Kasut
5 Januari 2008
Etos Kerja Kaum Puritan
Randy Ludwig Pea
A. Terjadinya sekularisasi terhadap konsep etos kerja Kristen di zaman sekarang
Terjadinya dinamika perubahan yang cepat di dalam berbagai ragam tuntutan kehidupan masyarakat dunia sejak abad ke-19, berdampak terhadap pergeseran beberapa konsep hidup yang awalnya Alkitabiah, berubah menjadi sangat sekuler di dalam penerapannya sekarang. Bahkan banyak orang yang menyebut dirinya Kristen di zaman modern ini, baik yang aktif di gereja maupun di tempat lain, tanpa disadari telah terjebak dan menikmati penerapan konsep kehidupan yang telah mengalami proses sekularisasi.

Salah satu konsep kehidupan tersebut adalah konsep tentang kerja. Pada umumnya sekarang, fokus setiap orang ketika memilih atau melakukan sebuah pekerjaan adalah demi memuaskan kebutuhan diri semata, seperti: memenuhi kebutuhan material, mengejar karier, hobby pribadi, memperjuangkan nilai-nilai duniawi dan lainnya, yang tanpa disadari telah kita pisahkan dari panggilan rohani kita.
Kita sering membuat perbedaan atau dikotomi antara pekerjaan rohani dan pekerjaan sekuler. Pada artikel ini, penulis akan mengingatkan kembali kepada saudara/i sebuah konsep kerja Alkitabiah yang terbukti telah memberikan kontribusi terbesar terhadap kemajuan kehidupan masyarakat yang boleh kita nikmati di dunia modern saat ini, yakni konsep tentang “Etos Kerja Kaum Puritan (Puritan work ethic)”.
 
B. Sumber dari konsep “Etos Kerja Kaum Puritan”
Kaum Puritan adalah sebuah komunitas Kristen Protestan di masa abad ke-16 sampai abad ke-18 di Inggris dan Amerika yang berupaya memurnikan (to purify) seluruh aspek kehidupan dan tata beribadah umat Kristen kembali kepada Firman Tuhan di Alkitab menurut kerangka tafsiran dari salah seorang tokoh utama Reformasi Kristen bernama John Calvin (yang ajarannya kemudian dikenal sebagai ajaran Calvinisme).

Sebelum terjadi peristiwa Reformasi tahun 1517, konsep kerja di dalam kekristenan sangat didominasi oleh pandangan gereja Katolik Roma, yang mendikotomikan antara bentuk pekerjaan yang rohani dan duniawi. Hal ini diungkapkan oleh Eusebius, tokoh gereja Katolik Roma di abad ke-4, yang mengatakan: “Two ways of life were given by the law of Christ to his church. The one is above nature, and beyond common human living... Wholly and permanently separate from the common customary life of mankind, it devotes itself to the service of God alone... such then is the perfect form of the Christian life. And the other, more humble, more human, permits men to... have minds for farming, for trade, and the other more secular interests as well as for religion... and a kind of secondary grade of piety is attributed to them.”

Upaya pendikotomian antara surgawi-duniawi inilah yang ditolak oleh kaum Puritan di abad ke-16 dan dijadikan sebagai titik tolak pembangunan teori mereka tentang kerja. Orang pertama yang membuang konsep bahwa seorang pastor, biarawan dan biarawati terlibat di dalam pekerjaan yang lebih suci dan rohani dibandingkan dengan pekerjaan yang dilakukan oleh seorang ibu rumah tangga dan penjaga toko adalah Martin Luther, yang kemudian dikembangkan secara lebih mendalam oleh John Calvin. Penolakan Luther dan Calvin terhadap pendikotomian bentuk kerja ini juga diikuti oleh kaum Puritan Inggris, yang kemudian berdampak pada pembentukan semangat dan etos kerja baru yang lebih Alkitabiah di kemudian waktu, khususnya di kalangan kaum Puritan.

Berikut ini adalah 5 (lima) konsep mengenai etos kerja yang dibangun oleh kaum Puritan di abad ke-16 dan 17, yakni:
    1. Pengintegrasian antara kehidupan bekerja dan kehidupan beragama menjadi satu kesatuan hidup yang kudus bagi Tuhan.

    Umat Kristen pasca Reformasi, khususnya kaum Puritan, mulai mengintegrasikan setiap pekerjaan yang dilakukan dengan kehidupan rohaninya. Setiap pekerjaan yang dilaksanakan dibuatnya menjadi sebuah arena guna memuliakan dan mentaati Tuhan serta untuk mengungkapkan kasih (melalui pekerjaannya) kepada sesama manusia. Keyakinan kaum Puritan terhadap martabat dari setiap bentuk pekerjaan, turut memberi dampak yang besar bagi umat Kristen pasca-Reformasi untuk dapat memandang secara kudus setiap hal yang bersifat umum di dalam pelaksanaan kehidupan dan pekerjaannya sehari-hari.

    William Perkin, seorang tokoh Puritan Inggris abad ke-16, menyatakan bahwa “setiap orang dapat melayani Tuhan di dalam setiap bentuk pekerjaannya, baik itu pekerjaan membersihkan rumah atau menjaga seekor domba”. Bagi kaum Puritan, setiap aspek kehidupan mereka adalah milik Tuhan dan sasaran mereka adalah untuk menyatukan antara pekerjaan mereka sehari-hari dengan pengabdian kehidupan rohani mereka pada Tuhan. Sasaran kehidupan kaum Puritan adalah untuk melayani Tuhan, bukan hanya di dalam pekerjaannya, tetapi juga melalui pekerjaan yang dilakukannya.

    Cotton Mather, seorang tokoh Puritan dari Amerika di abad 17-18 dan pendiri Universitas Yale, mengatakan bahwa “Seorang Kristen harus mampu memberikan pertanggungjawaban yang baik, bukan hanya apakah bentuk pekerjaannya, tetapi juga bagaimanakah dirinya di dalam melaksanakan pekerjaannya. Tidaklah cukup bagi seorang Kristen untuk hanya sekedar memiliki sebuah pekerjaan saja; tetapi juga dia harus memikirkan bagaimana mengkristenkan pekerjaan yang dimilikinya tersebut.”

    2. Pekerjaan sebagai sebuah “panggilan (calling)”

    Aspek kedua yang sangat ditekankan oleh kaum Puritan adalah keyakinan mereka bahwa setiap umat Kristen memiliki panggilan kerja tertentu yang khusus baginya. Setiap upaya yang dilakukan seseorang untuk memenuhi panggilan tersebut merupakan bukti ketaatannya kepada Tuhan.

    Dampak paling terpenting yang dihasilkan oleh sikap ini adalah bagaimana kita mulai memandang suatu pekerjaan sebagai sebuah sarana untuk dapat meresponi berkat Tuhan. Dengan berlandaskan pada doktrin pemilihan umat Tuhan (Election) dan doktrin pemeliharaan Tuhan (Providence) yang dianutnya, kaum Puritan dengan penuh keyakinan mempercayai bahwa setiap orang diberikan sebuah bentuk panggilan kerja tertentu yang khusus baginya oleh Tuhan.

    Tokoh Puritan bernama Richard Steele menegaskan demikian: “God doth call every man and woman... to serve Him in some peculiar employment in this world, both for their own and the common good... The Great Governor of the world hath appointed to every man his proper post and province.” Willian Perkins juga menyatakan bahwa: “A vocation or calling is a certain kind of life, ordained and imposed on man by God, for the common good ...Every person of every degree, state, sex, or condition without exception must have some personal and particular calling to walk in.”

    Setiap orang, tanpa terkecuali – bagaimanapun kondisi hidup yang dialaminya pada saat itu – diberikan Tuhan sebuah bentuk panggilan hidup tertentu yang khusus baginya untuk dikerjakan di dunia ini, dan panggilan kerja ini diberikan sehingga di dalam melaksanakannya, dia mampu memancarkan kemuliaan Tuhan.

    Salah satu dampak dari etos kerja Puritan ini adalah membuat peran seseorang sebagai pekerja sekaligus juga sebagai pelayan Tuhan. Tuhan-lah yang menentukkan mana pekerjaan yang tepat bagi setiap orang. Berdasarkan pandangan ini, maka pekerjaan bukanlah sesuatu yang bersifat impersonal, tetapi personal. Nilai sebuah pekerjaan tidaklah terletak pada pekerjaan itu sendiri, melainkan ia harus dipandang sebagai sarana di mana setiap orang dapat memiliki dan menikmati relasi yang hidup bersama Tuhan.

    Dampak praktis lainnya dari pelaksanaan doktrin panggilan Kristen adalah membawa seseorang kepada sebuah kepuasan di dalam melaksanakan pekerjaannya. Cotton Mather mengungkapkan bahwa “Seorang Kristen sebaiknya bekerja dengan sebuah kepuasan, karena merupakan sebuah kegembiraan bagi Tuhan untuk dapat melihat umat-Nya melaksanakan panggilan hidupnya dengan gembira dan penuh kepuasan... Apakah kamu mengalami kesulitan dan ketidaknyamanan di dalam pekerjaanmu? Kenikmatan seseorang di dalam menghadapi kesulitan dalam pekerjaannya bukanlah sebuah penghormatan kecil yang bisa dia berikan kepada Tuhan, yang telah menempatkan dirinya pada posisi sekarang.”

    Apabila Tuhan telah menempatkan setiap orang sesuai pada panggilannya masing-masing, lalu bagaimanakah kita dapat mengetahui apa yang menjadi panggilan hidup kita? Metode yang dikembangkan oleh kaum Puritan untuk mengetahui panggilan hidup seseorang, tidak dilakukan dengan cara-cara yang bersifat mistik. Richard Steele mengatakan bahwa “di masa sekarang ini”, Tuhan jarang sekali memanggil seseorang secara langsung. Untuk mengetahui panggilan hidup seseorang, kaum Puritan lebih mempercayai proses-proses yang berasal dari:

    1. Munculnya dorongan batin atau kecenderungan-kecenderungan hati seseorang,
    2. Kondisi eksternal atau lingkungan yang kemudian mengarahkan seseorang menuju penjalanan sebuah kehidupan tertentu yang berbeda dari yang lainnya,
    3. Nasihat dari orang tua, pembina, seorang hakim,
    4. kondisi alam,
    5. proses pendidikan atau,
    6. bakat karunia yang dimilikinya, sebagai sarana yang Tuhan pakai untuk memanggil umat-Nya kepada sebuah panggilan hidup tertentu. Kaum Puritan juga yakin bahwa bila seseorang menempati posisi panggilan hidup yang tepat, maka Tuhan sudah pasti akan melengkapi dirinya sehingga dia mampu mengerjakan panggilan tersebut (1 Korintus 7:17).

    Selain itu, kaum Puritan juga percaya pada loyalitas umat Tuhan terhadap panggilan hidupnya. Kita tidak boleh dengan ringannya menerima atau keluar dari sebuah panggilan hidup. John Milton, tokoh Puritan Inggris di abad ke-17 yang sejak kecil memiliki kecenderungan panggilan yang kuat untuk menjadi seorang pujangga, mengatakan bahwa “natur karunia dari setiap orang harus diobservasi secara khusus dan tidak dialihkan ke arah yang lain, karena Tuhan tidak bermaksud untuk mengarahkan semua orang kepada satu panggilan hidup tertentu, tetapi masing-masing diberikan satu panggilan hidup yang khusus untuknya.” Namun, Richard Steele juga mengingatkan: “adalah sesuatu yang tidak masuk akal untuk seseorang memilih sebuah panggilan hidup tanpa menggunakan pertimbangan yang rasional”.

    Teori panggilan kaum Puritan secara seimbang juga menolak keras sikap seseorang yang dengan mudah melepaskan panggilan hidupnya. William Perkins mengingatkan akan bahaya “ambisi, iri hati, ketidaksabaran”, dan menambahkan bahwa “ketika kita iri hati melihat orang lain berada pada posisi dan kondisi panggilan kerja yang lebih baik dari kita, maka ini merupakan sebuah dosa, dan penyebab banyaknya perselisihan di dalam sebuah persemakmuran”. Cotton Mather juga mengatakan bahwa: “Seorang Kristen sebaiknya melaksanakan panggilan kerjanya dengan penuh kesukaan. Seorang Kristen sebaiknya jangan terlalu mudah untuk jatuh di dalam menjalankan panggilan kerjanya. Banyak orang, yang hanya karena iri hati, tamak dan tidak puas, membuang begitu saja panggilan kerjanya”.

    3. Motivasi dan upah kerja

    Konsep etos kerja kaum Puritan tentang motivasi dan sasaran kerja tidaklah berpusat pada pengejaran materialistis, sebuah konsep yang dominan di masa kini. Menurut kaum Puritan, upah dari pelaksanaan sebuah panggilan kerja harus bersifat rohani dan memiliki nilai moral, yakni untuk memancarkan kemuliaan Tuhan dan bermanfaat bagi kepentingan publik.

    William Perkins menegaskan bahwa: “Tujuan akhir dari kehidupan kita adalah untuk melayani Tuhan melalui pelayanan kita terhadap orang lain di dalam panggilan kerja kita masing-masing. Jika sekiranya seorang bertanya: bukankah kita seharusnya bekerja demi mempertahankan kelangsungan kehidupan keluarga kita? Saya berkata: itu memang sudah menjadi kewajiban kita, tetapi itu bukanlah lingkup dan tujuan akhir dari kehidupan kita. Tujuan akhir dari hidup kita yang sebenarnya adalah untuk melayani Tuhan di dalam pelayanan kita terhadap orang lain.”

    John Preston, tokoh Puritan Inggris, juga memperkuat penjelasan Perkins dengan mengatakan bahwa “kita harus bekerja bukan demi kebaikan diri kita, tetapi demi kebaikan orang lain”. John Cotton, salah satu pemimpin rombongan migrasi pertama kaum Puritan Inggris ke Amerika dengan kapal Mayflower, menyatakan bahwa: “Di dalam menjalankan panggilan kerja kita, kita tidak boleh mengarahkannya hanya untuk kepentingan diri kita sendiri, tetapi juga demi kepentingan masyarakat umum... Dengan demikian, iman kita tidak akan tentram menyaksikan pelaksanaan panggilan hidup kita kecuali dia dipersembahkan bukan hanya untuk melayani kepentingan dirinya, tetapi juga demi kepentingan orang lain.”

    Yang patut kita perhatikan dari kutipan kalimat tersebut adalah adanya sebuah kesatuan antara melayani Tuhan, masyarakat umum, dan diri kita sendiri yang terkait satu sama lain di dalam pelaksanaan panggilan kerja kita.

    Richard Baxter, tokoh Puritan Inggris abad ke-17, mendorong kita agar: “Pilihlah pekerjaan atau panggilan hidup yang mana kita bisa memberikan yang terbaik untuk Tuhan. Janganlah kita memilih panggilan hidup yang mampu membuat kita menjadi kaya atau terhormat di mata dunia, tetapi pilihlah panggilan yang mana kita lebih mampu berbuat yang terbaik, dan dapat menjauhkan diri kita dari berbuat dosa”. Baxter juga menambahkan bahwa: “Apabila kita diperhadapkan pada dua pilihan panggilan kerja yang sama-sama berguna untuk kepentingan masyarakat umum, di mana yang pertama memberikan keuntungan materi, sementara yang kedua memberikan keuntungan bagi jiwa kita, maka panggilan kerja yang kedualah yang harus kita pilih”.

    4. Sukses dalam pekerjaan merupakan anugerah Tuhan, bukan hasil upaya kita

    Calvinisme tidak mengajarkan tentang etos kerja yang mengandalkan pada kekuatan diri, seperti konsep-konsep etos kerja di zaman modern sekarang. Sebaliknya, Calvinisme mengajarkan konsep tentang anugerah di dalam teori etos kerjanya, yakni: apa pun hasil imbalan yang kita terima dari pekerjaan kita, maka itu merupakan bentuk karunia anugerah dari Tuhan.

    Sang Reformator Besar, John Calvin sendiri menolak konsep bahwa kesuksesan kehidupan material seseorang selalu berasal dari hasil jerih upaya kerja orang tersebut. Dalam pandangan Calvinistik, bukan hanya bekerja tidak menjamin kesuksesan seseorang; meskipun Tuhan mengaruniakan pekerjaan dengan berkat kemakmuran, namun itu semua hanya karena anugerah-Nya, bukan karena hasil upaya manusia.

    Bagaimanakah kaum Puritan memandang kekayaan yang mereka miliki? Kaum Puritan memperlakukan kekayaannya sebagai barang kebutuhan sosial, bukan sebagai barang milik pribadi, yang sepenuhnya adalah karunia Tuhan, bukan hasil upaya kerja manusia semata. Kaum Puritan menekankan “bahwa tidak ada keterkaitan yang langsung antara kekayaan dan kesalehan seseorang ...bukan kekayaan, melainkan iman dan penderitaan seseorang demi penginjilan-lah tanda-tanda dari umat pilihan Tuhan”. Bagi kaum Puritan, mentaati perintah Tuhan, melayani sesama manusia, dan menggantungkan diri pada kekuatan Tuhan merupakan konsep kerja yang ideal.

    5. Moderasi terhadap pekerjaan

    Di dalam konsep etos kerjanya, kaum Puritan menilai pentingnya untuk mempertahankan posisi di antara hidup bermalas-malasan di satu sisi dan hidup diperbudak oleh pekerjaan di lain sisi. Kaum Puritan membuat pekerjaan sebagai tanggungjawab pribadi sekaligus kewajiban di dalam kehidupan sosial mereka sebagai umat Tuhan. Sebagian reaksi kaum Puritan dalam menolak kemalasan dan memuji ketekunan bekerja berasal dari keyakinan mereka bahwa bekerja merupakan suatu ordonansi sebagai ciptaan Tuhan dan dengan demikian menjadi kebutuhan bagi keberadaan manusia.

    William Perkins mengatakan bahwa: “Adam di dalam keadaan ketidakberdosaannya memiliki semua yang dapat diinginkannya, namun tetap saja Tuhan mempekerjakannya kepada sebuah panggilan”. Richard Baxter menulis bahwa: “Innocent Adam was put into the Garden of Eden to dress it... And man in flesh must have work for his body as well as his soul”. Dengan memandang pekerjaan sebagai sebuah ordonansi dari sebuah ciptaan sekaligus panggilan Tuhan, maka kaum Puritan mengakui martabat dari sebuah pekerjaan demi kebaikan dirinya sendiri sebagai manusia sekaligus sebagai respon terhadap panggilan Tuhan.

    Namun kaum Puritan juga berupaya untuk memberikan konsep hidup yang berimbang dengan menolak orang yang memberikan hidupnya demi pekerjaan secara berlebihan. Leland Ryken berkata bahwa: “The goal of the Puritans was moderation between extremes. To work with zeal and yet not give one’s soul to his or her work was what they strove for”.
Saudara/i, dari seluruh penguraian artikel ini, maka dapat kita simpulkan bahwa kaum Puritan meyakini betul tentang Tuhan yang memanggil setiap manusia secara pribadi pada sebuah pekerjaan tertentu, tentang martabat dari sebuah pekerjaan, dan tentang perilaku-perilaku tertentu yang layak di dalam upaya mencapai sasaran dari sebuah pekerjaan.

Kiranya kita sebagai umat Tuhan boleh terus berupaya untuk memberikan yang terbaik di dalam menjaga martabat dan mengintegrasikan setiap pekerjaan dalam kehidupan kita, baik itu di gereja, persekutuan, organisasi, kantor dan lainnya, yakni untuk melayani Tuhan, kepentingan publik, dan diri kita sendiri, sehingga kita menjadi umat Tuhan yang boleh berbuah melalui pekerjaan kita. Selamat merayakan Hari Raya Natal dan Tahun Baru 2008. Tuhan memberkati.
 
Daftar Pustaka:
  • Leland Ryken, Wordly Saints: The Puritans As They Really Were (Grand Rapids: Zondervan, 1986).

  • Michael McGiffert, Puritanism and the American Experience (Rev.ed) (Reading : Addison-Wesley,1969).

  • R.H. Tawney, Religious and the Rise og Capitalism (New York : Harcourt, 1926).

  • Edmund Morgan, Puritan Political Ideas, 1558-1794 (Indianapolis: Bobbs-Merrill, 1965).

  • William Ames, The Marrow of Theology (Ed.) John D.Eusden (Boston: Pilgrim, 1968).

  • Charles H. George, The Protestan Mind of the English Reformation, 1570-1640 (Princeton: Princeton University Press, 1961).
 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003