|
Tak ada yang lebih efektif dan berharga daripada
menunjukkan perhatian yang tulus kepada orang lain”,
kalimat ini saya temukan dari buku “Pemimpin Dalam Diri
Anda” tulisan Dale Carnegie.
Selanjutnya Dale mengatakan: “Apabila anda menginginkan
orang lain menyenangi anda, atau anda ingin mengembangkan
persahabatan yang sesungguhnya, atau anda ingin membantu
orang lain dan pada waktu yang sama membantu diri anda
sendiri, peganglah prinsip untuk: memperhatikan secara
sungguh-sungguh kepada orang lain”. Kalimat di atas sangat
indah, relevan dengan kebenarannya dan mudah diucapkan
setiap orang, akan tetapi belum tentu dapat melakukannya.
Saya sendiri mengakui bahwa hal itu tidak mudah bagi saya
untuk mewujudkan, baik dalam kehidupan bermasyarakat,
maupun dalam kehidupan dengan pasangan. Kadang-kadang
secara tidak sadar terlontar kata-kata atau tindakan yang
dapat menyinggung perasaan orang lain atau “kurang
memperhatikan kepentingan dan perasaan orang lain”.
Saya pernah mengalami bersitegang dengan pasangan,
gara-gara perkataan saya seolah-olah saya mencela dan
menghakimi dia. Padahal maksud saya hanya mengoreksi dan
meluruskan pembicaraan, nanun karena ada sedikit lonjakan
emosi, maka kata-kata itu tidak terkemas dengan baik dan
menimbulkan kesan negatif.
Suatu contoh lain, saya pernah mendengar seseorang
mengatakan dalam suatu sarasehan bahwa dia kurang
menyenangi dan mengkritik orang yang sedang bersalaman
dengan dia, tetapi muka dan pandangannya menghadap pada
orang lain.”Hal itu tidak sopan” katanya. Namun beberapa
waktu berselang, di suatu pertemuan yang biasanya diakhiri
dengan bersalam-salaman. Pada giliran saya menyalami dia (orang
yang dulu mengkritik orang lain itu), saya menyaksikan
dengan mata-kepala saya sendiri, muka dan pandangannya
tidak tertuju pada saya, bahkan mulutnya masih
berkata-kata pada orang lain pula. Itulah suatu contoh
nyata bahwa kadang-kadang orang tidak menyadari akan
perbuatannya yang kurang memperhatikan orang lain, padahal
dia mengkritik orang lain yang berbuat serupa.
Secara tidak sadar, dalam pembicaraan telepon kita sering
menimbulkan kesan kurang menghargai dan memperhatikan
lawan bicara. Saya pernah pula menelepon seorang pejabat
gereja dengan mengawali ucapan “Selamat malam”. Tentu saja
saya mengharapkan orang diseberang sana menjawab ucapan
itu dengan “Selamat malam” pula, namun kenyataannya
berbeda. Jawaban yang saya dengar sangat singkat: “Ya”.
Saya ulangi lagi dengan mengucap “Selamat malam” yang agak
lebih jelas, tetapi jawabannya tetap “Ya”. Maka saya
mengulangi lagi dengan lebih jelas namun masih dengan nada
yang sopan: “Selamat malam”. Baru dia menjawab: “Selamat
malam”.
Kejadian kecil seperti ini sering terjadi di antara kita
dalam berkomunikasi. Dengan mengalami peristiwa-periatiwa
seperti itu, kita perlu menyadari setiap perbuatan dan
perkataan kita selalu dinilai orang lain, sehingga kita
perlu waspada dan berhati-hati. Nasihat Dale semakin
terngiang di telinga saya: “Perhatikan secara
sungguh-sungguh kepada orang lain”.
Nasihat itu merupakan salah satu kunci keberhasilan kita
untuk berkomunikasi dengan orang lain, juga dapat
digunakan untuk meningkatkan relasi pasangan suami-isteri
yang akan membawa kita menjadi pasangan yang bertumbuh.
Menurut Garry Smalley, pasangan yang sehat, mengerti dan
mempraktekkan komunikasi yang bermakna. Di dalam
komunikasi, pernikahan dan keluarga, komunikasi sangat
penting untuk bertumbuh dan bergerak menuju tingkat
keintiman yang paling dalam.
Beberapa waktu lalu, saya menulis artikel “Pola
Pertemanan Dalam Pasutri”. Pada akhir tulisan itu saya
kemukakan, hendaknya seorang suami dapat belajar memandang
Tuhan untuk memenuhi kebutuhan “agar dirinya lebih berarti
di hadapan Tuhan”, sedangkan seorang isteri belajar
memandang Tuhan untuk memenuhi kebutuhan pribadinya “akan
rasa aman”, maka keduanya akan merasakan betapa besar
kasih Tuhan kepada mereka, sehingga mereka tidak saling
menuntut, melainkan saling membagi.
Saya tidak menulis lebih lanjut bagaimana upaya untuk
mewujudkan itu semua, namun kali ini saya kemukakan
bagaimana kita berupaya memfokuskan perhatian kita kepada
Allah, dalam rangka menuju tingkat keintiman yang paling
dalam bersama pasangan.
Bertahun-tahun saya bersama pasangan telah melakukan doa
dan membaca renungan bersama, namun belum juga mengalami
pertumbuhan yang signifikan. Beberapa bulan lalu, saya
menemukan sebuah buku dari koleksi buku kami yang berjudul
“Saat Teduh Untuk Pasangan”, tulisan Bob & Emilie Barnes.
Buku itu saya beli tahun 1995 tetapi belum pernah kami
pergunakan untuk panduan renungan harian. Ternyata isinya
sangat bagus sekali, yang dapat memandu kami bersama
pasangan untuk lebih dapat mendekatkan relasi kami (suami-iteri)
dengan Tuhan.
Metodenya baik sekali dan sangat aplikatif, yaitu: ada
bacaan yang mudah dimengerti, kemudian refleksi diri
sesuai judul renungan dan mengambil tindakan. Saya tidak
akan membicarakan isi buku ini, tetapi saya ingin
membagikan kepada pembaca bahwa setelah hampir dua bulan
kami menggunakan panduan buku tersebut, ternyata sudah
banyak mengalami perubahan-perubahan dalam kedekatan
relasi kami, walaupun belum sempurna.
Kepada siapakah kita memfokuskan perhatian kita selain
kepada pasangan? Tentu saja perhatian ini harus seimbang
yang dapat mewujudkan “cinta segitiga” yaitu Suami –Isteri
- Tuhan, oleh karena itu kita perlu memusatkan perhatian
kepada Tuhan. Konsentrasi adalah suatu bidang yang sulit
kita lakukan dalam kondisi lingkungan ekternal yang
semakin komplikasi ini. Apakah kita masih dapat menyukai,
mempelajari dan merenungkan Kitab Suci setiap hari?
Saya pernah berbincang-bincang dengan seorang pendeta yang
mengatakan: “Jika kita menggunakan pendekatan ini terhadap
Kitab Suci setiap hari, kita akan melihat
perubahan-perubahan mengagumkan terjadi di dalam kehidupan
kita, keluarga kita, gereja kita, komunitas kita dan
bangsa kita”. Menurut pengalaman pribadi kami sebagai
pasangan, kami merasakan banyak mendapatkan kasih karunia
Bapa dalam kehidupan spiritual kami setelah 8 bulan lalu
saya pensiun dan memiliki banyak waktu untuk kebersamaan
dalam membaca dan merenungkan firman Tuhan dengan pasangan.
Kami lebih dikuatkan dan dimampukan oleh Tuhan pada waktu
mengalami kesesakan dan melalui lembah kekelaman.
Daud menulis dalam Mazmur 1 ayat 3 yang menyatakan bahwa
hidup kita menjadi seperti sebuah pohon yang dengan kokoh
tertanam di tempat yang airnya banyak dan yang daunnya
tetap segar serta hijau walaupun di musim panas, dan
buahnya berlimpah. Oleh karena itu kita sebagai pasangan
perlu merefleksi diri, pohon seperti apakah pasangan kita
ini? Kita dapat memilih alternatif yang sesuai dengan
kondisi kita, yaitu:
- Kami ibarat pohon muda, yang bertumbuh, namun belum
benar-benar kokoh.
- Daun-daun kami cenderung kering di musim panas dan
stress.
- Kami ibarat pohon yang tidak berdaun dan tidak berbuah
- Akar-akar pohon kami cukup dalam, namun badai baru-baru
ini hampir membuat kami roboh.
- Kami semakin banyak buah yang baik, muncul dalam
kehidupan pohon kami.
- Seandainya saja kami memiliki lebih banyak daun untuk
menaungi orang dari panasnya matahari.
- Kami ibarat pohon yang agak jauh dari air, sehingga
terasa agak kering.
Apabila kita sudah dapat menemu-kenali kondisi pasangan
kita seperti pohon apa pada butir-butir di atas, maka kita
perlu menetapkan target waktu (akhir tahun ini,
pertengahan tahun depan atau dua tahun lagi) untuk dapat
merealisasikan pohon yang berada di tepi aliran sungai,
agar dapat menghasilkan buahnya pada musimnya, dengan
daun-daun yang segar dan tidak layu selama musim panas.
Dengan target ini akan lebih memberi motivasi dalam diri
kita untuk memulai melakukan adaptasi proses pertumbuhan
iman di dalam kehidupan kita. Kehidupan beriman akan
memungkinkan kita sebagai pasangan, semakin mempercayakan
setiap detil kehidupan kita kepada Allah. Untuk melatih
pertumbuhan (GROWTH) dapat kita lakukan: G-R-O-W-T-H sebagai berikut:
G - Go to God in daily prayer - Menghadap kepada Allah
dalam doa setiap hari. (Yohanes 15:7)
R - Read God’s Word daily - Membaca Firman Allah setiap
hari (Kis. 7:11). Mulailah dengan Injil Yohanes.
O - Obey God moment by moment - Mentaati Allah setiap saat
(Yohanes 15:8).
W - Witness for Christ by our life and words - Memberi
kesaksian tentang Kristus lewat kehidupan serta ucapan
kita (Matius 4:19; Yohanes 15:6).
T - Trust God every detail of our life - Mempercayakan
setiap detail kehidupan kita kepada Allah (1 Petrus 5:7).
H - Holy Spirit: Allow him to control and empower our
daily life and witness - Membiarkan Roh Kudus
mengendalikan serta memberdayakan kehidupan serta
kesaksian kita sehari-hari (Galatia 5:16,17: Kis. 1:8).
Dengan terapi GROWTH di atas, kiranya kita dapat melakukan
proses pertumbuhan kita sebagai pasangan untuk:
- Menghadapi dan memanfaatkan serta mengambil hikmah dari
penderitaan. Pada saat kita mengalami penderitaan dan
kesesakan, kita tidak akan menyalahkan siapapun, apalagi
menyalahkan Tuhan. Kita melihat penderitaan terjadi,
karena Tuhan memiliki rencana lain, mungkin suatu teguran,
pelajaran, atau melatih kemampuan bertahan dalam
penderitaan untuk rencana Tuhan yang lebih besar ke depan.
- Menghadapi dan melampaui rasa sakit, baik phisik maupun
batin dalam kehidupan kita bersama pasangan. Tuhan akan
memberi kemampuan dan ketahanan untuk menghadapi realita
dalam kehidupan serta dapat melampaui rasa sakit phisik
dan batin.
- Memiliki kualitas hidup yang diilhami oleh visi, misi
dan nilai-nilai. Dalam mengarungi kehidupan dengan
pasangan, kita mampu menciptakan dan menetapkan visi, misi
dan meletakkan nilai-nilai yang kita sepakati bersama,
sebagai dasar dari perilaku bersama yang harus diwujudkan
dalam kehidupan kita sehari-hari.
- Memiliki tanggung jawab untuk membawa visi, misi dan
nilai-nilai yang lebih tinggi kepada orang lain, dalam
arti yang lebih luas yaitu dapat memberi inspirasi kepada
orang lain termasuk anak-anak, saudara, kawan dalam
lingkungan kita dan masyarakat.
Untuk mengakhiri tulisan ini marilah kita renungkan sebuah
kalimat yang disarikan dari Yeremia 29:11 “Allah memiliki
rencana-rencana yang baik bagi kita hari ini, yang memberi
kita masa depan serta pengharapan”.
|