Kasut
9 Februari 2008
Gereja-gereja Kecil Masih Peroleh Perhatian
Soekamto
Sejumlah gereja kecil di berbagai pelosok di Jawa Timur dan Jawa Tengah masih memperoleh perhatian dari seorang anggota jemaat GKI Pondok Indah. Sejumlah dana telah disalurkan pada akhir Juli s/d pertengahan Agustus lalu ke delapan gereja, yaitu lima di Banyuwangi Selatan, satu di Gabahan (wilayah Klaten), satu di Tirtomoyo (Wonogiri) dan satu lagi di Kalibagor (Banyumas).

Gereja-gereja tersebut ada yang baru mulai membangun, melanjutkan pembangunan serta renovasi dan mereka memperoleh uluran tanda kasih untuk melanjutkan kegiatan pembangunan mereka tersebut, sesuai dengan kebutuhan mereka.

Kedelapan gereja tersebut adalah, Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jemaat Silirbaru (Banyuwangi), Gereja Protestan di Indonesia (GPDI) Calvari, Bayuran (Banyuwangi), GKJW Kandangan (Banyuwangi), Gereja Pantekosta Tabernakel, Sarongan (Banyuwangi), GPdI Maranatha, Sarongan (Banyuwangi), Gereja Sidang Pantekosta di Indonesia di Gabahan di kaki gunung Merapi (Klaten), Gereja Sidang Pantekosta di Indonesia di Kalibagor, dan Gereja Kristen Jawa (GKJ) Tirtomoyo (Wonogiri).

Sebagai bukti bahwa mereka telah memanfaatkan dana yang dikirim tersebut, panitia pembangunan di sejumlah gereja telah mengirimkan beberapa foto dan bahkan ada pula yang mengirim sejumlah kwitansi pembelian bahan-bahan bangunan.

Hal tersebut menunjukkan bahwa mereka sangat antusias untuk dapat segera menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan pembangunan maupun renovasi yang sedang mereka lakukan.

Bahkan seorang anggota majelis GKJ Tirtomoyo menyampaikan per telpon kepada penulis bahwa mereka terus mengejar waktu agar dapat ber-Natal-an di gedung gereja yang baru nanti. Tapi sekarang ini masih ada sedikit kendala, berupa kekurangan ongkos tukang. Menurutnya, sebagian bahan-bahan diperoleh dari anggota jemaat, berupa batu bata dan genteng, sementara bahan-bahan bangunan lainnya seperti besi cor dan lain-lain tetap harus dibeli.
 
Komunitas Kyai Sadrakh
Sementara itu, dari Pdt. Tumpal Tobing diperoleh informasi tentang pergumulan sebuah gereja kecil di desa Karangyasa, Pituruh, Purworejo, Jawa Tengah Selatan. Gereja tersebut, Gereja Kristen Jawa (GKJ) Karangyasa dengan jemaat yang terdiri dari komunitas Kyai Sadrakh Soeropranoto.

Kyai Rasul Raden Abas Sadrakh Soeropranoto, (baca Artikel tentang Kyai Sadrakh disini >>) adalah seorang penginjil Jawa yang sempat dicap sesat oleh Zending pada zaman Belanda dulu. Pelayanan Kyai Sadrakh ini sungguh luar biasa dengan nama besar yang mungkin tidak hanya dikenal di Tanah Jawa saja.

Namun yang menjadi keprihatinan gembala jemaat di tempat itu, Pdt. Petrus Mardiyanto, adalah bahwa jemaat di tempat itu mulai berkurang karena banyak yang harus mencari kehidupan di kota. Secara ekonomis, kondisi anggota jemaat ini juga sangat memprihatinkan dengan kehidupan yang jauh dari pas-pasan. Dengan kondisi sedemikian itu, maka pendeta pengasuh jemaat di tempat itu pun juga menuai imbasnya, karena BHP (biaya hidup pendeta) yang diterimanya jauh dari yang semestinya.

Oleh karenanya, Pdt. Petrus Mardiyanto mengimbau kiranya ada anggota jemaat GKI Pondok Indah yang terbeban untuk membantu, dengan penuh suka cita beliau akan menerimanya. Pdt. Petrus Mardiyanto juga mengharapkan kesediaan beberapa anggota jemaat GKI Pondok Indah untuk ber-live-in di Karangyasa, Pituruh, sehingga dapat turut merasakan betapa beratnya kehidupan pelayanan di tempat tersebut.

Untuk dapat menunjang kelangsungan hidup jemaat GKJ Karangyasa, Pdt. Petrus Mardiyanto mempunyai gagasan yang tidak terlalu muluk-muluk. Beliau tidak ingin melanjutkan kuliah mengambil gelar S-2 maupun S-3. Beliau justru ingin mendalami seni budaya pedalangan agar dapat memainkan seni tradisional wayang kulit, yang pada gilirannya diharapkan nanti dapat digunakan sebagai sarana penginjilan di tempat tersebut.
 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003