|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Kasut |
|
26 Juni 2007
Beloved Community, Mendengarkan Kembali Mimpi Martin Luther King Jr. Joas Adiprasetya |
|
|
Salah satu kebanggaan tersendiri menjalani studi di School
of Theology Boston University adalah karena sekolah
teologi ini merupakan alma mater dari Martin Luther King,
Jr., pejuang hak-hak sipil masyarakat kulit hitam di
Amerika Serikat. Di depan Marsh Chapel, kapel universitas,
menjulang sebuah monumen peringatan Martin Luther Jr..
Monumen tersebut berbentuk burung merpati yang, jika
didekati, terdiri dari ratusan burung merpati kecil
lainnya. Setiap kali saya mengalami krisis-visi, saya
selalu menyempatkan diri bersantai di sekitar monumen
tersebut, untuk menggurat ulang visi dan mimpi pribadi
saya.
Banyak dari kita mengenal pidato terkenal King yang
berjudul “I Have a Dream,” yang di salah satu bagiannya
berbunyi begini:
Saya bermimpi bahwa suatu hari bangsa ini akan bangkit dan
hidup dalam makna sejati dari keyakinannya: “Kita
membuktikan kebenaran-kebenaran ini: bahwa semua manusia
diciptakan setara.”
Saya bermimpi bahwa suatu hari di atas bukit-bukit merah
di Georgia, anak-anak dari bekas budak dan anak-anak dari
bekas pemilik budak dapat duduk bersama di sekitar meja
persaudaraan.
Saya bermimpi bahwa suatu hari bahkan negara bagian
Mississippi, sebuah negara bagian yang hangus karena bara
ketidakadilan, hangus karena bara penindasan, akan diubah
menjadi sebuah oasis kebebasan dan keadilan.
Saya bermimpi bahwa empat anak-anakku suatu hari akan
hidup di dalam sebuah bangsa di mana mereka tidak akan
dinilai berdasarkan warna kulit mereka namun berdasarkan
karakter mereka.
Saya bermimpi hari ini.
…
Saya bermimpi bahwa suatu hari setiap lembah ditinggikan,
setiap bukit dan gunung direndahkan, setiap tempat yang
kasar diratakan, setiap tempat yang retak diluruskan, dan
kemuliaan Tuhan akan dinyatakan, dan semua makhluk akan
melihatnya bersama.
Sungguh sebuah pidato yang profetis dan mendalam. Mimpi
yang diusahakan lewat perjuangan dan yang disertai
kejernihan nurani itu secara perlahan me-nunjukkan hasil.
Akan tetapi, pidato “Mimpi” King ini sesungguh-nya
hanyalah secuil pijar dari sebuah nyala membara dalam visi
King yang lebih luas, yang terangkum dalam sebuah istilah:
beloved community (komunitas kasih-sayang). |
|
|
|
Beloved Community |
Apa yang ada di benak King tatkala berkali-kali ia
menyuarakan visi beloved community-nya? Dalam sebuah
suratnya ia menggambarkan beloved community sebagai sebuah
komunitas sosial yang menyatu (integrated) di mana
“persaudaraan menjadi kenyataan.” Jelasnya, beloved
community berpusat pada integrasi sosial, yang berlawanan
dengan segregasi (pemisahan-berdasarkan-warna-kulit), yang
menjadi realitas konkret yang dialami orang-orang kulit
hitam pada masa itu. Integrasi juga tak sama dengan de-segregasi
(penghapusan-segregasi). Karena desegregasi hanyalah
sekedar kebijakan politis yang, sekalipun harus terjadi,
namun sekedar dirumuskan dalam undang-undang. Integrasi
melampaui desegregasi, sebagaimana yang King tulis:
Desegregasi memberi kepada kita sebuah masyarakat di mana
manusia secara fisik tak terbagi-bagi (desegregated) namun
secara spiritual terbagi-bagi (segregated), di mana
lengan-lengan saling bergandengan namun hati terpisah. Ia
memberi kepada kita kebersamaan khusus dan keterpisahan
spiritual. Ia meninggalkan bagi kita sebuah kesetaraan
akan kesamaan yang mandeg tinimbang sebuah kesetaraan akan
kesatuan yang membangun.
Singkatnya, desegregasi hanyalah tindakan politis untuk
melawan segregasi, namun bukan tujuan utama masyarakat.
Tujuan utama yang menjadi mimpi King, dan mimpi seluruh
masyarakat beradab, adalah inte-grasi. Sebuah komunitas
kasih-sayang. Desegregasi hanyalah batu loncatan dari
segregasi menuju integrasi. Dalam pidato penerimaan hadian
Nobel Perdamaian pada tanggal 11 Desember 1964, King
menyuarakan visi integrasi dari beloved community ini:
Beberapa tahun silam seorang penulis novel terkenal
meninggal. Di antara tumpukan kertas-kertasnya ditemukan
sebuah daftar alur kisah yang ia rencanakan di masa
mendatang. Salah satu yang paling penting adalah ini:
“Sebuah keluarga yang sangat tercerai-berai mewarisi
sebuah rumah di mana mereka harus hidup bersama.” Inilah
masa-lah besar yang baru bagi umat manusia. Kita mewarisi
sebuah rumah yang besar, sebuah “rumah dunia” yang besar
di mana kita harus hidup bersama, orang kulit hitam dan
orang kulit putih, orang-orang Timur dan orang-orang Barat,
bangsa Yahudi dan bangsa-bangsa non-Yahudi, Katolik dan
Protestan, Muslim dan Hindu, sebuah keluarga yang sangat
terpisah dalam hal gagasan, budaya dan kepentingan yang,
karena tak mungkin lagi hidup tanpa yang lainnya, harus
belajar, entah bagaimana, di dalam dunia yang besar dan
satu ini, untuk hidup bersama yang lainnya. |
|
|
|
Ulang Tahun GKI Pondok Indah |
Ulang tahun GKI Pondok Indah yang ke-23 tahun ini
merupakan saat yang tepat untuk menegaskan ulang visi
gereja kita, sebagai gereja yang peduli (caring
community). Visi dan mimpi Martin Luther King, Jr. tentang
komunitas kasih sayang (beloved community) semoga dapat
memberi inspirasi dan pemaknaan yang baru atas visi gereja
kita. Sayangnya, visi beloved community King ini kerap
disalahmengerti oleh banyak orang Kristen dan didevaluasi
maknanya menjadi sekedar komunitas kristiani. Dengan
demikian, makna integrasi sosialnya me-lenyap, hakikat
kepelbagaian yang diperjuangkannya menipis.
Beloved community lantas berubah menjadi komunitas orang
Kristen yang justru terpisah dari dunia, menolak mereka
yang beriman ber-beda, serta komunitas yang menganggap
diri lebih baik dari mereka yang berada di luar lingkaran
komunitas tersebut. Singkatnya, yang muncul justru
komunitas yang sewarna dengan komunitas kulit putih pada
masa King hidup, yang mendesakkan politik segregasinya.
Betapa ironis! Visi beloved community, dengan demikian,
bukanlah visi tentang sebuah komunitas kecil di arena
kemajemukan dunia yang lebih besar. Tidak. Visi beloved
community adalah visi global, visi mendunia, visi yang
musti mengharumi “rumah dunia” yang digambarkan dalam
pidato King di atas.
Menjadi sebuah gereja yang peduli harus dimulai dari
sebuah penegasan bahwa gereja bukanlah beloved community
itu sendiri. Gereja adalah bagian dari dan simbol dari
komunitas kasih-sayang semacam itu. Jika visi global dari
beloved community dilupa-kan, maka visi menjadi gereja
yang peduli akan ter-ancam pula nilai hakikinya. Gereja
perlu menjadi komunitas yang peduli justru karena gereja
mengidamkan komunitas dunia yang diwarnai kasih sayang itu.
Komunitas kasih sayang (beloved community) bukanlah
komunitas yang menganggap perbedaan kultur, agama, dan ras
sebagai perbedaan yang tak penting. Itu semua penting dan
justru menjadi watak dari komunitas kasih-sayang.
Perbedaan dirayakan, vive la différence! Namun, di balik
semua perbedaan fundamental tersebut terdapat sebuah
keyakinan utama bahwa manusia yang beragam itu adalah
citra Allah sendiri. Gereja yang mengakui nilai mulia
kemanusiaan tersebut terpanggil untuk menjadi nabi di
tengah “rumah dunia” ini, melawan semua bentuk segregasi,
penurunan harkat manusiawi, serta perendahan kemanusiaan
atas dasar agama tertentu, suku tertentu atau kultur
tertentu. Komunitas kasih-sayang, dengan demikian,
terpanggil untuk menjadi komunitas yang profetis.
Ira G. Zepp, Jr., menemukan dalam tulisan-tulisan dan
pidato-pidato King setidaknya tiga elemen teologis yang
melandasi visi dan mimpi King. Pertama, keyakinan bahwa
manusia adalah citra Allah yang mulia; kedua, pentingnya
suara kenabian; ketiga, mendasarnya nilai cinta-kasih
sebagai pemersatu komunitas. Ketiga nilai tersebutlah yang
juga perlu melandasi mimpi kita bersama akan sebuah gereja—Gereja
Kristen Indonesia Pondok Indah—yang mau membentuk dan
membangun diri menjadi komunitas yang peduli.
Kalimat lain King yang diucapkannya pada saat penerimaan
hadiah Nobel mungkin tepat menutup refleksi ini. Ia
berkata:
… Semakin lama kesetiaan kita harusnya semakin ekumenis
ketimbang seksional. Kita kini musti menyatakan kesetiaan
yang utama pada umat manusia sebagai satu kesatuan demi
menjaga apa yang terbaik dalam masyarakat-masyarakat
individual kita. |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|