|
Pesawat ruang angkasa yang sedang berjalan menuju planet
Mars perlu dievaluasi setiap saat, apakah arahnya masih
tetap seperti semula, apakah harus ada penyesuaian arah,
apakah semua peralatan masih berfungsi dengan baik, apakah
bahan bakarnya masih cukup dan sebagainya. Kalau tidak,
maka pesawat ini bisa-bisa tidak mencapai sasaran yang
dituju.
Demikian juga dengan perjalanan pernikahan kita. Kita
harus melihat apakah tujuan pernikahan kita masih tetap
seperti yang telah direncanakan atau sudah berubah, apakah
ada hal-hal yang perlu diperbaiki atau apakah ada hal-hal
baru yang harus ditambahkan, dan sebagainya.
Perjalanan hidup, dari waktu ke waktu pasti berubah,
demikian pula dengan pernikahan kita, pasti mengalami
perubahan. Kita harus terus menerus melakukan evaluasi
agar perubahan yang terjadi itu tidak membuat arah
perjalanan pernikahan kita berubah.
Coba kita ingat-ingat kembali pada awal pernikahan kita.
Pada waktu itu, apa yang ada dalam pikiran kita tentang
pernikahan yang akan kita jalani. Sebagian orang mungkin
sudah mempunyai angan-angan atau cita-cita tentang
pernikahannya. Angan-angan atau cita-cita tersebut mungkin
juga dibuat dengan sangat lengkap. Misalnya, kehidupan
pernikahan yang harmonis adalah bila suami bekerja mencari
nafkah dari pagi sampai malam sehingga penghasilan yang
didapatkan akan mencukupi kehidupan keluarga. Istri tidak
perlu bekerja, tinggal di rumah untuk mengurus kebutuhan
rumah tangga dan mengasuh anak-anak.
Tetapi ada juga yang berpikir bahwa suami jangan bekerja
terlalu keras, karena harus mempunyai waktu yang cukup
bersama keluarga. Uang yang berlimpah bukanlah merupakan
prioritas, cukup asal bisa hidup saja, tetapi yang penting
ada waktu yang cukup untuk keluarga. Mungkin ada juga yang
berpikir bahwa suami istri harus sama-sama bekerja, urusan
rumah diserahkan saja kepada orang lain, entah pembantu,
entah orang tua atau siapapun dia.
Tetapi, banyak juga di antara kita yang tidak mempunyai
angan-angan atau cita-cita mengenai pernikahan. Pokoknya
menikah, mau jadi apa nantinya, gimana nanti saja. Seperti
kapas yang tertiup angin, ikuti saja kemana angin bertiup.
Mungkin ada yang menikah agar supaya tidak repot, dari
pada harus ngapel tiap minggu dari Jaksel ke Jakut atau
dari kota ini ke kota itu, khan lebih baik menikah saja,
bisa tinggal serumah dan tidak repot. Atau mungkin karena
selama pacaran merasa oke-oke saja ya lebih baik menikah,
khan pasti lebih oke lagi. Atau mungkin juga karena umur
kita sudah cukup maka kita harus menikah.
Dalam hal mengimani pernikahan, juga terdapat perbedaan.
Ada yang meyakini bahwa pernikahan adalah suatu rencana
dari Tuhan, tetapi harus diakui bahwa banyak juga yang
tidak berpikir seperti itu. Dahulu, Katekisasi pernikahan
belum seperti sekarang, bahkan mungkin belum ada. Jadi,
tidak ada yang memberitahu dan membimbing kita tentang apa
itu pernikahan menurut ajaran kristen serta bagaimana
caranya mendayung biduk pernikahan kita.
Tetapi, apapun alasan dan cita-cita kita, kenyataannya
pada saat ini kita sudah telanjur menikah. Terlepas apakah
kita sudah ataupun belum mempunyai konsep mengenai
pernikahan, sekaranglah saatnya untuk mengevaluasi
kehidupan pernikahan kita.
Apakah kita sadar bahwa pernikahan kita adalah suatu
keputusan berdasarkan rencana Tuhan. Jika ya, maka
tentunya kita harus selalu menyandarkan kehidupan
pernikahan kita kepada Tuhan. Kita harus menghadirkan
Tuhan di dalam rumah tangga kita. Relasi kita sebagai
suami istri dengan Tuhan harus selalu kita pelihara, sama
seperti kita harus selalu memelihara relasi kita dengan
pasangan kita. Dengan evaluasi ini maka kita sudah mencoba
untuk mengemudikan biduk pernikahan kita menuju sasaran
yang benar.
Sebelum menikah banyak hal yang kita anggap sepele.
Sifat-sifat pasangan yang kita anggap kurang baik tidak
menjadi masalah. Nanti kalau sudah menikah sifat pasangan
kita pasti bisa kita ubah. Aku akan mengubah kebiasaannya
merokok yang tidak kusenangi, aku akan mengubah sifat jam
karet pasanganku, akan aku ubah kebiasaannya bangun siang,
akan aku ubah sifatnya yang tidak rapi, akan aku ubah
sifatnya yang kasar, dan sebagainya.
Namun, dalam perjalanan pernikahan kita, ternyata
keinginan kita itu belum tentu atau bahkan seringkali
tidak menjadi kenyataan.
Karena keinginan kita untuk mengubah pasangan kita tidak
berhasil, maka sudah pasti akan mempengaruhi relasi kita
dengan pasangan kita. Hal ini diperparah lagi dengan
ketidakberhasilan pasangan kita untuk mengubah diri kita
sesuai dengan keinginannya. Belum lagi banyak hal baru
yang bermunculan yang tidak kita perkirakan sebelumnya.
Banyak sifat, perilaku atau kebiasaan yang tidak terlihat
pada waktu pacaran, muncul setelah menikah.
Lalu, apa yang harus kita lakukan? Apakah kita menerima
saja keadaan ini dengan pemikiran bahwa hal ini biasa
terjadi dalam suatu pernikahan, seolah-olah sudah
merupakan risiko dari suatu pernikahan? Apakah kita pendam
saja dalam-dalam kekesalan dan kekecewaan kita itu? Atau
apakah kita berusaha melupakan saja semua ini, dari pada
ribut dengan pasangan? Kalau semua ini kita lakukan, kita
ibarat menyimpan sebuah bom waktu yang setiap saat dapat
meledak dengan hebat. Lalu sebelum bom tersebut meledak,
apakah sebaiknya semua ini kita komunikasikan kepada
pasangan kita?
Berbicara tentang komunikasi, sering kita jumpai bahwa
komunikasi itu justru dapat menyebabkan perang dalam
rumah tangga. Baik itu perang terbuka ataupun perang
tertutup. Kita tahu bahwa komunikasi antara suami dan
istri itu perlu dilakukan, tetapi kita sering lupa bahwa
komunikasi itu juga dapat berdampak negatif. Oleh karena
itu kita harus berpikir dulu mengenai perlu tidaknya
sesuatu hal dikomunikasikan kepada pasangan kita.
Seringkali kita menganggap bahwa pasangan kita harus
sudah tahu apa pikiran dan kemauan kita. Apalagi yang
sudah menikah dalam waktu yang lama. Pikiran kita
mengatakan, mosok sudah menikah begini lama tidak tahu
pikiran dan kemauanku, itu namanya kebangetan. Atau yang
lebih parah lagi kita mengganggap tidak sopan atau tidak
pantas untuk berbicara terus terang. Ini biasanya terjadi
dalam hal keuangan, mertua, saudara ipar atau seksualitas.
Padahal kalau kita baca dari buku, justru hal tersebut
yang seringkali menjadi pemicu pertengkaran dalam
kehidupan pernikahan kita. Misalnya suami atau istri ingin
membantu orang tuanya atau saudaranya dalam hal keuangan.
Mau disampaikan kepada pasangan, takut menjadi ribut,
tetapi kalau tidak disampaikan, hati menjadi sedih.
Apalagi kalau kita membantunya secara diam-diam, ada
perasaan takut dan bingung kalau sampai diketahui oleh
pasangan. Belum lagi kalau ada masalah dengan mertua atau
saudara ipar. Mau disampaikan ke pasangan takut
menyinggung perasaannya, tetapi kalau tidak disampaikan,
akan terus berulang sehingga membuat sakit hati.
Demikian juga masalah seksualitas. Karena kita jarang
mendengar masalah ini disampaikan secara terbuka, maka
kita berpikir bahwa kehidupan seks pasangan lain tidak
mempunyai masalah. Jadi, kita berpikir bahwa ini hanya
terjadi pada diri kita sendiri, dan kita merasa tidak
pantas untuk menyampaikannya kepada pasangan, malu atau
tabu untuk dibicarakan, padahal kita merasa hal itu
menyiksa diri kita.
Nah, kita baru berbicara tentang dua hal yaitu masalah
komunikasi dan masalah mengubah pasangan. Sebetulnya kalau
kita mau mengevaluasi perjalanan pernikahan kita masih
banyak hal yang harus diperiksa. Misalnya, pertengkaran
yang kita pernah lakukan, baik itu terbuka, tertutup atau
pertengkaran sepele, pengambilan keputusan yang selama ini
kita lakukan, kebiasaan kita dalam mendengarkan pasangan
kita, atau keinginan kita untuk merasa dicintai, dihargai,
dan sebagainya.
Mungkin kita merasa perjalanan pernikahan kita oke-oke
saja. Tetapi kalau kita mau berusaha sedikit saja untuk
mengevaluasi, barangkali yang kita anggap oke belum tentu
oke pada pasangan. Akan lebih baik kalau kita mulai
berusaha untuk mengubah cara kita berkomunikasi, menghapus
keinginan kita untuk mengubah pasangan, mengubah cara kita
dalam mengambil keputusan, mengubah cara kita dalam
mencintai dan menghargai pasangan kita.
Kita harus menjaga agar perjalanan pernikahan kita tetap
berada dalam rel yang benar, dan itu merupakan tanggung
jawab kita bersama dengan pasangan. Apakah kita akan
membiarkannya berjalan tanpa arah dan mengikuti saja
kemana angin bertiup? Apakah kita tergerak untuk lebih
meningkatkan lagi mutu pernikahan kita yang kita anggap
sudah baik, atau kita merasa mutu pernikahan kita sudah
cukup seperti ini saja?
Kalau pesawat ruang angkasa setiap saat perlu dievaluasi
dan diperbaiki keadaannya dalam perjalanannya menuju ke
sasaran, maka kalau kita tidak ingin biduk pernikahan kita
berlayar ke arah yang tidak kita inginkan, kita perlu
melakukan evaluasi. Selain itu, kita juga ingin agar
selama berlayar kita dapat menikmati perjalanan kita.
Selamat mengevaluasi.
|