|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Kasut |
|
24 Desember 2007
Palungan yang Hilang Glorius Bawengan |
|
|
Sebuah kehadiran rasanya selalu sulit menemui isi. Seperti
ketika Bush bertandang ke negeri hujan di Bogor, tempo
hari. Yang tertangkap adalah parade militer, bedil yang
terkokang, kepal tinju amarah pendemo, pembersihan kota.
Ringkasan yang tersentuh bukan inti kehadiran Bush, tetapi
selalu pernak-pernik seremoninya. Seperti Natal, lewat
kisah ini.
Persiapan Natal sudah lama digelar dengan berbagai
asesorisnya. Keceriaan sebagai simbol harapan telah ditata
apik oleh sang panitia. Tidak ada yang terlewat seinci pun
untuk merasa bahagia di hari berkhidmat, yang disebut
Natal itu. Pita-pita dipajang di gerbang kota, lampu-lampu
bertebaran bagai bintang yang berjaga siang dan malam. Dan
hari perayaan itu pun tiba. Tapi tiba-tiba sesuatu
menghentak. Kekagetan tak terhindarkan. Palungan sebagai
simbol utama kehadiran sang Kristus hilang. Bagi panitia,
Palungan itu bukan cuma simbol, tetapi sekaligus adalah
tanda kehadiranNya. Maka jika hilang berarti tak pernah
ada kehadiranNya.
Maka seluruh panitia dibantu warga kota bertugas mencari
palungan itu. Perayaan Natal tak akan berlangsung tanpa
palungan itu. Natal ditunda?, tanya seseorang. Ya!
jawab yang lain. Pencarian pun berlangsung. Memang tidak
lama, sebab Palungan itu cepat ditemukan. Namun
keterkejutan terjadi lagi. Semua orang bukan cuma kaget,
tapi langsung kehilangan semangat untuk bernatalan.
Palungan itu ditemukan di rumah seorang janda miskin, yang
anaknya mati. Dan palungan itu dipakai sebagai peti mati
anaknya.
Cerita drama bertajuk Palungan yang Hilang ini, ditulis
beberapa puluh tahun lalu oleh seorang anak muda yang
pernah berguru di bangsal sebuah sekolah teologi, kemudian
ia menjadi sastrawan dan terakhir wartawan senior, Yulius
Siyaranamual, namanya. Tahun lalu ia meninggal, di
pangkuan keluarganya di Tangerang. Tampangnya lecek,
jarang berkemeja, selalu bersendal. Mengenal Bang Yulius
begitu saya menyapanya adalah berjumpa dengan kerendahan
hati. Suatu kali ia mengundang kami, menonton
aktor-aktrisnya berpentas di Goethe Institut. Dan ia
memboyong para lonte Surabaya main drama. Teman saya
terkekeh sampai pentas usai.
Kini terasa lagi amarah Yulius pada parade seremoni
spiritual di negeri ini. Bukankah Natal yang tergelar
sepanjang bulan nanti, sebenarnya adalah Natal tanpa
palungan? Kenapa tidak? Yang terjadi di dalamnya bukan
sentuhan akan kehadiranNya bagi belarasa kemanusiaan. Yang
justru hadir di Natal kita adalah sejenis neurosisme
narsistik. Yaitu penyakit pengagungan diri, pengagungan
lembaga, pengagungan gereja. Karena itu tak ada Kristus di
Natal kita, yang ada hanya segerombolan orang yang
terkagum-kagum pada cermin dirinya di kaca spiritual.
Konon, panitia Natal di kisah drama itu memutuskan untuk
menyelenggarakan Natal di rumah janda miskin itu, dengan
semua ketiadaan dan kesahajaan. Sebab mereka tahu, Natal
adalah kesanggupan pemberian diri bagi orang lain. Bukan
keceriaan diri di depan cermin beku.
Nah, gimana Natalmu tahun ini, teman? Masih sibuk memoles
wajah persekutuanmu dengan gincu acara? Atau kamu telah
temukan Palungan yang Hilang itu? |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|