|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Kasut |
|
5 Juli 2008
Selamat Pagi Tuhan dan Budaya Verbalisme Mula Harahap |
|
|
|
I. |
“Selamat” atau “salam”
berasal dari kata bahasa Arab yang artinya “damai
sejahtera”. Ia mirip dengan kata bahasa Ibrani “syaloom”.
Kalau kita memakai kata “selamat” sebagai awal dalam
menyapa seseorang, maka di dalamnya terkandung
pengertian “semoga kau berada dalam keadaan damai
sejahtera”. Dan di dalam “selamat pagi” terkandung
pengertian “semoga kau berada dalam keadaan damai
sejahtera pagi ini”.
Saya memang sering mendengar orang mengatakan “Selamat
pagi, Tuhan Yesus”. Dalam beberapa peristiwa bahkan saya
pernah ikut berdoa bersama sekelompok orang, dimana si
pembawa doa memulai doanya dengan mengatakan, “Selamat
pagi, Tuhan Yesus.”
Berdasarkan pemahaman saya tentang arti kata “selamat”,
maka saya jadi garuk-garuk kepala kalau mendengar sapaan
seperti tersebut di atas. “Lho, nggak salah nih?!” kata
saya dalam hati. “Koq kita mengharapkan damai sejahtera
turun atas diri Sang Empunya Damai Sejahtera itu?”
Menurut hemat saya, kalau memang mau “berakrab-akrab”
dengan Tuhan Yesus, lebih baik memulainya dengan sapaan,
“Hai…” Tapi saya sendiri pun tak akan menggunakan sapaan
ini.
Memang Ia adalah sahabat yang paling setia dan paling
memahami saya. Tapi kenyataan ini justeru membuat saya
jadi memandangNya dengan penuh kagum, hormat dan cinta.
Dan terhadap seseorang yang saya kagumi, hormati
sekaligus cintai (dan yang saya tahu juga sangat
mencintai saya), maka saya rasa tidak diperlukan lagi
verbalisme, “basa-basi” atau “kata-kata aksesoris”.
Apalagi kalau verbalisme itu salah-kaprah. (”Bah yang
punya damai sejahtera itu kan Dia. Kenapa pulak jadi
kita yang mengharapkanNya berada dalam keadaan damai
sejahtera?!”). |
|
|
|
II |
Orang Barat senang dengan
verbalisme. Semua perasaan hatinya dinyatakan
dengan kata kata. (”I love you”, “I miss you”, “Oh
great”, “Incredible, amazing and marvellous”, “Isn’t
that wonderful?”). Verbalisme adalah budaya orang Barat.
Untuk menanggapi kawan yang sedang bersin pun, orang
Barat memiliki kata-kata: “God bless, you!” (”Tuhan
memberkati!).
Kita orang Indonesia (orang Timur) tidak terbiasa untuk
menyatakan perasaan hati dengan kata-kata. Verbalisme
bukanlah budaya kita. Kita lebih senang menyatakan
perasaan hati melalui mata, raut wajah atau senyum. (Dan
orang Barat sering bingung dan tidak mengerti akan makna
senyum kita). Tapi itulah budaya kita. Itulah kekayaan
kita.
Kalau saya memberikan sesuatu kepada anda (orang
Indonesia), dan anda hanya tersenyum dan mata
berbinar-binar, maka ungkapan terimakaksih yang tak
diucapkan itu sudah cukup bagi saya. Tapi bagi orang
Barat ungkapan seperti itu sangat tidak sopan. Anda
harus mengucapkan, “T-e-r-i-m-a-k-a-s-i-h!”
Perusahaan yang menerbitkan greeting-cards seperti
“Hallmark” menjadi besar karena mereka memang tumbuh di
sebuah budaya (Amerika) yang sarat dengan verbalisme.
Bagi saya–orang Timur, Indonesia dan Batak “pulak” lagi–kirim-
mengirim greeting-cards adalah suatu hal yang
“nonsense”. Saya dibesarkan dalam budaya Batak yang kaku,
tak kenal basa-basi dan hemat dengan verbalisme.
Ketika saya masih kecil, kalau berulang tahun, ibu saya
hanya mengatakan, “Heh, hari ini kau berulang tahun, ya?
Baik-baiklah kau, ya…” Lalu diberinya saya sekedar uang
untuk mentraktir kawan-kawan jajan di sekolah. Hanya itu.
Tak ada kue tart, tak ada kado dan tak
ada lagu “Happy Birthday”. Tapi saya tak merasa berkecil
hati atau sedih. (”Itulah adat kami. Apa mau dibilang?!”).
Isteri saya bukan orang Batak. Dia dari suku bangsa yang
“agak kebelanda-belandaan”. Sedikit-banyak, dia
dibesarkan dalam budaya verbalisme sopan-santun seperti
saya uraikan di atas.
Bagi isteri saya hari ulang tahun adalah sebuah
peristiwa yang penting. Sementara, bagi saya, hari ulang
tahun tak ada bedanya dengan hari-hari yang lain.
Ketika baru menikah, kami sering bertengkar karena
soal-soal yang “sepele” ini. Saya masih ingat, pada hari
ulang tahunnya dia pernah ngambek, karena–setelah
ditunggu-tunggunya sampai jauh malam–ternyata saya tak
melakukan sesuatu. Tak ada bunga, tak ada kartu “happy
birthday” dan tak ada tawaran makan di luar. (”Maaflah,
aku tak tahu. Aku tak dibesarkan dengan cara-cara
seperti itu”).
Bagi dia ucapan “I love you” atau “I miss you” sangat
berarti. Tapi bagi saya ucapan seperti itu “tak masuk di
akal”. (”Bahwa setiap bulan saya pulang membawa gaji dan
saya tak pernah ‘macam-macam’; bukankah itu lebih dari
‘I love you’?” kata saya membela diri). Tapi ternyata
bagi isteri saya hal itu belum cukup.
Sulit bagi saya mengucapkan kata-kata seperti “I love
you” atau “I miss you”. Itu bukan budaya saya. Tapi
untunglah sekarang ada teknologi HP. Dan di dalamnya
sudah ada “pre written messages” yang tinggal dipencet.
Sesekali, kalau sedang berada di luar kota, dengan
sedikit pergumulan, terpaksa juga saya pencet kata-kata
itu, “I miss you…”. Isteri saya senang menerimanya[.] |
|
|
|
III |
Globalisiiasi dan perkembangan
teknologi informasi, tentu saja membuat kita
tidak bisa tetap tinggal dalam budaya seperti yang
dimiliki oleh ibu-bapak kita dahulu.
Verbalisme seperti yang dimiliki oleh orang-orang
Amerika itu juga mulai menular ke masyarakat kita. Kita
(dan terutama anak-anak kita) mulai terbiasa dengan
ungkapan-ungkapan, “I love you”, “I miss you”, “Oh,
great” dan sebagainya.
Rak-rak kartu ucapan di toko-toko buku atau cendera mata
mulai ramai dikerubungi orang. Dan ada banyak situs di
internet yang menyediakan gambar dan ucapan untuk
dirangkai (customized) menjadi greeting-cards untuk
dikirim kepada seseorang. Klik!
Pada hari Natal dan Tahun Baru, HP saya akan penuh
dengan “sms” ucapan selamat dan e-mail saya akan penuh
dengan kartu yang “lucu- lucu”. Tapi, bagi saya–orang
Batak yang kaku dan tak bisa berbasa- basi ini–tak ada
ucapan selamat yang lebih membahagiakan daripada ketika
seorang handai taulan (dengan serombongan anak-anaknya)
datang ke rumah untuk mengucapkan selamat, menghabiskan
kacang tojin (termasuk memecahkan stoples) dan ngobrol
ngalor-ngidul sampai malam. |
|
|
|
IV |
Kalau ada
kawan-kawan yang getol mengucapkan “Selamat pagi, Tuhan
Yesus”, “Tuhan memberkati”, “Syaloom” dan sebagainya,
maka bagi saya itu adalah hal yang wajar-wajar saja.
Ini adalah alkulturasi budaya verbalisme. Kita tak perlu
mencari makna teologis yang terlalu jauh atas fenomena
ini.
Bagi saya–orang Timur, Indonesia dan Batak pulak–maka
mengucapkan “Selamat pagi, Tuhan Yesus” atau “Tuhan
memberkati”, sama saja nilainya seperti mengucapkan “I
love you” atau “I miss you” melalui “pre written
messages” yang ada di program “SMS”.
Tapi, kalau isteri saya senang menerimanya. Maka Tuhan,
menurut pemahaman saya, akan menerimanya dengan perasaan
hati yang biasa-biasa saja. Atau, boleh jadi, Tuhan akan
geleng-geleng kepala, karena menerima “pesan siap saji”
yang mengharapkanNya selamat….[] |
|
|
|
Mula Harahap di
wordpress.com |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|