|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Kasut |
|
24 September 2006
Andai The Da Vinci Code Itu... Glorius Bawengan |
|
|
|
Saya mencoba memotret Da Vinci Code (DC) dari teropong dan
sudut lihat yang berbeda DC-nya Dan Brown (DB) bukan buku
agama, spiritual apalagi teologi. Buku itu karya sastra
populer. Sebuah ranah kreatif yang mengeksplorasi
imajinasi. Memang dia memuat seabrek data agama, tapi
kendaraannya adalah imajinasi. Herannya keberatan atasnya
lebih muncul dari agamawan, sedikit teolog dan tentu saja,
yang paling repot adalah jemaat. Wajar! Karena yang diusik
DB adalah esensi ketuhanan. Lebih dalam dari itu dia (DB
di DC) mengganggu ketunggalan faham kita akan iman pada
Kristus. Ke sinilah saya mau menukikkan tulisan ini,
sambil menebar sejuta senyum buat Pak Purboyo.
(...) |
|
|
|
Kita mulai dari kasus sastra di Indonesia |
Sedikitnya
ada satu buku sastra kontroversial Indonesia (terbit, 8
Agustus, 1968) yang sempat menorehkan prahara. Judulnya,
Langit Makin Mendung (LMM), karya Ki Panji Kusmin. Dimuat
di majalah Sastra, dengan H.B Yassin sebagai pemimpinnya.
Bertutur tentang protes nabi-nabi di Sorga pada Tuhan yang
dikomandani oleh nabi Muhammad. Karya ini membawa H.B
Yassin ke pengadilan. Walau tidak setara dengan karya itu,
DC hanya menghentak dengan data, yang untuk itu DB
melakukan riset. Membandingkan isi sastrawi LMM dan DC
memang tak cocok, tapi reaksi atas 2 karya itu sama.
Amarah. Meski kadarnya pun berbeda. LMM berujung pada
pengadilan, sementara DC belum berujung.
Di kasus LMM, perkataan Yassin tegas dalam pembelaannya,
ketika ia disinyalir menjadi penulisnya dengan memakai
nama samaran. Kata Yassin, “... saudara hakim, saudara
tidak sedang mengadili H.B Yassin, tapi saudara sedang
mengadili imajinasi”. Bagi H.B Yassin, Paus sastra
Indonesia itu, yang ditampilkan seorang kreator seni
bukanlah Tuhan, tapi ide ketuhanan. Lanjut Yassin, “...Larangan
untuk menggambarkan Tuhan meski hanya dalam imajinasi,
sama dengan larangan untuk memikirkan Tuhan. Sama dengan
meniadakan Tuhan dalam sanubari”.
Dalam Islam, kita tahu ada larangan menggambarkan Tuhan
Syrik dan musryk, namanya. Tapi dalam kristen, Tuhan bukan
sekedar digambarkan. Lebih hebat dari itu, gagasan
utamanya adalah Tuhan yang be come the flesh. Allah yang
mendaging. Kristus, nama-Nya. Ide kehadiran Kristus adalah
sanggahan, bahwa Tuhan itu anonim, tak dikenal. Tuhan yang
cuma hadir lewat mimpi para nabi, gelegar halilintar,
tiang awan dan api, rontok di kehadiran Kristus. “Kerajaan
Sorga sudah datang!” Ucap Yesus.
Ketika di negeri ini simbol agama secuil apa pun mampu
memicu amarah, dan melahirkan tinju kekerasan, yang
semuanya memakai Tuhan sebagai atas namanya. Saya belum
melihat DC membuat sekeping Persekutuan atau Jemaat
mengangkat kepal untuk memprotes penerbit buku itu dari
Serambi, sebagai penerbitnya. Apalagi sampai kekerasan. Di
sini saya melihat kita cerdas bertuhan. Kita bukan cuma
pintar bertuhan, yaitu lewat serangkaian ibadah, pelayanan
dan menjalani petunjuk-petunjuk alkitabiah, tapi ternyata
kita lebih dari itu. Ketika komunitas di sekitar kita
memakai agama dan Tuhan sebagai penguasaan tatanan
sosio-politis (lihat RUU APP, Perda Syariat, dll), yang...
terciptanya negeri teokrasi kita tidak! Kita mampu
membedakan mana akta sejarah ketuhanan dan akta imannya.
Dengan begitu kita sebenarnya sekarang menjadi dewasa
beriman. Cerdas bertuhan. Karna itu...
Andaikan DB benar dengan segala data-data risetnya, kenapa
repot, coi? Meminjam perkataan Gus Dur, “Tuhan tak perlu
dibela”. Ya! Dia lebih mampu dari kita untuk membela,
walaupun Dia tak menolak untuk dibela. Kita yang
sempoyongan disergap DC adalah karna kita melulu melihat
Kristus dalam ketuhanNya. Kita lupa penegasan
kemanusiaanNya. Kita hanya jago berdiri mengucapkan
Pengakuan Iman Rasuli, yang isinya adalah pengakuan atas
kedaulatan Allah dalam Kristus yang juga manusia. Tapi
ketika Kristus disajikan secara sejarais (lihat film
Passion) dan manusia, kita hanya meneteskan air mata dan
berucap,”“Kasihan Tuhan” Padalah ketika Dia menjalani
serangkaian narasi kemanusiaanNya, dengan segala risiko
ke-manusiaan-Nya, Dialah yang berucap,”“Kasihan Manusia,
karna itu Aku harus begini”.
Jadi, menurut saya salah jika karya sastra dihadapi dengan
karya teologi dan sepupu-sepupunya yang lain (buku-buku
agama dan spiritual). Sebab kenyataannya, karya yang lahir
kemudian setelah DC bukanlah karya sastra tapi karya
reaktif atas DC dengan berbagai silang apologisnya.
Harusnya kalau kita “jantan” kita harus menulis karya
sastra juga. Minimal setara dengan DB, lewat riset, gicu
lho. Pak Andar Ismail, jangan cuma nulis seri “selamat”-an,
tapi berani bikin novel sekelas DB, sekali lagi dengan
riset lho sebagai pekerja teater saya menulis naskah
berjudul “Cawan”.
Para dosen teologi di bangsal akademis harus mampu
mempresentasikan bahan kuliahnya dengan suspense,
ketegangan model penceritaan DB. Bukan sekedar berondongan
petuah-petuah analitis yang kering dalam rangkaian kata
dan kalimat.
Para penulis renungan musti belajar bagaimana DB menulis
DC dengan plot yang jungkir-balik, tidak linear. Bagaimana
DB mengemudikan pembacanya dalam karakter penokohan
novelnya yang tumpang-tindih tapi tetap cantik, aduhai.
Para broadcast (Radio, TV) selayaknya memprogram
pencerdasan umat tidak dengan model menakut-nakuti lewat
darah dan belatung di kubur atau berondongan kotbah dari
sepenggal kalimat fatalistik seorang ulama kondang. Kita
umat Kristen, tak punya tayangan cerdas pencerdasan umat.
Kita ditinggal oleh kretor (programer) media yang lebih
memilih aman berkreasi di lahan tanpa tantangan, daripada
mencipta – sekali lagi secara cerdas dan kreatif. “kabar
baik” tentang TuhanNya yang jadi Manusia. Itu kalau kita
mau mengamati betapa berhasilnya secuil ide DB yang
digodok menjadi film layar lebar. Walaupun, maaf saya tak
menganggap film itu pintar, apalagi cerdas.
Akhirnya, kita menunggu penulis, serius dengan bahasa
populer yang sanggup menandingi DB. Itu konsekuensi jika
kita mau berhadapan di gelanggang karya dengan DB. Di luar
karya seperti itu, apakah kotbah, buku agama, panduan
jemaat, apalagi buku apologi dan artikel – seperti yang
saya tulis ini, hanya upaya menjadi jago kandang. Karna
itu berhenti berkomentar – karna sederhananya komentar
panjang hanya menguntungkan DB luar–– dalam – Jadi.
Stop ulasan! Bikinlah karya baru... |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|