Konon, Tuhan memanggil tiga malaikat. Sambil menunjukkan
sesuatu Tuhan berpesan, ”Ini namanya kebahagiaan, ini
sangat bernilai, makanya dicari oleh manusia. Simpanlah
di suatu tempat agar manusia sendiri yang menemukannya.
Jangan di tempat yang terlalu mudah, nanti disia-siakan,
tetapi jangan di tempat terlalu susah nanti tidak ada
yang bisa menemukannya. Yang penting letakkan di tempat
yang bersih.”
Di mana harus disimpan?
Malaikat pertama mengusulkan di gunung, sedangkan
malaikat kedua mengusulkan di dasar samudera. Malaikat
ketiga tidak setuju dan membisikkan sesuatu kepada
malaikat yang lain, dan mereka bertiga setuju.
Ke manakah manusia mencari kebahagiaan?
Berwisata ke gunung, ke pantai, ke mal? Atau, melalui
pekerjaan? Menikah? Menjadi kaya? Semua usaha itu
sia-sia. Semuanya tidak membuat manusia menemukan
kebahagiaan yang mereka cari. Untuk mendapatkan
jawabannya, mari kita simak cerita berikut ini:
Suatu hari, seorang pemuda duduk di tepian telaga. Ia
tampak termenung, tatapan matanya kosong, menatap
hamparan air di depannya. Seluruh penjuru mata angin
telah dilewatinya, namun tak ada satu pun titik yang
membuatnya puas. Kekosongan makin senyap, sampai
terdengar suara menyapanya. Ada orang lain di sana.
”Sedang apa kau di sini anak muda?” tanya seseorang.
Rupanya seorang kakek tua. ”Apa yang kau risaukan?” Anak
muda itu menoleh ke samping, ”Aku lelah Pak Tua. Telah
berkilo-kilometer jarak yang kutempuh untuk mencari
kebahagiaan, namun tak juga kutemukan rasa itu dalam
diriku. Kemanakah aku harus mencarinya? Bilakah
kutemukan rasa itu?”
Kakek Tua duduk semakin dekat, mendengarkan dengan penuh
perhatian. Dipandangnya wajah lelah di depannya. Lalu,
ia mulai bicara, ”Di depan sana, ada sebuah taman. Jika
kamu ingin jawaban dari pertanyaanmu, tangkaplah seekor
kupu-kupu buatku. Mereka berpandangan. “Ya, tangkaplah
seekor kupu-kupu buatku dengan tanganmu,” sang Kakek
mengulang kalimatnya lagi.
Pelahan pemuda itu bangkit. Kemudian ia melangkahkan
kaki menuju taman. Tak berapa lama, dijumpainya taman
itu. Taman yang semarak dengan pohon dan bunga-bunga
yang bermekaran. Tak heran, banyak kupu-kupu yang
beterbangan di sana. Sang Kakek melihat dari kejauhan,
memperhatikan tingkah laku pemuda yang sedang gelisah
itu.
Anak muda itu mulai begerak. Dengan mengendap-endap,
ditujunya sebuah sasaran. Pelahan, namun, Hap! Sasaran
itu luput. Dikejarnya kupu-kupu itu ke arah lain. Ia tak
mau kehilangan buruannya. Namun lagi-lagi, Hap! Ia gagal
lagi.
Ia mulai berlari tak beraturan, diterjangnya sana sini.
Ditabraknya rerumputan dan tanaman untuk mendapatkan
kupu-kupu itu. Diterobosnya semak dan perdu di sana,
gerakannya semakin liar. Adegan itu terus berlangsung,
namun belum satu kupu-kupu pun yang berhasil ditangkap.
Sang pemuda mulai kelelahan, nafasnya memburu, dadanya
bergerak naik-turun dengan cepat.
Sampai akhirnya terdengar teriakan, ”Hentikan dulu anak
muda, istirahatlah.” Tampak sang kakek berjalan pelahan.
Tetapi lihatlah, ada sekumpulan kupu-kupu beterbangan di
sisi kanan-kiri kakek itu. Mereka terbang berkeliling,
sesekali hinggap di tubuh yang renta itu.
”Begitukah caramu mengejar kebahagiaan? Berlari dan
menerjang? Menabrak-nabrak tak tentu arah, menerobos
tanpa peduli apa yang kaurusak?” Sang kakek menatap
pemuda itu. ”Nak, mencari kebahagiaan itu seperti
menangkap kupu-kupu. Semakin kau terjang, semakin ia
menghindar. Semakin kau buru, semakin pula ia pergi dari
dirimu. Sebaliknya, tangkaplah kupu-kupu itu dalam
hatimu. Karena kebahagiaan itu bukan benda yang dapat
kau genggam, atau sesuatu yang dapat kau simpan. Carilah
kebahagiaan itu di dalam hatimu. Telusuri rasa itu dalam
kalbumu. Ia tak akan lari ke mana-mana. Bahkan tanpa kau
sadari, kebahagiaan itu sering datang sendiri.”
Kakek tua itu mengangkat tangannya. Hap! Tiba-tiba,
tampak seekor kupu-kupu yang hinggap di ujung jari.
Terlihat kepak-kepak sayap kupu-kupu itu, memancarkan
keindahan ciptaan Tuhan. Pesonanya begitu mengagumkan,
kelopak sayap yang mengalun perlahan, layaknya
kebahagiaan yang hadir dalam hati. Warnanya begitu indah,
seindah kebahagiaan bagi mereka yang mampu menyelaminya.
Mencari kebahagiaan seperti layaknya menangkap kupu-kupu.
Sulit, bagi mereka yang terlalu bernafsu, namun mudah,
bagi mereka yang tahu apa yang mereka cari. Kita mungkin
dapat mencarinya dengan menerjang sana-sini, menabrak
sana-sini, atau menerobos sana sini untuk mendapatkannya.
Kita dapat saja mengejarnya dengan berlari kencang, ke
seluruh penjuru arah. Kita pun dapat meraihnya dengan
bernafsu, seperti menangkap buruan yang dapat kita
santap setelah mendapatkannya.
Namun kita harus belajar. Kita harus belajar bahwa
kebahagiaan tak bisa didapat dengan cara-cara seperti
itu. Kita belajar bahwa kebahagiaan bukanlah sesuatu
yang dapat digenggam atau benda yang dapat disimpan.
Kebahagiaan adalah udara, dan kebahagiaan adalah aroma
udara itu. Kita belajar bahwa kebahagiaan itu memang ada
di hati. Semakin kita mengejarnya, semakin pula
kebahagiaan itu pergi dari kita. Semakin kita berusaha
meraihnya, semakin pula kebahagiaan itu menjauh.
Coba temukan kebahagiaan itu dalam hatimu. Biarkanlah
rasa itu menetap dan abadi dalam hati kita. Temukanlah
kebahagiaan itu dalam setiap langkah yang kita lakukan.
Dalam bekerja, dalam belajar, dalam menjalani hidup kita.
Dalam sedih, dalam gembira, dalam sunyi dan dalam riuh.
Temukanlah kebahagiaan itu, pelahan, dalam tenang, dalam
ketulusan hati kita.
Kebahagiaan itu ada di mana-mana. Rasa itu ada di
sekitar kita. Bahkan mungkin, bahagia itu “hinggap” di
hati kita, namun kita tak pernah memperdulikannya.
Mungkin juga, kebahagiaan itu beterbangan di sekeliling
kita, namun kita terlalu acuh untuk menikmatinya.
Ternyata, kebahagiaan tadi disimpan di dalam hati
manusia. Di dalam hati yang bersih.
Selamat meraih kebahagiaan!
*) Diambil dari buku ”SETIAP LANGKAH ADALAH ANUGERAH”,
Eddy Nugroho. (Gloria Graffa). |