Kasut
21 Juli 2007
Bernyanyi dalam Ibadah, Efesus 5:18-21
Nyanyian adalah bagian yang amat penting bukan saja dalam ibadah, melainkan juga dalam seluruh kehidupan iman orang Kristen. Menyanyi bagi orang Kristen adalah ungkapan iman. Ini yang sering tidak bisa dipahami oleh orang lain, sehingga ada yang berkata, “Aneh betul orang Kristen itu! Ada kematian, kok malah menyanyi!”

Tidak ada yang lebih mengharukan daripada mendengar seorang yang di dalam kesakitan dan penderitaannya, tahu bahwa kematian sudah amat dekat, tetapi toh bisa menyanyi “Aku berserah, aku berserah.” Apakah suaranya indah atau tidak, tidak penting. Apakah dia menyanyi menurut irama yang benar atau tidak, tidak penting. Tetapi kalau menghadapi sakratul maut saja orang masih bisa bernyanyi, ini iman yang betul-betul tangguh!

Oleh sebab itu, tidak heran Paulus dalam pembacaan di atas menulis, “Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati!” Tidak heran, pemazmur berulang-ulang mengatakan, “Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah” (98:4). Tidak heran kalau sejumlah besar bala tentara sorga turun dan bernyanyi menyambut kelahiran Yesus: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepadaNya” (Luk. 2:14). Tidak heran kalau dalam Kitab Wahyu dikatakan bahwa di sorga, dengan tidak henti-hentinya, siang dan malam, semua makhluk mempersembahkan puji-pujian dan hormat dan ucapan syukur kepada Dia yang duduk di atas takhta itu dan yang hidup selama-lamanya (Why. 4:8-9).

Robert Ingersoll, terkenal sebagai seorang agnostik. Seorang agnostik adalah orang yang sama sekali tidak memedulikan Tuhan. Pada waktu ia mati, memang ada upacara, tetapi tidak ada nyanyian. Mereka berkata, “Bagi orang yang hidup tanpa Tuhan, tanpa Kristus, dan oleh karena itu tanpa pengampunan dan tanpa pengharapan, apa yang dapat dinyanyikan?”

Hanya orang beriman yang bisa bernyanyi. Hanya orang-orang yang beriman yang selalu menyanyi! Barangkali suara kita tidak memenuhi syarat untuk menjadi anggota vokal grup atau kor. Tidak apa-apa! Tetapi, bernyanyi dan bersoraklah terus bagi Tuhan dengan segenap hati!

Kalau ditanyakan kepada saya, apa sikap yang paling utama dan paling penting kala kita bernyanyi dalam ibadah, maka jawab saya adalah: bernyanyi dengan segenap hati! Bernyanyi dengan segenap hati tidak berarti harus berteriak. Kalau kita tahu suara kita fals, ya jangan teriak. Tetapi bernyanyilah dengan segenap hati! Dengan penuh penghayatan!
Sebaliknya, kalau hanya suara kita saja yang bagus, bisa bernyanyi dengan irama yang benar sesuai dengan teori musik, tetapi kemudian kita hanya menyanyi dengan mulut kita tetapi tidak dengan hati kita, perhatian kita hanya kepada bagaimana bernyanyi dengan sebaik-baiknya, bukan didorong oleh kerinduan untuk memuji Allah, maka nyanyian seperti itu hanya akan sampai ke telinga manusia, tetapi tidak akan sampai ke telinga Tuhan.

Kritik yang banyak kita dengar terhadap gereja tertentu adalah menyanyinya loyo, tidak seperti yang di persekutuan-persekutuan, di mana orang bernyanyi dengan semangat, dengan bertepuk tangan, seluruh tubuh bergerak!

Lalu orang menyalahkan lagunya. Lagunya lamban, susah. Atau musiknya yang disalahkan. Coba kalau ada drum, ada terompet, ada keyboard, pasti semangat!

Kritik ini ada betulnya, karena jemaatnya sering bernyanyi seperti orang ogah-ogahan, buka mulutnya hanya seperempat. Benar, kalau lagu-lagunya gembira, kita tentu akan bernyanyi dengan lebih bersemangat. Benar, kalau pakai drum, terompet, keyboard, dan sebagainya, maka tubuh kita pasti akan bergoyang dan suasana akan lebih hot!

Benar! Tetapi Rasul Paulus mengatakan, “Bernyanyilah dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati”, itu tidak sama dengan orang yang mendengar lagu-lagu metal. Pokoknya goyang, tidak peduli kata-katanya. “Yang mesti menggerakkan hati kita tidak boleh hanya karena lagunya enak, kata-katanya gampang, musiknya hot. Yang mesti menggerakkan hati kita terutama adalah penghayatan kita.

Perlu Anda ketahui, sebagian besar dari nyanyian dalam Kidung Jemaat (KJ), Mazmur dan Nyanyian Rohani (NR), Nyanyikanlah Kidung Baru (NKB) itu adalah nyanyian yang sudah bertahan ratusan tahun lamanya. Sedang banyak nyanyian lain, yang kita katakan enak, hanya bisa bertahan beberapa bulan saja. Saya beri contoh. Beberapa tahun lalu, lagu “Hari ini harinya Tuhan” pernah jadi top hit. Setiap orang menyanyikannya. Lagunya enak, kata-katanya gampang, orang menyanyikannya dengan semangat. Tetapi sekarang? Kita hampir tidak pernah mendengarnya lagi. Sudah diganti dengan top hit yang lain.

Bandingkan misalnya dengan KJ no. 37a: Batu Karang yang Teguh. Lagu ini sudah ada sejak 1832 dan syairnya sudah ditulis pada tahun 1775, dan tetap bertahan, tetap dinyanyikan orang di seluruh dunia hingga kini!

Yang ingin saya katakan adalah: kita tidak boleh terkecoh oleh pendapat seolah-olah lagu-lagu kita yang salah. Persoalannya bukan pada lagunya, juga bukan pada musiknya, melainkan pada apakah kita menyanyikannya dengan segenap hati kita. Apakah kata-kata yang kita ucapkan dengan mulut kita itu sungguh-sungguh mencerminkan suasana hati kita?

Bisa saja, kalau saya mendengar lagu dangdut, tubuh saya ikut bergoyang, walaupun saya tidak menangkap kata-katanya. Bisa! Itu kalau kita hanya mementingkan lagunya, musiknya, iramanya. Tetapi pasti bukan ini yang dimaksudkan oleh firman Tuhan, dengan bernyanyi dan bersorak dengan segenap hati.

Bernyanyi dengan segenap hati, adalah ini. Misalnya, saya merenungkan diri saya sendiri, kemudian saya menyadari betapa tidak layaknya saya di hadapan Tuhan. Perkataan saya, perbuatan saya, apa yang ada dalam pikiran saya, tidak ada satu pun yang dapat saya banggakan di hadapan Tuhan. O, kalau saja orang tahu siapa diri saya yang sebenarnya! Tetapi sekaligus dengan itu, saya juga dengan sungguh-sungguh mengalami kasih Tuhan yang luar biasa. Bahwa sebenarnya hanya karena kebaikan Tuhan, rahmat Tuhan, anugerah Tuhan saja, saya ini masih diterima oleh Tuhan. Lalu saya membuka KJ no. 27. Lagu ini ditulis oleh Charlotte Elliot, seorang yang mengalami cacat tubuh, dan karena cacatnya itu, ia pernah merasa hidupnya sama sekali tidak berharga, tidak ada gunanya. Tetapi kemudian ia memperoleh semangat dan gairah hidupnya kembali karena ia yakin bahwa Tuhan mau menerima dia sebagaimana adanya. Dan Charlotte Elliot menuliskan lagu ini, Just I Am ‘Seperti Apa Adanya Aku’ (dalam KJ 27: Meski Tak Layak Diriku).

Coba Anda membuka NR 170, dan nyanyikanlah ayat pertama saja. Tetapi nyanyikanlah dengan membayangkan keadaan yang dialami oleh penggubahnya: cacat, merasa tidak berharga, tetapi Tuhan berkenan menerima dia sebagaimana ia ada. Nyanyikan NR 170 itu dengan menghayati bahwa Anda juga adalah orang yang tidak berharga dan tidak layak di hadapan Tuhan dan sesama kita, tetapi toh dalam keadaan seperti itu Tuhan tetap berkenan memanggil dan mengundang Anda.
Apakah Anda merasakan bedanya? Menyanyi dengan segenap hati dengan menyanyi setengah hati?

Bukan lagu-lagu kita yang salah. Tetapi hati kita yang sering tidak kita serahkan kepada Tuhan pada waktu kita menyanyi.


(Dikutip dari Menyembah dalam Roh Kebenaran. Khotbah-khotbah tentang Kehidupan Beribadah dan Bergereja yang Kontekstual, oleh Eka Dharmaputera, diterbitkan oleh PT BPK Gunung Mulia)
 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003