Kasut
13 Agustus 2007
Peresmian Gedung GKJ Patalan Pepanthan Pundong
Soekamto
    Puji syukur mring Hyang Agung Umat Greja Kristen Jawi Wewengkon Patalan panthan Pundong amanggih basuki Purnaning bebendu alam Dwi sapto Mei kawuri. Ngaturaken genging panuwun Pambiyantu twin sumbangsih GKI ing Pondok Indah Purnaning Greja Puniki Mugi Gusti paring berkah Temah hayu, hayem basuki.
Demikianlah syairsyair berbahasa Jawa senandung Kinanti Mangu yang dilantunkan dengan iringan Karawitan “Tresno Budoyo”, yang artinya kurang lebih sebagai ucapan syukur dan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkat dukungan serta bantuan dari GKI Pondok Indah, jemaat Gereja Kristen Jawa (GKJ) Patalan, Pepanthan Pundong telah berhasil merampungkan pembangunan kembali gerejanya setelah hancur akibat bencana alam gempa bumi pada tgl 27 Mei tahun lalu.

Gending bersenandung Kinanti Mangu tersebut mengiringi prosesi peresmian gedung gereja tersebut pada hari Sabtu, 19 Mei 2007 yang lalu oleh Pdt. Agus Susanto, mewakili jemaat GKI Pondok Indah, dan Pdt. Djoeniawan Santoso, mewakili Jemaat GKJ Patalan Pepanthan Pundong.

Peresmian penggunaan kembali gedung gereja tersebut ditandai dengan penandatanganan sebuah prasasti oleh kedua pendeta, yang dalam prosesi tersebut diiringi oleh sejumlah penari serta tiga buah Gunungan dalam pewayangan Jawa, yang melambangkan Kebaikan, Kejahatan dan Terang.

Gempa berkekuatan 5,9 pada Skala Richter yang melanda DI Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah pada tgl 27 Mei 2006 yang lalu telah meninggalkan kepedihan yang mendalam bagi warga di kedua propinsi tersebut. Bukan hanya warga biasa yang menderita akibat gempa tersebut, namun juga warga jemaat sejumlah gereja dari berbagai denominasi di kedua propinsi, karena mereka telah “kehilangan” tempat ibadah mereka yang hancur porakporanda akibat goncangan gempa tersebut.

Salah satu jemaat yang cukup menderita karena hilangnya tempat ibadah tersebut adalah GKJ Patalan bersama kedua pepanthannya, yaitu Pepanthan Pundong dan Pepanthan Imogiri, sementara 13 orang warga jemaat tewas akibat gempa tersebut dan puluhan lainnya menderita lukaluka berat serta kehilangan tempat berteduh mereka. Bangunan gedung gereja Pepanthan Pundong ini mengalami rusak berat sehingga harus dirobohkan untuk memudahkan rehabilitasi atau pembangunan kembali, yang setelah dihitunghitung ternyata memerlukan biaya tidak kurang dari Rp 281 juta. Namun dalam pelaksanaannya, angka tersebut membengkak menjadi Rp 359 juta lebih dan sebanyak Rp 211 juta atau sekitar 58,7 persen merupakan bantuan dari GKI Pondok Indah.

“Melihat kondisi jemaat, rasanya mustahil bagi kami untuk segera membangun kembali gedung gereja ini,” kata Pdt. Djoeniawan Santoso dalam sambutannya pada peresmian penggunaan kembali gedung gereja tersebut. “Yang ada pada kami hanyalah keyakinan bahwa ‘Apa yang mustahil bagi manusia, bagi Allah tidak ada yang mustahil,’” katanya lebih lanjut.

Dan memang benar, Allah tidak membiarkan umatNya hidup dalam penderitaan. Ia menggerakkan hati para donatur untuk menopang, membantu dan menolong umatNya melalui saudarasaudaranya di GKI Pondok Indah serta para donatur lainnya, sehingga keinginan untuk membangun kembali gedung gereja yang hancur dapat menjadi suatu kenyataan.

Sementara itu, Pnt. Veronica Kohar dalam sambutannya mewakili Majelis Jemaat dan jemaat GKI Pondok Indah, mengemukakan dalam sambutannya bahwa memang Allah Bapa kita maha setia dan maha pemurah. Ia telah menggerakkan hati anakanakNya di GKI Pondok Indah untuk turut serta membangun kembali gereja ini bersama anakanakNya di sini.

“Memang tidak sedikit dan tidak ringan tantangan yang harus dihadapi selama proses pembangunan kembali gedung gereja ini. Namun, sebagaimana kita yakini, Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Kini kita bisa saksikan betapa sempurnanya kasih setiaNya dengan selesainya pembangunan gedung gereja ini,” katanya lebih lanjut.
Sebelum peresmian, Pdt. Agus Susanto memimpin ibadah khusus, yang diikuti secara khidmat oleh jemaat GKJ Patalan Pepanthan Pundong.

Luas bangunan gedung gereja yang dibangun kembali tersebut adalah 324 meter persegi dan untuk pembangunan kembali gedung itu telah menghabiskan biaya sebesar Rp 359.389.700,. Bantuan dari GKI Pondok Indah sebesar Rp 211 juta sementara swadaya lokal seluruhnya bernilai Rp148.389.700, di mana Rp 40 juta di antaranya merupakan nilai sisa bangunan lama yang masih dapat dimanfaatkan.

Hadir pula utusan dari GKI Pondok Indah dalam peresmian tersebut selain Pdt. Agus Susanto dan Pnt. Veronica Kohar, Pnt. Benny Murtono, Pnt. Yanti Sabarinah, Ibu Endang Harjanto serta beberapa anggota jemaat dari Kombas Bintaro, yang pada hari yang sama, bersama Pdt. Rudianto Djajakartika menghadiri peresmian gedung gereja GKJ Canden, yang juga hancur akibat gempa bumi bulan Mei tahun lalu.
 
Sejarah
Sejarah GKJ Patalan sebenarnya sudah cukup panjang. Bermula dari Dusun Turen, Canden atas bimbingan rohani dari seorang diaken, Iskak dari GKJ Temon, Kulon Progo, pada th 1900 ada dua orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat. Benih yang tumbuh dalam diri dua orang tersebut akhirnya berkembang ke dusundusun lain di wilayah Bantul dan membentuk kelompokkelompok kecil sebagai embrio jemaat yang hidup di tengah perkembangan situasi dan kondisi yang relatif kondusif pada saat itu bagi perkembangan Injil Kristus.

Pada th 1924 jemaat Patalan yang sudah mulai berkembang di wilayah Bantul, yang terletak sekitar 13 km di sebelah selatan kota Yogyakarta, berkeinginan untuk mendewasakan diri. Keinginan tersebut kemudian dijajaki oleh Pdt. Van Dyk dan Ds. Nitelenbas serta diteruskan dengan persiapan majelis oleh Ds. Bakker dan Ds. Merkelyn. Pada tgl 15 Maret 1925 usaha tersebut membuahkan hasil dengan diteguhkannya Bpk. Reso Sentono, Bpk. Darmosoewito, Bpk. Samuel Paulus Martosoebroto sebagai Tuatua dan Bpk. S. Karso Husodo sebagai juru Pamulosoro atau Diaken. Pada tgl 19 Juli 1929, jemaat Patalan membangun gedung gereja yang pada perkembangannya menjadi gedung gereja induk GKJ Patalan sampai mengalami kerusakan hebat akibat gempa akhir bulan Mei lalu.

Berkat campur tangan Sang Kepala Gereja, jemaat mulamula GKJ Patalan membentuk pospos Pekabaran Injil di wilayah Yogyakarta Bagian selatan. Oleh karena berkatNya, berturutturut GKJ Patalan mendewasakan Pepanthan Bantul menjadi GKJ Bantul pada th 1970, Pepanthan Beji menjadi GKJ Sumberagung dan pada th 1997 mendewasakan Pepanthan Sidomulyo menjadi GKJ Sidomulyo.

Sementara itu, seiring dengan perkembangan waktu, GKJ Bantul berhasil mendewasakan Pepanthan Madukismo menjadi GKJ Madukismo, Pepanthan Jodog menjadi GKJ Jodog serta GKJ Sumberagung mendewasakan Pepanthan Canden menjadi GKJ Canden pada th 1976.
 
Cagar budaya
Perjalanan panjang telah dijalani oleh GKJ Patalan yang sampai saat ini masih melayani dua pepanthan atau bakal jemaat, yaitu Pepanthan Pundong dan Pepanthan Imogiri dengan jangkauan wilayah di empat kecamatan di Kabupaten Bantul.

Berdasarkan sisi sejarah tersebut, Pemerintah Kabupaten Bantul maupun Propinsi DI Yogyakarta telah menetapkan GKJ Patalan sebagai salah satu cagar budaya yang layak untuk dilestarikan.

Namun Tuhan berkehendak lain. Akibat gempa yang melanda Yogyakarta dan sebagian wilayah Jawa Tengah pada tgl 27 Mei lalu telah menghancurkan secara fisik hasil jerih payah dan buahbuah pengharapan dari perjalanan panjang yang dimuali pada tgl 25 Maret 1925 hingga saat ini dalam memikul salib Kristus di tengah masyarakat Bantul. Kebanggan masa lalu yang hancur secara fisik menyisakan semangat untuk bangkit, tumbuh dan berkembang dalam menebar pengharapan di tengahtengah puingpuing gedung bersejarah GKJ Patalan.

Kehancuran secara fisik tersebut tidak hanya dialami oleh gedung induk GKJ Patalan, tetapi dua pepanthan yang masih menjadi asuhannya pun, yaitu Pepanthan Pundong dan Pepanthan Imogiri, turut hancur akibat gempa tersebut.

Secara keseluruhan (di gereja induk dan dua pepanthan), kerugian yang diderita akibat gempa tersebut mencapai sekitar Rp 1.495.800.000, (Satu milyar empat ratus sembilan puluh lima juta delapan ratus ribu rupiah). Berkat keuletan serta campur tangan Kepala Gereja, Tuhan Yesus Kristus, Majelis Jemaat GKJ Patalan berupaya untuk bangkit serta membangun kembali ketiga bangunan gedung gereja di Patalan, Pundong dan Imogiri dan hingga saat ini secara swadaya mereka telah berhasil menghimpun dana sebesar Rp 359.350.000,- dan sisanya sebesar Rp 1.136.450.000 akan dicarikan dari para donatur serta mereka yang terpanggil untuk mengulurkan tangan kasihnya bagi pembangunan kembali ketiga gedung gereja tersebut.
 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003