|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Keluarga |
|
29 Maret 2004
Langkah Terakhir Menuju Pernikahan Tjuk Sumarsono |
|
|
Beberapa waktu lalu, Anton keponakan saya datang dari
Surabaya untuk konsultasi sehubungan relasi dengan
pasangannya mulai memburuk. Baru empat bulan lalu Anton
dan Mirna menikah, setelah melalui masa pertunangan selama
satu tahun.
Menurut Anton, ternyata Mirna berubah perangai setelah
memasuki masa pernikahan. “Dia keras kepala dan mau menang
sendiri” katanya. Gara-gara perubahan perangai Mirna, maka
relasi pasangan suami-isteri ini tidak harmonis lagi.
Pengalaman seperti ini juga dialami oleh banyak pasangan,
bahkan belum lama mereka menikah sudah cerai lagi.
Masa pertunangan merupakan masa yang sangat menyenangkan,
penuh romantika bagi sepasang muda-mudi yang akan
melangsungkan perkawinan, di mana mereka mengadakan ikatan
persahabatan yang istimewa. Masa seperti ini perlu
dikondisikan sebagai suatu langkah awal yang sangat
menentukan dalam membangun perkawinan yang berhasil.
Mengapa demikian? Bila pembinaan persahabatan di dalam
pertunangan ini sampai dilanjutkan ke jenjang kehidupan
suami-isteri, maka sifat dan tabiat serta kebiasaan yang
dibangun dalam masa pertunangan akan menjadi landasan yang
kokoh dalam kehidupan keluarga di kelak kemudian hari.
Mulus dan tidaknya dalam masa pernikahan, banyak diwarnai
oleh kualitas pembangunan relasi mereka pada masa
pertunangan.
Di Gereja kita ada pembinaan Pranikah yang mengajarkan
kepada para calon pasangan suami-isteri mengenai segala
aspek kehidupan suami-isteri yang dipandang dari sudut
kristiani. Hal ini sangat penting untuk diikuti secara
serius dan perlu dihayati untuk senantiasa dipraktekkan
dalam kehidupan suami-iteri. Sejalan dengan itu, saya akan
mengemukakan beberapa hal yang dapat dijadikan pedoman
bagi para muda-mudi yang sedang atau akan menjalani masa
pertunangan.
Marilah kita belajar dari kegagalan Anton dan Mirna pada
saat memasuki masa pernikahan mereka, karena mereka tidak
mempersiapkan diri dari awal untuk membangun landasan yang
kokoh pada masa pertunangan. Masa pertunangan harus
diawali dengan peran yang harmonis dari kedua belah pihak,
baik dalam pribadi, maupun tingkah laku sebelum menginjak
dalam kehidupan bersuami-isteri. Diharapkan senantiasa
akan dapat mengurangi tekanan-tekanan yang akan timbul
dalam kehidupan berumah tangga yang mengarah pada
kebahagiaan suami-isteri.
Perlu diingat bahwa ikat janji di dalam pertunangan
berbeda dengan janji yang diucapkan dalam upacara
pernikahan, karena ikat janji dalam pertunangan masih bisa
dibatalkan, sedangkan di dalam pernikahan tidak boleh
gagal, kecuali kematian yang memisahkan.
Sekalipun dalam masa pertunangan masih bisa dibatalkan,
namun dalam masa pertunangan ini tidak boleh dianggap
enteng, karena tindakan memutuskan suatu ikat janji adalah
suatu hal yang sama sekali tidak menyenangkan dan
merupakan sumber pergunjingan yang kurang enak didengar.
Tetapi perlu diperhatikan bahwa lebih baik memutuskan
suatu ikat janji pertunangan dari pada melanjutkan sampai
ke jenjang pernikahan yang bemasalah, apabila terjadi
perbedaan prinsip yang tidak mungkin disatukan kembali.
Tentu saja sebelum masa pertunangan, pada awalnya mereka
saling mengagumi, kemudian saling jatuh cinta dan
selanjutnya ada kemesraan di antara mereka. Pada waktu
akan memasuki masa pertunangan, sebaiknya mereka sudah
mengakhiri pengalaman “jatuh cinta“ secara emosional yang
berada di awang-awang. Kemudian turun ke bumi mengejar
“cinta sejati” yang menyatukan emosi dan akal sehat serta
melibatkan kemauan keras dan disiplin akan kebutuhan
pertumbuhan pribadi masing-masing.
Masa pertunangan sebaiknya memerlukan waktu yang cukup
lama untuk saling lebih mengenal satu dengan yang lain
dalam berbagai aspek praktis dari kehidupan sehari-hari,
disamping kehidupan intelektual, phisik, mental dan
spiritual.
Di sini dikemukakan lima hal penting yang perlu disimak
dan dihayati serta dilakukan bagi mereka yang akan atau
sedang menjalani masa pertunangan, yaitu sebagai berikut:
|
|
Saling menghargai dan menjaga kehormatan |
Saling menghargai adalah merupakan suatu sikap pribadi
yang perlu dikembangkan dalam diri masing-masing agar
terbentuk sikap terbuka, saling percaya dan saling
menghormati di antara mereka.
Dengan demikian kelanggengan cinta kasih dapat
diwujud-nyatakan, bukan hanya dalam ucapan tetapi dalam
perilaku sehari-hari. Dalam ikatan pertunangan ini perlu
diawali dengan belajar saling menghargai dan saling
menghormati sehingga akhirnya akan timbul sikap saling
percaya dan menjaga kehormatan demi tercapainya pernikahan
yang abadi. |
|
Mengembangkan sikap jujur dan wajar |
Kehidupan suami-isteri adalah suatu kehidupan praktis.
Oleh karena itu pertunangan sebagai langkah awal menuju
jenjang pernikahan perlu dilakukan dengan pendekatan
praktis dan mendasarkan semua persoalan pada hal-hal yang
praktis. Setiap individu dalam pertunangan selalu
mendambakan calon teman hidupnya memiliki akal-budi dan
bertingkah laku yang baik serta wajar, agar persahabatan
yang dibina tidak kandas di tengah jalan.
Pada masa pertunangan, bisa saja muncul sifat dan tabiat
tertentu atau sikap pribadi yang menimbulkan kekecewaan
dan menjadi cacat dalam masa pertunangan. Hal seperti ini
perlu dijaga dan dilatih untuk memperbaiki sikap dan sifat
pribadi yang kurang relevan, namun tidak berusaha
menyembunyikan sifat dan sikap pribadi yang tidak terpuji
pada masa pertunangan karena pada akhirnya akan timbul
kembali setelah masa pernikahan, seperti yang dialami oleh
pasangan Anton dan Mirna.
Tentu saja bila terjadi hal seperti ini akan membahayakan
masa depan pernikahan. Maka pada masa pertunangan perlu
dikembangkan sikap jujur dan wajar agar kekecewaan dan
ketidak serasian yang timbul, secara dini dapat
diantisipasi dengan adaptasi proses belajar, sebagai
persiapan menuju ke jenjang pernikahan.
Jujur dan wajar yang dimaksudkan di sini termasuk pula
tidak menyembunyikan masa lalu yang kelabu, penyakit yang
pernah diderita atau pengalaman seksual yang buruk. Selain
itu kemungkinan ada beberapa faktor yang berkaitan dengan
sejarah dari masing-masing pihak yang disembunyikan
menjadi rahasia tentang dirinya. Mungkin juga ada
keengganan untuk mengungkapkannya karena takut akan
merusak persahabatan yang sedang dibinanya dan takut gagal
melangsungkan pernikahan. Sikap kurang jujur ini justru
akan menutup kemungkinan akan keterbukaan dan betapa
ketatnya menyimpan rahasia, dalam jangka panjang akan
terbongkar juga.
Bila hal ini terjadi maka akan menimbulkan kurangnya rasa
hormat dari pasangan itu dan akan menjadikan mala-petaka
di kelak kemudian hari. Oleh karena itu janganlah berusaha
menguburkan suatu rahasia apapun dalam masa pertunangan.
Hal ini perlu diutarakan secara garis besar saja namun
secara lugas dan tidak perlu diceritakan secara rinci yang
akan lebih menimbulkan salah paham. Suatu contoh seorang
pemuda mantan play-boy tidak perlu menceritakan pengalaman
seksualnya bersama mantan pacarnya secara panjang lebar
dan rinci kepada tunangannya. |
|
Mencari kesepadanan dan menuju keserasian |
Kesepadanan yang dimaksudkan di sini adalah bukan hanya
berarti memiliki kesamaan atau kesetaraan dalam sikap dan
perilaku, akan tetapi juga ada unsur saling melengkapi
satu dengan yang lain. Di sana ada kesamaan pola pikir,
pola pandang dan pola tindak yang bersumber dari Firman
Tuhan, di sana juga ada kesetaraan dalam proses berpikir
dan di sana ada pula saling isi mengisi dan saling
melengkapi satu dengan yang lain.
Kesamaan pola pikir, pola pandang dan pola tindak sangat
relatif dan tentu saja tidak ada yang sama persis, namun
dalam proses bertindak harus tetap menggunakan acuan yang
sama yaitu pola pikir dan pola pandang Tuhan yang telah
tertuang dalam Firman-Nya, maka akan lebih mudah bagi
mereka untuk melakukan proses berinteraksi dan
berkomunikasi. |
|
Memiliki komitmen monogami absolut |
Kebahagiaan dalam pernikahan menuntut komitmen monogami
yang absolut, oleh karena itu dalam pertunangan,
masing-masing perlu menyediakan waktu dengan perhatian
penuh pada pasangan dan membatasi keinginan untuk bergaul
bebas dengan kawan lawan jenis seperti kebiasaan pada
waktu masih lajang. Masing-masing perlu mengembangkan diri
dan mewujud-nyatakan kasih setia dan intim hanya pada
pasangan.
Kadang-kadang hal ini agak sulit bagi sebagian pemuda yang
mempunyai sifat yang sangat ramah terhadap gadis-gadis
lain, maka perlu ada pengendalian diri dan mengembangkan
sikap “hanya sebatas ramah saja dan tidak boleh lebih jauh
lagi”. Pengembangan sikap setia hanya pada pasangan perlu
dibina dalam masa pertunangan yang senantiasa akan dibawa
dalam masa pernikahan sampai akhir hayat. |
|
Menghargai otoritas orang tua |
|
Menghargai otoritas orang tua sangat penting dalam
memasuki masa pertunangan karena bagaimanapun majunya
zaman, kita tidak dapat meninggalkan restu orang tua.
Apabila mereka dengan seenaknya melakukan ikat janji
pertunangan tanpa melibatkan orang tua, mereka mungkin
akan mengalami ganjalan-ganjalan dan hambatan psikologis
dalam kehidupan pernikahannya. Dengan sepengetahuan dan
seijin orang tua dari kedua belah pihak, maka diharapkan
mereka dapat membangun kebahagiaan masa depan dan akan
mengurangi adanya salah paham di antara anak dan orang
tua. |
|
Marilah kita simak firman Tuhan yang dapat kita jadikan
acuan untuk melakukan hal tersebut, yaitu:
- “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di
tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu” (Kolose
3:20).
- “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal,
karena itulah yang indah di dalam Tuhan” (Kolose 3:20).
- “Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia
tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan
semua perkara ini di dalam hatinya” (Lukas 2:51).
Demikianlah lima hal penting yang perlu diperhatikan dalam
menjalani masa pertunangan, agar dapat mencapai
kelanggengan ikatan pernikahan. Pertunangan bukanlah suatu
masa percobaan pernikahan, akan tetapi lebih tepat
dikatakan sebagai satu langkah terakhir menuju pernikahan
dan merupakan suatu masa persiapan yang terpenting dari
suatu pernikahan.
|
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|