisi kuesioner.
Tentu saja Daftar Pertanyaan Spritual Assesment Inventory
tersebut tidak dapat saya sertakan di sini, mengingat
bahwa sebelum mengisi perlu mendapat penjelasan secara
rinci agar tidak mengalami kesalahan pengertian.
Dengan demikian bagi para Pasutri yang berminat lebih
lanjut untuk mengetahui Spiritual Assesment Inventory ini,
silahkan menghubungi Sub Komisi Pasutri GKI Pondok Indah. |