Keluarga
29 Nopember 2003
Keluarga Kristen
Nani Agus Susanto
Dalam riset yang pernah diadakan di USA, ditemukan bahwa suami-istri hanya berbicara sekitar 4-5 menit, dengan anak-anak hanya 30 detik tiap harinya. Keluarga ukuran rata-rata berbicara sekitar 17 menit perminggu, termasuk “diskusi” tentang acara TV, “tolong berikan garamnya” di meja makan, dsb;
  • 63%: memirsa TV sambil makan (76% di antaranya berusia 8 – 24 tahun)
  • 29%: tertidur di depan TV.
  • 42%: langsung menghidupkan TV begitu masuk ruangan.

  • Bagaimanakah Gambaran Keluarga Kristiani?

    Allah menciptakan keluarga (Kej. 1:26-28), sebagai wadah/wahana di dalam mana kita dipanggil untuk lebih memahami dan menghayati apa artinya menjadi “gambar Allah”. Kehidupan keluarga menggambarkan suatu kesatuan yang serasi, sebagaimana Allah Tritunggal yang bersatu dengan harmonis.

    Anak-anak adalah hasil persekutuan diri suami-istri. Bukan milik tetapi karunia Tuhan. Kebahagiaan suami-istri tidak diletakkan kepada anak-anak, tetapi kepada Allah yang adalah sumber di mana kita beroleh hidup. Kepada Dia saja kita bergantung, dan untuk Dia kita hidup, bagi-Nya kita tujukan pengabdian kita demi hormat dan kemuliaan-Nya.

    Dengan demikian keadaan tidak mampu beroleh anak, patut diterima tanpa sesal, dan tidak perlu mengakibatkan ketidak bahagiaan atau alasan untuk bercerai.

    Kebahagiaan suami-istri yang bersekutu dengan Tuhannya ini akan mempengaruhi pertumbuhan kepribadian anak-anaknya.

    • Musa : mampu bertahan dalam budaya/dunia sekular, karena pengaruh spiritualitas orang tuanya yang beriman.

    • Yesus : bertumbuh dewasa penuh Roh, bukan saja karena diberkati Allah Bapa, tetapi juga karena memiliki Yusuf dan Maria yang saleh.

    Kita harus menyadari bahwa anak-anak kita ada terutama untuk dan demi Allah, bukan untuk dan demi kepentingan kita. Keberhasilan sebuah keluarga menjadi wadah di mana tiap pribadi menyadari panggilannya sebagai citra Allah, sangat ditentukan oleh mutu hubungan suami-istri dan mutu relasi orang tua dengan anak.

    Oleh karena itu tantangan yang dihadapi keluarga pada abad-21, sebagaimana dilukiskan dalam riset di atas, perlu dijawab dengan mendedikasikan, memberi waktu, membimbing mereka, dengan menjadi orang tua yang setia kepada Allah, mengasihi Dia dengan segenap hati, menolak dualisme antara ibadah dan kerja, antara kata dan perilaku.

    Keluarga mengasihi Tuhan sepenuhnya dalam ibadah yang bulat dan utuh. Allah adalah Tuhan (=tuan) atas rumah tangga kita, gereja kita, kerja dan profesi kita, uang kita, waktu kita, cita-cita kita, rekreasi kita, hobi kita, bahkan anak-anak kita.

    Waspadalah, kehancuran keluarga yang dikerjakan ‘si jahat’, dan untuk ini rumah tangga Kristen harus tetap berpegang pada visi dari Allah, sebagaimana firman Tuhan: “Takutlah akan Tuhan dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia… pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah… Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan!” (Yos. 24:14,15)

    Pentingnya Komunikasi "Isi Hati" Dalam Keluarga Kristen
    Keluarga pasca modern, asyik dengan hi-tech, sehingga masing-masing ruang tidur banyak sudah dilengkapi dengan audio visual, komputer, telepon, dsb. Sesungguhnya keluarga yang demikian ini, walaupun memiliki alat hiburan yang lengkap, adalah keluarga yang sepi, karena terdiri dari anggota keluarga yang ‘bisu’, terasing satu dari yang lain. Banyak informasi yang harus mereka dengarkan, dan harus melakukan gerak yang sedemikian cepat, jika tidak mau dibilang ‘ketinggalan zaman’ membuat orang cenderung tidak lagi mengembangkan persahabatan, memberikan waktu pada anggota keluarga yang lain untuk berbincang-bincang, atau berkomunikasi dari hati ke hati.

    Semua dilakukan dengan cepat, basa-basi, atau dangkal-dangkal saja. Akibatnya kesadaran diri dalam relasi dengan anggota keluarga yang lain sebagaimana digambarkan di atas, di mana tiap pribadi tumbuh menjadi satu keluarga yang menggambarkan citra Allah, menjadi kabur.

    Di sinilah keluarga Kristen seharusnya terpanggil untuk menunjukkan kesaksian melalui “Komunikasi isi hati” yang diberi tempat utama dalam menjalin relasi dengan anggota keluarga yang lain. Tiap pribadi bisa merasakan bahwa keluarga berfungsi sebagai oasis di tengah padang gurun, seperti pelabuhan perteduhan dari dunia yang keras dan penuh ancaman. Apa yang menjadi kesedihan satu anggota keluarga, dapat dirasakan oleh semua anggota keluarga dan menjadi pergumulan bersama dalam doa. Begitu pula apa yang menjadi sukacita satu orang menjadi sukacita seluruh keluarga dan menjadi syukur keluarga kepada Tuhan.

    Semua terbuka untuk mencari ‘jalan keluar’ dalam terang Firman Tuhan. Sekalipun dibutuhkan kesabaran untuk ‘mendengarkan’ dan tidak ‘menyakiti’ hati pihak lain, mutu hubungan yang demikian inilah yang Tuhan berkenan (Ef. 6)

    Keluarga Kristen sebagai Jemaat Kecil
    Paulus menyebutkan relasi suami-istri yang saling mengasihi adalah menggambarkan relasi Kristus dan jemaat-Nya. (Ef. 5).

    Banyak orang tidak dapat melihat, bagaimana besar kasih Allah kepada jemaat-Nya, karena relasi mereka tidak mencerminkan realasi cinta yang saling melindungi dan menghormati. Sebagaimana tatanan yang ditetapkan oleh Tuhan. Bila tiap keluarga menyadari akan panggilan-Nya ini, maka kehidupan rumah tangga Kristen akan menjadi keluarga yang sungguh menyaksikan apa arti dari keluarga bahagia, keluarga yang memiliki persekutuan yang indah, kedamaian, saling memaafkan, sebagaimana Kristus menerima kita. Pengorbanan Kristuslah yang selalu menjadi panutan dan dasar dari segala aksi kita.

    Di sinilah perbedaan dengan keluarga pasca modern yang cenderung menampilkan penampilan luar (imej, gambar, kesan) lebih penting dari pada hakikat, jati diri keluarga itu. Penampilan, seperti keindahan yang tampak dari luar lebih diutamakan daripada integritas, moralitas, sosialitas, apalagi spiritualitas keluarga itu.

    Refleksi Seorang "Ibu" Mengenai Keluarga Kristen

    Ada kebahagiaan khusus bahwa sebagai ibu, kita boleh berperan penuh dalam mendampingi kehidupan keluarga bersama-sama dengan pasangan, atau yang karena terpaksa harus sendiri; berfungsi ganda sebagai ‘orang tua’.

    Kondisi rawan tentang nilai-nilai keluarga di seluruh dunia masa kini membangkitkan kesadaran ‘ibu’ untuk lebih dengan seksama memperhatikan kebutuhan tiap-tiap anggota keluarganya. Kebutuhan untuk dicintai dan kebutuhan spiritualitasnya. kita dapat mengambil inisiatif untuk selalu mendialogkan nilai-nilai keluarga Kristiani di mata Tuhan besama seluruh anggota keluarga.

    Tiap pribadi adalah ‘berharga’ dan merupakan ciptaan Tuhan yang ‘unik’ dan ‘baik’ adanya. Oleh karena itu tidak ada pembedaan, semua perlu didengarkan, dihargai, sekali lagi dicintai… Sehingga mereka boleh melihat keteladanan kita khususnya sebagai ‘ibu’ yang selalu dengan wajah dan hati bersyukur ‘menyiram’ seluruh anggota keluarga dengan kata-kata yang meneguhkan, perlakuan penuh kasih, pelayanan yang tulus dan maaf yang tak ada batasnya… sebagaimana Kristus telah perbuat untuk kita.

    Dengan semangat membagikan terus cinta kasih yang kita rasakan dari Tuhan kepada keluarga ktia, dan taat kepada firman Tuhan yang menjadi pegangan seluruh keluarga pasti kehidupan keluarga-keluarga Kristiani akan tetap tegak di tengah-tengah badai dunia yang sekular ini.


     
    >> Arsip

       

    Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003