|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Kasut |
|
20 Januari 2007
Sudahkah Kita Melayani Penderita AIDS S. Soekamto |
|
|
Gereja kita mungkin satu-satunya gereja di Indonesia yang
memiliki sebuah badan pelayanan yang menunjukkan
kepedulian kita terhadap penderita AIDS dan narkoba
melalui Tim Peduli AIDS dan Narkoba (TPAN).
Dalam tulisan ini penulis tidak akan mengupas tentang
peran yang telah dilakukan oleh TPAN. Penulis hanya
sekadar ingin mengingatkan bahwa sehubungan dengan
peringatan Hari AIDS Sedunia yang jatuh setiap tgl 1
Desember, kita harus dapat berbuat secara lebih konkret
lagi, mengingat jumlah penderita penyakit ini di negeri
kita juga terus semakin meningkat.
Sejak merebak menjadi epidemi seperempat abad lalu, HIV
(Human Immunodeficiency Virus) dan AIDS (Acquired Immune
Deficiency Syndrome) telah menjadi suatu ancaman yang
serius. Dampaknya bukan hanya terjadinya penurunan
produktivitas kolektif yang mempengaruhi kondisi sosial,
politik dan ekonomi negara, tetapi juga mengakibatkan
jutaan orang menderita akibat kehilangan orang terdekat
mereka.
Dewasa ini, tercatat sebanyak sekitar 40 juta orang telah
terinfeksi HIV di seluruh dunia, di mana 2,3 juta di
antaranya adalah anak-anak di bawah usia 15 tahun. Pada
tahun 2006 ini saja, diperkirakan ada sekitar 4,3 juta
penderita baru terinfeksi HIV dan sebanyak 2,6 juta orang
meninggal terkait HIV dan AIDS.
Berdasarkan data dari Departemen Kesehatan, di Indonesia,
hingga akhir September 2006 secara kumulatif dilaporkan
sebanyak 6.987 orang menderita AIDS dan 1.651 orang di
antaranya telah meninggal dunia, sedangkan yang terinfeksi
HIV mencapai 4.617 orang.
Adapun daerah yang melaporkan AIDS dan HIV sebanyak 32
propinsi dan 158 kabupaten/kota. Pada triwulan Juli/September
saja, terdapat empat kota dan kabupaten baru yang
melaporkan kasus AIDS, yaitu Kota Bogor (Jabar), Kab.
Brebes (Jateng), Kab. Sleman (DI Yogyakarta), dan
Kepulauan Tidore (Maluku Utara).
Dari 32 propinsi, 14 di antaranya menunjukkan kasus yang
signifikan, bahkan pada enam propinsi, yaitu Papua, DKI
Jakarta, Riau, Bali, Jawa Timur dan Jawa Barat, prevalensi
kelompok-kelompok tertentu telah melewati angka lima
persen, yang menurut kategori WHO (Organisasi Kesehatan
Sedunia) telah memasuki concentrated phase.
Gambaran ini menunjukkan, betapa epidemi HIV dan AIDS
telah menjadi suatu masalah nasional. Yang lebih
mengkhawatirkan lagi adalah kenyataan bahwa lebih dari 90
persen penderita HIV dan AIDS ini berusia sangat muda,
atau sekurangnya berada pada usia produktif.
Diproyeksikan,
pada tahun 2010 akan terdapat 500 ribu orang terinfeksi
HIV. Angka ini dapat meledak menjadi satu juta orang bila
intervensi yang dilakukan tidak cukup signifikan. Tak ayal
lagi, hal ini akan menjadi suatu ancaman yang sangat
serius terhadap produktivitas dan daya saing sumber daya
manusia Indonesia. |
|
|
|
Melayani |
Penularan HIV
dapat terjadi melalui hubungan seksual yang tidak
terlindung dengan orang yang telah terinfeksi AIDS,
penggunaan jarum suntik yang tidak steril secara
bergantian, transfusi darah yang mengandung HIV, serta
dari ibu penderita HIV kepada bayi saat mengandung,
melahirkan, atau menyusui.
Berbeda dengan kekhawatiran orang banyak, HIV tidak
ditularkan melalui hubungan sosial biasa, seperti berjabat
tangan, bersentuhan, penggunaan peralatan makan dan minum,
penggunaan kamar mandi dan jamban bersama, atau tinggal
serumah dengan orang penderita HIV atau AIDS (ODHA).
Masalahnya adalah, tidak ada orang yang dapat dengan mudah
menerima dirinya divonis mengidap HIV. Memang, hingga
beberapa tahun, pengidap HIV tidak menunjukkan
gejala-gejala klinis, namun orang tersebut sudah bisa
menulari orang lain.
Setelah itu, AIDS berkembang dan menunjukkan tanda-tanda
atau gejala. Tanda-tanda klinis penderita AIDS, di
antaranya, penurunan berat badan lebih dari 10 persen
dalam sebulan, diare kronis dan demam berkepanjangan lebih
dari sebulan, serta penurunan kesadaran dan
gangguan-gangguan neurologis. Sementara gejala minor yang
kerap terjadi antara lain batuk menetap lebih dari sebulan.
Pada dasarnya HIV/AIDS dapat menyerang siapa saja. Namun,
kelompok tertentu mrmiliki risiko retular HIV lebih besar,
yaitu mereka yang perilaku seksualnya kerap berganti-ganti
pasangan tanpa menggunakan pelindung (kondom), pengguna
narkoba suntik atau IDU (injecting drug user) yang
menggunakan jarum suntik sacara bersama-sama, pasangan
seksual IDU, serta bayi yang ibunya positif HIV.
Setiap tahun, setiap negara menyelenggarakan Hari AIDS
Sedunia. Di Indonesia sendiri sejak tahun 1999 Hari AIDS
Sedunia diperingati dengan penanggung jawab pelaksanaan
ditunjuk secara bergiliran antarsektor yang terlibat dalam
pengendalian HIV/AIDS.
Tema nasional yang diangkat dalam memperingati Hari AIDS
Sedunia tahun 2006 adalah Stop AIDS: Saatnya Melayani!!
dengan alasan dipilihnya tema tersebut adalah untuk
memberikan inspirasi dan mengajak seluruh pihak yang
terkait dengan pengendalian HIV/AIDS, yaitu orang tua,
keluarga, masyarakat, tokoh agama, pihak swasta/dunia
usaha, dan pemerintah agar secara bersama-sama menunjukkan
kepedulian dan secara nyata/konkret berkontribusi dan
bertindak untuk memberikan dukungan sesuai dengan
kemampuan masing-masing.
Dengan menyimak dampak jangka panjang yang dapat
diakibatkan epidemi ini, memang kini saatnya untuk
bergandeng tangan dan bersama melayani mereka yang
menderita. Karena akhirnya nasib bangsa ini juga yang
dipertaruhkan.
Dalam kaitan ini, kiranya TPAN di gereja kita juga sudah
waktunya untuk dapat berbuat lebih nyata atau konkret lagi,
dengan membuat program-program yang dapat dirasakan oleh
mereka yang mengidap HIV atau penderita AIDS. Tuhan
memberkati pelayanan anda!!! (skt) |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|