Keluarga
28 Nopember 2003
Biduk Pernikahan = Pesawat Ruang Angkasa
Hartono Haryadi

Pesawat ruang angkasa yang sedang berjalan menuju planet Mars perlu dievaluasi setiap saat, apakah arahnya masih tetap seperti semula, apakah harus ada penyesuaian arah, apakah semua peralatan masih berfungsi dengan baik, apakah bahan bakarnya masih cukup dan sebagainya. Kalau tidak, maka pesawat ini bisa-bisa tidak mencapai sasaran yang dituju.

Demikian juga dengan perjalanan pernikahan kita. Kita harus melihat apakah tujuan pernikahan kita masih tetap seperti yang telah direncanakan atau sudah berubah, apakah ada hal-hal yang perlu diperbaiki atau apakah ada hal-hal baru yang harus ditambahkan, dan sebagainya.

Perjalanan hidup, dari waktu ke waktu pasti berubah, demikian pula dengan pernikahan kita, pasti mengalami perubahan. Kita harus terus menerus melakukan evaluasi agar perubahan yang terjadi itu tidak membuat arah perjalanan pernikahan kita berubah.

Coba kita ingat-ingat kembali pada awal pernikahan kita. Pada waktu itu, apa yang ada dalam pikiran kita tentang pernikahan yang akan kita jalani. Sebagian orang mungkin sudah mempunyai angan-angan atau cita-cita tentang pernikahannya. Angan-angan atau cita-cita tersebut mungkin juga dibuat dengan sangat lengkap. Misalnya, kehidupan pernikahan yang harmonis adalah bila suami bekerja mencari nafkah dari pagi sampai malam sehingga penghasilan yang didapatkan akan mencukupi kehidupan keluarga. Istri tidak perlu bekerja, tinggal di rumah untuk mengurus kebutuhan rumah tangga dan mengasuh anak-anak.

Tetapi ada juga yang berpikir bahwa suami jangan bekerja terlalu keras, karena harus mempunyai waktu yang cukup bersama keluarga. Uang yang berlimpah bukanlah merupakan prioritas, cukup asal bisa hidup saja, tetapi yang penting ada waktu yang cukup untuk keluarga. Mungkin ada juga yang berpikir bahwa suami istri harus sama-sama bekerja, urusan rumah diserahkan saja kepada orang lain, entah pembantu, entah orang tua atau siapapun dia.

Tetapi, banyak juga di antara kita yang tidak mempunyai angan-angan atau cita-cita mengenai pernikahan. Pokoknya menikah, mau jadi apa nantinya, gimana nanti saja. Seperti kapas yang tertiup angin, ikuti saja kemana angin bertiup.

Mungkin ada yang menikah agar supaya tidak repot, dari pada harus ngapel tiap minggu dari Jaksel ke Jakut atau dari kota ini ke kota itu, khan lebih baik menikah saja, bisa tinggal serumah dan tidak repot. Atau mungkin karena selama pacaran merasa oke-oke saja ya lebih baik menikah, khan pasti lebih oke lagi. Atau mungkin juga karena umur kita sudah cukup maka kita “harus” menikah.

Dalam hal mengimani pernikahan, juga terdapat perbedaan. Ada yang meyakini bahwa pernikahan adalah suatu rencana dari Tuhan, tetapi harus diakui bahwa banyak juga yang tidak berpikir seperti itu. Dahulu, Katekisasi pernikahan belum seperti sekarang, bahkan mungkin belum ada. Jadi, tidak ada yang memberitahu dan membimbing kita tentang apa itu pernikahan menurut ajaran kristen serta bagaimana caranya mendayung biduk pernikahan kita.

Tetapi, apapun alasan dan cita-cita kita, kenyataannya pada saat ini kita sudah telanjur menikah. Terlepas apakah kita sudah ataupun belum mempunyai konsep mengenai pernikahan, sekaranglah saatnya untuk mengevaluasi kehidupan pernikahan kita.

Apakah kita sadar bahwa pernikahan kita adalah suatu keputusan berdasarkan rencana Tuhan. Jika ya, maka tentunya kita harus selalu menyandarkan kehidupan pernikahan kita kepada Tuhan. Kita harus menghadirkan Tuhan di dalam rumah tangga kita. Relasi kita sebagai suami istri dengan Tuhan harus selalu kita pelihara, sama seperti kita harus selalu memelihara relasi kita dengan pasangan kita. Dengan evaluasi ini maka kita sudah mencoba untuk mengemudikan biduk pernikahan kita menuju sasaran yang benar.

Sebelum menikah banyak hal yang kita anggap sepele. Sifat-sifat pasangan yang kita anggap kurang baik tidak menjadi masalah. Nanti kalau sudah menikah sifat pasangan kita pasti bisa kita ubah. Aku akan mengubah kebiasaannya merokok yang tidak kusenangi, aku akan mengubah sifat jam karet pasanganku, akan aku ubah kebiasaannya bangun siang, akan aku ubah sifatnya yang tidak rapi, akan aku ubah sifatnya yang kasar, dan sebagainya.

Namun, dalam perjalanan pernikahan kita, ternyata keinginan kita itu belum tentu atau bahkan seringkali tidak menjadi kenyataan.

Karena keinginan kita untuk mengubah pasangan kita tidak berhasil, maka sudah pasti akan mempengaruhi relasi kita dengan pasangan kita. Hal ini diperparah lagi dengan ketidakberhasilan pasangan kita untuk mengubah diri kita sesuai dengan keinginannya. Belum lagi banyak hal baru yang bermunculan yang tidak kita perkirakan sebelumnya. Banyak sifat, perilaku atau kebiasaan yang tidak terlihat pada waktu pacaran, muncul setelah menikah.

Lalu, apa yang harus kita lakukan? Apakah kita menerima saja keadaan ini dengan pemikiran bahwa hal ini biasa terjadi dalam suatu pernikahan, seolah-olah sudah merupakan risiko dari suatu pernikahan? Apakah kita pendam saja dalam-dalam kekesalan dan kekecewaan kita itu? Atau apakah kita berusaha melupakan saja semua ini, dari pada ribut dengan pasangan? Kalau semua ini kita lakukan, kita ibarat menyimpan sebuah bom waktu yang setiap saat dapat meledak dengan hebat. Lalu sebelum bom tersebut meledak, apakah sebaiknya semua ini kita komunikasikan kepada pasangan kita?

Berbicara tentang komunikasi, sering kita jumpai bahwa komunikasi itu justru dapat menyebabkan “perang” dalam rumah tangga. Baik itu perang terbuka ataupun perang tertutup. Kita tahu bahwa komunikasi antara suami dan istri itu perlu dilakukan, tetapi kita sering lupa bahwa komunikasi itu juga dapat berdampak negatif. Oleh karena itu kita harus berpikir dulu mengenai perlu tidaknya sesuatu hal dikomunikasikan kepada pasangan kita.

Seringkali kita menganggap bahwa pasangan kita “harus sudah tahu” apa pikiran dan kemauan kita. Apalagi yang sudah menikah dalam waktu yang lama. Pikiran kita mengatakan, “mosok sudah menikah begini lama tidak tahu pikiran dan kemauanku, itu namanya kebangetan”. Atau yang lebih parah lagi kita mengganggap tidak sopan atau tidak pantas untuk berbicara terus terang. Ini biasanya terjadi dalam hal keuangan, mertua, saudara ipar atau seksualitas.

Padahal kalau kita baca dari buku, justru hal tersebut yang seringkali menjadi pemicu pertengkaran dalam kehidupan pernikahan kita. Misalnya suami atau istri ingin membantu orang tuanya atau saudaranya dalam hal keuangan. Mau disampaikan kepada pasangan, takut menjadi ribut, tetapi kalau tidak disampaikan, hati menjadi sedih. Apalagi kalau kita membantunya secara diam-diam, ada perasaan takut dan bingung kalau sampai diketahui oleh pasangan. Belum lagi kalau ada masalah dengan mertua atau saudara ipar. Mau disampaikan ke pasangan takut menyinggung perasaannya, tetapi kalau tidak disampaikan, akan terus berulang sehingga membuat sakit hati.

Demikian juga masalah seksualitas. Karena kita jarang mendengar masalah ini disampaikan secara terbuka, maka kita berpikir bahwa kehidupan seks pasangan lain tidak mempunyai masalah. Jadi, kita berpikir bahwa ini hanya terjadi pada diri kita sendiri, dan kita merasa tidak pantas untuk menyampaikannya kepada pasangan, malu atau tabu untuk dibicarakan, padahal kita merasa hal itu menyiksa diri kita.

Nah, kita baru berbicara tentang dua hal yaitu masalah komunikasi dan masalah mengubah pasangan. Sebetulnya kalau kita mau mengevaluasi perjalanan pernikahan kita masih banyak hal yang harus diperiksa. Misalnya, pertengkaran yang kita pernah lakukan, baik itu terbuka, tertutup atau pertengkaran sepele, pengambilan keputusan yang selama ini kita lakukan, kebiasaan kita dalam mendengarkan pasangan kita, atau keinginan kita untuk merasa dicintai, dihargai, dan sebagainya.

Mungkin kita merasa perjalanan pernikahan kita oke-oke saja. Tetapi kalau kita mau berusaha sedikit saja untuk mengevaluasi, barangkali yang kita anggap oke belum tentu oke pada pasangan. Akan lebih baik kalau kita mulai berusaha untuk mengubah cara kita berkomunikasi, menghapus keinginan kita untuk mengubah pasangan, mengubah cara kita dalam mengambil keputusan, mengubah cara kita dalam mencintai dan menghargai pasangan kita.

Kita harus menjaga agar perjalanan pernikahan kita tetap berada dalam rel yang benar, dan itu merupakan tanggung jawab kita bersama dengan pasangan. Apakah kita akan membiarkannya berjalan tanpa arah dan mengikuti saja kemana angin bertiup? Apakah kita tergerak untuk lebih meningkatkan lagi mutu pernikahan kita yang kita anggap sudah baik, atau kita merasa mutu pernikahan kita sudah cukup seperti ini saja?

Kalau pesawat ruang angkasa setiap saat perlu dievaluasi dan diperbaiki keadaannya dalam perjalanannya menuju ke sasaran, maka kalau kita tidak ingin biduk pernikahan kita berlayar ke arah yang tidak kita inginkan, kita perlu melakukan evaluasi. Selain itu, kita juga ingin agar selama berlayar kita dapat menikmati perjalanan kita. Selamat mengevaluasi.


>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003