|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Kasut |
|
4 Juni 2008
Tentang Potret Kristus Mula Harahap |
|
|
Ketika saya masih berusia 5 tahun dan tinggal di Lorong
Roma, Kampung Sidorame, nun di kota Medan sana, maka ada
satu permainan yang sering saya lakukan bersama adik
saya Elisabeth. Permainan tersebut adalah hasil kreasi
kami sendiri, dan hanya kami yang mengetahui
operasionalnya. Permainan tersebut kami namakan,
“Melihat Tuhan Yesus.”
Pagi-pagi benar, sehabis bangun tidur, kami akan duduk
di tangga rumah dan mengarahkan pandangan ke langit biru.
Bila kami mengarahkan pandangan sedemikian rupa dan
dalam waktu yang cukup lama ke langit, maka akan
tampaklah sosok-sosok transparan yang menyerupai
bumerang, sabit atau sayap capung yang bergerak
perlahan-lahan; dari kiri ke kanan, dari atas ke bawah
atau dari sudut yang satu ke sudut yang lain. Kemudian
sampai pada satu titik tertentu, sosok tersebut akan
hilang dari pandangan.
“Kau lihatkah Tuhan Yesus-nya, dik?”
“Lihat, bang.”
“Ada berapa Tuhan Yesus yang kau lihat?”
“Dua. Abang lihat berapa?”
“Satu. Nah, nah ini dia…Ehh, sudah hilang.”
Begitulah, hampir setiap pagi kami betah duduk di tangga;
menghitung “Tuhan Yesus” yang bergerak-gerak di langit
dan yang kemudian, pada satu titik tertentu akan
menghilang, lalu disusul oleh “Tuhan Yesus” yang berikut.
Di kemudian hari, setelah saya bertambah besar, maka
sadarlah saya bahwa yang kami lihat sebagai Tuhan Yesus
itu ternyata hanyalah debu atau kotoran yang menempel di
bola mata. Lalu, karena lendir yang ada di mata yang
belum dibasuh, maka kotoran atau debu itu akan
bergerak-gerak. Dan bila mata di arahkan ke langit, maka
tentu saja ia akan kelihatan seperti sabit, bumerang
atau sayap capung. Tapi ketika itu, tentu saja saya dan
adik saya percaya benar bahwa yang kami lihat itu memang
Tuhan Yesus. Dan sebagaimana layaknya orang dewasa,
kesadaran melihat Tuhan Yesus ternyata juga memberikan
suasana damai dan sukacita kepada kami. (Setidak-tidaknya,
selama 1 jam kami tidak perlu berkelahi sebagaimana
biasanya yang dilakukan oleh dua kakak-beradik. Dan ibu
bisa melakukan pekerjaannya dengan tenang…). |
|
|
|
Lelaki Berjenggot dan Berjambang |
Ketika saya masuk sekolah maka mulailah saya mengenal
citra yang lain dari Tuhan Yesus. (Saya bersekolah biasa
di SD Kristen Immanuel dan bersekolah minggu di HKBP
Sidorame).
Saya rasa, citra Tuhan Yesus yang diperkenalkan kepada
saya adalah juga citra yang diperkenalkan kepada semua
anak di muka bumi ini, yaitu potret seorang lelaki
berambut panjang, berkumis-berjanggut- berjambang dan
memakai jubah putih.
Potret ini ada di buku cerita-cerita Alkitab, ada di
kartu dan ada pula di lembar peraga. Kadang-kadang
lelaki itu diperlihatkan duduk di tengah kerumunan
anak-anak. Kadang-kadang ia diperlihatkan berdiri di
tengah sekawanan domba. Kadang-kadang ia diperlihatkan
sedang berdoa dengan tangan yang terkatup dan mata
memandang ke langit.
Begitu meresapnya potret Yesus itu ke dalam pemahaman
saya, sehingga wajah itu jugalah yang muncul setiap kali
saya berdoa memohon sesuatu kepadaNya. (Dan sebagaimana
halnya anak-anak, maka doa permohonan saya tentu hanya
berkisar di seputar bagaimana agar hasil ulangan
mendapat nilai tinggi, bagaimana agar saya tidak
“dikompas” oleh anak-anak di ujung jalan sana atau
bagaimana agar ibu jangan cepat mati).
Kadang-kadang ada saja kawan yang “berani” dan memberi
tambahan gambar kacamata di atas potret wajah itu. Tapi
bagi saya perbuatan kawan tersebut sungguh merupakan
sebuah dosa besar. Dan saya yakin ia pasti akan masuk ke
neraka…
Sedemikian yakinnya saya akan wajah Yesus, sehingga
ketika masih duduk di bangku SD itu juga, “iman” saya
pernah guncang karena fenomena seorang gila yang sering
menyelonong ke halaman sekolah kami.
Pada waktu itu, di tahun 60-an, di kota Medan ada
seorang lelaki yang sering berkeluyuran di seantero kota
sambil komat-kamit dan membawa Alkitab. Ia berambut
panjang, berkumis-berjanggut, memakai jubah putih dan
selalu mengenakan sepatu sandal. Kami menamainya “Si
Panggabean Gila Agama”.
Bila ada kerumunan orang, maka “Si Panggabean” akan
menyeruak masuk dan mulai berkhotbah. Saya tidak tahu
benar apa yang dikhotbahkannya, tapi dalam khotbahnya ia
selalu berulang-ulang meneriakkan, “Bertobatlah karena
tiga hari lagi dunia akan kiamat…”
Begitulah, kalau pada jam keluar main pintu pagar tidak
tertutup maka “Si Panggabean” akan menyelonong masuk.
Mulailah ia berkhotbah di bawah tiang bendera dan dalam
waktu sekejap saja semua anak sudah berkerumun di
sekitarnya. Ada yang hanya tertawa-tawa, ada yang
mengulang-ulang perkataannya, ada yang menarik-narik
jubahnya dan ada pula yang melemparinya dengan batu
kecil. Tapi “Si Panggabean” tidak pernah marah. Ia hanya
tersenyum dan terus saja berceloteh.
Dan sementara menonton “Si Panggabean” berkhotbah saya
bergumul dalam hati, “Bagaimana kalau dia memang benar
adalah Tuhan Yesus? Anak-anak yang mengganggunya itu
pasti akan masuk neraka…” Karena itu saya tidak pernah
berani mengusik “Si Panggabean”. Kadang-kadang saya
beranikan juga diri saya untuk menyentuh jubahnya yang
putih itu. Tapi niat saya bukan untuk mengganggu.
Seperti yang dilakukan oleh perempuan yang menderita
perdarahan dalam cerita Alkitab itu; saya berharap ada
kuasa yang mengalir dari jubah itu ke diri saya. |
|
|
|
The Beatles dan Che Guevara |
Ketika saya beranjak remaja maka potret Kristus yang saya
bawa sedari masa kanak-kanak itu mulai kabur. Saya tidak
tahu, apakah potret itu kabur karena saya sudah jarang
memandangnya ataukah karena ia telah di-”imposed” oleh
potret-potret “nabi” lain yang tidak kalah memukaunya.
Zaman ketika saya remaja adalah zaman yang gegap gempita
oleh kehadiran “The Beatles”, “The Rolling Stones” dan
“The Cats”. Semua personil-personil grup musik populer
itu berambut panjang dan berkumis-berjanggut-berjambang.
Dan potret “orang-orang besar” itulah yang lebih
mendominasi halaman buku tulis, pintu lemari pakaian
atau dinding kamar tidur kami, para remaja waktu itu.
Saya rasa hanya anak-anak yang “kuper” sajalah yang
masih memajang potret orang Nazaret yang menggendong
domba itu di halaman buku tulisnya.
Satu pahlawan lagi yang tak kalah romantisnya pada waktu
itu adalah Che Guevara. Gambar pria Argentina yang
berjuang untuk Kuba dan mati tertembak di Bolivia ini
juga menjadi pujaan orang muda di mana-mana. Sedemikan
kagumnya saya dengan Che Guevara, sehingga–walaupun
tidak mengerti bahasa Inggeris–saya selalu membawa-bawa
sebuah buku saku karangannya, “The Guerilla Warfare”,
kemana-mana.
Begitulah, semaja remaja, kalau saya berdoa (sesekali),
maka saya tidak tahu wajah siapa yang ada di benak saya.
Kadang-kadang saya melihat Kristus, kadang-kadang saya
melihat Che Guevara dan kadang-kadang saya melihat John
Lennon. (Dan bagi saya pada waktu itu, lagu “Imagine”
tentu saja jauh lebih hebat dari “Khotbah Di Bukit”). |
|
|
|
Para Waria yang Dikejar Tramtib |
Begitulah, sejalan dengan perubahan usia, berubah pula
citra atau potret Kristus yang saya persepsikan di dalam
diri saya. Dalam satu titik perjalanan hidup, tiba-tiba
saya menyadari, bahwa kalau saya berdoa atau berpikir
tentang Kristus maka citra yang muncul lebih
banyak berupa suasana atau pemandangan.
Kadang-kadang saya mempersepsikan Kristus sebagai sebuah
taman. Kadang-kadang saya empersepsikan-Nnya sebagai
sebuah sungai yang jernih dan tenang. Kadang-kadang
sebagai sebuah jalan yang lurus, sebagai sebuah pohon,
seberkas sinar, sepotong laut, atau apa saja. (Tadi pagi
saya berdoa memohon perlindungan Kristus terhadap
orang-orang yang saya kasihi yang ada di Medan, Bandung,
Jakarta, Mataram dan Ambon. Lalu tiba-tiba saya melihat
Kristus seperti seekor induk ayam yang besar, yang
merentangkan kedua sayapnya untuk melindungi
anak-anaknya dari intaian elang yang sedang
melayang-layang di
langit).
Saya tidak tahu apa yang menyebabkan perubahan di dalam
diri saya dalam mempersepsikan Kristus. Kalau saya
pikir-pikir lebih jauh; mungkin hal ini disebabkan
karena saya terlalu banyak membaca sajak dan novel.
Ketika hal ini saya diskusikan dengan seorang sahabat
dia hanya menatap saya dan berkata, “Akh, gila, lu!”
Tapi saya rasa saya tidak gila. Saya tahu para penulis
Alkitab juga sering mempersepsikan Kristus sebagai pohon
anggur, jalan, terang, mempelai pria, kumpulan
orang-orang (gereja), benteng, gunung batu dan apa saja.
Krisis yang berkepanjangan dan melanda negeri ini tentu
saja sangat merasuki pikiran saya. Karena itu,
kadang-kadang Kristus saya persepsikan pula sebagai
kerumunan orang-orang Batak “yang tak berketentuan” di
perempatan Cawang–Jakarta Timur sana, bayi-bayi korban
deman berdarah “dengue” yang berdesak-desak di kamar
rumah sakit, wajah anak-anak yang ceria ketika jam
bubaran sekolah, iring- iringan tahanan kelas teri yang
terpincang-pincang (karena kakinya ditembak) di depan
kantor Polres atau banci yang tunggang-langgang dikejar
tim Tramtib.
Kristus juga bisa mewujud dalam paduan suara para janda
yang dengan suara sederhana tapi sungguh-sungguh
menyanyi pada jam kebaktian di gereja.
Dua hari yang lalu, di sebuah apotik di bilangan Cempaka
Putih–Jakarta Timur ada seorang bapak yang turun
tertatih-tatih dari “bajaj” dan menyodorkan resepnya di
loket. Ketika petugas menyebut harga obat tersebut, si
bapak terdiam. Lalu dengan suara lirih dia bertanya,
“Bolehkah saya tebus sepertiga dulu…?” (Kalau obat
tersebut adalah antibiotika, maka cilakalah si bapak).
Saya rasa bapak itu adalah Kristus. |
|
|
|
Karaoke |
Sejak dahulu Holywood selalu berupaya untuk membuat filem
sejarah kehidupan Kristus. Dan tidak dapat dipungkiri,
filem-filem seperti ini selalu mendapat sambutan yang
meriah. Gereja-gereja pun senang memutar filem seperti
ini dan percaya bahwa inilah salah satu sarana kesaksian
dan pemeliharaan iman jemaat yang sebenarnya sudah tidak
terhitung kanak-kanak lagi.
Tapi pengembaraan (atau petualangan) rohani saya membuat
saya sudah tidak tertarik lagi terhadap hal-hal seperti
ini. Bagi saya filem- filem ini ibarat karaoke. Dan saya
selalu terusik dengan karaoke (alat yang membantu orang
bernyanyi dengan kursor yang berlari-lari di atas teks,
ilustrasi musik dan sebuah tayangan visual yang oleh
pembuatnya dianggap bisa menggambarkan suasana lagu
tersebut).
Atas lagu-lagu tertentu yang saya senangi, saya
membangun visualisasi sendiri. Atas lagu “Sepanjang
Jalan Kenangan” misalnya, maka saya membayangkan sebuah
jalanan yang di kiri kanannya ada pohon kenari dan yang
berjalan di tengahnya adalah saya sendiri dengan seorang
perempuan yang sosoknya hanya saya sendiri yang tahu.
Karena itu, kalau yang muncul di karaoke adalah seorang
pria yang berambut cepak dan ganteng serta seorang
wanita Hongkong yang berambut keriting; imajinasi saya
menjadi terganggu… |
|
|
|
Mata Rohani |
Saya senang dengan berbagai imajinasi yang saya bangun
tentang citra atau “potret” Kristus, dan saya ingin
tetap memelihara kebebasan membangun imajinasi tersebut.
Di karya-karya sastra–misalnya di karya Leo Tolstoy–ada
banyak citra Kristus. Tapi di karya-karya non-fiksi pun
saya acapkali menemukannya. Belum lama berselang, saya
membaca sebuah memoar dari mantan tahanan politik
G30S-PKI. Si penulis menceritakan kepahitan hidup yang
dialaminya selama tahanan Salemba–Tangerang–
Nusakambangan–dan Pulau Buru. Aha, ternyata Kristus juga
saya temukan di sana.
Agama saya–Kristen Protestan–memang tidak melarang
visualisasi Tuhan dan para nabi. Bagi kami adalah hal
yang wajar-wajar saja untuk menampilkan potret Kristus
dalam rupa apa saja–apalagi rupa manusia. Bagaimana pun
ia adalah Tuhan Yang Menjadi Manusia dan Tuhan Yang
Mensejarah, tokh?
Tapi saya khawatir kalau filem-filem Hollywood itu
membuat mata rohani saya menjadi kurang peka dan melihat
Yesus hanya sampai sebatas sosok manusia James Caviezel,
yang notabene “tak jauh-jauh amat” dengan sosok John
Lenon, Che Guevara, dan yang lain sebagainya. Dan saya
tidak ingin menjadi bagian dari orang-orang yang pada
akhir zaman nanti akan bertanya, “Tuhan, bilamanakah
kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang
asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan
kami tidak melayani Engkau?” (Matius 25:44). |
|
|
|
Mula Harahap di
wordpress.com |
|
|
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|