Kasut
6 Nopember 2007
Pendidikan Bagian Integral dari Perjanjian antara Allah dengan umatNya
Pdt. Tumpal Tobing
Belum lama ini kita dikejutkan dengan berita tawuran antar siswa yang justru dilakukan oleh sekolah negeri “berbobot/ unggulan” di Jakarta Selatan. Ternyata kualitas kognitif (baca:pikiran) yang selalu diandalkan dan cenderung “didewakan” tidak menjamin kualitas affektif (baca: sikap hidup) seseorang. Mau dibawa ke mana bangsa kita ini jika generasi penerus yang kita andalkan ternyata adalah orang-orang hebat yang tidak punya kepedulian pada yang lain? Yang lebih menakutkan lagi ternyata masalah “senioritas” bukan lagi barang langka alias sudah membudaya di sekolah-sekolah artinya budaya “menekan, menindas dan kecenderungan menghancurkan yang lain” merupakan bagian yang tak terpisahkan dari lingkungan pendidikan di Jakarta atau bahkan mungkin di Indonesia. Gejala buli, vandalisme, pergaduhan, memukul guru, merusak sekolah, cuek bebek dan masalah disiplin, hampir setiap hari terpampang dalam berita di media-media.

Jika kondisi semacam ini tidak segera ditanggulangi maka nasib pendidikan di negara ini akan semakin terpuruk. Pentingnya pendidikan bagi masa depan bangsa perlu mendapatkan perhatian khusus dari masyarakat. Bangsa yang maju tidak bisa dipisahkan dari cara pandang dan berpikirnya dalam rangka untuk menempatkan kemajuan pendidikan sebagai tujuan pokok kebangsaan. Pendidikan adalah kekuatan pembentuk masa depan, karena ia merupakan instrumen yang mampu mengubah sejarah gelap menjadi terang atau sebaliknya. Pendidikan merupakan investasi kemanusiaan karena di sanalah masa depan peradaban ini dipertaruhkan. Kini persoalan terbesar kita adalah bagaimana menyesuaikan serta merancang cara berpikir dalam dunia pendidikan menghadapi perubahan dunia yang kian kompleks, berubah cepat, sangat sulit diramalkan.

Sejauh manakah Gereja Tuhan di tengah-tengah dunia ini ikut berperan dan berpartisipasi dalam pergumulan pendidikan? GKI Pondok Indah yang mencanangkan misinya “sebagai Gereja Indonesia yang anggota jemaatnya peduli pada pembaruan manusia dan lingkungan dalam rangka perwujudan misi Kerajaan Allah”, telah secara konkret mewujudkan kepeduliannya dalam dunia pendidikan dengan menyelenggarakan proses belajar mengajar melalui sekolah Tirtamarta dan Permata Bunda – BPK Penabur.

Sebenarnya perhatian gereja terhadap dunia pendidikan bukan hal yang baru. Thomas Aquinas seorang bapa gereja misalnya menulis suatu seri konsep kehidupan secara universal. Tulisannya itu sangat memengaruhi kebudayaan pada masanya. Pada saat itu, sekolah menjadi sekolah gereja, artinya para guru Kristen tidak hanya sekedar mengajarkan ilmu kepada murid, tetapi juga memengaruhi dan membimbing serta mengarahkan murid agar hidup dalam kebenaran Firman Tuhan.

Martin Luther dalam Gerakan Reformasinya juga memberikan perhatian yang sangat besar di bidang pendidikan. Ketika para murid diajari mengenal huruf berarti sudah mengajar mereka membaca Alkitab. Dan dengan membaca Alkitab, mereka menerima keselamatan. Kemudian yang lebih penting lagi Martin Luther mengajak jemaat untuk tidak hanya berhenti atau bertahan pada hubungan kekeluargaan (baca: persekutuan) saja, tetapi melakukan hal yang jauh lebih penting yaitu mendirikan sekolah sebanyak mungkin di mana saja, agar segala sistem yang telah diciptakan Tuhan dalam mengatur alam semesta ini berjalan sesuai dengan kehendakNya. Lembaga-lembaga Pendidikan (sekolah, universitas) Kristen, merupakan kepanjangan tangan dari Gereja untuk mewujudnyatakan pelebaran Kerajaan Allah di tengah-tengah dunia ini. Sebab melalui lembaga pendidikan, fungsi menjadi “garam dan terang” di tengah-tengah dunia dapat lebih dirasakan. Lembaga Pendidikan kenyataannya lebih mudah diterima di masyarakat yang majemuk karena punya fungsi pemanfaatan yang lebih real dibandingkan bentuk pelayanan gereja lainnya yang seringkali sudah dicurigai mengarah pada warna tertentu.

Abraham Kuyper dilahirkan 29 Oktober 1837 di Maassluis Belanda, seorang pendeta yang mengembangkan sebuah model baru universitas Kristen didasarkan pada ajaran murni dari Johanes Calvin. Ia mengatakan: “tugas kita bukan hanya membantu siswa mengatasi persoalan-persoalan mereka, melainkan juga membuat Firman Allah berkuasa atas Kurikulum, demikian juga seluruh Bidang Akademik pun harus dikuasai Firman Allah.” Kalimat terkenal dari Abraham Kuyper yang masih terus menggema sampai saat ini, “There is not a single inch in the whole domain of our human existence over which Christ, who is sovereign over all, does not cry: Mine!” (tidak ada luasan 1 Cm2 pun di seluruh alam semesta di mana Kristus tidak menyatakan, „Aku juga memiliki tempat ini”). Kristus memiliki dan menguasai seluruh bidang di seluruh alam semesta. Firman dan iman mengarahkan dan menentukan segala sesuatu.

Dengan demikian Abraham Kuyper percaya bahwa pendidikan (baca: sekolah/Universitas) harus bekerja sama. Namun, pada saat yang sama ia menegaskan bahwa lembaga pendidikan bukanlah gereja dan gereja bukan pula lembaga pendidikan. Gereja tidak bisa mengajarkan fisika atau matematika. Ilmu-ilmu tersebut diajarkan di lembaga pendidikan. Dan sekaligus pada saat yang sama, lembaga pendidikan tidak akan pernah bisa merayakan dan melayani perjamuan kudus. Itu adalah tugas gereja. Gagasan pentingnya yang perlu diperhatikan dalam dunia pendidikan Kristen adalah selalu menghadirkan Allah dalam seluruh proses belajar mengajar dengan menyadari bahwa lembaga pendidikan adalah mitra Tuhan dalam mewujudkan misi Allah di tengah dunia ini.

Para tokoh sejarah gereja telah memberikan arah yang tepat bagi pendidikan Kristen untuk mengajarkan kebenaran kepada generasi penerus. Dasar yang teguh tentang pentingnya pendidikan berakar pada Firman Tuhan dalam Ulangan 6:4-9; Keluaran 13:1-10, Keluaran 13:11-16, dan Ulangan 11:18-21. Bagi orang Israel, pendidikan merupakan bagian integral dari perjanjian antara Allah dengan umatNya. Di dalam keempat naskah tersebut, kewajiban untuk mengajarkan hukum dan pengetahuan tentang Allah kepada anak-anak mendapat penekanan yang besar. Hal ini menunjukkan besarnya hubungan antara pendidikan rohani dalam rumah tangga dengan ketaatan kepada Allah.

Jadi jelas, tujuan utama pendidikan Kristen adalah untuk mengajar anak-anak takut akan Tuhan, hidup menurut jalanNya, mengasihiNya, dan melayaniNya dengan segenap hati dan jiwa mereka (Ulangan 10:12). Berlainan dengan pendidikan oleh dunia yang bertujuan untuk menciptakan generasi muda yang penuh ambisi untuk sukses, mandiri, dan percaya pada kekuatan diri sendiri. Pendidikan Kristen mendidik anak-anak untuk memiliki sikap mementingkan Tuhan di atas segala-galanya, taat pada Tuhan, dan bergantung pada kekuatan Tuhan untuk terus berkarya. Nilai-nilai yang penting dalam pendidikan Kristen adalah kasih, ketaatan, kerendahan hati, dan kesediaan untuk ditegur.

Pendidikan Kristen harus dilakukan secara terus-menerus melalui kata-kata, sikap, dan perbuatan (Ulangan 6:7). Kata bahasa Ibrani yang dipakai dalam ayat ini adalah “shinnantam”, yang berasal dari akar kata “shanan” yang berarti mengasah atau menajamkan, biasanya pedang atau anak panah. Kata ini dipakai sebagai simbol untuk menggambarkan kegiatan yang dilakukan berulang-ulang seperti orang mengasah sesuatu dengan tujuan untuk menajamkannya. Orang tua tidak dapat hanya mengandalkan khotbah atau pelajaran Alkitab setiap hari Minggu untuk memberi “makanan rohani” bagi anak-anak mereka. Orang tua harus secara rutin dan dalam segala kesempatan menyampaikan kebenaran firman Tuhan kepada anak-anak mereka. Lebih jauh lagi, orang tua harus menjadi teladan yang baik bagi anak-anak mereka, bukan hanya melalui perkataan, tapi juga perbuatan.

Mengakar pada pemikiran di atas, maka citra sekolah Tirtamarta dan Permata Bunda yang berada di bawah naungan gereja GKI Pondok Indah, dibangun di atas dasar karakter “Ketaatan” yaitu dalam hubungannya dengan Tuhan; karakter “Tanggung Jawab” yaitu dalam hubungannya dengan diri sendiri dan karakter “Kepedulian” yaitu dalam hubungannya dengan orang lain.

Maka sekarang menjadi jelas, tujuan GKI Pondok Indah menyelenggarakan sekolah Kristen tidak hanya sekedar memberikan pendidikan ilmu pengetahuan dan moral, tetapi lebih daripada itu ialah memberikan pembinaan kerohanian sehingga tercapailah tujuan pendidikan manusia yang seutuhnya.

Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa peranan keluarga/ orang tua sungguh sangat penting. Melalui pendidikan informal dalam hubungan kekeluargaan, orang tua mengajarkan kepada anak pengetahuan tentang Allah, tapi juga sekaligus pengalaman konkret hidup dalam Tuhan. Selain itu tanggung jawab terhadap diri sendiri dan tentu saja kepedulian terhadap yang lain.

Menurut pakar pendidikan, J.Drost, dalam menunaikan tugasnya ini orang tua dibantu oleh masyarakat. Salah satu bantuan yang diberikan kepada orang tua oleh masyarakat adalah pembentukan manusia muda pada bidang intelektual. Dan proses pembentukan ini berlangsung dalam lembaga yang disebut sekolah. Di situlah terjadi proses belajar-mengajar atau proses pembelajaran, yang berarti usaha menjadikan orang lain belajar.

Sebenarnya, menurut J.Drost, tidak ada sekolah yang menjadikan orang pintar. Proses belajar-mengajar pada dasarnya hanya membantu pelajar mengembangkan potensi intelektual yang ada padanya. Karena sifat itu semua pengajaran adalah formal tidak ada pengajaran informal. Jadi tujuan utama pengajaran ialah usaha agar intelek setiap pelajar berkembang sepenuhnya sesuai dengan talentanya masing-masing. (baca juga J.Drost, SJ “Proses Pembelajaran sebagai Proses Pendidikan”)

Apa yang akan terjadi dengan bangsa kita di masa depan, sangat bergantung kepada apa yang kita lakukan sekarang ini terhadap cara-cara kita mendidik generasi muda, dari pendidikan di tingkat TK sampai ke pendidikan di tingkat Perguruan Tinggi.

Menurut Prof. Peter F. Drucker, guru besar Social Science do Claremont Graduate School di California Amerika Serikat, kita sekarang ini sudah hidup di dalam abad XXI, kenyataan yang kita hadapi sekarang ini merupakan “kenyataan-kenyataan baru” (new realitites) yang berbeda dari kenyataan-kenyataan masa lampau, dan tidak mungkin kita hadapi dengan sikap dan cara-cara masa lampau.

Secara global, apakah ciri-ciri pokok dari kehidupan dalam Abad XXI mendatang? Menurut Daniel Bell, kehidupan dalam masa mendatang akan ditandai oleh dua kecenderungan yang saling bertentangan, yaitu kecenderungan untuk berintegrasi dalam kehidupan ekonomi, dan kecenderungan untuk berpecah belah (kecenderungan fragmentasi) dalam kehidupan politik. Kedua kecenderungan ini sekarang sudah menjadi kenyataan di berbagai kawasan di dunia ini.

Ciri kedua dari kehidupan Abad XXI ialah bahwa globalisasi akan mewarnai seluruh kehidupan di masa mendatang. Salah satu arti “globalisasi” ialah bahwa masalah-masalah tertentu seperti masalah pertumbuhan penduduk, masalah lingkungan, masalah kelaparan, masalah narkotika, masalah hak-hak asasi manusia.
Masalah pelanggaran hak-hak asasi manusia misalnya dipandang sebagai persoalan-persoalan yang bersifat global, di mana pun terjadi, akan disoroti oleh seluruh dunia. Dalam zaman globalisasi ini, tidak ada satu negara pun yang dapat bersembunyi dari sorotan dunia dan menutup diri terhadap kekuatan-kekuatan global yang terdapat di seluruh dunia. Globalisasi ini dimungkinkan oleh perkembangan yang pesat dalam teknologi komunikasi. Informasi-informasi yang penting sekarang ini dengan cepat tersebar ke seluruh dunia berkat teknologi komunikasi yang canggih.

Bagaimanakah sekolah harus bersikap menghadapi tantangan globalisasi ini dan apakah upaya-upaya yang telah dilakukan? Masih mampukah sekolah di bawah naungan GKI-PI tetap bertahan menghadapi berbagai masalah yang muncul akibat pesatnya perkembangan teknologi komunikasi dan tuntutan globalisasi? (Uraian mengenai hal ini akan dipaparkan pada tulisan berikutnya)

Harapan akhir dari seluruh proses pembelajaran itu, terwujudlah remaja-remaja yang mengenal Tuhan sehingga tetap mampu bersaksi di tengah-tengah tantangan kehidupan yang semakin berat. Selain itu diharapkan para siswa akan mengetahui misi hidup mereka di dunia ini dan mampu menjadi berkat bagi masyarakat, bangsa dan negara.
 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003