|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Kasut |
|
5 Mei 2007
Menolak Pembebasan Edi Nugroho |
|
|
Pengadilan
menyatakan dirinya terbukti bersalah dalam kasus
pembunuhan. Tahun 1992, setelah Gerold menjalani 20 tahun
hukumannya, pemerintah menawarkan pembebasan, tetapi
tawaran itu ditolaknya. Ia menolak tawaran keluar dari
penjara tahun 1992, kata Thomas Melzer, juru bicara
Kementerian Kehakiman Negara Bagian Brandenburg, kepada
harian Bild. Kami tak dapat berbuat apa-apa bila
seseorang yang dijatuhi hukuman seumur hidup menolak untuk
keluar dari penjara, kata Melzer. Berdasarkan UU setempat,
narapidana Jerman tak wajib menyetujui pembebasannya bila
masa tahanannya telah diselesaikan. Bagi Gerold, penjara
telah menjadi rumah satu-satunya. (Kompas, 23 Oktober
2006).
Kita akan heran dengan sikap Gerold, kenapa ada orang yang
menolak kebebasan. Aneh bukan? Akan tetapi, tengok apa
yang dilakukan sebagian orang. Bukankah masih banyak orang
yang memilih terpenjara daripada kebebasan? Kita tentu
akan heran dengan pernyataan ini. Apa buktinya? Bukankah
Tuhan Yesus juga sudah menawarkan pembebasan bagi semua
manusia yang telah terpenjara oleh dosanya, dan meluputkan
manusia dari hukuman Allah? Hal itu dikatakan-Nya di dalam
Yohanes 5:24,
Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan
percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup
yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah
dari dalam maut ke dalam hidup.
Akan tetapi ternyata banyak manusia seperti Gerold. Lalu
mereka kecewa dan menolak Dia. (Matius 13:57a). Mereka
menolak pembebasan yang ditawarkan Tuhan Yesus. Mereka
memilih terbelenggu dengan dosanya. Kenapa demikian?
Karena ternyata iblis pintar. Dia menawarkan bahwa dosa
itu kelihatannya nikmat, menyenangkan. Kalau tidak
demikian, tentu orang akan malas berbuat dosa. Manusia
dibuai oleh kenikmatan sesaat yang menjerumuskannya ke
penghukuman abadi.
Memang sebagai manusia kita diberi kebebasan (free will)
oleh Tuhan. Hidup penuh dengan pilihan.
Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu
pada hari ini; kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan
kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya
engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu. (Ulangan
30:19).
Musa menantang bangsa Israel untuk memilih hidup, untuk
taat kepada Tuhan, maka dari itu akan terus mengalami
berkat-Nya. Dengan cara bagaimanakah, agar kita hidup dan
terus mengalami berkat-Nya? Ternyata Ulangan 30:19 di atas
belum titik, masih dilanjutkan dengan ayat 20a,
dengan mengasihi Tuhan, Allahmu, mendengarkan suara-Nya
dan berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan
lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan Tuhan.
Tuhan tidak
pernah memaksakan keinginan-Nya kepada siapa pun. Dia
mengizinkan kita untuk memutuskan mengikut Dia atau
menolak-Nya. Apa pun pilihan kita, kita sudah tahu
konsekuensi atau akibat yang akan kita tanggung. Tinggal
sekarang, kita yang harus memutuskan untuk memilih, apakah
kita memilih hidup atau mati.
Selamat memilih! |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|