Kasut
23 Desember 2007
Natal dan Berani Hidup
Handrawan Nadesul
ADA orang-orang yang berani mati, ada juga yang berani hidup sekarang ini. Ketika hidup semakin sulit, orang merasa berat memilih berani hidup. Alasan bunuh diri kini kian sederhana. Anak sekolah bunuh diri cuma gara-gara tak bisa bayar uang sekolah. Meningkatnya permintaan eutanasia, jadi bukti orang tidak lagi berani memilih hidup lebih lama.

Lazim bila hidup kian susah bikin orang tidak berani hidup, dan memilih berani mati. Lumrah juga kalau orang kaya baru, penganut hedonisme, koruptor, dan mereka yang dapat uangnya gampang kalau merasa takut mati, dan sangat berani hidup. Bagi mereka kematian jadi momok, kesehatan jadi agama baru, dunia jadi surga yang tak rela mereka tinggalkan.

Buat yang hidupnya enak, kematian malah harus dimanipulasi oleh peran bisnis. Sejak Revolusi Perancis kematian termedikalisasi. Dokter dan rumah sakit dibayar lebih mahal untuk melawan kematian. Makna kematian tampil dengan perspektif baru. Teknologi kesehatan mendapat tugas mengulur-ulur waktu yang diinginkan orang untuk mati.

Teknologi medik pun kian memanjakan manusia. Terobosan teknologi clonning, tandur ”sel tunas” (stem cell) ingin menaklukkan anggapan lama kalau umur tidak bisa lagi ditawar. Orang berduit kini mengenal wujud kematian borjuis. Inilah jenis kematian kontemporer yang digeser budaya sehingga menampilkan ikon baru.

Ikon bahwa kematian tidak sama sensualnya dengan rasa senang (ujar penyair Chauver Villon). Orang yang hidupnya kecukupan terinspirasi merasa perlu merancang agar mati dengan indah (The Art of Dying Well, Mary Catherine O’Connor). Tentu sambil terus merasa berani hidup, dan sangat takut mati.

***

SEMUA orang dilahirkan siap untuk hidup dengan menginjak bumi. Namun tidak semua siap hidup dalam kepapaan. Hanya yang dari kecil terlatih memikul stressor, menjadi tahan banting dalam hidup yang susah. Sedang yang hidupnya serba enak, atau memilih hidup ambil cara gampangnya, cenderung rentan bunuh diri. Mereka tak siap untuk hidup susah. Koruptor yang tertangkap hukum pun tak lagi tegar memilih berani hidup seperti sediakala.

Manakala hidup semakin keras, kita membutuhkan orang-orang tegar. Orang yang dalam kesusahan tidak sakit jiwa dan mampu berkelit dari godaan hidup serong. Kasus pemilik tanah yang sebelumnya hidup papa di Nusa Dua Bali dulu, misalnya. Sebelum kaya dari menjual tanah, dalam kepapaan mereka berbahagia. Namun hidup jadi kalut setelah dengan serba kelimpahan uang dari menjual tanah suami kena sifilis, anak tewas kecelakaan mobil, dan istri sakit-sakitan. Kita belajar bahwa menjadi orang kaya (baru) justru bisa membuahkan azab, alih-alih memberi kado hidup bahagia.

Kasus koruptor kini terus dikejar. Setelah aib tersingkap di publik, dan rasa malu mencibir, yang tadinya takut mati merasa tak lagi berani hidup. Di batin mereka, kalau saja sekarang boleh memohon, mudah-mudahan pasir gelas ukur kematiannya bisa lekas habis.

Sebaliknya kita kagum pada orang yang dalam kepapaan tidak memilih serong. Terharu melihat seorang ibu terhuyung bertahun-tahun sepanjang trotoar kota menjajakan dagangan kecil, berhasil menetaskan anak-anaknya menjadi orang. Potret itu yang kini langka. Potret orang yang dalam kesusahan masih berani hidup.

Misal, potret seorang jenderal pulang kampung, di sebuah sudut desa berpapasan dengan ibu yang dulu mengandungnya, ibu yang berjalan bertelanjang kaki tertatih-tatih menjajakan kue serabi setiap subuh. Potret ketegaran orang-orang yang tak letih-letih masih berani hidup dan merasa tak takut mati. Mereka yang sudah sangat siap untuk mati kapan pun Tuhan mencabutnya.
Merekalah pejuang kehidupan. Anak-anak kita perlu didikan keteladanan seperti itu. Orang yang berani hidup dan tidak takut mati di tengah-tengah godaan berkorupsi tidak sulit dilakukan dan ketika banyak orang latah gampang berbuat serong. Tentu hanya bisa menjadi begini kalau bekal iman sudah siap di saku.

Salut kepada mereka yang tegar dengan gaji kecil tetap sanggup menjaga martabat. Yang bergumul hidup sebagai sosok yang masih dianggap orang (diwongke). Mereka yang tetap berharkat kendati tak punya gelar, bukan orang dikenal, bukan pula tergolong nama besar. Kalau juga punya nama besar, selalu menjaga hidupnya tidak serong, dan namanya tetap harum.

Potret hidup tegar dan tetap berani hidup dalam kepapaan juga sebuah puisi kehidupan. Puisi langka yang sayangnya tak lagi ditemukan di laci-laci meja sekolah anak kita sekarang ini. Bahwa ketegaran hidup dan memilih tidak seronglah yang mengantarkan kita selalu teguh berani hidup, dan merasa tidak perlu takut mati.

***

NATAL buat kita berarti sebuah kabar baik. Kabar baik bagi segala bangsa. Kabar yang menjadi tugas setiap kita untuk menyebarkannya ke seantero dunia. Pesan agungnya agar Natal menjadi universal, bukan lokal, atau regional, atau cuma milik kelompok minoritas belaka.

Tekad membangun Natal yang universal menuntut kita berani memanggul salib, dan menafikan toleransi beragama. Bahwa bertoleransi hidup berbangsa dengan iman lain itu bahasa politik, bukan seruan yang alkitabiah.

Seorang majikan yang menyampaikan berita Natal, dan menjadikan pembantu rumahnya yang tidak seiman tanpa paksaan atau intimidasi kemudian mau mengikut Yesus, dan sang majikan tak takut dihujat tetangga atau Ketua RT, sudah melakukan peran memanggul salib. Majikan sejenis itu yang tergolong berani hidup sekaligus tak takut mati.

Sikap bertoleransi terhadap orang yang bukan seiman sambil menggendong keyakinan bahwa hanya melalui Yesus kita diselamatkan, bagian dari sikap berani hidup sekaligus takut mati. Bukankah seyogianya bersikap tidak takut untuk memberitakan kepada siapa saja bahwa makna Natal adalah milik semua orang, segala bangsa, dan bukan cuma punya kita saja. Berita yang harus tiba pada setiap telinga umat manusia di dunia. Bukankah makna Natal buat kita sejatinya universal.
 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003