Keluarga
29 Mei 2004
Pasangan Yang Bertumbuh
Tjuk Sumarsono

Tak ada yang lebih efektif dan berharga daripada menunjukkan perhatian yang tulus kepada orang lain”, kalimat ini saya temukan dari buku “Pemimpin Dalam Diri Anda” tulisan Dale Carnegie.

Selanjutnya Dale mengatakan: “Apabila anda menginginkan orang lain menyenangi anda, atau anda ingin mengembangkan persahabatan yang sesungguhnya, atau anda ingin membantu orang lain dan pada waktu yang sama membantu diri anda sendiri, peganglah prinsip untuk: memperhatikan secara sungguh-sungguh kepada orang lain”. Kalimat di atas sangat indah, relevan dengan kebenarannya dan mudah diucapkan setiap orang, akan tetapi belum tentu dapat melakukannya.

Saya sendiri mengakui bahwa hal itu tidak mudah bagi saya untuk mewujudkan, baik dalam kehidupan bermasyarakat, maupun dalam kehidupan dengan pasangan. Kadang-kadang secara tidak sadar terlontar kata-kata atau tindakan yang dapat menyinggung perasaan orang lain atau “kurang memperhatikan kepentingan dan perasaan orang lain”.

Saya pernah mengalami bersitegang dengan pasangan, gara-gara perkataan saya seolah-olah saya mencela dan menghakimi dia. Padahal maksud saya hanya mengoreksi dan meluruskan pembicaraan, nanun karena ada sedikit lonjakan emosi, maka kata-kata itu tidak terkemas dengan baik dan menimbulkan kesan negatif.

Suatu contoh lain, saya pernah mendengar seseorang mengatakan dalam suatu sarasehan bahwa dia kurang menyenangi dan mengkritik orang yang sedang bersalaman dengan dia, tetapi muka dan pandangannya menghadap pada orang lain.”Hal itu tidak sopan” katanya. Namun beberapa waktu berselang, di suatu pertemuan yang biasanya diakhiri dengan bersalam-salaman. Pada giliran saya menyalami dia (orang yang dulu mengkritik orang lain itu), saya menyaksikan dengan mata-kepala saya sendiri, muka dan pandangannya tidak tertuju pada saya, bahkan mulutnya masih berkata-kata pada orang lain pula. Itulah suatu contoh nyata bahwa kadang-kadang orang tidak menyadari akan perbuatannya yang kurang memperhatikan orang lain, padahal dia mengkritik orang lain yang berbuat serupa.

Secara tidak sadar, dalam pembicaraan telepon kita sering menimbulkan kesan kurang menghargai dan memperhatikan lawan bicara. Saya pernah pula menelepon seorang pejabat gereja dengan mengawali ucapan “Selamat malam”. Tentu saja saya mengharapkan orang diseberang sana menjawab ucapan itu dengan “Selamat malam” pula, namun kenyataannya berbeda. Jawaban yang saya dengar sangat singkat: “Ya”. Saya ulangi lagi dengan mengucap “Selamat malam” yang agak lebih jelas, tetapi jawabannya tetap “Ya”. Maka saya mengulangi lagi dengan lebih jelas namun masih dengan nada yang sopan: “Selamat malam”. Baru dia menjawab: “Selamat malam”.

Kejadian kecil seperti ini sering terjadi di antara kita dalam berkomunikasi. Dengan mengalami peristiwa-periatiwa seperti itu, kita perlu menyadari setiap perbuatan dan perkataan kita selalu dinilai orang lain, sehingga kita perlu waspada dan berhati-hati. Nasihat Dale semakin terngiang di telinga saya: “Perhatikan secara sungguh-sungguh kepada orang lain”.

Nasihat itu merupakan salah satu kunci keberhasilan kita untuk berkomunikasi dengan orang lain, juga dapat digunakan untuk meningkatkan relasi pasangan suami-isteri yang akan membawa kita menjadi pasangan yang bertumbuh.

Menurut Garry Smalley, pasangan yang sehat, mengerti dan mempraktekkan komunikasi yang bermakna. Di dalam komunikasi, pernikahan dan keluarga, komunikasi sangat penting untuk bertumbuh dan bergerak menuju tingkat keintiman yang paling dalam.

Beberapa waktu lalu, saya menulis artikel “Pola Pertemanan Dalam Pasutri”. Pada akhir tulisan itu saya kemukakan, hendaknya seorang suami dapat belajar memandang Tuhan untuk memenuhi kebutuhan “agar dirinya lebih berarti di hadapan Tuhan”, sedangkan seorang isteri belajar memandang Tuhan untuk memenuhi kebutuhan pribadinya “akan rasa aman”, maka keduanya akan merasakan betapa besar kasih Tuhan kepada mereka, sehingga mereka tidak saling menuntut, melainkan saling membagi.

Saya tidak menulis lebih lanjut bagaimana upaya untuk mewujudkan itu semua, namun kali ini saya kemukakan bagaimana kita berupaya memfokuskan perhatian kita kepada Allah, dalam rangka menuju tingkat keintiman yang paling dalam bersama pasangan.

Bertahun-tahun saya bersama pasangan telah melakukan doa dan membaca renungan bersama, namun belum juga mengalami pertumbuhan yang signifikan. Beberapa bulan lalu, saya menemukan sebuah buku dari koleksi buku kami yang berjudul “Saat Teduh Untuk Pasangan”, tulisan Bob & Emilie Barnes. Buku itu saya beli tahun 1995 tetapi belum pernah kami pergunakan untuk panduan renungan harian. Ternyata isinya sangat bagus sekali, yang dapat memandu kami bersama pasangan untuk lebih dapat mendekatkan relasi kami (suami-iteri) dengan Tuhan.

Metodenya baik sekali dan sangat aplikatif, yaitu: ada bacaan yang mudah dimengerti, kemudian refleksi diri sesuai judul renungan dan mengambil tindakan. Saya tidak akan membicarakan isi buku ini, tetapi saya ingin membagikan kepada pembaca bahwa setelah hampir dua bulan kami menggunakan panduan buku tersebut, ternyata sudah banyak mengalami perubahan-perubahan dalam kedekatan relasi kami, walaupun belum sempurna.

Kepada siapakah kita memfokuskan perhatian kita selain kepada pasangan? Tentu saja perhatian ini harus seimbang yang dapat mewujudkan “cinta segitiga” yaitu Suami –Isteri - Tuhan, oleh karena itu kita perlu memusatkan perhatian kepada Tuhan. Konsentrasi adalah suatu bidang yang sulit kita lakukan dalam kondisi lingkungan ekternal yang semakin komplikasi ini. Apakah kita masih dapat menyukai, mempelajari dan merenungkan Kitab Suci setiap hari?

Saya pernah berbincang-bincang dengan seorang pendeta yang mengatakan: “Jika kita menggunakan pendekatan ini terhadap Kitab Suci setiap hari, kita akan melihat perubahan-perubahan mengagumkan terjadi di dalam kehidupan kita, keluarga kita, gereja kita, komunitas kita dan bangsa kita”. Menurut pengalaman pribadi kami sebagai pasangan, kami merasakan banyak mendapatkan kasih karunia Bapa dalam kehidupan spiritual kami setelah 8 bulan lalu saya pensiun dan memiliki banyak waktu untuk kebersamaan dalam membaca dan merenungkan firman Tuhan dengan pasangan. Kami lebih dikuatkan dan dimampukan oleh Tuhan pada waktu mengalami kesesakan dan melalui lembah kekelaman.

Daud menulis dalam Mazmur 1 ayat 3 yang menyatakan bahwa hidup kita menjadi seperti sebuah pohon yang dengan kokoh tertanam di tempat yang airnya banyak dan yang daunnya tetap segar serta hijau walaupun di musim panas, dan buahnya berlimpah. Oleh karena itu kita sebagai pasangan perlu merefleksi diri, pohon seperti apakah pasangan kita ini? Kita dapat memilih alternatif yang sesuai dengan kondisi kita, yaitu:

  • Kami ibarat pohon muda, yang bertumbuh, namun belum benar-benar kokoh.
  • Daun-daun kami cenderung kering di musim panas dan stress.
  • Kami ibarat pohon yang tidak berdaun dan tidak berbuah
  • Akar-akar pohon kami cukup dalam, namun badai baru-baru ini hampir membuat kami roboh.
  • Kami semakin banyak buah yang baik, muncul dalam kehidupan pohon kami.
  • Seandainya saja kami memiliki lebih banyak daun untuk menaungi orang dari panasnya matahari.
  • Kami ibarat pohon yang agak jauh dari air, sehingga terasa agak kering.

Apabila kita sudah dapat menemu-kenali kondisi pasangan kita seperti pohon apa pada butir-butir di atas, maka kita perlu menetapkan target waktu (akhir tahun ini, pertengahan tahun depan atau dua tahun lagi) untuk dapat merealisasikan pohon yang berada di tepi aliran sungai, agar dapat menghasilkan buahnya pada musimnya, dengan daun-daun yang segar dan tidak layu selama musim panas. Dengan target ini akan lebih memberi motivasi dalam diri kita untuk memulai melakukan adaptasi proses pertumbuhan iman di dalam kehidupan kita. Kehidupan beriman akan memungkinkan kita sebagai pasangan, semakin mempercayakan setiap detil kehidupan kita kepada Allah. Untuk melatih pertumbuhan (GROWTH) dapat kita lakukan: G-R-O-W-T-H sebagai berikut:

    G - Go to God in daily prayer - Menghadap kepada Allah dalam doa setiap hari. (Yohanes 15:7)

    R - Read God’s Word daily - Membaca Firman Allah setiap hari (Kis. 7:11). Mulailah dengan Injil Yohanes.

    O - Obey God moment by moment - Mentaati Allah setiap saat (Yohanes 15:8).

    W - Witness for Christ by our life and words - Memberi kesaksian tentang Kristus lewat kehidupan serta ucapan kita (Matius 4:19; Yohanes 15:6).

    T - Trust God every detail of our life - Mempercayakan setiap detail kehidupan kita kepada Allah (1 Petrus 5:7).

    H - Holy Spirit: Allow him to control and empower our daily life and witness - Membiarkan Roh Kudus mengendalikan serta memberdayakan kehidupan serta kesaksian kita sehari-hari (Galatia 5:16,17: Kis. 1:8).

Dengan terapi GROWTH di atas, kiranya kita dapat melakukan proses pertumbuhan kita sebagai pasangan untuk:

  1. Menghadapi dan memanfaatkan serta mengambil hikmah dari penderitaan. Pada saat kita mengalami penderitaan dan kesesakan, kita tidak akan menyalahkan siapapun, apalagi menyalahkan Tuhan. Kita melihat penderitaan terjadi, karena Tuhan memiliki rencana lain, mungkin suatu teguran, pelajaran, atau melatih kemampuan bertahan dalam penderitaan untuk rencana Tuhan yang lebih besar ke depan.

  2. Menghadapi dan melampaui rasa sakit, baik phisik maupun batin dalam kehidupan kita bersama pasangan. Tuhan akan memberi kemampuan dan ketahanan untuk menghadapi realita dalam kehidupan serta dapat melampaui rasa sakit phisik dan batin.

  3. Memiliki kualitas hidup yang diilhami oleh visi, misi dan nilai-nilai. Dalam mengarungi kehidupan dengan pasangan, kita mampu menciptakan dan menetapkan visi, misi dan meletakkan nilai-nilai yang kita sepakati bersama, sebagai dasar dari perilaku bersama yang harus diwujudkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

  4. Memiliki tanggung jawab untuk membawa visi, misi dan nilai-nilai yang lebih tinggi kepada orang lain, dalam arti yang lebih luas yaitu dapat memberi inspirasi kepada orang lain termasuk anak-anak, saudara, kawan dalam lingkungan kita dan masyarakat.

Untuk mengakhiri tulisan ini marilah kita renungkan sebuah kalimat yang disarikan dari Yeremia 29:11 “Allah memiliki rencana-rencana yang baik bagi kita hari ini, yang memberi kita masa depan serta pengharapan”.


 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003