|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Kasut |
|
30 Desember 2006
Natal bukan Natal kalau tidak ada barang baru Riani Josaphine Suhardja |
|
|
Waktu kami kecil dulu, tradisi memberikan barang-barang
baru dilakukan dalam keluarga besar kami. Kami membeli
barang-barang, yang baru tentunya, lalu membungkusnya
menjadi hadiah-hadiah natal untuk saudara-saudara dekat.
Lalu persis pada tanggal 25 Desember orangtua kami
mengajak kami (anak-anaknya) mengunjungi rumah oma dan opa
setelah kami pulang dari ibadah Natal di gereja
masing-masing.
Sesampainya di rumah oma dan opa, seperti biasa kami
meletakkan hadiah-hadiah yang kami bawa itu di bawah pohon
Natal. Betapa menyenangkannya saat-saat menghitung
hadiah-hadiah yang di atasnya tertulis nama saya dan
nama-nama saudara. Ada yang dapat 5, dapat 7, dapat 10.
Wah, banyaknya!
Uniknya, kadangkala ada tamu-tamu dari keluarga jauh opa
dan oma yang datang berkunjung juga di hari Natal itu.
Tidak jarang mereka membawa anak-anak mereka. Sayangnya,
anak-anak itu tidak mendapat kado. Tapi untunglah para
orangtua segera mengisi amplop angpao yang kosong dengan
sejumlah uang dan menuliskan nama tamu anak-anak yang
datang, sehingga setidaknya mereka juga mendapat hadiah di
hari itu. Memang, berbeda jumlah dan bentuknya dari yang
kami terima, tetapi nama mereka tetap ada di bawah pohon
natal.
Setelah berdoa dan makan siang bersama, biasanya kami
duduk di sekeliling pohon natal dan seorang anak oma
membacakan satu persatu nama yang tertera pada kado itu.
Rasanya berdebar-debar mendengarnya walaupun kami sudah
tahu bahwa nama kami ada di sana. Satu persatu nama dan
kado dibagikan. kadangkala om dan tante kami juga mendapat
kado, walau hanya 1 atau 2 saja.
Setelah semua kado terbagi, kami membuka kado itu
bersama-sama. Ada yang dapat mainan, pakaian, juga makanan
atau perhiasan. Selesai acara pembukaan kado, kami dengan
bangga menunjukkan hadiah masing-masing dan potret bersama,
saling mengucapkan terimakasih, dan acara natalan di rumah
oma opa selesai. Beberapa tahun berselang, anak-anak yang
dahulu mendapat kado telah beranjak dewasa, menikah dan
punya anak. Opa juga sudah berpulang ke rumah Tuhan. Namun
tradisi itu masih kami teruskan. Kami yang sudah dewasa
tidak lagi mendapatkan banyak hadiah, sebaliknya kamilah
yang berinisiatif membelikan barang-barang baru dan
membungkuskan untuk keponakan-keponakan kami. Itu berarti
untuk cicit dari oma saya.
Hadiah tetap banyak di bawah pohon natal oma karena berisi
hadiah-hadiah untuk para cicit. Namun bedanya, tradisi
membuka kado bersama sudah tidak ada lagi. Banyak
keponakan yang dulu menanti kado, sekarang sudah sibuk
dengan acaranya masing-masing. Ada yang pelayanan di
gereja, ada yang mengurus dan berlibur bersama anak-anak
mereka, ada pula yang ke luar kota. Herannya, tradisi
memberi hadiah itu tetap ada. Sempat ada yang berkomentar,
Kalau tidak bisa kumpul, yang penting kadonya tetap ada!
Pertanyaannya sekarang, apa artinya kado-kado atau
barang-barang baru itu? Oma sudah mulai lupa dalam banyak
hal karena ketuaannya, kami pun sudah jarang ke rumah oma.
Kado-kado dibuka di rumah masing-masing, bahkan ada yang
menerima kado itu setelah bulan Desember berakhir. Apa
arti kado-kado itu?
Ironisnya, satu-dua tahun yang lalu, kado-kado itu sudah
tidak ada lagi di bawah pohon natal oma. Kami memindahkan
tradisi kumpul bersama ke rumah ayah saya. Kado-kado
dibagikan tanpa diletakkan di pohon natal dan tanpa
memanggil nama satu persatu dari si penerima kado. Kado
itu, hadiah itu, barang-barang baru itu masih ada, tapi
dibagikan dengan cara yang berbeda.
Jadi apa arti dari kado-kado itu? Yang pasti itu adalah
bagian dari tradisi keluarga besar kami. Membeli barang
baru, untuk orang lain. Tapi untuk apa? Sederhana saja,
natal bukan natal tanpa tradisi membagikan kado. Itukah
natal yang sesungguhnya?
Mungkin anda juga memiliki tradisi lain yang senada dengan
pengalaman keluarga besar saya. Bedanya barang-barang baru
itu mungkin hadiah dari pasangan, kekasih, anak, orangtua,
atau dari gereja. Atau bahkan ada juga mungkin yang
membeli hadiah untuk diri sendiri karena tergiur dengan
tulisan Sale atau Christmas Sale. Bonus yang diterima
dari tempat kerja dibelikan baju baru, sepatu baru,
kosmetik baru, asessoris baru, hiasan natal baru, tas baru,
pohon natal baru atau bahkan handphone baru dan mobil baru.
Kembali pada pertanyaan semula, apa artinya barang-barang
baru itu untuk kita? Hanya sekadar tradisi? Sehingga
natal, bukan natal kalau tidak membeli dan memakai
barang-barang baru? |
|
|
|
Bayi itu hampir saja dibunuh |
Lebih dari 2000 tahun yang lalu, jangankan membeli
barang-barang baru, di bulan-bulan Natal, maksudnya
bulan-bulan kelahiran Yesus, justru terjadi kehebohan yang
luar biasa. Kengerian, tangisan, dukacita dan penyesalan
terdengar di rumah-rumah. Bagaimana tidak? Pimpinan bangsa
sedang marah besar. Herodes merasa kecolongan karena
diperdaya oleh orang-orang asing yang pandai dan kaya-kaya.
Sudah secara khusus Herodes menitipkan pesan pada para
majus bahwa ia sangat ingin melihat dan turut menyembah
bayi yang disebut Raja orang Yahudi itu. Namun orang majus
sengaja menghindar dan tidak memberitahukan informasi
penting itu. Mereka pulang melewati jalan lain (Mat 2:12).
Kemarahan Herodes mengakibatkan ia gelap mata. Siapa pun
bayi yang lahir pada bulan-bulan itu, harus dibunuh. Ia
memang tidak tahu, di mana bayi istimewa itu, tetapi ia
tahu bahwa jika semua bayi dibunuh maka bayi istimewa itu
pun merupakan satu di antara yang mati itu.
Ajaibnya, justru saat bayi-bayi lain dibunuh, hanya bayi
Yesus yang selamat. Hanya Yesus yang selamat. Ini adalah
hal baru, berita baru, bahkan hadiah istimewa dan terindah
buat orangtuaNya, keluarga besarNya, tetapi juga untuk
saudara dan saya.
Saya membayangkan kebahagiaan Maria dan Yusuf jauh lebih
besar daripada saat saya mendapat 10 kado di rumah oma
pada waktu Natal beberapa belas tahun yang lalu. Pastinya
juga lebih bahagia daripada kita mendapat hadiah Natal
dari pasangan, kekasih, anak atau orangtua. Bahagianya
begitu mendalam, sampai meneteskan air mata haru, sampai
berhari-hari, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Hanya
saja, mereka menyimpan semuanya itu dalam hatinya (Lukas
2:19). Ya, Bayi yang hampir saja dibunuh, menimbulkan haru
dan bahagia. Hadiah terindah untuk Maria, hadiah terindah
untuk Yusuf, hadiah terindah untuk para ibu dan ayah yang
menangisi kematian anak mereka waktu itu, dan hadiah
terindah untuk kita.
Beberapa tahun berselang, bayi itu telah beranjak dewasa.
Namun Ia masih saja terancam untuk dibunuh. Banyak
persepakatan demi persepakatan yang pesannya sama, Ia
harus mati dan disingkirkan. Kini bukan lagi Herodes yang
iri dengan kehadiranNya, tetapi juga para Imam, ahli
Taurat dan orang-orang Farisi. Kalau dulu seorang raja
merasa terancam kedudukannya, kini kaum agamawan juga
merasa terancam kariernya. Dan pada saatNya, Ia akhirnya
harus merelakan diriNya menjadi korban dari pengejaran
mereka.
Ia dibunuh, tapi tetap dengan makna yang mengharukan. Ia
mati sebagai hadiah. Memang bukan hadiah untuk ayah ibunya,
tetapi tetap untuk saudara dan saya. Ia mati demi kita
tidak mati. kalau dulu Ia hidup di antara bayi-bayi yang
mati, kini Ia mati supaya tidak ada lagi yang mati. Itulah
cita-citaNya, VisiNya, MisiNya.
Hari ini, peristiwa itu telah lewat. Ironisnya, masih ada
juga yang hendak membunuh Dia. Bukan secara fisik, karena
Ia tidak nampak, melainkan saat Ia hendak hadir dalam
hidup seseorang, saat Ia menjamah hidup seseorang, saat Ia
telah lahir di hati seseorang. Ancaman pembunuhan itu
masih tetap ada. Banyak orang berupaya membunuhNya,
membunuh kasihNya, membunuh kepedulianNya, membunuh
kuasaNya, dengan rasio mereka, dengan kebencian mereka,
dengan egoisme mereka. Kapankah ancaman itu berakhir? |
|
|
|
Sampai itu terjadi di hati |
Kelahiran
Bayi itu kita peringati. Tapi sampai kapan ancaman untuk
menyingkirkanNya berakhir? Ancaman itu masih terus
berlangsung, tidak akan pernah berakhir sampai kapan pun.
Bukan hanya di luar sana, tetapi di dalam hati ini rupanya
Ia terancam. Ia bisa terancam saat kita lebih mementingkan
Natal daripada DiriNya. Ia bisa terancam saat kita
mementingkan barang-barang baru lebih daripada makna
kelahiranNya. Ia bisa terancam saat kita mengutamakan
sukacita kita daripada sukacita yang dititipkanNya pada
kita.
Saat kita mengatakan,
Natal bukan natal
tanpa baju baru
Natal bukan natal
tanpa barang-barang baru
Natal bukan natal
tanpa pohon natal
Natal bukan natal
tanpa kerlap-kerlip lampunya
Natal bukan natal
tanpa perayaan natal
Sesungguhnya, natal bukan natal... sampai itu terjadi di
hati kita. Sukacita terdalam sesungguhnya ada, saat kita
menjadi Maria-maria dan Yusuf-yusuf yang memegang erat
Bayi itu, saat ancaman itu menghantui Bayi itu. Sukacita
besar sesungguhnya ada saat kita peka mendengarkan suara
Tuhan yang juga mengatakannya pada Yusuf, Pergi dan
menyingkirlah dari tempat yang tidak aman ini, karena Ia
akan dibunuh! (Mat 2:13). Sukacita karena membiarkan Dia
tetap ada, tetap ada di hati ini, di hati kita.
Apakah Ia masih tetap ada di hati kita? Apakah kita telah
lari bersama Yesus saat ancaman itu datang? Apakah kita
mendengar tangisNya dalam hati kita?
Teriakan cinta yang meminta kita meneruskan? Teriakan
pengampunan? Teriakan kepedulian?
Selamat Natal, saudaraku!
Christmas isnt christmas till it happens in your heart
|
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|