Keluarga
30 Mei 2004
Keakraban Spiritual Pasutri
Tjuk Sumarsono

Sub Komisi Pasutri, GKI Pondok Indah melakukan pembinaan Pasutri bagi para jemaat secara berkesinambungan, baik melalui Retret, maupun Seminar Sehari. Beberapa waktu lalu, tepatnya tanggal 27 Maret 2004, Sub Komisi ini menyelenggarakan acara “Couple’s Day Out” di Country Club Cinere dengan pembicara tunggal Pdt. Paulus Kurnia yang mendapat sambutan baik dan penuh antusias dari para peserta yang jumlahnya 59 pasang.

Pada acara tersebut Pdt. Paulus memberikan topik bahasan “Spiritual Intimacy” atau Keakraban Spritual” bagi Pasutri dan diawali dengan menekankan bahwa setiap pasangan suami-isteri Kristen pasti merindukan kehidupan perkawinan yang berhasil untuk selamanya. Namun ternyata, “Bad things could happen to good Christian marriages”.

Dengan kenyataan inilah Pdt. Paulus Kurnia menyatakan agar Pasutri perlu membangun landasan yang kokoh, yaitu Keakraban Spiritual dalam kehidupan mereka. Dikemukakan pula ungkapan Eric Zorn sebagai berikut: “Kita berjanji untuk mempertahankan kebersamaan kita, bukan karena kita berpikir bahwa di antara kita takkan pernah berubah, melainkan justru karena kita tahu segalanya akan berubah”.

Perubahan dalam kehidupan perkawinan kita rawan terhadap berbagai persoalan pelik. Para peserta memberikan tanggapaan tentang perubahan tersebut, antara lain: karena kehadiran anak-anak, kehadiran anak menantu yang tinggal serumah dengan mertua, campur tangan mertua yang terlalu dominan, masalah krisis ekonomi yang melanda kehidupan suami-isteri, atau kehadiran orang ke-tiga (WIL/PIL) yang mengganggu keintiman mereka dan masih banyak lagi yang diungkapkan oleh para peserta.

Pdt. Paulus Kurnia menambahkan bahwa banyak terjadi peristiwa-peristiwa nyata yang diungkapkan oleh berbagai pasangan dalam konsultasi, antara lain sebagai berikut:

  • PERUBAHAN: “Saya terkejut melihat sifat-sifat aneh suami saya – yang tidak pernah saya lihat semasa kami pacaran dulu. Padahal kami pacaran 6 tahun lamanya. Saya tidak tahan akan situasi seperti ini, lebih-lebih setelah si Angel lahir 5 tahun yang lalu. Saya muak terhadap suami saya”.

  • UANG DAN KARIER: “Sudah lama saya memendam perasaan marah pada Nancy. Saya hanya meminta agar dia menghormati saya dan tidak bertindak kasar, lainnya tidak! Saya tidak ingin mendengar ucapannya lagi bahwa hidup saya hanya ‘mendompleng’ padanya. Memang saya akui bahwa income dia lebih besar daripada pendapatan saya”.

  • KOMUNIKASI: “Saya memilih diam daripada konflik melulu dengan Siane. Itu tidak terjadi masalah sampai akhirnya kami ribut besar setelah menikah 25 tahun. Saya malu akan hal ini, apalagi bila anak-anak kami yang sudah masuk di perguruan tinggi mengerti persoalan kami”.

  • SEKSUALITAS: “Kami sering ribut, kami telah memutuskan untuk mengurus persoalan masing-masing. Dalam hal hubungan intim, saya sering merasa kurang comfortable, sedangkan dia selalu berejakulasi dini. Sudah 3 tahun terakhir ini kehidupan seks kami tidak sukses”

  • SPIRITUALITAS: “Papie, papie. Kok papie sudah tidur sih. Kita kan belum berdoa. Ayo dong papie, kita berdoa”.

  • EMPTY NEST: “Hidup pernikahan kami memuaskan. Semua anak kami telah berkeluarga. Kami tinggal berdua saja. Aktivitas kami hanyalah menikmati hidup di masa pensiun. Tidak ada kegiatan lain. Melayani di gereja juga sudah ketuaan. Siapa yang mau pakai? Minggu depan kami mau ke LA”.

Dari kisah-kisah di atas terungkap bahwa banyak hal-hal yang menjadikan kehidupan suami-isteri tidak mulus. Adakah perkawinan kita bebas dari masalah, walaupun nampaknya kita telah memiliki keahlian-keahlian dalam menyelesaikan persoalan? Itu belum menjamin.

Kita berpikir bahwa persoalan-persoalan perkawinan bisa diselesaikan semata-mata berkat beberapa cara yang telah kita kuasai, seperti money talk, keterampilan berkomunikasi, manajemen konflik, manajemen stress dan manajemen kemarahan. Sekali lagi jawabannya adalah ‘belum menjamin’.

Ataukah kita bisa mengatasi dan menyelesaikan masalah perkawinan dengan cara-cara: berpisah untuk sementara, menggunakan ilmu psikologi dalam perkawinan dan terapi keluarga atau dengan mengikuti Family Enrichment? Apakah cara-cara di atas dapat dijadikan faktor utama suksesnya penyelesaian persoalan keluarga? Pdt. Paulus Kurnia menegaskan bahwa cara-cara itu bukan menjadi faktor utama dan belum sepenuhnya menjamin penyelesaian.

Tetapi bila setiap pasangan sudah dapat mengembangkan “KEAKRABAN” atau “INTIMACY” dalam kehidupan perkawinan yang dimulai dari awal bepacaran atau pertunangan, tentu saja akan lebih mulus dan berhasil sampai kematian memisahkan kita.

Menurut Pdt. Paulus Kurnia ada 5 ‘jendela’ untuk mencapai keakraban suami-isteri, yaitu:

  1. Keakraban Intelektual: Bila pasangan suami-isteri memiliki kesamaan dan kecocokan intelektual, mereka akan memiliki relasi yang akrab satu dengan yang lain.
  2. Keakraban Rekreasional: Memiliki kesamaan dalam melakukan kegiatan rekreasi atau hobby, akan lebih menambah kedekatan dan keakraban di antara mereka.
  3. Keakraban Sosial: Memiliki tingkat dan kegiatan sosial yang sama
  4. Keakraban Seksual: Memiliki kecocokan dalan melakukan kegiatan seksual dengan dasar saling membahagiakan.
  5. Keakraban Spiritual (Rohani): Keakraban suami-iteri yang berlandaskan pada perjanjian tiga pihak, yaitu: suami, isteri dan Tuhan. Kerohanian kristiani mengajarkan bahwa Tuhan Yesus sebagai pusat kehidupan untuk mencapai kehidupan yang harmonis dan memiliki ketahanan relasi suami-isteri. Kehidupan yang harmonis tidak dapat dicapai sepenuhnya bila kita tidak menempatkan Tuhan Yesus sebagai poros roda kehidupan kita. Sebagai ilustrasi, apa yang terjadi bila sebuah roda tanpa poros (as)? Tentu saja tidak akan mulus jalannya, bahkan kendaraan itu tidak akan berjalan.

    Oleh karena itu secara tegas dikatakan bahwa ‘keakraban spiritual’ memberi sumbangsih terbesar bagi ketahanan relasi suami-isteri.

Untuk lebih memperjelas pengertian tentang ‘Keakraban Spiritual’ sebagai faktor utama dalam mengembangkan relasi yang harmonis dalam kehidupan Pasutri, marilah kita simak bersama gambar di bawah ini yang dapat menggambarkan secara jelas korelasi antara Tuhan Yesus sebagai pusat kehidupan suami-isteri dan merupakan fondasi dari ketahanan relasi suami-isteri.

Keakraban suami-isteri dan keluarga dapat dicapai dengan Membangun Persahabatan dengan Allah, melalui:

  1. Membaca Firman Tuhan dan merenungkan setiap hari secara berkesinambungan
  2. Berdoa bersama pasangan secara teratur setiap hari
  3. Mengadakan IBADAH KELUARGA – bersama anak-anak secara periodik
  4. Beribadah dan melayani Tuhan bersama pasangan (Full Partnership in Ministry)
  5. Melakukan Retret Keheningan bersama pasangan
  6. Melakukan Honeymoon ke-2 dan seterusnya, sambil mengagungkan kebesaran dan kebaikan Tuhan melalui alam semesta
  7. Dan seterusnya dapat dibuat oleh masing-masing pasangan, karena setiap pasangan memiliki keunikan tersendiri.

Dalam acara ini, ada sesi terakhir yang menarik, yaitu Penjajakan Kerohanian masing-masing pasangan dalam Pasutri (Spritual Assesment Inventory) dan diakhiri dengan Dialog Kelompok. Dalam Spiritual Assesment Inventory ini, masing-masing individu di berikan 47 pertanyaan yang harus dijawab dengan mengisi jawaban pada lembar jawaban yang tersedia. Dalam format jawaban ini tercantum ‘Skala’ dan ‘Skor’ yang kemudian dapat dijadikan indikator yang mendekati kebenaran kondisi kerohanian masing-masing, yang meliputi:

  1. Kesadaran akan Allah atau Awareness of God (AG)
    Mengindikasikan sejauh mana seseorang melakukan komunikasi dengan Allah dan sadar akan kehadiran Allah dalam kehidupan sehari-hari.

  2. Penerimaan secara realistis atau Realistic Acceptance (RA)
    Merupakan pola relasi yang sehat dengan Allah yang ditandai dengan kemampuan mentolerir perasaan-perasaan ambivalen terhadap Allah, sehingga seseorang dapat mempertahankan relasi karena mampu melihat hal-hal rohani di balik pengalaman yang dianggap buruk.

  3. Kekecewaan atau Disappointment (D)
    Merupakan relasi dengan Allah yang kurang sehat dan ditandai dengan kekecewaan kepada Allah jika ia tidak mendapat apa yang diinginkan.

  4. Ketidak Stabilan atau Instability (I)
    Merupakan pola relasi dengan Allah yang kurang sehat dan ditandai dengan ketidak-mampuan melihat hal-hal rohani di balik pengalamannya yang buruk. Allah dianggap baik kalau ia mengalami hal-hal positif, tetapi jika kengalami hal-hal negatif maka perasaannya dengan Allah berubah.

  5. Merasa Agung atau Gradiosity (G)
    Merupakan pola relasi dengan Allah yang kurang sehat, ditandai dengan kehausan yang besar akan perhatian, keinginan menampilkan diri lebih baik dari orang lain dan mengharapkan Allah sebagai pribadi yang bisa mengangkat harga dirinya.

  6. Impression Management (IM)
    Merupakan alat kontrol yang mengacu sejauh mana kejujuran anda mengisi kuesioner.

Tentu saja Daftar Pertanyaan Spritual Assesment Inventory tersebut tidak dapat saya sertakan di sini, mengingat bahwa sebelum mengisi perlu mendapat penjelasan secara rinci agar tidak mengalami kesalahan pengertian.

Dengan demikian bagi para Pasutri yang berminat lebih lanjut untuk mengetahui Spiritual Assesment Inventory ini, silahkan menghubungi Sub Komisi Pasutri GKI Pondok Indah.

 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003