Keluarga
30 Maret 2004
Pola Pertemanan Dalam Pasturi, Mewujudkan Perkawinan Abadi
Tjuk Sumarsono

Hubungan perkawinan yang paling langgeng dan intim antara pria dan wanita tentu saja awalnya harus diresmikan dalam suatu lembaga perkawinan yang sudah diatur. Bila kita simak ke belakang, bahwa konsep perkawinan zaman dulu relatif sangat sederhana, yaitu seorang pemuda mengikat janji dengan anak gadis tetangganya dan perkawinan itu sering diatur oleh kedua orang tua mereka. Si perjaka ingin menyunting seorang gadis untuk melahirkan anaknya dan dijadikan juru masak serta mengurus rumah tangga mereka. Sedangkan si gadis ingin mendapatkan seorang pemuda yang sanggup memberikan nafkah untuk menghidupi keluarga.

Namun, dewasa ini dengan adanya lingkungan eksternal yang semakin cepat berubah dan diwarnai dengan tingkat pendidikan dan intelektual yang relatif lebih baik, maka mereka, mau tidak mau, suka tidak suka harus pula merubah pola pikir dan pola tindak sebagai suami maupun isteri secara radikal. Mereka masing-masing mengharapkan pasangannya memainkan beraneka ragam peran dan memenuhi berbagai kebutuhan di luar kebutuhan rumah tangga dan ekonomi. Masing-masing pasangan dituntut tidak hanya pandai bercinta, tetapi juga harus dapat menjadi mitra yang terampil, sumber kekuatan emosional serta sebagai kawan yang dapat menjalin pertemanan yang berguna untuk saling bantu membantu dalam masa sulit.

Dewasa ini pertemanan merupakan ciri khas dalam perkawinan yang berhasil dan dianggap sebagai unsur utama dalam perkawinan, bahkan pertemanan merupakan unsur yang stratanya berada di atas cinta dan pengertian. Pertemanan di sini bukan saja berarti suami dan isteri harus sama-sama menjadi anggota suatu perkumpulan tertentu, arisan bersama, persekutuan doa bersama, ikut paduan suara bersama dan ngobrol di Café berdua, tetapi mereka perlu menjalin sebagai teman atau sohib yang akrab dan saling berkabar serta membiasakan diri dengan menceritakan hal-hal yang terjadi selama mereka tidak bersama. Bahkan pertemanan harus pula menjadi salah satu sarana utama dalam mencapai kelanggengan perkawinan.

“Cinta memang penting, tetapi cinta sejati lebih penting dari hanya sekadar cinta atau jatuh cinta” kata bapak Pendeta Agus Susanto, pakar PASUTRI di GKI Pondok Indah. Justru petemanan itulah yang akan mewujudkan “cinta sejati” yaitu suatu cinta kasih yang menyatukan perasaan, hati, jiwa dan akal budi.

Pertemanan lebih didefinisikan sebagai hubungan suami-isteri yang menekankan kemampuan pasangan untuk hidup bersama dalam keselarasan psikologis dan memiliki sikap hidup yang bermakna serta bertalian dengan keberadaan Tuhan Allah Maha Kuasa, Pencipta alam semesta.

Di dalam pertemanan, ada suatu komunikasi yang berkesinambungan, adalah merupakan syarat mutlak yang harus dilakukan oleh pasangan suami-isteri, karena dalam komunikasi pasutri merupakan proses di mana pasangan saling membagikan pesan-pesan yang jelas, baik secara verbal maupun non verbal yang dapat diterima dan dimengerti oleh pasangannya.

Yang mendasari komunikasi adalah “dialog” yaitu suatu ungkapan perasaan yang senantiasa akan mempengaruhi semua bentuk komunikasi untuk pertemanan. Bila dialog ini sudah dapat dilakukan oleh pasangan suami isteri, maka bentuk komunikasi yang lain pasti dapat berjalan lancar.

Ada 5 hal yang perlu diperhatikan dalam berdialog dengan pasangan, yaitu:

  1. Kita harus dapat mengungkapkan perasaan dengan jelas, baik yang positif, maupun yang negatif.
  2. Dalam berdialog pusatkan perhatian kepada pasangan dan mendengarkan dengan cermat apa yang diungkapkan oleh pasangannya.
  3. Hindari kritik atau memberi komentar negatif, tetapi sebaliknya berikan penghargaan atau pujian.
  4. Jangan menuduh dan menyalahkan pasangan atau mengungkit-ungkit kesalahan masa lalu.
  5. dan yang terakhir, hindari kata-kata “Kamu selalu…” atau “Kamu setiap kali…” atau “Kamu tidak pernah…”

Apabila kita dengan serius berupaya mewujudkan dialog untuk meningkatkan kualitas komunikasi untuk pertemanan dengan pasangan, maka kita pasti akan dapat memiliki relasi yang berkualitas pula. Saya yakin bila setiap pasangan yang belum memiliki pola pertemanan dengan masing-masing pasangannya maka kelima hal di atas dapat merupakan proses awal yang akan memberi dampak positif untuk lebih saling mengenal pasangan.

Saya tidak akan mengutarakan panjang lebar mengenai dialog pasangan dan apabila anda sebagai pasangan tua atau muda yang berminat belajar berdialog lebih lanjut, silakan anda mengikuti Retret PASUTRI yang kebetulan dalam waktu dekat ini diadakan oleh GKI Samanhudi bekerjasama dengan Tim Inti PASUTRI GKI Pondok Indah di Wisma Souverdi, Tugu, Cisarua. Tim PASUTRI GKI Pondok Indah sendiri juga selalu mengadakan Retret PASUTRI dua kali setiap tahun.

Kita kembali kepada intinya, yaitu mengenai pola pertemanan dalam Pasutri. Di atas disebutkan bahwa kita sebagai Pasutri harus memiliki sikap hidup yang bermakna serta bertalian dengan keberadaan Tuhan Allah Maha Kuasa, Pencipta alam semesta. Bila kita memiliki sikap hidup demikian, maka hal itu sangat bermanfaat bagi pasangan itu sendiri agar dapat menghayati arah dan tujuan hidupnya sebagai dasar segala perilaku dan tindak-tanduknya.

Sikap hidup di atas dapat dijabarkan dalam 4 Sikap Utama yang harus dimiliki oleh setiap individu dalam pasutri, yaitu:

  1. Memikili sikap hidup dalam rencana Tuhan, berarti akan dapat menghayati relasi yang dekat, saling mengasihi, jujur dan penuh tanggung jawab.
  2. Memiliki sikap hidup berserah kepada Tuhan dengan melakukan doa pasangan yang merupakan sarana membangun relasi.
  3. Memiliki sikap setia dan komitmen tinggi dalam berelasi dengan pasangan, agar dapat hidup bersama, saling merasakan kedamaian dan kehangatan
  4. Memiliki sikap positif dalam berelasi dengan pasangan, sehingga dapat melakukan adaptasi proses belajar meningkatkan kualitas komunikasi untuk mencapai pertemanan yang sejati dengan pasangan.

Agar kita dapat memiliki dan menghayati 4 sikap utama ini, maka kita sebagai suami isteri perlu memahami konsep kebutuhan yang bersumber dari Cinta-kasih Tuhan. Tentu saja setiap suami atau isteri, masing-masing memiliki kebutuhan yang mendasar, yaitu kebutuhan mendasar seorang suami pada umumnya adalah merasa dirinya berarti yang berkenaan dengan kecukupan, dihormati dan dikagumi di hadapan isteri, sedangkan kebutuhan paling utama bagi para isteri adalah: rasa aman, dikasihi, diterima dan diperhatikan oleh suaminya.

Apabila kita dapat menghayati keempat sikap hidup di atas, kiranya seorang suami dapat belajar memandang Tuhan untuk memenuhi kebutuhan “agar dirinya lebih berarti di hadapan Tuhan” sedangkan seorang isteri belajar memandang Tuhan yang memenuhi kebutuhan pribadinya “akan rasa aman”. Dengan demikian kita merasa betapa besar kasih Tuhan kepada kita, sehingga kita tidak saling menuntut, akan tetapi justru saling memberi.

Biasanya secara tidak sadar kita berusaha untuk memanipulasi pasangan agar memberikan akan kebutuhan yang kita rasakan, karena kita masih memfokuskan diri untuk memperoleh dan bukan untuk memberi. Tentu saja tingkah laku kita yang egois ini dapat dikikis dengan adaptasi proses belajar menghayati dan menerapkan 4 sikap utama di atas dalam kehidupan pasangan suami isteri. Marilah kita jangan meninggalkan “Pola Pertemanan” dalam kehidupan perkawinan kita dan tetap melibatkan Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari.


 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003