|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Kasut |
|
13 Oktober 2008
Tikkun Olam Pdt. Joas Adiprasetya |
|
|
Dalam tradisi Yahudi pada
umumnya dan tradisi Kabbalah secara khusus,
tikkun olam merupakan gagasan yang sangat sentral.
Sekalipun kata ini tak muncul secara tersurat dalam teks
Kitab Suci Perjanjian Lama, gagasan di baliknya
berserakan di seluruh Perjanjian Lama dan sedikit banyak
diteruskan hingga Perjanjian Baru.
Apakah tikkun olam?
Makna aslinya adalah “mereparasi dunia.” Dalam tradisi
Kabbalah, dunia dicitrakan seperti sebuah bejana yang
disinari oleh terang ilahi. Namun karena keterbatasan
dan kelemahannya, dunia tak mampu menerima sepenuhnya
terang ilahi tersebut dan iapun terpecah
berkeping-keping. Namun, masing-masing serpihan tetap
menyimpan terang ilahi tersebut. Tikkun olam
merupakan sebuah panggilan agar setiap insan
berpartisipasi dalam usaha mereparasi dunia yang
terpecah itu.
Saya berkesempatan membagikan gagasan ini dalam dua
persekutuan kecil. Tentu saja, pertanyaan yang muncul
adalah, mengapa bicara masalah “dunia yang luas” kepada
“kelompok yang kecil”? Atau: apa hubungannya masalah
global dengan hidup personal? Tikkun olam merupakan
gagasan yang bermakna tak lain karena ia menyediakan
sebuah gambaran global bagi setiap orang untuk memaknai
hidupnya, sebagai anggota masyarakat dunia, dalam
konteks hidupnya kini dan di sini. Kecuali seseorang
memiliki gambaran global semacam ini, apa pun yang
dikerjakannya dengan mudah menjadi tak bermakna dan
kehilangan arah dan visi utamanya.
Jadi, di satu sisi, tikkun olam menyediakan jangkar iman
yang jelas, bahwa apa pun yang kita kerjakan selalu
berada di antara dua pilihan: ikut mereparasi dunia atau
ikut merusak dunia. Tak ada pilihan lain. Di sisi lain,
tikkun olam memberi peluang pada setiap insan untuk
menyadari bahwa ia dipercaya untuk ikut mereparasi dunia
yang luas dan besar ini, melalui serpihan kecil yang
memang menjadi bagiannya. Maka, tak ada tugas
mereparasi dunia yang terlalu kecil hingga tak bermakna
sama sekali, atau terlalu besar hingga tak terjangkau
oleh setiap orang. Tugas mereparasi dunia yang
diemban oleh masing-masing orang merupakan bagian dari
jejaring yang lebih luas.
Dalam telaah yang lebih
mendalam, dapatlah ditegaskan bahwa setiap orang
mengambil bagian dalam tugas mereparasi dunia yang
memiliki dua wajah sekaligus: kontekstual dan katolik.
Kontekstual, karena tugas mereparasi dunia tak bisa
dilakukan selain dalam situasi atau konteks khusus
tertentu, kini dan di sini. Kepada setiap orang
dipercayakan sebuah serpihan dunia. Sekaligus, ia
bersifat katolik (kata-holos: umum, menyeluruh), karena
serpihan dunia yang dipercayakan kepada setiap orang
itu adalah bagian dari dunia seutuhnya. Sama seperti,
setiap orang merupakan warga dunia ini.
Tikkun olam menyiratkan keyakinan bahwa dunia
ini, sekalipun rusak dan terpecah, tetap dihargai dan
dicintai. Dunia yang rusak ini tak ditinggalkan oleh
Allah. Dan karenanya, tak boleh juga diabaikan oleh
manusia. Dunia yang rusak itu tetaplah dunia yang
diciptakan Allah dengan indahnya dan dicintai sepenuhnya
oleh Sang Pencipta. Citra semacam ini sungguh bertolak
belakang dengan citra lain yang disuguhkan oleh banyak
teologi kontemporer yang menganggap bahwa pada saatnya
Tuhan akan menciptakan dunia lain, sebagai kediaman
abadi kita, yang sama sekali berbeda dengan dunia yang
pernah diciptakan-Nya, yang kita diami kini. Teologi
semacam ini menciptakan kesadaran palsu, karena tugas
manusia di tengah dunia lantas dipahami sebagai
persiapan meninggalkan dunia yang rusak ini demi
memasuki dunia yang ideal (entah dengan nama surga, atau
apa pun). Tugas “meninggalkan dunia” ini berlawanan
secara kontras dengan tikkun olam, yang justru
mengandaikan tugas “memasuki dunia” yang terpecah ini
dan ikut mereparasinya.
Dalam terang iman Kristen, tindakan mereparasi dunia
ini merupakan tindakan Allah sendiri. Missio Dei,
misi Allah. Ia pertama-tama bukan misi gereja-gereja,
missiones ecclesiae. Misi gereja tak lain adalah
berpartisipasi–mengambil bagian–dalam misi Allah yang
tunggal itu. Allahlah yang empunya seluruh karya
pembaruan dunia. Dan Ia mengutus Anak-Nya, Kristus,
dalam kuasa Roh Kudus, untuk mengerjakan karya pembaruan
ini. Manusia, yaitu kita semua, diundang untuk
berpatisipasi dalam karya ilahi ini. Gagasan semacam ini
dituangkan secara jelas, misalnya dalam undangan Yesus
kepada para murid-Nya di dalam Yohanes 9:4a, “Kita harus
mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku.” Ada tiga
kata ganti yang dipakai di sini: Kita, Dia, Aku. “Kita”
menunjuk pada Yesus dan murid-Nya; kata “Dia” mengacu
pada Allah Bapa, yang memiliki “pekerjaan” atau misi
tunggal itu; “Aku” tentu saja menunjuk pada Yesus yang
diutus sebagai pengemban misi Allah itu. Singkatnya:
Misi Allah yang tunggal itu diserahkan pada Kristus (dalam
kuasa Roh Kudus) dan manusia diundang untuk
berpartisipasi ke dalamnya. Kita bukan pemilik misi
itu, kita hanya pembantu–atau mungkin lebih terhormat
lagi: mitra–Allah.
Kita hanyalah “turut” di dalam karya ilahi itu. Kita
bukan aktor utama, apalagi sutradara drama tikkun olam.
Secara jernih, Wahyu 21 mengalimatkan ulang tikkun olam,
lewat ucapan Yesus: “Lihatlah, Aku menjadikan segala
sesuatu baru!” Inilah visi global yang menjadi
sumbangan kristiani dalam memaknai tugas bersama tikkun
olam. Sang Sabda, yang melalui-Nya Allah menciptakan
seluruh dunia (Kej.1), kini membeberkan visi global
bersama, di mana Ia akan mereparasi dunia dan
memperbarui seluruh ciptaan.
Sidang Raya REC (Reformed
Ecumenical Council) tahun 2000, yang diselenggarakan di
Yogyakarta, mengambil tema “Making All Things New.”
Nyanyian tema yang dipakai dalam sidang raya tersebut,
Behold I Make All Things New (The Iona Community, 1995),
agaknya mencerminkan spiritualitas tikkun olam.
Perhatikan kalimat kedua dari syairnya:
Behold, behold,
I make all things new,
Beginning with you and starting from today.
Behold, behold,
I make all things new,
My promise is true,
for I am Christ the Way. |
Lihatlah,
lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru,
Berawal darimu dan bermula hari ini.
Lihatlah, lihatlah, Aku menjadikan segala
sesuatu baru,
Janji-Ku sungguh,
karena Akulah Kristus
Sang Jalan. |
 |
|
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|