|
Hubungan perkawinan yang paling langgeng dan intim antara
pria dan wanita tentu saja awalnya harus diresmikan dalam
suatu lembaga perkawinan yang sudah diatur. Bila kita
simak ke belakang, bahwa konsep perkawinan zaman dulu
relatif sangat sederhana, yaitu seorang pemuda mengikat
janji dengan anak gadis tetangganya dan perkawinan itu
sering diatur oleh kedua orang tua mereka. Si perjaka
ingin menyunting seorang gadis untuk melahirkan anaknya
dan dijadikan juru masak serta mengurus rumah tangga
mereka. Sedangkan si gadis ingin mendapatkan seorang
pemuda yang sanggup memberikan nafkah untuk menghidupi
keluarga.
Namun, dewasa ini dengan adanya lingkungan eksternal yang
semakin cepat berubah dan diwarnai dengan tingkat
pendidikan dan intelektual yang relatif lebih baik, maka
mereka, mau tidak mau, suka tidak suka harus pula merubah
pola pikir dan pola tindak sebagai suami maupun isteri
secara radikal. Mereka masing-masing mengharapkan
pasangannya memainkan beraneka ragam peran dan memenuhi
berbagai kebutuhan di luar kebutuhan rumah tangga dan
ekonomi. Masing-masing pasangan dituntut tidak hanya
pandai bercinta, tetapi juga harus dapat menjadi mitra
yang terampil, sumber kekuatan emosional serta sebagai
kawan yang dapat menjalin pertemanan yang berguna untuk
saling bantu membantu dalam masa sulit.
Dewasa ini pertemanan merupakan ciri khas dalam perkawinan
yang berhasil dan dianggap sebagai unsur utama dalam
perkawinan, bahkan pertemanan merupakan unsur yang
stratanya berada di atas cinta dan pengertian. Pertemanan
di sini bukan saja berarti suami dan isteri harus
sama-sama menjadi anggota suatu perkumpulan tertentu,
arisan bersama, persekutuan doa bersama, ikut paduan suara
bersama dan ngobrol di Café berdua, tetapi mereka perlu
menjalin sebagai teman atau sohib yang akrab dan saling
berkabar serta membiasakan diri dengan menceritakan
hal-hal yang terjadi selama mereka tidak bersama. Bahkan
pertemanan harus pula menjadi salah satu sarana utama
dalam mencapai kelanggengan perkawinan.
“Cinta memang penting, tetapi cinta sejati lebih penting
dari hanya sekadar cinta atau jatuh cinta” kata bapak
Pendeta Agus Susanto, pakar PASUTRI di GKI Pondok Indah.
Justru petemanan itulah yang akan mewujudkan “cinta sejati”
yaitu suatu cinta kasih yang menyatukan perasaan, hati,
jiwa dan akal budi.
Pertemanan lebih didefinisikan sebagai hubungan
suami-isteri yang menekankan kemampuan pasangan untuk
hidup bersama dalam keselarasan psikologis dan memiliki
sikap hidup yang bermakna serta bertalian dengan
keberadaan Tuhan Allah Maha Kuasa, Pencipta alam semesta.
Di dalam pertemanan, ada suatu komunikasi yang
berkesinambungan, adalah merupakan syarat mutlak yang
harus dilakukan oleh pasangan suami-isteri, karena dalam
komunikasi pasutri merupakan proses di mana pasangan
saling membagikan pesan-pesan yang jelas, baik secara
verbal maupun non verbal yang dapat diterima dan
dimengerti oleh pasangannya.
Yang mendasari komunikasi adalah “dialog” yaitu suatu
ungkapan perasaan yang senantiasa akan mempengaruhi semua
bentuk komunikasi untuk pertemanan. Bila dialog ini sudah
dapat dilakukan oleh pasangan suami isteri, maka bentuk
komunikasi yang lain pasti dapat berjalan lancar.
Ada 5 hal yang perlu diperhatikan dalam berdialog dengan
pasangan, yaitu:
- Kita harus dapat mengungkapkan perasaan dengan jelas,
baik yang positif, maupun yang negatif.
- Dalam berdialog pusatkan perhatian kepada pasangan dan
mendengarkan dengan cermat apa yang diungkapkan oleh
pasangannya.
- Hindari kritik atau memberi komentar negatif, tetapi
sebaliknya berikan penghargaan atau pujian.
- Jangan menuduh dan menyalahkan pasangan atau
mengungkit-ungkit kesalahan masa lalu.
- dan yang terakhir, hindari kata-kata “Kamu selalu…”
atau “Kamu setiap kali…” atau “Kamu tidak pernah…”
Apabila kita dengan serius berupaya mewujudkan dialog
untuk meningkatkan kualitas komunikasi untuk pertemanan
dengan pasangan, maka kita pasti akan dapat memiliki
relasi yang berkualitas pula. Saya yakin bila setiap
pasangan yang belum memiliki pola pertemanan dengan
masing-masing pasangannya maka kelima hal di atas dapat
merupakan proses awal yang akan memberi dampak positif
untuk lebih saling mengenal pasangan.
Saya tidak akan mengutarakan panjang lebar mengenai dialog
pasangan dan apabila anda sebagai pasangan tua atau muda
yang berminat belajar berdialog lebih lanjut, silakan anda
mengikuti Retret PASUTRI yang kebetulan dalam waktu dekat
ini diadakan oleh GKI Samanhudi bekerjasama dengan Tim
Inti PASUTRI GKI Pondok Indah di Wisma Souverdi, Tugu,
Cisarua. Tim PASUTRI GKI Pondok Indah sendiri juga selalu
mengadakan Retret PASUTRI dua kali setiap tahun.
Kita kembali kepada intinya, yaitu mengenai pola
pertemanan dalam Pasutri. Di atas disebutkan bahwa kita
sebagai Pasutri harus memiliki sikap hidup yang bermakna
serta bertalian dengan keberadaan Tuhan Allah Maha Kuasa,
Pencipta alam semesta. Bila kita memiliki sikap hidup
demikian, maka hal itu sangat bermanfaat bagi pasangan itu
sendiri agar dapat menghayati arah dan tujuan hidupnya
sebagai dasar segala perilaku dan tindak-tanduknya.
Sikap hidup di atas dapat dijabarkan dalam 4 Sikap Utama
yang harus dimiliki oleh setiap individu dalam pasutri,
yaitu:
- Memikili sikap hidup dalam rencana Tuhan, berarti akan
dapat menghayati relasi yang dekat, saling mengasihi,
jujur dan penuh tanggung jawab.
- Memiliki sikap hidup berserah kepada Tuhan dengan
melakukan doa pasangan yang merupakan sarana membangun
relasi.
- Memiliki sikap setia dan komitmen tinggi dalam berelasi
dengan pasangan, agar dapat hidup bersama, saling
merasakan kedamaian dan kehangatan
- Memiliki sikap positif dalam berelasi dengan pasangan,
sehingga dapat melakukan adaptasi proses belajar
meningkatkan kualitas komunikasi untuk mencapai pertemanan
yang sejati dengan pasangan.
Agar kita dapat memiliki dan menghayati 4 sikap utama ini,
maka kita sebagai suami isteri perlu memahami konsep
kebutuhan yang bersumber dari Cinta-kasih Tuhan. Tentu
saja setiap suami atau isteri, masing-masing memiliki
kebutuhan yang mendasar, yaitu kebutuhan mendasar seorang
suami pada umumnya adalah merasa dirinya berarti yang
berkenaan dengan kecukupan, dihormati dan dikagumi di
hadapan isteri, sedangkan kebutuhan paling utama bagi para
isteri adalah: rasa aman, dikasihi, diterima dan
diperhatikan oleh suaminya.
Apabila kita dapat menghayati keempat sikap hidup di atas,
kiranya seorang suami dapat belajar memandang Tuhan untuk
memenuhi kebutuhan “agar dirinya lebih berarti di hadapan
Tuhan” sedangkan seorang isteri belajar memandang Tuhan
yang memenuhi kebutuhan pribadinya “akan rasa aman”.
Dengan demikian kita merasa betapa besar kasih Tuhan
kepada kita, sehingga kita tidak saling menuntut, akan
tetapi justru saling memberi.
Biasanya secara tidak sadar kita berusaha untuk
memanipulasi pasangan agar memberikan akan kebutuhan yang
kita rasakan, karena kita masih memfokuskan diri untuk
memperoleh dan bukan untuk memberi. Tentu saja tingkah
laku kita yang egois ini dapat dikikis dengan adaptasi
proses belajar menghayati dan menerapkan 4 sikap utama di
atas dalam kehidupan pasangan suami isteri. Marilah kita
jangan meninggalkan “Pola Pertemanan” dalam kehidupan
perkawinan kita dan tetap melibatkan Tuhan dalam kehidupan
kita sehari-hari.
|