|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Kasut |
|
9 Februari 2008
Kontroversi cover Majalah Tempo Pdt Daniel Taruli Asi Harahap |
|
|
Terus terang Tempo adalah satu-satunya media nasional yang
melegakan hati saya di hari-hari terakhir sakit mantan
presiden Soeharto sampai kepada kematiannya dan
pemakamannya. Ketika seluruh media televisi tiba-tiba
secara memualkan mendaulad Soeharto sebagai seorang “santo”,
“aulia” atau “pahlawan suci tak bercela” hanya majalah
Tempolah yang tetap menjaga dirinya kritis dan jernih
memandang bekas penguasa digdaya Indonesia selama 32 (tiga
puluh dua) tahun.
Jauh sebelumnya, Tempo jugalah satu-satunya majalah yang
serius melakukan investigasi melacak kekayaan Soeharto dan
keluarganya. Tanpa harus mencemooh dan memaki-maki memakai
bahasa vulgar, Tempo tetap pada pendiriannya bahwa
Soeharto yang setelah mundur dari presiden menjadi manusia
tua renta itu adalah figur yang penuh kontroversi di saat
berkuasa, yang cenderung menganggap dirinya sebagai raja
dengan restu ilahi yang kata-katanya bak sabda tak
tersanggah, dan melakukan banyak kekerasan sekehendak
hatinya.
Dari Tempo jugalah saya sering tahu hal-hal kecil tapi
aneh di sekitar lingkaran kekuasaan yang menggelitik hati
untuk berpikir dalam. Salah satu kejanggalan itu: walaupun
para mantan pejabat dan tokoh seakan ber-koor meminta
masyarakat memaafkan mantan presiden Soeharto namun
anak-anak Soeharto sendiri rupanya sama sekali tidak mampu
memaafkan Habibie dan Harmoko, yang terbukti dari
penolakan kehadiran keduanya untuk menjenguk mantan
bossnya. Padahal Habibie sudah jauh-jauh terbang dari
Jerman.
Namun hari-hari ini Tempo dikecam habis-habisan oleh orang
Kristen (tidak semua) atas covernya yang dianggap
sensasional. Dan Tempo meminta maaf. Cover itu sendiri
diakui oleh perancangnya diilhami oleh lukisan Leonardo
Davinci “The Last Supper”, perjamuan terakhir Yesus
bersama murid-muridNya sebelum Dia disalibkan. Namun
tokoh-tokoh yang duduk di sekitar meja perjamuan itu
adalah Soeharto, dan anak-anaknya (Tutut di kanan dan
Sigit di kiri, dan Tomi sedang berbisik entah apa). Postur
tubuh tokoh-tokohnya persis lukisan The Last Supper. Saya
sendiri mengaku ketika pertama kali melihat cover itu
terperanjat dan bertanya-tanya: apa hubungannya? Mengapa
desainer itu melukiskan Soeharto seperti Yesus sedang
makan Paskah terakhir sebagaimana lukisan Davinci itu?
Saya mengakui sebenarnya lukisan The Last Supper itu
adalah imajinasi Davinci sendiri (sebab Yesus dan
murid-muridNya tidak terbiasa duduk di kursi memakai meja)
yang memakai kerangka berpikir Eropah abad pertengahan.
Wajah Yesus adalah wajah Yesus yang dibayangkan oleh sang
pelukis. Kita semua tahu bahwa pada masa itu sama sekali
belum ada kamera dan wajah Yesus baru “dilukis” sesudah
beberapa abad kematianNya. Karena itu dari segi agama
sebenarnya tidak ada penodaan atau pelecehan.
Tapi tunggu dulu. Sebagian orang Kristen, terutama dari
kalangan Katolik dan ortodoks memperlakukan lukisan
tokoh-tokoh Alkitab dan bapa-bapa gereja tidak sekadar
lukisan atau dekorasi, tetapi bagian dari perlengkapan
ibadah, bahkan ikon, benda suci, Kitab Suci dalam rupa
atau gambar. Disinilah masalahnya. Tempo tentu bisa
dianggap tidak sensitif terhadap keyakinan pemeluk agama
Kristen khususnya Katolik yang meninggikan lukisan-lukisan
agama itu.
Namun bukan hanya umat Katolik yang merasa terusik.
Lukisan Davinci telah lama merasuk ke dalam kehidupan umat
Kristen secara keseluruhan. Lukisan itu begitu banyak
dipasang di ruang tamu Kristen (bukan hanya Katolik) dan
menjadi simbol kekristenan yang paling populer sesudah
salib. Apalagi lukisan itu merujuk kepada sakramen
perjamuan kudus yang diamanatkan oleh Yesus. Pertanyaan di
sini: mengapa Tempo menggunakan simbol keagamaan yang
sangat penting ini untuk pemberitaannya tentang Soeharto
setelah dia (Soeharto) pergi?
Namun jangan gusar. Bukan Tempo yang pertama kali
mengutak-atik lukisan The Last Supper. Kalau tidak percaya:
googling saja atau lacak saja di internet. Dengan mudah
kita bertemu lukisan atau karikatur yang mengambil Last
Supper sebagai inspirasinya. Sebagian inspiring dan
sebagian lagi konyol.
Kebetulan saya bukan kritikus seni. Sebab itu saya mencoba
memahami makna cover Tempo itu dengan logika saya sendiri.
Terus terang, awalnya sulit sekali bagi saya memahami
kenapa sang perancang cover menyamakan Soeharto dengan
Yesus. Kedua tokoh ini menurut saya berbeda bagaikan
langit dan bumi. Yesus seorang miskin papa dan tidak
meninggalkan warisan sedikit pun bahkan tidak punya rumah.
Soeharto kaya raya dan pernah disebut Forbes sebagai salah
satu orang terkaya di dunia dan dituduh mendapatkan harta
itu dengan tidak sah. Yesus tidak memiliki anak atau
keturunan sementara Soeharto punya anak cucu yang
senantiasa disokong dan diistimewakannya berbisnis selama
dia berkuasa. Yesus tidak pernah menjadi penguasa politik
dan militer. Soeharto adalah presiden 32 tahun dan
jenderal besar. Yesus tidak pernah melakukan kekerasan.
Soeharto (sesuai pengakuannya sendiri) menganggap
kekerasan itu perlu. Lantas apa hubungan antara Yesus dan
Soeharto kecuali sama-sama anak desa? Mengapa si perancang
melukis Soeharto bagaikan Yesus di hari terakhir
kehidupannya?
Saya tidak yakin Tempo bodoh atau lugu. Juga saya tidak
yakin Tempo ingin menghina agama Kristen yang saya anut
sebab selama bertahun-tahun membaca Tempo saya menangkap
komitmen Tempo kepada pluralitas agama dan budaya. (Namun
saya percaya Tempo kadang butuh sensasi menaikkan oplah).
Lantas selain sensasi dalam rangka menaikkan tiras apa
pesan yang mau disampaikan majalah kesukaan saya ini?
Setelah membaca seksama keseluruhan laporan utama majalah
Tempo tentang sepak-terjang Soeharto dan anak-anak serta
cucunya, saya berkesimpulan Tempo sedang menyindir. Ya itu
gaya khas Tempo (juga kebiasaan orang Timur baik-baik).
Dia menyindir bangsa ini, orang-orang Kristen dan beragama
lainnya, dan mungkin juga menyindir media-media lain yang
tiba-tiba mengangkat Soeharto menjadi orang suci tanpa
cela (dengan melupakan begitu saja pembantaian terhadap
orang PKI, korban operasi militer di Aceh dan Papua,
kerusuhan Mei yang menyengsarakan puluhan ribu warga
Tionghoa, kebangkrutan ekonomi dll). Sindiran itu kena.
Saya merasa ditohok, sebab saya tahu betul ada banyak
sekali orang Kristen (juga orang beragama lainnya) yang
diam-diam atau terang-terangan memuja Soeharto seperti
seorang “tuan dari segala tuan” dan “raja dari segala
raja” yang harus ditaati mutlak atau tanpa syarat. Ya
banyak orang di saat Soeharto berkuasa dan apalagi setelah
matinya menganggap dia bagaikan “juruselamat” bangsa ini.
Dengan memparodikan lukisan Davinci, Tempo sedang membuat
Yesus (secara tersirat tokoh-tokoh luhur penganjur iman
lainnya) sebagai cermin bagi Soeharto dan semua orang
berkuasa dan berambisi berkuasa mutlak. Alih-alih menghina
Yesus, majalah yang didirikan oleh Gunawan Mohammad itu
justru meninggikan Yesus yang sepanjang hidupNya memilih
kesederhanaan, kebenaran, cara-cara tanpa kekerasan, dan
jauh dari kekuasaan duniawi. Sebaliknya tentang Soeharto
tahu sendirilah. Sebab itu menghadapi sindiran semacam itu
saya dan kita seharusnya senyum (walau muka memerah) dan
bukannya marah-marah. Apalagi tanpa membaca laporan yang
ada dibalik cover majalah itu.
Sebab itu saya sama sekali tidak tersinggung dengan cover
Tempo yang mengambil inspirasi dari lukisan terkenal
Leonardo Davinci. Malah saya bersyukur. Cover Tempo itu
dan terutama laporan di dalamnya bukan saja memberi saya
informasi “enak dibaca dan perlu” tentang Soeharto, tetapi
juga mendorong saya merenung ulang tentang apa sebenarnya
yang disebut menjadi kristen atau pengikut Yesus di
Indonesia yang centang-perenang ini. Yaitu: menjadikan
hidup Yesus sebagai teladan atau acuan. Silahkan catat:
inilah sikap hidup Yesus yang harus juga ada pada
orang-orang yang mengatakan diri sebagai pengikutNya:
mengambil resiko mengatakan yang benar, tidak mau
menggunakan kekerasan, dan suka membela orang miskin dan
tersingkirkan. Jujur, sedikit-banyak sikap itu saya
temukan secara konsisten pada orang-orang Tempo. Namun
saya mau tanya: apakah sikap hidup Yesus itu juga ada pada
Anda yang hari-hari ini merasa imannya terusik dan
tersinggung? Jika tidak, diamlah.
Horas Tempo |
|
Dikutip secara lengkap dari tulisan Pdt. Daniel Taruli Asi
Harahap di
www.rumametmet.com, 6 Februari 2008. |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|