|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Keluarga |
|
30 Januari 2004
Hidup Tanpa Orang Tua Bep & Paul Poli |
|
|
Dengan suratnya No. 877/MJ/X-01/003 tanggal 9 Oktober
2003, Majelis Jemaat menugaskan kami berdua, sebagai
Pasutri, untuk melayani Persekutuan Pemuda, di Ruang
Efesus, gedung GKI Pondok Indah, yakni pada pk. 19.00,
hari Rabu, 25 Maret 2004. Tema yang dipakai ialah: “Hidup tanpa orangtua,” berdasarkan 1 Samuel 3: 4-19, dengan
tujuan, bahwa sesungguhnya “Pemuda dapat bertumbuh dengan
baik meski pun tanpa orangtua.”
Sebagai persiapan dalam proses menyamakan persepsi, maka
dituangkan pemikiran kami tentang tema dan tujuan
pelayanan tersebut di atas, seperti yang dikemukakan di
bawah ini.
Pertama-tama kami menempatkan anak dalam hubungan dua arah
dengan orangtuanya, menurut panduan Alkitab. Dalam hal ini
dipakai sebagai rujukan perikop 1 Samuel 3:4-15, yakni
dalam kasus pemuda Samuel, dengan Pasutri Elkana-Hana,
sebagai orangtua, dan lingkungan Imam Eli, dan kedua orang
anaknya. Akhirnya, dalam kerangka acuan itu dilakukan
refleksi mengenai kondisi: pemuda yang hidup merantau,
jadi tanpa kehadiran orangtua.
Ini adalah suatu fenomena, artinya merupakan bagian dari
realitas kehidupan kita berjemaat, sehingga dimasukkan dan
menjadi bagian program kegiatan pelayanan para pemuda di
Jemaat GKI Pondok Indah, dalam arti saling melayani. |
|
Orang Tua |
Program pelayanan kita mencakup juga Pembinaan Pranikah (pasal
29 ayat 2 Tata Laksana), dalam bentuk Katekisasi
Pernikahan, sebagai suatu pelayanan dan panduan bagi
anggota-anggota jemaat yang hendak membentuk keluarga (Kej.
2:22-24) dengan memasuki hidup berumahtangga. Jadi bagi
mereka yang mengharapkan dapat berfungsi sebagai orangtua
kristiani, yaitu sebagai panutan (role model), dalam
proses mendidik dan membesarkan anak-anak mereka.
Bagian Alkitab yang sering menjadi acuan, dan konsistensi
pelaksanaannya oleh orangtua dalam mendidik anak-anak
mereka, kita jumpai dalam Ulangan 6:1-25, dengan seruan:
“dengarlah/shema Israel.” Apabila hubungan ayah dengan
anaknya yang menjadi fokus perhatian, maka baiklah kita
memakai panduan dalam Amsal 1:1-9, sedang nasehat kepada
anak agar memperhatikan didikan sang ibu, dengan bijaksana
disisipkan Raja Salomo ke dalam Amsal 1:8.
Aspek yang sangat menentukan dalam perilaku seseorang
ialah pengambilan keputusan dalam lalulintas hukum yang
merajut hubungan antar-manusia, dan yang menjadi indikator
tingkat kedewasaan yang telah dicapai seseorang. Oleh
karena itu dalam Bilangan 30:1-16, diberikan tekanan
khusus kepada konsekuensi dari keputusan-keputusan yang
telah dibuat itu.
Orangtua berupaya agar perilaku anak-anak mereka
didasarkan dan menampilkan iman kristiani, sehingga proses
pembentukan karakter anak-anak berpola pada karakter Tuhan
Yesus, yang tentunya terpancar dari perilaku rangtua. Ini
mengikuti kata-kata bersayap Tuhan Yesus, bahwa “Pohon
dikenal dari buahnya” (Mat.12:33) Sekolah dan gereja dapat
memfasilitasi proses pendidikan kristiani, tetapi tidak
mungkin dan tidak dapat mengambilalih tanggungjawab
pendidikan anak dari orangtuanya.
Setelah bersusah-payah mendidik dan membesarkan anak-anak,
maka adalah wajar bagi orangtua untuk mendapatkan
kedudukan yang terhormat bagi sang anak, menurut paradigma
yang dianut. Ini dibuktikan oleh kasus permintaan ibu
Yakobus dan Yohanes kepada Tuhan Yesus, agar “kedua anakku
ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang
di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah
kiri-Mu.“ (Mat. 20: 21).
Kasus harapan dan permitaan ibu Yakobus dan Yohanes itu
membawa kita pada persoalan kehendak Tuhan, mengenai
peranan apa yang hendak diberikan-Nya kepada sang anak.
Hal itu memerlukan doa penyerahan diri. Ini sangat penting
dalam konteks tersebut, juga karena potensi konflik yang
dapat terjadi. Mengapa? Karena tanpa disadarinya, orangtua
ada kalanya memaksakan kehendaknya untuk melanjutkan hidup
dan cita-citanya melalui anak-anaknya, tanpa
memperhitungkan bakat dan minat sang anak, serta zaman
yang telah jauh berubah. Gejala benturan sikap hidup ini
biasa dikenal dengan ungkapan: “generation gap,” karena
orangtua hidup di masa kini tetapi dengan paradigma masa
silam.
Secara kontekstual, orangtua menghadirkan lembaga keluarga
ciptaan Tuhan, dan sekaligus berfungsi sebagai payung
pengamannya, sehingga menyediakan lingkungan yang kondusif
bagi proses pembentukan karakter sang anak. Oleh karenanya,
GKI Pondok Indah dalam program pelayanannya menghargai dan
memakai keluarga ciptaan Tuhan itu sebagai batubata
(building block) pembangunan jemaat dan masyarakat.
(Single parent family, made in USA, apalagi pembentukan
“keluarga” yang terdiri dari pasangan se-gender, adalah
pemberontakan kepada Tuhan, sehingga kita tolak dengan
tegas dan tidak dijadikan rujukan dalam tulisan ini).
Dalam kasus Samuel, yang adalah seorang anak nazar
sehingga dipisahkan, artinya disucikan untuk
dipersembahkan oleh orangtuanya kepada Tuhan, seumur hidup
(1 Sam. 1:28). Puji-pujian Hana kepada Tuhan (1 Sam.
2:1-10) mengingatkan kita kepada nyanyian pujian Maria
(Luk.1: 46-56), yang mengilhami komponis Franz Schubert
untuk menciptakan lagu “Ave Maria.”
Persembahan nazar keluarga Elkana-Hana itu diganti Tuhan
dengan 3 anak laki-laki dan 2 anak perempuan (1 Sam.
2:21). Sungguh pun “Hidup tanpa orangtua” (judul tulisan
ini) pada usia sangat muda, namun kasih sayang orangtuanya
tetap menyertai Samuel.
Alkitab mencatat, bahwa “Setiap tahun ibunya membuatkan
dia jubah kecil dan membawa jubah itu kepadanya, apabila
ia bersama-sama suaminya pergi mempersembahkan korban
sembelihan tahunan.” (1 Sam.2:19). Dengan demikian, kasih
sayang orangtuanya yang menyertai makna serta tujuan hidup
yang ditanam padanya sejak dini (formative years), turut
membentuk karakter Samuel.
Oleh karena itu, dia tidak terkontaminasi lingkungan yang
dinodai kedursilaan anak-anak imam Eli, yakni Hofni dan
Pinehas. Keteguhan karakternya dan kemurnian imannya
kepada Tuhan memampukan Samuel memberikan kualitas
kepemimpinan yang berkenan kepada Tuhan, sebagai hakim
terakhir yang memerintah bani Israel, menjelang masa
pemerintahan Raja Saul.
Menurut tradisi, Samuel dianggap menulis pasal 1 hingga 24
Kitab 1 Samuel. Ini berarti, bahwa sebagai orangtua,
dengan pedih hati dan malu dia mengakui kegagalannya,
seperti diungkapkan dalam observasinya tentang perilaku
anak-anaknya, Yoel dan Abia: “Tetapi anak-anaknya itu
tidak hidup seperti ayahnya; mereka mengejar laba,
menerima suap dan memutarbalikkan keadilan,” (1 Sam.8:3). |
|
Generasi Muda |
Kasus Samuel mau membuktikan kepada kita, bahwa usia bukan
merupakan penghalang dan batas untuk melayani Tuhan. Ibu
Hana bahkan membuat jubah “mini,” agar Samuel dapat
memiliki perlengkapan fisik yang disyaratkan dalam ibadah
menghampiri hadirat Tuhan. Inilah orang kecil, tetapi
dengan iman besar! Samuel menjalani proses belajar
melayani Tuhan, sejak kecil hingga menjadi remaja. Hal itu
dilanjutkan pada fase kepemudaan, yang mempersiapkan dan
akhirnya menghantarnya kepada jabatan hakim, yang memimpin
bani Israel. Dalam jabatan sebagai hakim terakhir, Samuel
mengurapi dan membawa berturut-turut Raja Saul dan Raja
Daud ke singgasana kerajaan Israel.
Pengkhotbah menasehatkan agar masa kepemudaan dimulai
dengan mencari dan mengembangkan keakraban dengan Tuhan (Pengkh.
12:1-8). Sebab hidup tanpa Tuhan, khususnya apabila sudah
termakan usia, dan dihadang rangkaian kemalangan penyakit
usia senja, akan menciptakan hari-hari diliputi suasana
mendung, kesepian, disusul kepekatan kegelapan malam, yang
senantiasa hadir tanpa secuil harapan pun. Memang
mengerikan sekali!
Oleh karena itu, seperti telah dikutip di atas,
Pengkhotbah menasehatkan bahwa masa muda memang asyik dan
mengasyikkan. Akan tetapi, keasyikan itu dapat menjadi
jebakan berperilaku mabuk-mabukan, serta memilih
kenikmatan masa muda yang lepas kendali. Inilah sikap
hidup yang mencegah terjadi proses mencari keakraban
dengan Tuhan, dengan segala konsekuensiya, kata
Pengkhotbah.
Berdasarkan penalaran yang “Christ-centered,” dokter Lukas
bertutur tentang hubungan pemuda dengan orangtua, dan dia
mengatakan: “Lalu Ia pulang bersama mereka ke Nazaret; dan
Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan
semua perkara itu di dalam hatinya. Dan Yesus makin
bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya,
dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.” (Luk.2:51-52).
Kutipan di atas dimaksdukan agar kita bercermin pada
perilaku Kristus sendiri, sebagai pemuda. Dia yang Anak
Allah, tetapi tetap menghargai dan taat kepada
“orangtua-Nya” di muka bumi. Ia kembali ke Nazaret dan
tunduk kepada kewibawaan “orangtua-Nya.” Inilah yang
menjadi rujukan dan paradigma kita, khususnya generasi
muda kita, yang dengan sadar memilih dan berikrar
menjalani hidup yang berpola karakter Kristus, sehingga
memberikan warna dan substansi pada perilaku kita. Dengan
demikian, kita dimungkinkan (1) “bertambah besar dan
bertambah hikmat,” sehingga kita (2) “makin dikasihi oleh
Allah dan manusia.” |
|
Refleksi Kita |
|
Hidup kita berjemaat di GKI Pondok Indah mencakup kelompok
pemuda, sebagai bagian integral jemaat, dan oleh karena
itu ikut secara proaktif berperan dalam program pelayanan
jemaat. Di dalam kelompok itu, sebagian daripadanya yang
hidup merantau, jadi tanpa kehadiran orangtua mereka,
mungkin karena studi atau pun suatu faktor lain. Adakah
kita mengenal mereka? Ini merupakan fenomena, yang
memerlukan kepekaan dan kepedulian kita untuk ditempatkan
sebagai bagian integral dari program pelayanan yang ada.
Dalam sebuah rapat suatu gugus tugas baru-baru ini,
seorang peserta yang akrab dengan angka-angka anggaran
belanja mengatakan, bahwa pengeluaran untuk konsumsi kita
pada tahun 2003 mencapai sekitar Rp 200 juta. Kenyataan
itu patut direnungkan dalam skala prioritas kita!
Memperhatikan perilakunya yang telah kita soroti dan
menjadi fokus refleksi kita ialah, bahwa Samuel
membuktikan faktor usia bukanlah menjadi penghalang dalam
partisipasi pelayanan. Dalam hal ini, pelayanan kepada
para pemuda bersifat lalulintas dua arah, artinya saling
melayani. Tingkat intensitasnya itu dimungkinkan oleh
komunikasi yang menggunakan bahasa dan simbol-simbol yang
akrab dalam lingkungan pemuda, serta dengan menanggapi
himbauan diakonal Kristus, yang masih relevan kini dan di
sini (Mat. 25:35-45).
Beginilah irama hidup generasi penerus, yang mewarnai dan
memberikan substansi pada kehidupan berjemaat kita di GKI
Pondok Indah. Dalam lingkungan kebersamaan itu perlu kita
melakukan refleksi, bahwa kita peduli (sesuai visi Jemaat
GKI Pondok Indah), bahkan berikrar, bahwa sesungguhnya di
jemaat kita: “Pemuda dapat bertumbuh dengan baik, meski
pun tanpa orangtua.” Kiranya Tuhan memberkati pelayanan
kita. Amin.
Jakarta, 22 Januari 2004
|
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|