Kasut
13 September 2006
Sudah Siap Jadi Orang Merdeka?
Handrawan Nadesul
Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya; “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku, dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yohanes 8:31-32)
 
ADA serenceng pertanyaan yang menggantung ketika orang mempersepsikan makna yang terkungkung dalam frasa “kebenaran memerdekakan kita”. Merdeka dari (apa), atau merdeka untuk (apa)? Lalu dalam serba kedagingan kita, kita mulai tercenung. Apakah kita sudah siap, atau kalau siap, selalu sudah patut menjadi orang merdeka? Karena tentu tidak identik freedom from, dengan freedom with, atau freedom to.

Apakah wilayah kemerdekaan kita sekadar membuat diri merasa terbebas dari kungkungan kekuasaan tradisional yang telah mengantarkan kita menjadi seorang individu. Sebagai individu yang (tanpa kita kehendaki) kemudian mungkin menjadikan kita terisolasi, teralienasi, merasa tidak aman, sekalipun hidup sudah terlucut dari sikap harus tunduk pada serba kepatuhan. Pada ketika kita sudah diberi paket kedaulatan penuh. Sebuah kado untuk bebas berkehendak (mau ngapain aja).

Atau apakah kemerdekaan dan merasa diri merdeka bukannya malah menyisakan masalah pada kita? Pergumulan demi pergumulan di pelbagai faset kehidupan apa bukannya membuat manusia malah serba terikat, manakala sudah demikian dipersilakan merdeka dalam ekonomi, politik, sosial, spiritual, atau apa saja yang manusia mau, justeru membuat manusia jadi gamang. Lalu kita tercengang. “Kalau Tuhan tak ada, manusia bisa melakukan apa saja!” (Dostoyevski). Merdeka dan semakin permisif.

Apakah menjadi individu yang merdeka sekadar memenuhi kebutuhan makan, tidur, dan seks, dan pelepasan naluri dasariah manusia belaka? Atau ada bentuk ekspresi rasa merdeka baru lainnya (Protestanism dan Calvinism), ketika merdeka berarti juga (wajib) memanggul beban. Adakah tafsir alternatif untuk itu?

Penghujung jawaban semua itu barangkali ditentukan oleh sosok “kebenaran” yang kita anggap, atau yang kita anut, atau yang tengah kita cari. Apakah kebenaran yang tunggal itu. Sosok kebenaran yang sudah final, yang absolut, yang tanpa kompromi, pada titik di mata spiritualitas, ranah religiusitas, kita tidak pantas bertanya lagi. Ketika kita sudah tiba di wilayah kebenaran puncak. Kebenaran dengan huruf besar itu.

Menjadi merdeka setelah tiba di ranah kebenaran puncak itulah yang menjadikan seseorang mencapai sosok insan kamil (devinely human). Sosok manusia yang utuh lahir-batin, bio-psiko-sosio-spiritual. Yang tak bertanya lagi merdeka dari, atau terhadap, dan untuk apa, lalu siap dengan konsekuensi: patuh pada cara bagaimana eloknya melakoni hidup, dan mempersiapkan kematian. Sosok kemerdekaan yang manusia terima tidak berarti sudah terbebas (baca: membebaskan diri) dari kepatuhan.

NAMUN tidak semua orang sudah tiba di ranah kebenaran dengan huruf besar yang sudah komplet. Kalau Tuhan sebuah kepastian, manusia hanya sebuah kemungkinan. Merasa yakin saja. Ikut merasa percaya saja. Sekadar bergabung dalam paguyuban beriman belaka. Sejatinya itu belum tentu mengantarkan orang menuju kebenaran puncak kalau misal arahnya saja yang benar namun belum tentu benar cara menempuhnya. Bentuk pergumulan susahnya manusia melawan ego, sehingga menjadi tidak selalu gampang tidak melakukan yang Tuhan tidak kehendaki. Kalau misal selalu memilih mengerjakan hanya yang dilarang Tuhan.

Kebenaran dan kebenaran dalam kedagingan tidaklah sama. Ketika benar kata saya, belum tentu benar kata kamu. Ketika orang menetapkan kebenaran menurut selera hati. Ketika kebenaran begitu vulgar, atau kebenaran di awang-awang dan tidak menginjak bumi. Pembenaran mencari kebahagiaan, mencari kekayaan, mencari yang khalik, namun dengan cara yang tidak benar di penglihatan Tuhan. Ini cacat purba manusia juga. Luka yang masih menganga di depan keseharian kita sekarang.

Sungguh berbahaya orang-orang yang dimerdekakan oleh kebenaran yang bukan hakiki. Menjadi merdeka hanya oleh kebenaran karbitan, kebenaran yang setengah matang, kebenaran yang tercemar mistis, sihir, dan kebenaran yang serba berbumbu keduniawian.

Mestinya selalu ada jalan dari iman ke etika. Tapi manakala sekularitas semakin menjadi pilihan, cawat etika yang kedodoran sedang dituduh merongrong keimanan. Lalu tidak ada lagi jalan dari etika menuju iman.

Lebih dari itu kita menyaksikan kalau etika tak lagi lewat jalur religius (pandangan Camus, Mill, Kant). Mungkin itu sebab yang beriman mungkin belum tentu etis, yang tidak beriman bisa saja sangat etis. Ateis bermoral bukannya tak ada. Munculnya fenomena “free thinker” di keriuhan dunia postmo kiwari, misalnya.

Sebut saja ketika hidup ditempuh menuju hiruk-pikuk hedonisme, ketika nikmat kedagingan jadi berhala baru, ketika Yang Terkasih bukan lagi di posisi nomor satu. Tanpa sadar, atau sadar, biarin telanjur menjadi kredo hidup kebanyakan orang di era postmo. Carpe diem! Reguklah hari ini sampai tandas. Biarin orang bilang apa.

Inilah masa ketika superego masih dikalahkan oleh ego. Ketika orangtua dan sekolah tidak membangun superego anak, kita menyaksikan remaja begitu lekas buka celana, tidak hormat lagi pada kehidupan, dan kredo hidupnya bikin orangtua sakit perut. Tak punya atau tak diberi peta untuk mampu membedakan yang benar dari yang salah.

Ketika pendidikan agama bukan lagi mendidik, hanya kognitif, dan bukan praksis. Banyak di mulut tapi sedikit di laku. Manakala internalisasi nilai-nilai hanya teoretis. Pada masa internalisasi tidak komprehensif. Di gereja khusuk, di luar gereja kelihatan busuk. Masihkah tersedia ruang di hati orang-orang zaman ini untuk budi pekerti, etika, dan etiket.

Kebenaran puncak bukan sekadar kepatuhan tidak melakukan yang Tuhan tidak sukai. Bukan taat ritual spiritualitas semata. Bukan kelihatan saleh belaka, seperti ketika tangan kanan memberi tangan kiri terpejam saja. Misal, karena merasa sudah merdeka secara ekonomi, maka boleh enteng saja tidak etis berbisnis. Spirit kekristenan agaknya bukan membangun dengan yang dehumanisme seperti itu.

Dalam kebenaran puncak, kebenaran dengan huruf besar itu, terkandung pula kitab etika, dan peta etiket. Sekali lagi selalu ada jalan dari iman ke etika. Tak cukup hapal dan patuh pada ayat-ayat agung saja. Dalam keseharian juga ada formula etika. Agama perlu campur tangan dalam detil-detil kehidupan moral, kalau kita terima bahwa moralitas merupakan ungkapan praktis iman.

Bahkan paralelisme dalam pemikiran etis saja bisa terjadi dalam iman yang berbeda. Namun yang kini terjadi ketidakparalelan etika dalam rumah iman yang sama. Misal, menurut ukuran etika masihkah sikap dehumanisasi Israel sekarang ini, hemat kita, atau entah siapa pun, masihkah perlu dibela?

Beriman tapi tidak beretika belum kebenaran puncak. Beretika tercemin dalam berpikir, berbicara, bersikap, dan beremosi. Orang beriman yang merasa diri merdeka tidak lupa beretika. Etika juga sebuah sekrup dari mesin besar kebenaran. Kebenaran ilahi, sekaligus kebenaran kedagingan juga.

Kita melihat setiap hari Minggu dan Jumat jalanan macet, tapi kekerasan dan main hakim sendiri masih kejadian sehari-hari di mana-mana, seakan berbuat serong termasuk kewajiban hidup.

Begitu banyak nama besar ternyata bukan orang besar. Begitu sering kita melihat orang berbicara tidak senonoh, bersikap dan bertindak tidak elok, beremosi tak patut padahal di KTP identitasnya beragama. Barangkali itu sebab beriman memang belum tentu otomatis beretika. Untuk menjadi insan kamil, beriman berarti lulus beretika pula, karena jalan ke sana belum tertutup.

Ada etika, ada pula etiket. Mungkin tidak semua orang beriman ingat, bahwa dalam pergaulan bersaudara juga ada tata-krama, ada aturan tak tertulis, ada ikatan adat tanpa sanksi, ada kesepakatan yang mengenakkan rasa hati. Boleh jadi di belahan itu banyak di antara kita abai saja.

Etiket juga penggalan kebenaran yang sudah implisit, yang built-in dalam ribuan ayat-ayat yang kita yakini. Sikap menghargai, memanusiakan orang lain segala lapisan, kemampuan berempati, bersimpati pada semua orang (egaliter), bagian dari kurikulum besar sekolah iman juga.

Beretiket juga sosok keadaban. Beriman bagian dari sosok spiritualitas yang beradab. Risih melihat orang beriman tapi tidak tahu etiket. Beretiket bukan hanya patut dilakukan pendeta, tokoh agama, menteri, gubernur, melainkan kepatutan semua orang, termasuk kita yang merasa diri sudah merdeka, apalagi mengaku beragama. Menjadi aneh orang beragama kalau berpapasan tidak bertegur-sapa. Menyapa juga keadaban yang menyejukkan hati sendiri, hati orang lain juga.

Bahwa merdeka memilih, menentukan, memutuskan apa saja yang akan orang pikir, rasa, dan lakukan dari saat-ke-saat, eloknya tetap dengan serba kepatuhan (iman, etika-moral, etiket). Selain ada kitab besar ayat-ayat, kita juga punya kitab kecil lain yang wajib tetap kita patuhi. Merdeka bukan berarti boleh bebas tidak patuh lagi pada apa-apa yang lainnya.

Berbahaya kalau individu superegonya belum komplet dibangun. Orang dibimbing hanya oleh ego. Ego berarti cuma hasrat kedagingan semata. Ekspresi ego belum tentu menyenangkan orang lain. Ekspresi ego belum tentu tidak melukai, tidak mengganggu, tidak membahayakan orang lain. Tugas orangtua dan sekolah membangun superego setiap anak. Anak yang kelak diharapkan tidak menjadi orang merdeka yang tak asal berdemo, asal menghujat, berbuat asal seenak perut belaka.

Jadi pergumulan yang indah itu, seyogianya sebuah pencarian ke dalam diri, dengan perjuangan ke luar. Bergumul untuk menambah tebal superego, agar iman terus naik kelas, melakoni hidup pun penuh kepatutan. Menjadi patut di mata Tuhan, di mata keluarga, di mata tetangga, dan di mata semua orang. Dan itulah sosok kebenaran komplet yang kita tulis dengan huruf besar itu.

DALAM kondisi kebenaran yang belum komplet orang merasakan hidup jadi berat. Orang harus patuh kepada Yang Di Atas, wajib terikat pula pada etika, dan etiket. Orang merasa terbeban dimerdekakan namun masih dalam kungkungan. Orang ingin lepas dan berlari kembali ke habitat ego (“Escape From Freedom”, Erich Fromm). Mimpi menjadi orang merdeka tanpa kepatuhan.

Beragama, eloknya mengantarkan orang menemukan rasa merdeka baru. Rasa merdeka yang mau memanggul beban. Beban kepatuhan bahwa hidup tidak sendiri (terisolasi, teralienasi, individuasi), melainkan ada orang lain, selain Tuhan, yang ingin melihat kita elok.

Seelok ketika tangan kanan memberi, tangan kiri terpejam. Elok bukan saja di luar, hanya selama di gedung ibadah, di depan forum, tapi elok pula ketika melihat sesama, tanpa melihat status, kuasa, harta orang yang kita hadapi, dan temui. Elok di mulut, elok di hati. Elok di ucapan, elok di perbuatan. Elok di pikiran, elok di perasaan. Bukankah getar hati kita paling lembut pun Tuhan masih dengar.

Mari mengisi kembali kertas hidup. Kita buka lagi jalan dari iman ke etika. Etika yang tidak merongrong iman. Menyaksikan kini banyak orang kehilangan huruf menuliskan kebenaran, boleh jadi Tuhan geleng-geleng kepala.
 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003